
Setelah kejadian tidak mengenakkan beberapa hari yang lalu, Dara menjadi sedikit menjauh dari Icha, Rere dan Safira. Kabar tentang Icha bersama Gavin pun sudah tersebar di SMA Dinata. Ada beberapa yang setuju dengan hubungan keduanya, ada pula yang merasa iri dengan posisi Icha.
Semenjak Gavin selesai mengantarkan Icha pulang saat kejadian itu, Icha merasakan ada yang berbeda dari Gavin. Tidak biasanya Gavin menjadi lebih pendiam kepadanya. Bahkan mereka tidak pernah bertemu selain di sekolah, saat Gavin menjemput dan mengantarnya pulang. Dan hari ini adalah kali pertama mereka berdua akan merayakan malam minggu dengan status sepasang kekasih. Awalnya Gavin menolak, namun Icha terus meminta dan akhirnya Gavin pun setuju.
"Pulangnya jangan malam-malam ya." Bunda Icha mengelus pelan rambut Icha.
Icha yang sedang memasang tali sepatu pun melihat kearah ibunya dan mengangguk.
"Cha, yakin gak mau abang temenin aja?" Kenzi duduk di sofa yang terletak bersebrangan dengan sofa yang Icha duduki sekarang.
"Gak usah bang Kenzi, Icha gak apa-apa kok." Tolak Icha dengan halus. Dari tadi Kenzi memang selalu berusaha membujuknya untuk membiarkan kakaknya itu ikut agar bisa mengawasi dirinya. Tentu saja Icha tolak, karena pastinya sudah ada Gavin yang akan menjaganya.
"Lagian kamu kenapa pake baju itu? Ganti sana cepetan!" Kenzi menggelengkan kepalanya ketika melihat pakaian Icha. Icha memakai atasan model sabrina berwarna putih dan jeans serta tas selempang berwarna hitam.
"Udah gak ada waktu lagi bang, Gavin bentar lagi sampe." Icha berdiri setelah selesai memasang tali sepatunya.
tok tok tok
Bunda Icha berjalan menuju pintu dan membukanya. Tampaklah Gavin yang terlihat sangat tampan malam ini. Kaos berwarna hitam, jaket jeans berwarna hitam dan jeans hitam. Sangat melambangkan Gavin sekali.
"Malam tante, Gavin izin mau bawa Icha pergi sebentar ya?"
"Iya Gavin, pulangnya jangan kemaleman ya." Bunda Icha memperingati dibalas anggukan kepala oleh Gavin.
"Ayo." Icha berdiri di samping bundanya, memberikan senyumnya pada Gavin. Sedangkan Gavin menatap penampilan Icha dari atas sampai bawah.
"Ganti." Kata Gavin membuat Icha menaikkan alisnya pertanda ia bingung.
"Apanya?" Tanya Icha heran.
"Baju kamu, ganti jadi sweater." Jawab Gavin masuk ke dalam dan duduk di sofa sebelah Kenzi.
"Tapi.. nanti kemaleman kita perginya." Icha menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam lewat lima menit.
"Bakal lebih lama kalo kamu gak ganti sekarang." Kata Gavin tak mau mendengar alasan dari Icha lagi.
"Bener kata Gavin Cha. Abang kan tadi udah nyuruh kamu ganti juga. Bandel sih." Balas Kenzi mendukung Gavin.
"Bunda.." Icha menatap kearah bundanya. Oh ayolah, Icha sudah memilih baju yang pas untuk kencan pertamanya bersama Gavin malam ini dari tadi sore. Sia sia saja usahanya tadi jika ia mengganti sesuai kemauan Gavin.
"Udah ya, kamu ganti gih. Lagian nanti kamu kedinginan kalo pake baju itu sayang." Bunda Icha memberikan pengertian.
Icha mengerucutkan bibirnya dan berjalan menuju kamarnya dengan menghentakkan kaki. Kenzi, Gavin dan Bunda Icha hanya terkekeh melihat kelakuan Icha yang seperti anak kecil itu.
"Bunda ke kamar dulu ya, mau istirahat. Nanti langsung pergi aja, jangan lupa pulangnya jangan sampe jam sepuluh." Kata Bunda Icha sebelum pergi meninggalkan Kenzi dan Gavin di ruang keluarga.
"Bang Kenzo dimana?" Tanya Gavin ketika menyadari tak ada tanda-tanda keberadaan Kenzo di rumah.
"Biasa, pergi sama Safira." Jawab Kenzi sambil mengendikkan bahunya.
"Lo gak pergi sama gebetan?" Tanya Gavin tersenyum meledek kearah Kenzi dibalas dengusan oleh Kenzi.
"Gue lagi gak tertarik pacaran." Jawab Kenzi singkat.
"Lo normal kan?" Perkataan Gavin membuat Kenzi langsung mendelik kearahnya.
"Normal lah. Gue cuma mau mastiin Icha jatuh ke tangan yang tepat aja, baru gue bisa mikirin diri gue sendiri. Maka dari itu, awas aja lo ngecewain gue. Gue hajar lo." Kenzi memberikan kepalan tangannya untuk mengancam Gavin meskipun dengan nada yang sedikit bercanda.
"Gue janji bakal jagain Icha." Ucap Gavin dengan sungguh-sungguh.
"Gue gak butuh janji lo, buktiin kalo emang lo bisa jagain Icha. Jangan janji doang." Kata Kenzi memalingkan mukanya.
Suasana kembali hening. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Icha juga belum menunjukkan tanda-tanda akan turun. Hingga Gavin memutuskan untuk membuka suara.
"Kalo bokap lo dimana?" Tanya Gavin.
"Ada urusan di luar kota."
Suara langkah kaki mengalihkan pandangan Kenzi dan Gavin. Icha telah mengganti pakaiannya dan berjalan kearah mereka dengan menggunakan sweater hitam yang kebesaran di tubuhnya.
"Gimana?" Tanya Icha memutar tubuhnya ke kanan dan kiri.
Icha menunjukkan cengirannya. "Icha pinjem ya bang. Soalnya Icha kan mau pake baju yang warnanya samaan kayak Gavin tapi Icha gak punya sweater hitam." Jawab Icha dengan wajah tidak berdosanya.
"Iya gak apa-apa. Udah sana kalian pergi, keburu malem." Usir Kenzi.
Gavin berdiri dari duduknya. "Kami pergi bang. Assalamu'alaikum." Pamit Gavin.
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati lo bawa adek gue."
Gavin mengangguk dan menarik pelan tangan Icha untuk berjalan bersamanya keluar dari rumah. Mereka telah sampai di depan motor Gavin. Gavin mengambil helm berwarna hitam yang ukurannya lebih kecil dan memakaikannya pada Icha.
"Icha bisa pake sendiri padahal." Kata Icha saat Gavin memasangkan helm padanya.
"Yakin kamu bisa pasang sendiri? Tuh liat, tangan kamu aja gak keliatan." Gavin menunjuk tangan Icha yang tertutupi oleh sweater yang dipakai gadis itu.
"Iya, tumben bener." Icha tertawa pelan.
"Udah, naik." Gavin mengulurkan tangannya untuk membantu Icha naik keatas motornya.
Icha naik keatas motor Gavin dan melingkarkan tangannya di pinggang Gavin. Setelah memastikan Icha duduk dengan nyaman, Gavin pun menghidupkan mesin motornya dan bergerak meninggalkan rumah Icha.
"Kita mau kemana?" Tanya Icha dengan suara sedikit keras karena jalanan kini sedang ramainya.
"Liat aja nanti." Balas Gavin sedikit berteriak juga.
Sesudah itu, keduanya hanya diam tidak berbicara lagi. Hingga akhirnya motor Gavin berhenti dikawasan Senayan. Setelah memarkirkan motornya, Gavin menarik pelan tangan Icha menuju kearah tempat penyewaan skuter di daerah itu.
"Kita mau naik skuter?" Tanya Icha saat Gavin berbicara pada seorang pria paruh baya yang menyewakan skuter.
"Iya." Jawab Gavin melirik sekilas kearah Icha dengan tangan yang masih menggandeng tangan Icha.
"Kok cuma satu?" Tanya Icha karena Gavin hanya menyewa satu skuter.
"Aku gak mau kamu jatuh lagi, jadi kita naiknya bareng aja."
"Tapi Icha mau sendiri." Icha menggoyangkan tangan Gavin yang masih menggenggamnya.
Gavin melirik kearah Icha. "Gak boleh."
"Pokoknya Icha mau sendiri. Pak satu lagi ya." Icha menunjuk satu skuter lagi.
"Icha." Gavin berkata dengan nada tidak suka. Ia khawatir jika gadis itu akan jatuh jika mengendarai sendiri. Lagi pula akan lebih aman jika gadis itu hanya berdiri di belakangnya sementara ia yang mengendarai skuter itu.
"Pleasee." Icha mengucapkan dengan nada memohon agar Gavin luluh dan membiarkannya bermain skuter sendiri.
Terdengar helaan nafas dari Gavin. Laki-laki itu berbalik menatap kearah pria paruh baya di depan mereka. "Jadinya dua pak."
"Yeay." Icha bertepuk tangan sambil tersenyum senang.
Icha mengambil satu skuter dan langsung menaikinya. "Gavin, ayo kejer Icha." Kata Icha lalu menjulurkan lidahnya, meledek Gavin.
"Icha hati-hati!" Gavin buru-buru mengejar Icha karena gadis itu telah duluan meninggalkannya.
Saat telah berada sejajar dengan Icha, Gavin kembali memelankan laju skuternya. "Pelan-pelan bawanya, nanti kamu jatuh." Kata Gavin memutar kepalanya menghadap kearah Icha.
"Gavin ini seru banget. Icha udah lama gak main skuter lagi." Icha berkata sambil menikmati angin malam yang menerpa wajahnya sehingga helai rambutnya berterbangan kesana kemari. Gavin yang melihat itu pun tersenyum tipis.
Mereka berdua berkeliling dengan menggunakan skuter. Sesekali mereka berhenti untuk istirahat atau sekedar berfoto ria. Seperti saat ini, Icha sedang duduk di kursi yang berada di sana, dengan Gavin yang berada di sebelahnya.
"Capek?" Tanya Gavin.
Icha menatap kearah laki-laki disampingnya dan menggelengkan kepalanya. Perlahan, Icha menjatuhkan kepalanya diatas pundak Gavin. Senyum manis tak berhenti mengembang dibibirnya saat mengingat hal sederhana yang telah dilakukan Gavin untuknya.
"Wahh liat siapa yang lagi berduaan disini." Suara itu membuat Icha dan Gavin menoleh ke sumber suara. Mereka kompak terkejut saat melihat seseorang yang berdiri tak jauh mereka, memamerkan senyum miring penuh maknanya.
TO BE CONTINUE
Kira-kira siapa ya yang datang dan buat Icha sama Gavin terkejut? Yuk comment pendapat kalian dibawah heheh