
Ruangan serba putih itu terlihat sangat membosankan. Bau obat-obatan menguar sangat tajam. Hening. Tidak ada suara apapun selain suara jam yang selalu berdetik. Icha menatap laki-laki berusia tiga puluh tahun di depannya dengan pandangan datar. Tidak ada ekspresi apapun di wajahnya. Di sampingnya, Kenzo terus menerus menatap khawatir adiknya itu. Sudah dua minggu berlalu sejak Gavin pergi. Keadaan berubah drastis, terutama Icha.
Icha menjadi pendiam. Ia bahkan tidak berbicara sampai sekarang. Berbagai upaya telah dilakukan untuk membuat Icha membicarakan apa yang terjadi pada gadis itu tapi nihil. Gadis itu hanya terdiam dengan pandangan kosong setiap seseorang mengajaknya berbicara. Keluarganya sudah sangat khawatir dengan keadaan Icha yang tidak biasa itu. Hingga disinilah ia, dalam ruangan putih yang sangat tidak menarik.
"Jadi dok, gimana hasil pemeriksaannya?" Tanya Kenzo.
"Nona Geraldine mengalami trauma dan shock. Mungkin ada sesuatu hal yang terjadi kepadanya yang menyebabkan trauma ini. Kejadian itulah yang membuatnya sangat shock sehingga keadaannya menjadi seperti sekarang. Apa ada hal yang terjadi nona?"
Icha terdiam tidak mengeluarkan suara apapun. Kenzo yang melihat itu pun menghela nafasnya. Ia sangat khawatir dengan keadaan adiknya itu. Sudah dua minggu berlalu, Icha tidak pernah mau berbicara. Bahkan pola makan gadis itu tidak teratur. Harus dipaksa dulu baru Icha mau makan. Semua keluarga mereka khawatir, bahkan Kenzi pun menunda kepergiannya ke Australia karena hal ini.
"Jadi gimana cara menyembuhkannya dok?"
"Ada terapi untuk itu. Kita harus berusaha membuat Icha melupakan traumanya dan bangkit kembali. Semua itu tidak mudah, Kenzo. Maka dari itu diperlukan dukungan dari orang terdekatnya. Proses penyembuhan ini juga memerlukan waktu yang cukup lama. Icha harus cek up seminggu sekali untuk melihat perkembangannya."
Kenzo menatap sedih pada adiknya itu. Ia tidak tau apa yang terjadi pada Icha sehingga membuat gadis itu menjadi seperti sekarang.
"Lakukan apapun dok, saya mau adik saya sembuh dan kembali ceria seperti dulu."
***
Setelah berjalan sangat lama, Gavin duduk diatas bangku taman yang berada tidak jauh dari tempat tinggalnya. Pandangannya kosong ke depan. Pikirannya melayang entah kemana. Sejak ia pergi meninggalkan Indonesia, hanya satu orang yang selalu ia pikirkan setiap saat. Icha.
"Apa kabar kamu Cha? Aku harap kamu baik-baik aja." Lirih Gavin.
Tidak ada satu hari pun ia lewati tanpa memikirkan Icha. Bahkan Gavin selalu menanyakan kabar gadis itu kepada Satria dan Reno, tapi mereka berdua tidak mengetahui kabar apapun tentang Icha. Gadis itu seperti menghilang. Selain kedua temannya, Gavin juga menanyakan kabar Icha pada Rere dan Safira tapi yang didapatkannya hanya umpatan kedua gadis itu.
Gavin menghela nafasnya. Ia memang pantas mendapatkan makian seperti itu setelah apa yang ia lakukan. Percayalah, ia tidak punya pilihan lain yang tersisa. Ia harus pergi dan melibatkan Icha dalam kepergiannya bukanlah sesuatu yang bagus. Gadis itu akan sangat sedih dan dia tidak ingin itu.
"Aku kangen kamu Cha." Lirih Gavin menatap sendu keatas langit, berharap pesan rindunya tersampaikan pada gadis yang sangat cintai.
__________
TAMAATTTTTT!!!!
SAMPAI JUMPA DI SEQUEL YAAAA
❤️❤️❤️❤️ Gita~