
Setelah kepergian bundanya, Kenzo dan Kenzi, Icha membaringkan kembali tubuhnya di ranjang. Ditatapnya langit kamar lama-lama.
"Eh dari tadi Icha belum buka hape." Gumam Icha.
Icha bangkit dan berjalan menuju tas sekolahnya. Ia membuka tas itu dan merogoh handphone miliknya. Saat akan menghidupkan handphonenya, ternyata layar menampilkan gambar baterai.
"Lowbat." Gumam Icha.
Icha pun mengecas handphonenya. Setelah itu ia kembali ke kasur dan tidur.
***
Keesokan paginya, Icha sudah rapi dengan bajunya. Pagi ini ia berniat menjenguk Rio bersama Kenzo dan Kenzi. Saat akan pergi, Icha menepuk keningnya membuat kedua kakaknya menatap dengan bingung.
"Icha lupa ambil hape. Tunggu sebentar." Kata Icha lalu berlari menuju kamarnya.
Setelah mengambil handphonenya, Icha bergerak menyusul Kenzo dan Kenzi yang sudah berada di dalam mobil.
"Sudah?" Tanya Kenzi.
"Sudah." Jawab Icha.
Kenzi menghidupkan mesin mobilnya. Mobil berwarna hitam itu perlahan meninggalkan halaman rumah Icha.
"Kamu jadi nginep di rumah Rere?" Tanya Kenzo menatap kearah Icha.
"Jadi, nanti sore dijemput sama Safira."
"Kamu yakin nginep disana bukan mau modus sama Teza?" Kenzi bertanya dengan memicingkan matanya lewat kaca spion.
"Kalo itu salah satunya." Jawab Icha lalu tertawa.
Saat berada di lampu merah, Kenzo dan Kenzi menoleh ke belakang dan menatap Icha dengan tajam. Icha yang ditatap seperti itu pun tersenyum lebar.
"Bercanda aja kok." Kata Icha lalu terkekeh.
Lampu kembali berubah hijau. Mobil Kenzi bergerak maju melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah sakit. Lima menit kemudian, mobil Kenzi sudah memasuki parkiran rumah sakit. Setelah memarkirkan mobil, mereka bertiga turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah sakit.
"Eh Icha." Mami Rio berdiri dari duduknya ketika melihat kedatangan Icha, Kenzo dan Kenzi.
"Mami." Icha bercipika cipiki dengan Mami Rio. Ia menyerahkan kue brownies yang tadi disiapkan oleh bundanya.
"Wahh makasih ya, repot repot."
"Tante." Kenzi dan Kenzo menyalami mami Rio.
"Panggil Mami aja, kayak Icha tuh."
"Iya Mi." Kata Kenzo dan Kenzi serempak.
"Eh itu ada tas siapa Mi?" Tanya Icha saat melihat tas kerja berwarna hitam di sofa.
"Ohh itu tas papi."
"Papi mana mi? Udah lama banget Icha gak ketemu Papi."
"Lagian keluar sebentar, beli makanan."
"Rio nya tidur ya Mi?" Tanya Icha menunjuk kearah Rio yang berbaring membelakanginya.
"Tadi masih bangun kok, kamu liat gih."
Icha, Kenzo dan Kenzi berjalan mendekat kearah ranjang Rio. Icha berdiri tepat di depan Rio yang menatap kosong kearah jendela. Sedangkan Kenzo dan Kenzi berdiri di seberangnya.
"Hai Rio, selamat pagi!" Sapa Icha tersenyum manis.
Rio masih diam tidak mengeluarkan suara, bahkan pandangannya pun sama sekali tidak teralihkan dari jendela. Kenzo, Kenzi dan Icha saling pandang.
"Yo, gimana kabar lo?" Tanya Kenzo.
"Buruk." Jawab Rio singkat.
"Masih ganteng gini kok, buruk dari mananya." Kata Kenzi berusaha bercanda.
Rio hanya terdiam tidak membalas. Bahkan ia tidak mengeluarkan ekspresi apapun, tidak seperti Rio biasanya yang selalu tertawa dan memasang wajah bahagia.
"Rio." Panggil Icha. Rio menatap kearah Icha.
"Icha gak suka liat Rio gini, ini bukan Rio yang Icha kenal. Rio yang Icha kenal itu selalu tersenyum, lucu dan selalu tertawa. Icha rindu Rio yang dulu. Icha yakin Rio pasti bisa sembuh kok." Icha tersenyum diakhir kalimatnya.
"Ini bukan Rio yang dulu Cha. Gak semua hal bisa diketawain, gue gak mungkin ketawa dalam keadaan yang seperti ini. Dalam keadaan gue sakit dan bisa mati kapan aja." Jawab Rio kembali mengalihkan tatapannya kearah jendela.
Icha merasakan pandangannya mengabur karena air mata.
"Lo gak boleh bilang gitu Yo. Gue yakin lo pasti sembuh. Lo jangan patah semangat gitu dong, inget banyak yang sayang sama lo disini." Kata Kenzo.
"Apa yang gue harapin? Sembuh? Hah bahkan gak ada sekalipun gue mikir mau sembuh."
"Jadi lo mau nyerah? Coba liat Mami lo Yo, nyokap yang udah lahirin lo. Dia yang setia ngurusin lo, yang selalu berdoa untuk kesembuhan lo. Dan apa yang lo kasih? Lo nyerah dan malah mikir mau mati? Lo gila?" Kenzi berkata dengan sedikit kesal.
"Iya gue gila karena setiap harinya penyakit ini akan semakin menggerogoti nyawa gue. Gak ada lagi yang bisa gue harapin."
"Rio, Icha gak suka Rio ngomong gitu. Seharusnya Icha yang ada diposisi Rio, seharusnya Icha yang sakit, seharusnya Icha yang mati aja, seharusnya Rio gak nolongin Icha pas itu."
"ICHA!" Teriak Rio, Mami Rio, Kenzo dan Kenzi bersamaan.
"Aku gak pernah nyesal udah nolong kamu Cha. Aku gak tau bakal segila apa aku kalo kamu ada diposisi aku. Jangan pernah berpikiran seperti itu lagi. Aku gak suka."
"Iya, seperti itu juga yang Icha rasain. Icha gak suka Rio berpikiran seperti itu. Bener kata Bang Kenzo dan Bang Kenzi, banyak yang sayang sama Rio dan doain kesembuhan Rio, terutama Mami. Jadi Icha mohon, Rio jangan nyerah. Icha yakin Rio bakal sembuh."
"Aku.. aku mau tidur." Kata Rio lalu menutupi semua tubuhnya dengan selimut.
Icha menatap sedih kearah Rio. Begitupun Kenzo dan Kenzi yang juga tampak sedih. Icha, Kenzo dan Kenzi berjalan menjauhi ranjang dan menghampiri mami Rio yang tampak melamun.
"Mami." Panggil Icha.
"Eh iya sayang."
"Kami pamit pulang dulu ya Mi, semoga Rio cepat sembuh. Mami yang kuat ya, kami yakin Rio pasti bisa sembuh." Kata Kenzo mewakili.
"Makasih ya." Mami Rio tersenyum.
"Papi!" Panggil Icha.
Papi Rio menatap kearah Icha lalu tersenyum. Icha, Kenzo dan Kenzi berjalan menghampiri papi Rio dan menyalaminya.
"Icha, Kenzo dan Kenzi kan? Apa kabar?" Tanya Papi Rio
"Baik Pi." Jawab ketiganya serempak.
"Jenguk Rio ya?"
Mereka bertiga mengangguk.
"Papi kapan pulang ke Indo?" Tanya Icha.
"Kemarin malam."
"Yaudah kalo gitu, kami pamit dulu ya Pi." Kenzi berkata dengan cepat sebelum Icha semakin lama mengobrol dengan Papi Rio.
"Hati-hati ya."
Mereka melanjutkan perjalanan mereka kembali. Saat hampir sampai mobil, Kenzo mendapat panggilan di handphonenya.
"Icha, Safira mau ngomong nih. Hape kamu mana?" Tanya Kenzo.
"Hape Icha di tas, belum Icha buka dari tadi malem."
Kenzo menyerahkan handphonenya pada Icha.
"Halo Ra."
"Icha, hape lo kemana sih? Dari tadi di telfonin gak aktif terus."
"Maaf Ra, Icha belum buka hape dari semalem. Tadi malem di cas sampe pagi, paginya gak sempat buka hape."
"Yaudah deh, gue cuma mau ngasih tau kalo gue sama Dara udah di rumah Rere. Lo langsung nyusul aja. Awalnya gue mau jemput lo tapi kata Bang Kenzo lo gak di rumah."
"Cepet banget Ra, bukannya sore kesananya?"
"Ya gapapa, biar lebih banyak waktu Cha. Udah cepet kesini, kita nungguin nih." Teriak Rere dari seberang telfon.
"Iya iya Icha kesana." Kata Icha sebelum menutup telfonnya.
Setelah sambungan terputus, Icha mengembalikan handphone itu kepada Kenzo.
"Bang Kenzi, anterin Icha ke rumah Rere ya."
"Loh cepet banget? Katanya sore?"
"Gak tau tuh tadi disuruh Safira."
"Yaudah, ayo naik."
***
Icha telah sampai di rumah Rere. Kenzi dan Kenzo langsung pergi saat selesai mengantar Icha tadi. Icha berjalan menuju pintu. Saat akan membuka pintu, ternyata pintu itu terlebih dulu dibuka dari dalam.
"Bang Teza."
"Icha."
Mereka berkata secara bersamaan.
"Ayo masuk." Ajak Teza.
Icha mengikuti Teza duduk di sofa ruang tamu. Ketika memasuki rumah itu, Icha disungguhkan dengan interior yang minimalis namun tetap mengandung unsur tradisional. Banyak foto keluarga yang terpajang. Icha bahkan hampir tertawa ketika melihat foto Rere yang mengenakan kebaya dan rambut yang disanggul. Sangat bukan Rere sekali. Rere adalah perempuan tomboi yang tidak suka aturan dan menyukai kebebasan. Icha dapat membayangkan bagaimana tersiksanya Rere harus menuruti semua peraturan keluarga bangsawannya.
"Kamu gak sama Safira?" Tanya Teza saat mereka sudah duduk di sofa.
"Loh, bukannya Safira sudah disini?" Icha terkejut.
"Iya, tadi. Tapi mereka pergi lagi, katanya mau nyari makan." Jelas Teza.
Icha mengangguk mengerti. "Orang tua Bang Teza mana?"
"Jangan dulu Cha, belum saatnya. Nanti aja ketemunya, tunggu abang udah sukses." Canda Teza.
Icha tertawa ketika menyadari maksud Teza. "Bisa aja."
"Eh, ini buku Bang Teza?" Tanya Icha saat melihat buku yang berserakan diatas meja.
Teza mengikuti arah pandang Icha, "Iya, abang tadi lagi belajar untuk UN."
"Kenapa gak lanjut belajar?" Tanya Icha lagi.
"Nanti aja, abang mau nemenin kamu."
"Belajar aja bang Teza, gak apa-apa. Lagian Icha pengen liat seserius apa Bang Teza kalo lagi belajar. Kata orang sih sampe gak sadar sekitar." Kata Icha terkekeh diakhir kalimatnya.
Teza ikut terkekeh. Memang benar, Teza akan sangat serius ketika belajar dan tidak mau diusik oleh siapapun. Ketika ia sudah memegang buku, ia tidak akan memperdulikan hal lain selain materi yang ada di bukunya. Ada yang seperti Teza? Kalo author gak banget deh wkwk #teamsks menjelang ujian bahahhaha
"Yaudah." Teza duduk di atas karpet, diikuti oleh Icha yang duduk di sebelah laki-laki itu.
"Oh iya, tadi Safira suruh kamu buka hape."
"Oke."
Icha mengeluarkan handphonenya dari dalam tas selempang ya. Ia menyalakan handphonenya. Saat sudah menyala, handphone Icha langsung mendapat banyak sekali notifikasi. (Beda sama author yang notifnya cuma dari telkomsel sama grup😭😭 hiks).
Icha membuka aplikasi whatsapp. Banyak sekali pesan dari Bundanya, Ayahnya, Kenzo, Kenzi, Safira, Rere dan satu video yang dikirimkan oleh Satria. Merasa heran tidak biasanya Satria mengiriminya pesan dan kepo dengan video yang dikirim oleh Satria, Icha pun membuka pesan dari Satria. Teza yang sedari tadi memerhatikan Icha mendekat untuk melihat layar handphone Icha karena sejak membuka handphone, gadis itu terdiam dengan kedua mata terpaku pada layar. Saat dilihat, disana ada Gavin yang sedang bernyanyi diiringi gitar. Teza beralih menatap wajah Icha yang tampak sangat fokus dan menikmati video itu, bahkan Teza dapat melihat genangan dipelupuk mata Icha saat video itu diakhiri dengan pernyataan cinta dari Gavin. Teza menghela nafasnya pelan dan memalingkan wajahnya.
"Boleh gak sih sekali aja abang mau egois Cha, abang cuma mau kamu fokus sama abang aja dan lupain Gavin."
TO BE CONTINUEE
HAIII READERS KUHHH TEMANKUUHHH❤️❤️❤️ PA KABS :') RINDU NEHHHH!!! KLEN RINDU JUGA GAAA HEHEH
MAAP YA NGARET LAMA BINGITTTTT
BTW SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI. MINAL AIDIN WALFAIDZIN MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN YAAA😊😊🙏🙏🙏