
Nessi, Icha, Mita dan Tere melihat kearah pintu yang dibuka paksa oleh seseorang. Melihat orang yang memandang tajam kearahnya, Nessi seketika terkejut.
"Arga?" Gumam Nessi.
Arga berlari kearah Nessi dan dengan cepat merebut cutter yang awalnya di pegang oleh Nessi. Arga melempar cutter itu jauh dari Nessi. Ia melihat kearah Icha yang keadaannya sangat memperihatinkan.
"Lo keterlaluan Nessi! Apa yang lo lakuin ke Icha!" Teriak Arga penuh amarah.
"Dia pantes dapetin itu! Dia ngerebut lo dari gue Ga!" Nessi balas berteriak.
"Lo yang ngerebut gue dari Icha Nes. Inget, lo yang godain gue untuk selingkuh!" Arga menunjuk wajah Nessi.
"Tapi lo juga bodoh karena mau Ga! Dan gue beneran cinta sama lo. Cinta gue lebih besar dari pada dia!" Nessi menatap tajam Icha yang mulai melemas.
"Itu bukan cinta, itu obsesi. Lo gak bisa nilai sebesar apa cinta lo untuk gue karena lo bahkan gak bisa bedain mana cinta mana obsesi." Jelas Arga.
"Gue gak obsesi Ga! Gue cinta sama lo!" Nessi berlulut di depan Arga.
"ARGA!!!" Suara lantang itu membuat Arga dan Nessi melihat kearah sumber suara.
Disana, ada Kenzi, Kenzo, Gavin, Teza, dan Rio. Sedangkan Satria dan Reno bertugas memanggil polisi ke lokasi kejadian. Melihat keberadaan Arga dan kondisi mengenaskan adiknya, membuat Kenzi sontak memasang wajah yang sangat menyeramkan. Ingat bahwa Kenzi adalah yang paling menyeramkan jika orang yang disayang disakiti oleh orang lain. Apalagi itu Icha. Tidak ada ampun bagi mereka. Kenzi berlari cepat kearah Arga lalu langsung menerjang Arga dengan pukulannya.
"KENZI!!" Kenzo berteriak kemudian menyusul saudara kembarnya itu. Ia tau bagaimana jika Kenzi sudah marah, maka tidak akan ada yang bisa mengendalikan amarahnya kecuali dirinya dan Icha.
Gavin, Teza dan Rio juga berlari menuju Icha. Mereka yakin Kenzo bisa mengurus masalah Kenzi. Tere dan Mita sudah pergi melarikan diri sejak kedatangan Kenzi dan lain-lain.
"Icha, ya ampun kening kamu berdarah." Kata Rio mengambil sapu tangan yang berada di sakunya kemudian menekan pelan di sumber luka agar tidak mengeluarkan darah.
Gavin sedang mencoba melepaskan ikatan tangan Icha yang diikat ke belakang kursi. Setelah terlepas, ia mengelus pelan tangan putih yang berbekas merah itu.
Teza merobek bawah seragam sekolahnya untuk membalut sayatan yang ada di tangan Icha. Bahkan ia sampai menitikkan air matanya melihat keadaan Icha sekarang.
"KENZI BERHENTI!!" Kenzo tampak kewalahan menahan Kenzi yang tenaganya bertambah berkali-kali lipat saat sedang dikuasai amarah.
Gavin langsung berlari kearah Kenzo untuk membantu. Kenzi tampak meronta karena belum puas menghukum Arga. Bahkan keadaan laki-laki itu sekarang terlihat sangat mengenaskan dengan luka dimana-mana.
"Stop." Icha berusaha berteriak meskipun suaranya tercekat karena sakit yang ia rasakan di sekujur tubuhnya.
"Arga gak salah." Kata Icha dengan susah payah.
Kenzi yang tersadar langsung berjalan menuju Icha, namun belum sampai ia menyentuh adiknya itu, Nessi melayangkan balok yang tadi diambilnya kearah Icha.
"ICHA!!!" Teriak Kenzo, Kenzi dan Gavin bersamaan.
brukk
Tubuh itu terjatuh ke lantai dengan kepala yang mengalirkan banyak darah. Semua tampak terkejut melihatnya. Bertepatan dengan itu, sirine mobil polisi terdengar mendekat. Datanglah Satria, Reno bersama Safira dan Rere.
"Ya ampun." Safira dan Rere yang melihat kedalam gudang sontak terkejut dan hampir terjatuh jika tidak di tahan oleh Satria dan Reno.
Gavin langsung membuka jaket yang dipakainya untuk membungkus tubuh Icha yang seragamnya sudah robek dimana-mana. Ia lalu dengan cepat menggendong Icha pergi menuju mobilnya yang berada di depan gudang.
Kenzi juga ikut menggendong tubuh lemah berlumuran darah itu keluar dari gudang disusul Kenzo. Teza tetap disitu untuk dimintai keterangan oleh polisi. Nessi sudah ditangkap oleh polisi. Sedangkan Safira dan Rere dibawa oleh Satria dan Reno pergi karena keduanya pingsan saat melihat keadaan gudang tadi.
"Liat gue Cha, gue mohon jangan tutup mata lo!" Kata Gavin menatap kearah mata Icha yang sayu.
Icha tersenyum lalu perlahan kedua matanya tertutup.
***
Sudah tiga hari sejak kejadian tersebut, Icha masih terbaring di ranjang rumah sakit. Gadis itu masih belum membuka kedua matanya sejak dibawa ke rumah sakit. Semua orang terlihat sedih, terutama keluarga Icha. Mereka semua sangat mengharapkan gadis itu akan segera bangun. Beberapa luka di tubuh gadis itu serta shok yang dialaminya membuat Icha harus berada dalam keadaan koma.
ceklek
Pintu ruang inap Icha terbuka. Disana, ada Rere, Safira dan Dara membawa bucket bunga dan keranjang buah. Selain mereka, di dalam ruangan Icha ada Kenzi, Kenzo, Gavin, dan Teza. Setelah Rere dan Safira meletakkan bucket bunga dan keranjang buah di nakas sebelah ranjang Icha, mereka pun mendekat kearah sahabat mereka itu.
"Cha, bangun Cha. Lo gak capek apa tidur terus." Kata Rere dengan suara pelan, menatap sedih kearah Icha.
"Gue tau lo kuat Cha, lo harus bangun demi kita. Biar kita bisa hangout bareng lagi." Ucap Safira meneteskan air matanya.
Berbeda dengan Kenzo, keadaan Kenzi lebih memperihatinkan sekarang. Laki-laki itu tidak bicara satu patah kata pun setelah adiknya dinyatakan koma. Bahkan Kenzi membolos untuk terus menjaga Icha. Sudah banyak yang membujuknya untuk berbicara namun Kenzi tak kunjung mau membuka mulutnya selain untuk makan dan minum. Setelah kejadian itu pun Kenzi ikut terseret ke kantor polisi karena bersalah telah memukuli Arga yang dinyatakan tidak salah. Ia terkena hukuman denda. Sedangkan Nessi kemarin dikabarkan pindah kota bersama kedua orang tua gadis itu.
"Disini ada kantinnya gak? Gue laper nih." Tanya Dara pada Teza dan Gavin yang duduk di sebelahnya.
"Ada, di lantai satu." Jawab Teza fokus pada sesuatu di handphonenya.
"Hmm temenin boleh gak?" Pinta Dara.
"Maaf Dar, abang gak bisa. Lagi sibuk ngurus pensi dan acara pelepasan kelas dua belas nih." Kata Teza masih menatap kearah handphonenya.
"Gavin?" Dara menatap penuh harap pada Gavin.
Gavin yang sedang bermain game di handphonenya merasa tidak tertarik. "Males." Jawabnya.
"Please."
"Gak."
"Please Gavin."
Gavin hanya mendiamkan Dara namun gadis itu tetap merecokinya hingga mau tak mau Gavin pun menuruti. Dengan berat hati, Gavin menemani Dara makan di kantin rumah sakit.
"Oke."
"Yes!" Teriak Dara dengan senang.
"Lo mau kemana Dar?" Tanya Rere saat melihat Dara berjalan menuju pintu bersama Gavin.
"Mau cari makan dulu Re, gue laper. Mau nitip gak? Re? Ra?"
"Gak perlu. Jangan lama-lama lo."
Dara mengangguk lalu pergi meninggalkan ruang inap Icha. Di sepanjang jalan, Dara terlihat sangat bahagia karena ia akhirnya bisa bersama Gavin. Merasa tidak ada orang yang berjalan di sampingnya, Dara pun berhenti dan menoleh ke belakang. Ternyata Gavin berjalan jauh di belakangnya. Ia pun berjalan menghampiri Gavin lalu merangkul lengan laki-laki itu. Gavin tampak tak menolak karena percuma, gadis itu sangat keras kepala.
***
Di ruangan Icha..
"Berapa hari lagi kalian UN?" Tanya Safira saat sudah duduk di sofa yang terdapat di ruang inap Icha.
"Dua minggu lagi." Jawab Kenzo.
"Bang Kenzi, lo masih gak mau ngomong sama kita?" Rere menatap sedih kearah Kenzi yang sekarang sedang duduk di kursi sebelah ranjang Icha.
Kenzi hanya diam tidak menjawab. Mereka semua pun menghembuskan nafas lelah. Berkali-kali mereka sudah mengajak Kenzi berbicara namun Kenzi tetap tidak mau mengeluarkan suara apapun.
Kenzi menatap dalam adik kesayangannya itu. Ia menitikkan mata dalam diam. Beberapa hari ini ia sangat tersiksa melihat keadaan adiknya. Bahkan bundanya drop karena mendengar kabar Icha dan sekarang sedang beristirahat di rumah. Ia merasa tidak becus sebagai abang.
Tiba-tiba, Kenzi melihat jari Icha bergerak. Ia pun langsung berdiri dan melihat kearah wajah adiknya itu.
"Icha?"
Suara Kenzi mengejutkan Kenzo, Teza, Safira dan Rere. Mereka sontak langsung berjalan kearah ranjang Icha. Perlahan, kedua mata Icha terbuka. Ia mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan dengan cahaya lampu. Kemudian, ia menatap orang di sekelilingnya.
"Icha, lo udah sadar." Kata Rere dan Safira terharu.
Icha tersenyum pada mereka lalu kembali mengabsen wajah mereka satu persatu. Saat sadar, wajahnya kembali muram.
"Gimana keadaan Rio?"
TO BE CONTINUE
HAYOOO siapa yang kemarin nebak Gavin yang nyelamatin Icha? Salah lohhh wkwk btw kira-kira ada apa ya sama Rio?
Mau boom part gak nihh?? Yuk buruan comment kalo setuju aku upload satu part lagiππ kalo komentarnya lebih dari 10 nanti aku up π