
Gavin langsung berdiri, menghalangi Icha dari pandangan seseorang yang berdiri satu meter di depan mereka.
"Kenapa dihalangi?" Tanya seseorang itu tersenyum miring.
"Arga." Icha berucap dengan pelan. Ia menggenggam tangan Gavin erat. Masih terbayang olehnya kejadian penculikan dan perkataan Arga yang menyakitinya waktu itu. Nessi, Rio, dan Arga. Semua kejadian itu berputar kembali di kepala Icha sehingga membuat genggamannya pada tangan Gavin semakin erat.
Merasakan genggaman tangan Icha semakin erat, Gavin pun berbalik menatap Icha yang kini sedang memegang kepalanya dengan satu tangan lainnya. Gavin langsung berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan Icha yang kini menutup kedua matanya.
"Icha, kamu kenapa?" Tanya Gavin khawatir saat Icha tak kunjung meregangkan genggaman tangannya.
"Apa kabar Cha?" Tanya Arga semakin mendekat.
"Pergi!" Gertak Gavin saat mendengar langkah kaki Arga berjalan mendekat.
"Gue cuma mau ketemu Icha." Jawab Arga dengan suara seperti sedang meledek.
Gavin menggeram pelan dan berdiri, hendak melayangkan tinjunya jika saja tangan Icha tidak menghalanginya. "Gavin, bawa Icha pergi dari sini." Lirih Icha dengan tatapan sendu, berusaha menghindari tatapan Arga.
Gavin berjongkok kembali, dengan posisi tubuh yang membelakangi Icha dan membantu Icha naik keatas punggungnya. Setelah dirasa Icha naik dengan nyaman, Gavin pun membawa Icha pergi. Kakinya berhenti tepat di samping Arga.
"Jangan pernah muncul lagi dihadapan Icha atau lo berurusan sama gue." Bisiknya penuh ancaman lalu pergi meninggalkan Arga yang menatap keduanya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Gavin, skuternya gimana?" Tanya Icha saat mereka berdua sudah jauh dari keberadaan Arga.
"Biar Satria dan Reno yang urus nanti." Jawab Gavin dengan suara datar khasnya.
"Maafin Icha." Lirih Icha meletakkan kepalanya di pundak Gavin, menatap Gavin dari samping.
"Kamu gak salah apa-apa." Jawab Gavin dengan pandangan lurus kedepan. Walaupun begitu, Icha masih dapat melihat rahang Gavin yang mengeras, menandakan laki-laki itu sedang menahan emosinya.
"Icha takut sama Arga, Nessi, Icha.."
"Stttt." Gavin memotong ucapan Icha.
"Jangan takut ya. Ada aku, dan sudah jadi tanggung jawab aku untuk jagain kamu." Balas Gavin memotong perkataan Icha sebelumnya.
Icha tersenyum, menatap Gavin dari samping. Keheningan menerpa mereka setelah itu. Tidak ada yang membuka pembicaraan hingga Icha akhirnya memutuskan untuk memulai pembicaraan.
"Icha jadi inget kejadian waktu pertama kali di gendong sama Gavin." Kata Icha tiba-tiba.
Wajah tegang Gavin perlahan mulai santai kembali. Ia menoleh kepada Icha dan tersenyum tipis. "Waktu kamu jatuh dari skateboard?"
Icha mengangguk. "Kenapa Gavin waktu itu ada disitu?"
"Aku mau ketemu sama kamu." Jawab Gavin terdengar jujur.
"Terus kenapa gak samperin Icha?"
"Takut ganggu."
"Seharusnya Gavin samperin, terus.." Icha menjeda perkataannya hingga membuat Gavin kembali menoleh kearahnya.
"Terus?" Tanya Gavin mengangkat satu alisnya.
"Terus larang Icha main skateboard, biar sama kayak bang Kenzo dan bang Kenzi." Jawab Icha malah membuat Gavin mengerutkan keningnya pertanda sedang bingung.
"Kamu suka dilarang gitu?"
"Suka. Itu tandanya kalian sayang sama Icha dan gak mau Icha kenapa-napa."
"Tapi kamu bandel. Udah dilarang, masih juga gak didengerin." Perkataan Gavin membuat Icha terdiam beberapa saat.
"Iya, kalo itu Icha salah. Khilaf." Jawab Icha lalu tertawa kecil. Mendengar tawa Icha membuat bibir Gavin perlahan melengkung. Ia tersenyum.
"Kita mau kemana?" Tanya Icha saat mereka sudah berada di parkiran, tepat di sebelah motor Gavin berada.
"Mau nonton?" Tawar Gavin dibalas anggukan antusias oleh Icha.
"Mau."
Keduanya pun naik keatas motor milik Gavin dan motor itu melaju menuju bioskop terdekat.
"Mau nonton apa?" Tanya Gavin saat mereka berdua sudah berada di tempat pembelian tiket.
"Mariposa ya? Soalnya kata Safira bagus, jadi pengen nonton juga."
"Mariposa 2 tiket mbak, yang jam 19:45. Kursinya 9C dan 10C." Kata Icha menunjuk kearah layar yang menampilkan kursi bioskop.
"Gak mau pilih kursi yang diujung dek? Biasanya orang pacaran kan pilihnya yang diujung. Mumpung masih kosong nih."
Icha menoleh kearah Gavin. "Gimana nih?"
"Yang diujung aja mbak." Jawab Gavin.
"Ini tiketnya, terima kasih."
Setelah mengambil tiket, mereka pun berjalan menuju tempat penjualan makanan dan minuman. Pastinya menonton tidak akan asik jika tidak didampingi popcorn dan minuman kan.
"Biar aku aja yang bawa." Kata Gavin sebelum Icha membawa bungkusan popcorn dan minuman mereka.
"Minuman Icha biar Icha yang bawa sendiri." Icha mengambil minuman miliknya dan menyeruput pelan.
Mereka pergi menuju teater tempat film mereka diputar. Antrian di depan pintu tidak begitu panjang karena memang pintu teater tersebut telah dibuka lima menit yang lalu, saat mereka masih membeli popcorn.
Saat mereka baru saja menduduki kursi bioskop, lampu di ruangan kedap suara itu dimatikan, menandakan film akan segera dimulai. Keduanya tampak menikmati film, sesekali berbincang pelan membahas film tersebut. Icha kemudian menatap kearah bangku di depannya lalu ke samping kanannya.
"Gavin gak mau genggam tangan Icha juga?" Bisik Icha menunjuk kearah pasangan yang duduk di sebelah mereka sedang saling bergenggaman tangan.
Gavin mengikuti arah tunjuk Icha dan menoleh kearah gadis itu dengan pandangan geli. "Mau kayak mereka?" Bisik Gavin.
Icha mengangguk malu. "Mau." Jawabnya dengan nada yang sangat pelan meskipun masih bisa Gavin dengar.
Tidak ada balasan dari Gavin. Beberapa detik kemudian, Icha merasakan sesuatu melingkupi tangannya. Ternyata itu tangan besar dan hangat Gavin yang sedang menggenggam tangannya. Mereka berdua bertatapan sambil tersenyum geli satu sama lain.
"Kayak lagu ya, malu tapi mau." Bisik Gavin dibalas kekehan oleh Icha.
"Mbak Mas, kalo mau ngobrol lewat chat aja. Lagi fokus nonton nih. Bikin iri orang aja. Gak ada yang bisa gue bisikin tau. Nasib banget jadi jomblo." Tegur orang di belakangnya yang ternyata hanya menonton sendirian.
"Sttttt." Desis orang yang berada di sekitar mereka, memandang tajam kearah orang yang tadi menegur mereka.
"Maaf atuh mas mbak. Kan yang berisik bukan saya." Jawab laki-laki itu yang sekali lagi dihadiahi tatapan tajam seperti menyuruhnya untuk diam.
Gavin dan Icha berpandangan sambil tertawa tanpa suara.
"Maaf ya mas." Balas Icha dengan nada berbisik.
"Nasib nasib." Meskipun terdengar sangat pelan, Gavin dan Icha masih bisa mendengar perkataan orang yang duduk di belakang mereka itu.
***
Icha dan Gavin kini berada di sebuah restoran yang berada dekat dengan bioskop. Setelah menghabiskan waktu kurang lebih dua jam di dalam bioskop, mereka pun memutuskan untuk mengisi perut mereka yang lapar. Dan disinilah mereka.
"Prom night minggu depan.. kamu mau datang sama aku? Hmm maksud aku, kamu mau jadi pasangan aku disana?" Tanya Gavin meletakkan sendok yang tadi ia pegang dan memilih menatap kearah Icha yang juga sedang menatapnya.
"Icha mau.. tapi Icha udah janji bakal datang sama Bang Kenzi." Jawab Icha dengan wajah tak enak.
Raut wajah Gavin berubah sebentar, sebelum kembali seperti sebelumnya. "Yaudah. Berarti kamu harus janji sama aku, kalo aku harus jadi pasangan dansa pertama kamu."
"Of course." Jawab Icha tersenyum lebar.
"Hmm Gavin?"
"Iya?" Gavin mengangkat wajahnya agar dapat melihat wajah gadis cantik dihadapannya itu.
"Setelah sekian lama, kenapa Arga muncul lagi? Bukannya urusan dengan dia sudah selesai?" Tanya Icha.
"Dia.." Gavin berhenti sebentar, mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Everythings gonna be alright okay? I promise." Jawab Gavin setelah terdiam beberapa saat.
"Itu sama sekali gak jawab pertanyaan Icha tadi."
"Ya.. itu.. Su-sudahlah. Jangan dipikirin lagi ya, dia cuma kebetulan ketemu aja tadi sama kita. Gak ada yang perlu dikhawatirkan."
TO BE CONTINUE