PITAGORA

PITAGORA
Part 5



SILAHKAN TINGGALKAN JEJAK


BUDAYAKAN VOTE SEBELUM BACA


COMMENT SETELAH BACA


WARNING!!!


BANYAK TYPO


NO COPAS


NO DARK READERS


SELAMAT MEMBACA


^^


AUTHOR : GITA


-----~oOo~-----


Beberapa menit yang lalu, Rio dan Icha sudah sampai di lapangan basket indoor SMA Pancasila. Keadaan di lapangan itu sangat ramai oleh murid SMA Dinata maupun SMA Pancasila. Pertandingan akan dimulai lima menit lagi. Sejak kedatangannya, Icha tak berhenti melihat kearah tim basket SMA Pancasila yang diketuai oleh kekasihnya sendiri, Arga. Sebenarnya gadis itu ingin menghampiri Arga, tetapi Rio menahannya dan berkata bahwa tim basket itu sedang menyusun strategi jadi lebih baik tidak usah diganggu.


Pertandingan pun dimulai. Tampaklah Gavin sebagai ketua tim  basket dari SMA Dinata berjabat tangan dengan Arga. Wasit pun melempar bola dan segera direbut oleh Gavin. Bola itu dibawanya menuju area lawan dan kemudian ia shoot sehingga menghasilkan poin untuk SMA Dinata.



Semua penonton berteriak histeris, apalagi ketika Gavin menyisir rambutnya keatas. Wajah yang memang sudah tampan itu tampak lebih tampan berkali-kali lipat dengan rambut yang acak-acakan dan wajah yang berkeringat. Berbeda dengan penonton yang lain, Icha hanya melihat kearah Arga. Ditatapnya laki-laki itu hingga ia berhasil menyetak poin untuk sekolahnya.


"Cha."


Icha yang merasa dipanggil pun menoleh. Wajahnya langsung tersenyum ketika mendapati Rere dan Safiraduduk disebelahnya.


"Kalian kenapa terlambat?" Tanya Icha.


"Itu tadi nungguin Safira lama banget ngomong sama bang Ken-" Belum sempat Rere menyelesaikan ucapannya, Safira sudah lebih dulu membungkam mulut Rere dengan tangannya dan memberikan pelototan pada gadis itu.


"Bang siapa Re?" Tanya Icha saat Safirq sudah melepaskan bungkamannya pada Rere.


"Bang.. ehm bang Kenan, iya bang Kenan." Kata Rere dengan gugup.


Icha menatap curiga pada Safira dan Rere membuat kedua gadis itu gelagapan.


"Ohh yaudah."


Perkataan Icha sontak membuat mereka berdua lega. Kedua gadis itu pun melirik kearah Rio yang duduk disebelah Icha.


"Hai Yo." Sapa Mereka.


"Eh, hai Re, Ra. Sejak kapan kalian dateng kesini? Jangan-jangan kalian pake kekuatan teleportasi ya?" Kata Rio sambil memasang senyum yang menyebalkan.


Rere dan Safira memutar bola mata mereka dengan malas. "Terserah lo deh Yo." Kata Safira.


"Gak usah diladenin Ra, makan hati entar." Balas Rere.


"Gue gak suka makan hati kok, kalo hatinya gue makan, lah nanti Icha nya dikemanain? Kasian dong dia gak dapet asupan bergizi dari hati gue." Kata Rio semakin melantur.


"Untung manusia kayak lo cuma satu di dunia ini. Bisa abis umat manusia kalo spesies kayak lo bertebaran dimana-mana." Keluh Rere. Rio hanya menjawab dengan cengirannya.


"Emangnya Icha mau dikemanain Rio?" Tanya Icha dengan wajah polosnya.


"ICHAAA!!" Teriak Rere dan Safira dengan wajah kesal mereka.


"Ya Allah, dosa apa hamba dikelilingi manusia seperti ini." Keluh Rere.


"Sabar Ra sabar, bunuh temen itu dosa. Sabar." Kata Safira berulang kali mengucapkan hal yang sama.


Akhirnya mereka berempat pun terdiam sambil menonton pertandingan. Sesekali mereka meneriakkan nama sekolah mereka. Sedangkan Icha hanya diam, tidak meneriakkan apa-apa. Sampailah pada waktu istirahat, Icha langsung turun dari kursi penonton sambil membawa botol air mineral yang tadi dibawanya.


"Eh Icha lo mau kemana?" Teriak Rere.


"Mau liat Arga." Balas Icha lalu berlari kearah pemain yang sedang berada dipinggir lapangan.


"Icha jangan!!" Teriak Safira tapi sudah terlambat, karena Icha sudah sangat jauh, jadi kemungkinan gadis itu tidak mendengar teriakannya.


Saat akan melangkah menuju Arga, langkah Icha terhenti karena seorang gadis yang ia yakini adalah gadis yang sama seperti yang dibonceng Arga tadi mendahuluinya.


"Makasih sayang." Kata Arga saat gadis itu memberikannya botol air mineral. Icha pun melihat kearah Arga yang terlihat tidak risih ketika gadis itu mengelap wajah berkeringatnya dengan tisu.


"Sayang?" Gumam Icha masih menatap kearah Arga.


"Eh." Kata Icha saat botol air mineral yang dibawanya tiba-tiba diambil oleh seseorang. Icha kemudian mengalihkan pandangannya pada Gavin yang kini tengah meneguk air mineral yang tadi ia bawa. Dari jarak sedekat ini, Icha tampak mengagumi Gavin yang memang sangat tampan jika dilihat dari semua sisi.



Setelah menghabiskan satu botol air minum dengan sekali teguk, Gavin pun meremas botol itu. "Makasih." Katanya dengan nada datar lalu duduk di barisan kursi penonton paling bawah.


Icha dapat melihat bahwa banyak sekali siswi yang mengerumuni Gavin dan menawarkan air minum mereka tapi ditolak mentah-mentah oleh laki-laki itu.


"Icha, ayo duduk." Suara itu membuat Icha menoleh. Kini giliran Teza yang berdiri didepannya dengan wajah yang menampilkan senyuman. Laki-laki itu menggunakan almamater OSIS nya yang berwarna dongker.


"Bang Teza, tapi Icha mau ketemu Arga." Kata Icha lalu menatap lagi kearah Arga yang mungkin hingga sekarang tidak menyadari keberadaan Icha.


"Sudah, ayo duduk." Kata Teza lalu menarik pelan tangan Icha untuk duduk di barisan pertama kursi penonton, tepat disamping Gavin.


"Icha mau ketemu Gavin." Kata Icha lalu berdiri. Namun, belum sempat ia melangkah, sebuah tangan menahan tangannya.


Icha menoleh kepada pemilik tangan itu. "Gavin, lepasin. Icha mau kesana."


Laki-laki itu memandang Icha dengan tatapan dingin khasnya. "Duduk." Kata Gavin dengan wajah seperti tidak mau dibantah.


"Tapii.."


"Duduk Icha." Suara Teza ikut terdengar.


Icha menghela nafas pasrah lalu duduk kembali walaupun dengan berat hati. Matanya masih menatap kearah Arga yang masih bersama gadis tadi, terlihat bahwa mereka sedang mengobrol dengan akrabnya.


"Gadis itu siapa? Kenapa dia deket Arga terus? Pasti dia saudara Arga kan? Icha benar kan?" Tanya Icha menatap Gavin dan Teza bergantian. Wajahnya terlihat murung.


Gavin dan Teza hanya diam tidak menjawab. Icha lagi-lagi menghela nafasnya dan menghembuskan nafas itu dengan kasar. Saat masih dengan keadaan murung, sebuah handphone terulur didepan Icha. Wajah yang semula murung itu berubah cerah.


"Gavin tau game kesukaan Icha?" Tanya Icha menatap layar handphone Gavin yang menampilkan game kesukaannya.


Tangan Gavin mengambil tangan Icha lalu diletakkannya handphone berlogo apel digigit itu ditangan gadis itu.


"Wahhh Gavin hebat, udah sampe level 900. Icha aja baru sampe level 100." Kata Icha sambil melihat game kesukaannya di handphone Gavin.


"Boleh Icha mainin?" Tanya Icha.


Melihat anggukan Gavin membuat Icha kembali tersenyum. Dengan semangat, ia langsung memainkan game itu. Tanpa dia sadari, Gavin dan Teza kini sedang saling pandang dengan tatapan yang mungkin hanya mereka saja yang paham maksudnya apa.


TO BE CONTINUE