
"Kamu... bahagia sama Teza?" Tanya Gavin.
Icha terlihat terkejut dengan pertanyaan Gavin. Ia mengalihkan pandangannya dari Gavin. "Iya." Jawab Icha pelan.
"Mungkin" Lanjut Icha di dalam hati.
"Kamu ragu."
Icha kembali melihat kearah Gavin. "Icha.."
"Lalu gimana? Perasaan kamu?"
Icha mengangkat satu alisnya tanda ia bingung. "Sama bang Teza?"
"Perasaan kamu ke aku."
Bibir Icha terbungkam. Lalu perlahan, ia mulai membuka bibirnya kembali. "Icha gak punya perasaan apapun sama Gavin." Jawab Icha tanpa melihat kearah Gavin.
"Bohong." Kata Gavin dengan cepat.
"Dengerin kata hati kamu Cha. Hidup selalu menyediakan pilihan. Kamu yang berhak memutuskan, bukan orang lain. Karena ini hidupmu, hakmu untuk menentukan pilihanmu sendiri." Lanjut Gavin.
"Tapi.."
"Sudah cukup Cha, jangan bohongin diri sendiri lebih lama lagi. Jangan menjauh lagi. Please." Suara Gavin terdengar lirih diakhir.
"Icha gak suka pilihan Gavin. Icha benci harus memilih. Kalian semua punya tempat istimewa sendiri untuk Icha."
"Icha." Suara itu membuat Gavin dan Icha menoleh dan mendapati Teza berdiri tidak jauh dari mereka.
"Bang Teza."
"Mungkin ini kedengarannya egois, tapi abang mohon beri kami kesempatan untuk membuktikan. Lalu setelahnya, kamu boleh memilih apa yang jadi pilihan kamu."
"Memilih? Lagi?" Icha mundur dua langkah menjauh.
"Itu yang kalian mau?"
Teza dan Gavin mengangguk bersama.
"Malam saat kamu nginap dirumah abang, abang mendengar semua tentang kamu dengan Gavin dan Dara. Jadi abang memutuskan untuk nemuin Gavin. Itu alasan kenapa semalaman abang gak pulang." Jelas Teza.
***
"Loh Icha? Lo dari mana aja? Terus kenapa bisa sama Bang Teza dan Gavin?" Safira berdiri menghampiri Icha yang baru saja datang bersama Gavin dan Teza.
"Icha ada urusan sebentar. Maaf ya Icha ninggalin Safira." Balas Icha.
"Gak apa-apa, yaudah duduk. Makanannya sampe dingin nih." Safira menuntun Icha untuk duduk di tempatnya semula.
Mereka semua pun mulai makan makanan masing-masing. Tidak ada yang berbicara selama makan karena larangan Teza.
Setelah makan, mereka berencana untuk menaiki bianglala sebelum mereka pulang. Hari sore juga menjadi pilihan karena mereka bisa melihat matahari yang terbenam dari atas bianglala. Mereka dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama terdiri atas Icha, Teza, Gavin, Dara dan Rio. Sedangkan kelompok lainnya Kenzo, Kenzi, Rere dan Safira.
Wahana itu mulai berputar. Setelah pembicaraannya bersama Teza dan Gavin tadi, Icha menjadi sedikit pendiam. Saat wahana itu berhenti di paling atas, mereka dapat melihat matahari yang perlahan mulai menghilang. Sangat indah.
Icha merasakan seseorang memasangkan headset pada telinganya. Ia menoleh ke kanan dan mendapati Gavin yang memberikan senyuman tipis padanya. Alunan musik berjudul Be Alright dari Justin Bieber mengalun indah di telinga Icha. Icha ingat, lagu ini lah yang saat itu Gavin nyanyikan untuknya di video yang dikirim oleh Satria.
Ketika wahana itu berputar kembali ke bawah, mereka segara bergantian turun. Karena lelah seharian bermain disini, mereka pun memutuskan untuk pulang.
Di mobil, Kenzo, Kenzi serta Rio saling pandang saat sadar bahwa Icha menjadi sedikit pendiam dari biasanya.
"Cha, ada apa? Kenapa kamu diam aja dari tadi?" Tanya Rio.
"Kamu ada masalah dek?" Tanya Kenzo.
"Icha gak apa-apa." Jawab Icha sambil melihat kearah luar jendela.
"Kamu gak pinter bohong Cha." Kata Kenzi.
"Icha cuma capek aja." Jawab Icha.
Kenzo, Kenzi dan Rio awalnya ragu, namun ketika melihat Icha seperti tidak ingin diganggu, mereka pun diam dan mengurungkan niatnya untuk bertanya lagi pada Icha.
Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di rumah Icha. Kenzo dan Kenzi turun terlebih dahulu.
"Icha, aku mau ngomong sesuatu." Kata Rio sebelum Icha melangkah meninggalkannya.
"Iya, mau ngomong apa?" Tanya Icha.
"Besok aku harus ke Australia."
Ucapan Rio langsung membuat Icha terdiam.
"Gak ada pilihan lain Cha. Aku harus kesana. Aku masih mau sehat untuk ngelihat kamu bahagia nanti, walaupun bukan dengan aku."
"Besok Icha antar ke Bandara."
Rio menggelengkan kepalanya. "Gak usah Cha. Bakal berat rasanya untuk ninggalin Indonesia kalo kamu ada disana." Tolak Rio dengan halus.
"Tapi.."
"Aku janji bakal balik kesini lagi Cha. Lagian kan kamu masih ada janji mau main skateboard lagi." Kata Rio terkekeh diakhir kalimatnya.
"Dan.. boleh gak aku peluk kamu untuk yang terakhir kalinya sebelum aku pergi?" Tanya Rio.
Air mata sudah tidak dapat Icha bendung lagi. Ia langsung berhambur memeluk Rio. Ia pasti akan sangat merindukan Rio.
"Jangan lupain Icha ya, semoga Rio cepat sembuh jadi bisa ketemu Icha lagi."
"Mana mungkin aku bisa ngelupain kamu Cha. Mustahil rasanya." Rio terkekeh diakhir kalimatnya.
Icha ikut tertawa kecil lalu melepaskan pelukannya.
"Yaudah sana masuk. Jangan lupa mimpiin aku ya, jangan indah soalnya gak kenal."
"Bisa aja sih." Icha tertawa lagi dan melambaikan tangannya pada Rio sebelum masuk ke dalam rumah.
"Semoga kita bisa ketemu lagi Cha, walaupun di alam yang berbeda." Lirih Rio menatap kearah rumah Icha sekali, lalu pergi meninggalkan rumah Icha.
***
Keesokan paginya, Icha sudah siap dengan seragam sekolahnya. Pagi ini ia akan diantar oleh Kenzi. Kedua kakaknya sudah tidak pergi ke sekolah lagi. Mereka hanya tinggal menunggu kelulusan saja. Sekarang sekolah akan semakin sepi. Karena selain Rio, Kenzo, dan Kenzi, Teza juga tidak akan ada di sekolah.
"Dek, kenapa melamun?" Tanya Kenzi saat mereka dalam perjalanan menuju sekolah.
"Icha cuma mikirin sekolah bakal sepi sekarang." Lirih Icha.
"Kan masih ada Rere sama Safira? Lagian kamu kan masih bisa ketemu abang di rumah. Tenang aja ya, yang penting kamu fokus belajar aja jangan pikirin hal yang lain." Kenzi mengelus pelan rambut Icha.
"Iya abang."
Tak lama, mobil Kenzi sudah berada di depan gerbang sekolah Icha. Icha menyalami kakaknya itu sebelum turun dari mobil. Sekolah tampak sudah ramai oleh murid-murid. Icha berjalan memasuki sekolah. Ketika ia berjalan di koridor, Icha melihat semua orang berbisik-bisik sambil melihat kearahnya.
"Pho." Kata seorang murid perempuan ketika Icha lewat.
Icha mendengar dengan jelas apa yang semua murid katakan padanya, namun ia hanya terdiam. Ia bahkan bingung kenapa mereka bersikap seperti itu padanya.
"Icha!" Icha menoleh kebelakang. Ternyata, Rere dan Safira yang memanggilnya. Keduanya berlari kearah Icha.
"Kenapa?" Tanya Icha saat keduanya sudah berada disampingnya.
"Lo harus ikut kita." Kata Rere menarik lengan Icha.
"Kemana?"
"Ke kelas." Jawab Safira.
"Eh bentar itu kenapa mading rame banget Re?" Tanya Icha saat melihat kawasan mading ramai.
"Palingan info lomba. Udah ah, langsung ke kelas aja Cha." Jawab Rere.
"Bentar Re." Icha melepaskan pegangan Rere ditangannya dan berlari menuju mading.
"ICHA!!" Teriak Rere dan Safira lalu mengejar Icha.
Icha menerobos kerumunan siswa yang memadati mading dan melihat kearah mading. Seketika, ia terkejut dan menutup mulutnya tak percaya. Di mading, ada fotonya dan Gavin di Dufan saat keduanya berbicara. Foto itu seperti diambil sebelum Teza datang. Dan tertulis bahwa ia adalah perusak hubungan Dara dengan Gavin. Beberapa cemoohan ia terima dari siswa yang masih berada di sekitar mading.
Safira yang baru saja datang bersama Rere langsung merobek lembaran dan foto Icha yang berada di mading.
"Icha, lo gak apa-apa?" Tanya Safira menyentuh bahu Icha.
"Siapa yang buat ini? Icha difitnah." Lirih Icha.
"APA KALIAN LIAT-LIAT? PERGI GAK? BUBAR SANA!" Teriak Rere saat siswa di sekeliling mereka menatap dengan keingin tahuan. Mendengar teriakan Rere, mereka semua pun bubar.
"Tadi pas kita dateng, kita ngedengerin siswa disini pada ngomongin lo Cha. Gue nanya ke mereka dan kata mereka ada berita tentang lo di mading. Mangkanya kita gak mau lo liat ke mading Cha."
"Kita gak tau siapa yang buat ini Cha. Udah lo jangan sedih, kita bakal cari tau siapa yang tega nyebarin fitnah tentang lo." Kata Rere menenangkan.
TO BE CONTINUE
Jahat banget ya yang nyebarin gosip tentang Icha. Menurut kalian siapa ya kira-kira orangnya??
Oh iya author mau nanya nih ke kalian
Jadi beberapa hari ini author selalu mimpiin cowo gitu. Herannya, mimpi itu tentang orang yang sama. Author gak kenal orangnya. Cuma emang udah beberapa kali ke mimpi. Bahkan kalo mimpiin dia itu author tidurnya sampe 12 jam an gitu, bangunnya jam 12 siang. Kalo pun author terbangun awal, nanti lanjut tidur mimpinya bakal nyambung lagi dari mimpi sebelumnya. Padahal sebelumnya gak pernah tidur segitu lamanya. Menurut kalian gimana? Ada yang pernah ngalamin hal yang sama gak? Boleh tolong comment pendapat kalian dibawah atau gabung chat sama author dongg biar bisa ngobrol barengg hehehe
ig : @gitasyaf