
Sudah satu minggu semenjak Icha menginap di rumah Rere. Hari ini adalah hari minggu. Icha sedang bersiap-siap karena hari ini ia dan teman-temannya berencana menghabiskan waktu bersama di Dufan. Masalah Teza, ia sekarang sudah kembali seperti sebelumnya. Icha sudah pernah menanyakan kembali kepada Teza, apa yang menyebabkan laki-laki itu berbeda saat itu. Namun Teza tetap menjawab tidak ada. Kelas dua belas sudah menyelesaikan ujian nasional mereka. Acara perpisahan dan prom night direncanakan akan dilaksanakan dua minggu lagi.
"Icha, sudah siap belum?" Kenzi masuk ke dalam kamar Icha. Ya, kedua kakaknya juga ikut.
"Sudah." Icha berjalan keluar kamarnya bersama Kenzi di sampingnya.
Sesampainya di bawah, Icha melihat ada Kenzo dan Rio sedang duduk di sofa ruang tamu. Ah iya, Rio sudah keluar dari rumah sakit tiga hari yang lalu. Kini keadaannya lebih baik dari sebelumnya. Dan laki-laki itu memaksa ingin ikut ke Dufan padahal sebelumnya sudah dilarang karena ia masih harus istirahat. Namun Rio tetaplah Rio yang keras kepala.
"Sudah siap?" Tanya Kenzo.
"Sudah."
Mereka berempat berangkat menggunakan mobil Kenzi. Teza dan yang lainnya akan menyusul dan bertemu saat di Dufan. Perjalanan menuju Ancol membutuhkan waktu sekitar empat puluh lima menit dari rumah Icha. Setelah sampai di Dufan, mereka bertemu dengan rombongan Teza yang terdiri dari Teza, Safira, Rere, Dara dan Gavin.
"Mau main apa dulu?" Tanya Teza.
"Naik kora-kora aja dulu." Usul Rere.
Mereka semua setuju dan mengantri di wahana kora-kora. Antrian itu terlihat panjang karena memang hari ini adalah hari libur. Icha mengantri di sebelah Teza yang dari tadi menggenggam tangannya. Di belakang mereka ada Kenzo dan Safira, Kenzi dan Rere serta Dara dan Gavin. Rio tidak bisa ikut menaiki wahana dan sekarang sedang beristirahat di restoran yang ada di dalam Dufan.
"Emang kamu berani naik kora-kora?" Tanya Teza pada Icha.
Icha menatap kearah Teza lalu terkekeh pelan. "Berani dong."
"Tadi pagi sudah sarapan belum?"
"Sudah, bang Teza sudah?"
Teza mengacak pelan rambut Icha dengan tangan kanannya. "Sudah kok."
Icha mengangguk dan mengedarkan pandangannya kearah antrian yang masih panjang. Kedua matanya tidak sengaja terpaku pada Gavin yang juga menatapnya dari jauh. Ia bisa melihat bahwa Dara sedang mengajak Gavin untuk mengobrol tapi tidak dibalas oleh laki-laki itu. Bahkan kedua mata Gavin tidak berhenti menatap Icha dari tadi.
"Icha, ayo maju." Suara dari Teza membuyarkan lamunan Icha. Ternyata barisan di depan mereka sudah maju.
Perlu waktu sepuluh menit untuk mereka mengantri, akhirnya mereka duduk diatas wahana. Icha duduk di tengah Gavin dan Teza. Disebelah Teza ada Rere dan Kenzi, disebelah Gavin ada Dara. Sedangkan Kenzo dan Safira berada di belakang mereka.
Pada saat pertama wahana itu dimulai, Icha masih tampak tenang. Saat wahana itu mencapai sudut 180 derajat, Icha terpekik dan spontan mencengkram erat tangan Teza dan Gavin. Kedua laki-laki itu langsung melihat kearah Icha yang sedang menutup matanya.
"Kamu gak apa-apa?" Tanya Teza saat wahana itu sudah berhenti. Gavin yang berada di belakang Teza mengurungkan niatnya untuk bertanya juga.
"Icha gak apa-apa."
Mereka melanjutkan untuk menaiki wahana arung jeram, ontang-anting, tornado, dan masih banyak lagi.
"Capek banget." Keluh Kenzo.
"Baru gitu aja udah capek bang." Kata Rio.
"Yang cuma naik arung jeram aja diem deh." Canda Kenzi membela saudara kembarnya itu.
"Mending kita makan dulu deh, udah hampir mau sore ini." Usul Teza.
Akhirnya, mereka memutuskan untuk istirahat dan mencari restoran untuk mengisi perut mereka yang lapar.
"Aduh." Icha berjongkok dengan nafas terengah.
"Kenapa Cha?" Kenzo dan Kenzi langsung menghampiri Icha.
"Kamu kenapa?" Tanya Teza menyesuaikan tingginya dengan Icha yang masih berjongkok.
"Capek, pegel."
"Tadi abang kan udah bilang kamu gak usah naik wahana banyak-banyak. Kan capek gini." Kata Kenzi ikut berjongkok di samping Icha.
Mendengar ocehan Kenzi membuat Icha memasang wajah cemberut.
"Yaudah, kalo capek. Ayo naik." Teza berjongkok di depan Icha.
"Gak apa-apa. Udah naik aja."
Icha naik keatas punggung Teza. Kenzo dan Kenzi saling pandang lalu mengangkat kedua bahu mereka dan pergi menyusul yang lainnya. Tersisa lah Gavin yang menatap keduanya dari jauh. Laki-laki itu menghela nafasnya dan memalingkan wajah saat Icha terlihat menoleh kearahnya.
Sedangkan Icha, ia menoleh kembali kearah depan saat melihat Gavin memalingkan wajahnya. Ia tadi menoleh karena ingin tau kenapa laki-laki itu tidak berjalan dan mendapati Gavin sedang menatap kearahnya dengan tatapan yang tidak ia tau artinya apa. Seminggu bersama Teza membuatnya dapat menerima dan membuka sedikit hatinya untuk laki-laki itu. Ia tidak ingin mengulangi kejadian masa lalunya. Dulu, ia dan temannya pernah menyukai laki-laki yang sama dan berakhir ia dimusuhi. Icha tidak ingin semua itu terjadi lagi. Maka dari itu ia memutuskan untuk menerima Teza walaupun di dalam hatinya, nama Gavin masih tetap ada.
"Icha mau makan apa?"
Pertanyaan dari Teza membuyarkan lamunan Icha. "Ehmm samain aja sama Bang Teza." Jawab Icha.
Mereka berdua telah sampai di restoran. Teza menurunkan Icha dengan pelan. Rere, Kenzo, Kenzi, Safira, Dara, dan Rio sudah berada disana. Sedangkan Gavin datang beberapa menit setelah mereka sampai.
"Gak usah pesen, kita udah pesenin tadi." Kata Kenzo saat Teza mau pergi untuk memesan makanan.
Teza mengangguk dan duduk kembali.
"Makanannya masih lama gak?" Tanya Icha.
"Hmm kayaknya masih." Jawab Rere saat melihat keadaan restoran yang sangat ramai.
Icha mendorong kursinya dan berdiri. "Icha mau ke toilet sebentar."
"Gue ikut Cha." Kata Safira.
Mereka berdua pun pergi menuju toilet yang berada tak jauh dari restoran tersebut.
Setelah selesai dengan urusannya, Icha keluar dari toilet. Ia menghampiri Safira sedang mencuci muka.
"Ayo balik Ra."
"Bentar Cha, gue mau touch up dulu." Kata Safira mengeluarkan tisu dari tas selempangnya.
"Yaudah, Icha tunggu diluar aja ya."
Melihat anggukan dari Safira, Icha pun pergi keluar dari toilet. Saat ia baru sampai keluar, seseorang menarik tangannya dan membekap mulut Icha yang tadinya ingin berteriak. Seseorang itu membawa Icha ke tempat yang lebih sepi dan melepaskan bekapannya pada Icha.
"Gavin?" Icha terkejut ketika melihat Gavin yang sedang bersender pada dinding dengan tangan disilangkan di dada.
Gavin berdiri tegak dan menghampiri Icha membuat Icha melangkah mundur. Melihat Icha semakin menjauhinya, Gavin menghela nafas pelan dan berhenti bergerak mendekat.
"Gak usah menjauh."
Icha menatap kearah Gavin. "Icha gak menjauh."
Gavin mengangkat satu alisnya lalu kembali berjalan mendekat. Ketika ia melihat Icha akan mundur kembali, Gavin dengan cepat menangkap kedua tangan Icha dan ditariknya menuju kearahnya. Jarak mereka kini hanya tinggal sejengkal saja.
"Gak usah menjauh." Bisik Gavin.
"I-iya." Jawab Icha dengan gugup. Berada sedekat ini dengan Gavin, dan mencium wangi parfum maskulin dari tubuh laki-laki itu membuatnya gugup seketika.
Mendengar jawaban Icha, Gavin melepaskan tangan Icha yang tadi ia genggam. Ia mundur satu langkah agar mereka lebih nyaman ketika berbicara nanti. Karena berada pada jarak sedekat ini juga membuat dirinya gugup.
"Jadi?" Suara Icha memecah keheningan diantara mereka.
TO BE CONTINUE
HAIII TEMAN-TEMAN
KANGEN BANGET SAMA KLENNN :')
Maaf banget ya lama banget updatenya soalnya author ada urusan kemarin dan sempat sakit jugaπ₯Ίππ
Gimana nih kabar kalian? Semoga tetap sehat yaaa :) Jangan lupa stay at home dan keluar rumah disaat penting aja. Jaga kesehatan, makan teratur, vitamin dan olahraga nya juga ya. Semoga pandemi corona ini segera berlalu. Aamiinππππ
Salam hangat dari Author