PITAGORA

PITAGORA
Part 19



"Icha, bangun nak. Sudah jam setengah tujuh ini. Nanti kamu telat upacaranya." Bunda Icha menggoyang pelan tubuh Icha yang masih terlelap dibalik selimutnya.


"Bun, Icha belum bangun?" Tanya Kenzi memasuki kamar Icha disusul oleh Kenzo.


"Belum."


"Biar kami aja yang bangunin Icha. Bunda ke bawah aja temenin ayah." Kata Kenzo.


"Yaudah, nanti kalo udah selesai bangunin Icha kalian langsung sarapan kebawah ya."


"Siap bun!"


Sang bunda pun pergi meninggalkan kamar Icha. Si kembar saling bertatapan lalu tersenyum jahil.


"Lo tau apa yang gue pikirin?" Tanya Kenzi pada Kenzo.


"Gue tau. Ayo."


Kenzi mendekat kearah kasur Icha, sedangkan Kenzo pergi ke kamar mandi untuk mengisi bathtub dengan air hangat. Sampai di sebelah kasur Icha, Kenzi perlahan mengangkat Icha dalam gendongannya dan dibawanya menuju kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi, ia meletakkan tubuh Icha yang masih tertidur kedalam bathtub yang sudah diisi sebelumnya oleh Kenzo.


"Huaaaa banjirrrrr!!!!" Teriak Icha langsung terbangun.


"Hahahaha." Kenzo dan Kenzi tertawa terbahak-bahak karena berhasil mengerjai adik mereka. Keduanya bertos ria tanpa memperdulikan wajah cemberut Icha sekarang.


"Bundaaaa abang jahattttt." Teriak Icha dengan kesal.


"Eh jangan bilang bunda." Kata Kenzo dan Kenzi dengan panik.


Habislah mereka jika bundanya tau mereka mengerjai Icha. Bisa-bisa uang jajan mereka dipotong selama sebulan.


"Adik abang yang cantik. Jangan bilang bunda ya, nanti abang beliin eskrim deh." Kata Kenzi.


"Nanti abang ajak main timezone." Kata Kenzo.


"Janji?"


"Janji."


"Oke. Udah, abang keluar gih. Icha mau mandi." Usir Icha.


Kenzo dan Kenzi pun langsung keluar dan membiarkan adik mereka mandi. Beberapa menit kemudian, Icha telah selesai mandi dan berpakaian. Setelah merasa sudah siap, Icha pun turun kebawah untuk sarapan bersama keluarganya.


"Selamat pagi."


"Pagi dear, ayo duduk sini. Sarapan dulu." Bunda Icha menepuk kursi di sebelahnya.


Icha pun berjalan menuju kursi yang berada di sebelah kursi bundanya. Di meja itu ada ayah dan bundanya, Kenzo, Kenzi dan Rio. Seperti biasa.


"Selamat pagi calon ibu dari anak-anakku." Kata Rio lalu mengedipkan sebelah matanya.


"Ehem!" Ayah, Kenzo dan Kenzi berdehem secara bersamaan.


Rio tersenyum cengengesan ketika menyadari tatapan tajam tiga pria itu menghujam nya. Apalagi Kenzi dan Kenzo yang kini sedang memotong pancake dengan sangat sadis dan pandangan mata yang sangat tajam penuh peringatan kearahnya. Rio menelan ludahnya gugup.


"Icha mau pake saus coklat atau maple?" Tawar Bundanya, mencoba mengalihkan keadaan canggung tadi.


"Coklat aja bun."


Bunda Icha mengangguk dan menyerahkan botol saus coklat pada Icha.


"Yah Kenzi mau traveling lagi."


"Loh? Bang Kenzi kan baru pulang. Masa mau pergi lagi." Protes Icha.


"Gak bisa apa diem di rumah aja?" Sindir Kenzo.


"Yesss Bang Kenzi pergi." Bisik Rio dengan suara pelan.


"Apa lo bilang?" Kenzi menatap tajam pada Rio.


"Enggak kok bang, ini pancake nya enak banget." Kata Rio tersenyum lebar.


"Kamu kan sebentar lagi ujian Kenzi. Nanti aja pas liburan sekalian kita liburan bareng. Lagian bener kata adek kamu. Belum lama kamu pulang, masa mau pergi lagi." Kata sang Ayah.


"Namanya juga hobi yah." Kata Kenzi tersenyum lebar.


"Bener tuh kata ayah. Jangan terlalu sering, Kenzi. Nanti absen kamu gimana?" Celetuk Bundanya.


"Yaudah deh gak jadi bun, yah. Lagian Kenzi juga harus jagain Icha dari para hama-hama." Kata Kenzi menatap tajam kearah Rio.


Semua yang berada di meja makan tertawa, kecuali Rio yang tersenyum canggung sambil menggaruk kepala bagian belakangnya.


***


Setelah selesai sarapan, mereka berempat berangkat menuju sekolah menggunakan mobil Kenzo. Dalam perjalanan hanya terjadi keheningan hingga mobil milik Kenzo sudah terparkir rapi di parkiran SMA Dinata.


"Icha nanti pulangnya tunggu abang di depan gerbang ya." Kata Kenzi.


"Oke abang."


"Belajar yang bener, abang duluan ya." Kata Kenzo sebelum pergi bersama Kenzi.


"Ayo Cha, Rio antar." Kata Rio yang kini sedang berdiri diatas skateboard nya.


"Kelas kita kan gak searah Rio, Icha bisa sendiri kok."


"Gak apa-apa, ayo."


Mereka berdua pun berjalan menyusuri koridor. Tak jarang siswa dan siswi di koridor menyapa mereka berdua. Bahkan ada beberapa yang memotret Icha bersama Rio, mungkin mereka shippers Rio dan Icha.


"Hai Icha."


"Selamat pagi."


Pram, Putra, Aldi dan Dani datang melingkari Icha.


"Hai mas Pram, Aldi, Putra dan Dani." Sapa Icha dengan senyum manisnya.


"Wahhh." Keempat teman Rio terpesona melihat senyum Icha.


"Vitamin C dah ini, vitamin cinta." Celetuk Pram.


"Jadi semangat gue belajarnya kalo gini." Kata Aldi.


"Masyaallah ciptaanmu." Kata Dani.


Putra ikut tersenyum, "Gue rela deh dateng pagi kalo gini caranya."


"HEI HEI HEI Apa apaan klen hah? Itu ilernya netes tuh!" Tegur Rio dengan wajah kesal eh cemburu maksudnya.


"Hah mana?" Kata Aldi dengan panik mengusap sudut bibirnya.


"Lo nipu gue ya?" Kesal Aldi.


"Abisnya ngapain lo liatin calon masa depan gue kek gitu. Inget dosa woi!"


"Bangun Yo, udah pagi ini." Putra tertawa.


"Asem ya." Rio memasang wajah cemberut.


Tiba-tiba, dua orang menerobos kerumunan mereka yang berada di tengah-tengah koridor.


"MISI WOI! NGAPAIN KALIAN BLOCKING JALAN GINI?!!!" Teriak Rere.


"Udah Cha, sama kita aja. Bisa ketularan gak waras lo kalo ikut mereka." Kata Safira menggandeng Icha menjauhi Rio and the geng.


"Apa lo bilang? Kita gak waras?" Tanya Pram.


"Emang bener sih." Lanjutnya lalu cengengesan.


"Minggir." Suara datar nan dingin itu sontak langsung membelah kerumunan Rio dan kawan-kawannya.


Dua laki-laki tampan dan berbadan tegap berjalan dengan penuh wibawa di depan mereka. Yang satu terlihat tampan walau dengan seragam yang acak-acakan serta memakai jaket hitam yang di lengan kanannya terdapat logo GOD. Yang satu lagi terlihat sangat tampan dan berwibawa dengan menggunakan almamater OSIS SMA Dinata dan tas yang dipikul di pundak sebelah kanan.


"Iri deh gue." Celetuk Dani saat Gavin dan Teza sudah melewati mereka.


***


Icha, Rere dan Safira sudah sampai di kelas mereka. Ketiganya duduk di bangku masing-masing. Tak lama setelah mereka tiba di kelas, Gavin pun masuk ke dalam kelas dengan aura dingin seperti biasanya. Mereka bertiga mengikuti arah langkah Gavin hingga laki-laki itu berdiri di depan mereka–lebih tepatnya Icha.


"Masih sakit?" Tanya Gavin.


"Ehm Gavin ngomong sama Icha?" Tanya Icha bingung.


Gavin hanya terdiam tidak menjawab. Ia masih menatap kearah Icha membuat gadis itu gugup seketika.


"Iya Cha, Gavin ngomong ke lo." Bisik Rere yang duduk di sebelah Icha.


"Oh hm.. udah gak sakit lagi kok." Jawab Icha.


"Bentar-bentar. Ini maksudnya sakit apa ya? Lo sakit Cha? Kapan? Sakit apa? Gimana keadaan lo sekarang?" Tanya Safira meraba badan Icha, mencari apakah ada luka atau tidak.


"Icha gak apa-apa kok, kemarin cuma jatuh dari skateboard."


"Pasti ulah Rio." Tebak Rere.


"Gak salah lagi."


"Tapi lo udah gak apa-apa kan Cha?" Tanya Rere.


"Iya Icha gak apa-apa kok." Jawab Icha.


Gavin menggelengkan kepalanya ketika melihat interaksi ketiga gadis itu. Ia pun pergi menuju bangkunya untuk menghampiri Reno dan Satria yang sudah menunggu disana.


"Eh katanya ada murid baru." Bisik Safira.


"Iya, murid baru nya sepupu gue." Jawab Rere.


"Hah? Terus mana dia? Cewek atau Cowok?" Tanya Safira.


"Cewek, lagi di kantor kepala sekolah ngurus pindahan."


"Eh ayo ke lapangan." Ajak Icha.


Mereka bertiga pun berjalan bersama menuju lapangan. Sesampainya di lapangan, ketiganya baris bersama kelas mereka. Kebetulan sekali yang menjadi komandan barisan mereka adalah Teza dan laki-laki itu kini berdiri di sebelah kanan Icha.


"Selamat pagi. Gimana lukanya? Masih sakit?" Tanya Teza.


"Gak sakit lagi kok Bang Teza. Semangat ya jadi komandannya."


Teza tersenyum lalu mengangguk.


"Inget Cha, jangan pingsan ditengah upacara." Ledek Rere.


"Pingsan kenapa Re? Icha udah sarapan kok tadi." Tanya Icha heran.


"Ya gara-gara sebelah lo Bang Teza dong." Jawab Safira menaik turunkan alisnya menggoda Icha.


"Kalian bisa aja." Kata Teza menggelengkan kepalanya.


Upacara pun dimulai. Teza merapikan barisan, kemudian kembali lagi ke tempatnya semula. Ketika matahari terasa semakin panas, bendera merah putih dikibarkan, semua murid hormat.


Teza melihat kearah Icha yang penuh dengan keringat. Ia sedikit bergeser agar menghalangi matahari itu mengenai Icha. Icha yang merasa ada yang berbeda pun menoleh pada Teza. Melihat laki-laki itu tersenyum, ia pun ikut tersenyum.


TO BE CONTINUE