
"Hmm.." Icha memasang pose seperti sedang berpikir. Melihat itu, Gavin tersenyum tipis.
"Kalo gak boleh gimana?" Icha menatap kearah Gavin dengan menaik turunkan alisnya, bermaksud menggoda laki-laki itu.
"Hmm gimana ya?" Gavin meniru ekspresi Icha saat pura-pura berpikir tadi. Tingkah Gavin yang lucu membuat Icha tertawa kecil. Bisa kalian bayangkan, seorang yang dingin, cuek yang sebelumnya tak pernah berekspresi seperti Gavin memasang pose menggemaskan seperti itu dan hanya ditunjukkannya pada Icha? Ah, memikirkannya membuat Icha semakin berbunga-bunga.
"Kenapa ketawa?" Gavin beralih menatap bingung pada Icha ketika mendapati gadis itu tertawa tadi. Icha menjawab pertanyaan Gavin dengan gelengan kepala.
"Gak ada apa-apa kok, cuma Icha ngerasa Gavin lucu aja." Icha tersenyum lebar.
"Dasar kamu ya." Gavin mencubit pelan hidung Icha, membuat gadis itu tertawa geli.
Keheningan menerpa keduanya. Icha sedang menatap kearah langit-langit uks. Berbeda dengan Icha, Gavin sedari tadi menatapi wajah cantik Icha yang tidak pernah membuatnya bosan untuk selalu tersenyum ketika memikirkan wajah cantik itu. Bertahun-tahun rasa yang ia punya pada gadis itu, kini terbalaskan dan ia berharap semua akan berakhir bahagia seperti cerita dongeng Cinderella kesukaan gadis itu waktu kecil.
"Gavin melamun?"
Suara Icha membuat Gavin kembali ke dunia nyatanya. Ia menatap kearah sepasang mata coklat yang sedang menatapnya. Dapat dirasakannya, sebuah perasaan yang dimiliki gadis itu lewat tatapan tulus yang diberikan kepadanya. Dalam hati, Gavin mengucapkan berkali-kali kata syukur karena padanya lah tatapan tulus itu diberikan. Oleh pujaan hatinya.
kringgg
Bunyi bel pulang sekolah berbunyi nyaring pertanda kegiatan belajar mengajar di SMA Dinata telah usai. Beberapa saat kemudian, terdengar langkah kaki yang sangat banyak jumlahnya melewati sebelah uks. Pastinya itu adalah langkah kaki para murid yang ingin segera pulang kerumah untuk segera bergerumul di kasur mereka dan melupakan sejenak materi rumit yang mereka dapatkan di sekolah.
"Sudah bel pulang. Mau pulang sekarang?" Tanya Gavin.
Icha menganggukkan kepalanya. "Iya."
Mendengar persetujuan dari Icha, Gavin pun membantu gadis itu untuk duduk. Icha memegang kepalanya yang sedikit pusing ketika ia duduk tadi. Hal itu mengundang tatapan cemas dari Gavin.
"Kepala kamu masih sakit?" Tanya Gavin dengan rasa cemas yang langsung menyergapnya.
Icha tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya setelah dirasa rasa sakit itu sudah menghilang. "Icha gak apa-apa." Jawabnya.
"Kamu bisa jalan gak? Atau mau aku gendong aja?" Tanya Gavin saat Icha mulai menginjakkan kakinya yang hanya dibalut kaos kaki ke lantai uks.
Kekehan keluar dari mulut Icha. "Yang sakit kan kepala Icha, bukan kaki Icha, Gavin." Jawab Icha. Gadis itu mengingat saat dulu ia pernah digendong oleh Gavin saat dirinya terjatuh dari skateboard milik Rio. Ah, Icha jadi merindukan Rio, padahal belum lama laki-laki itu pergi meninggalkan Indonesia.
"Yaudah, pegang tangan aku aja, antisipasi kalo nanti kamu pusing." Gavin memberikan tangannya untuk digandeng Icha. Dengan senang hati, Icha pun berpegangan pada tangan Gavin.
Gavin menuntun Icha menuju bangku yang berada di luar uks. "Kamu duduk disini sebentar." Gavin mendudukkan Icha diatas kursi itu lalu pergi menuju rak sepatu yang berada disamping bangku tersebut dan mengambil sepasang sepatu Icha.
Gavin kemudian menumpukan lututnya di depan Icha sehingga kini tinggi mereka sama karena memang tinggi Icha hanya sebatas bahu Gavin saja. Dengan hati-hati, Gavin memasangkan sepatu Icha. Icha yang melihat itu merasa terharu. Laki-laki itu memperlakukannya dengan baik dan penuh kelembutan seolah olah ia adalah sesuatu yang mudah pecah.
"ICHA! GAVIN!!" Teriakan itu mengalihkan pandangan Gavin dan Icha. Tak jauh dari mereka, berdirilah Satria dan Reno yang masing-masing dari mereka membawa tas Gavin dan Icha. Keduanya berjalan mendekat kearah Icha dan Gavin.
"Hai Icha, gimana keadaan lo?" Tanya Satria ikut duduk di sebelah Icha, sedangkan Reno hanya berdiri menyandar di dinding sebelah bangku yang diduduki Satria dan Icha.
"Icha baik, Satria." Balas Icha tersenyum menandakan ia baik-baik saja.
"Syukur deh. Sabar ya Cha, semua akan indah pada waktunya." Satria memandang kasihan pada gadis yang duduk disampingnya itu. Satria sangat tau dengan hati lembut Icha yang belum pernah menerima sikap kasar dalam bentuk apapun sebelumnya. Ia juga merasa marah ketika ada seseorang yang berani melakukan perbuatan buruk pada gadis lugu itu yang selama ini tidak pernah dilakukan orang lain bahkan keluarga gadis itu sendiri.
"Uhh Gavin romantis banget." Satria menatap kearah Gavin yang sudah hampir selesai menyimpulkan tali pada sepatu Icha. Gavin yang mendengar godaan dari Satria hanya menatap sekilas dan berdiri ketika sudah selesai.
"Kalian langsung pulang habis ini?" Tanya Reno yang baru saja membuka suara setelah diam dari tadi. Tidak biasanya laki-laki itu menjadi pendiam seperti itu.
"Iya." Jawab Gavin singkat padat dan jelas. Gavin kini sedang memasang sepatunya sendiri.
"Abis nganterin Icha, lo langsung ke basecamp ya Gav. Ada yang mau gue omongin." Nada Reno seperti ingin membicarakan sesuatu yang serius.
"Gak. Kamu tetep aku yang antar." Ucap Gavin tak mau dibantah.
"Iya Cha, bener kata Gavin. Lagian urusan kita gak penting-penting banget kok. Seharusnya lo pikirin diri lo dulu, inget banyak istirahat kalo udah sampe rumah." Balas Satria berusaha meyakinkan Icha.
"Beneran nih? Icha takut ganggu urusan kalian.. Icha.." Belum sempat Icha menyelesaikan ucapannya, Gavin lebih dulu menariknya untuk berdiri.
"Duluan." Kata Gavin sebelum membawa Icha menjauh dari uks. Meninggalkan Satria dan Reno yang memandang keduanya dari depan pintu uks. Gavin terlihat sangat hati-hati dalam menuntun Icha. Ia bahkan tidak terlihat kerepotan meskipun kedua tas milik laki-laki itu dan Icha tergantung di bahu kanannya.
"Lo tau kan masalah ini penting banget. Gue yakin Gavin pasti bakal marah besar kalo tau tentang ini. Apalagi ini menyangkut soal Icha." Reno memandang Icha dan Gavin yang sudah sangat jauh.
"Gue berharap orang itu gak bertindak jauh, gue khawatir sesuatu terjadi sama mereka berdua. Firasat gue buruk." Satria memegangi dadanya yang berdetak keras. Kebiasaannya jika ia merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Terdengar aneh mungkin, tapi semua firasat buruk yang ia rasakan selalu terjadi.
"Semoga tuhan selalu melindungi mereka berdua."
***
Gavin menggenggam erat tangan Icha saat gadis itu naik keatas motornya. Icha berusaha naik dengan hati-hati. Setelah sampai diatas motor, Gavin belum juga melepaskan tangannya.
"Gavin, tangan Icha." Icha berusaha menarik tangannya dari genggaman tangan Gavin.
"Biarin gini aja, aku takut kamu jatuh nanti." Kata Gavin dari balik helm fullfacenya.
"Icha gak bakal jatuh kok. Nanti Gavin susah mau jalanin motornya kalo sambil megang tangan Icha gini. Udah ya lepas, Icha kan bisa peluk Gavin biar gak jatuh."
Setelah pemikiran singkat, Gavin pun melepaskan genggamannya, membiarkan Icha memeluknya seperti biasa. Kemudian, ia pun mulai menjalankan motornya.
Dalam perjalanan, keduanya hanya terdiam menikmati pemikiran masing-masing. Icha dengan pemikiran apa yang akan ia lakukan ketika sampai di rumah nanti, sedangkan Gavin dengan pikiran kalutnya saat mendengar perkataan Reno tadi. Ia yakin sesuatu yang buruk sedang terjadi sehingga Reno memintanya untuk membahas suatu hal penting. Ia gelisah. Bukan karena dirinya, tapi ia takut sesuatu itu akan menyakiti gadis yang sedang memeluknya itu.
Tidak terasa, motor Gavin sudah berada di depan pagar rumah Icha. Seperti biasa, Icha dibantu oleh Gavin untuk turun dari motor.
"Langsung istirahat ya, jangan mikirin apapun lagi." Ucap Gavin saat Icha sudah berdiri disamping motornya.
"Iya. Gavin mau langsung pergi?" Tanya Icha.
"Kamu masuk dulu, baru aku pergi."
Icha mengangguk dan melambaikan tangannya pada Gavin. "Hati-hati ya!" Teriak Icha ketika sudah masuk kedalam gerbang rumahnya.
Gavin mengangguk sebagai balasan. Saat melihat Icha sudah masuk ke dalam rumah, Gavin pun mengendarai motornya menuju cafe milik Reno. Tempat biasanya mereka hanya sekedar nongkrong atau mendiskusikan hal penting. Gavin mengendarai motornya dengan tergesa-gesa. Tidak sabar ingin mengetahui apa yang akan dibahas Reno dan Satria.
Setelah sampai, Gavin memarkirkan motornya dan masuk ke dalam ruang rahasia yang berada di cafe milik Reno. Ia menemukan Reno dan Satria sedang menunggunya di sofa yang berada di ruangan itu.
"Ada apa?" Tanya Gavin to the point.
"Pagi tadi, salah satu anggota GOD kelas 10 IPA 3 dikeroyok sama COP. Mereka mengancam mau balas dendam permasalahan yang dulu. Apalagi pas mereka tau lo udah sama Icha sekarang. Arga marah, dia bilang dia bakal berusaha ngerebut Icha dari lo." Jelas Reno.
TO BE CONTINUE
HAII TEMAN TEMAN READERS KUUU ❤️❤️
Gimana menurut kalian tentang PITAGORA? Aku butuh pendapat kalian nih :')
Maaf ya kalo akhir" ini gak jelas banget alur nya, karena mood aku lagi gak 100% bagus untuk nulis.. Nanti bakal aku perbaiki pas proses revisinya kokk
Btw bentar lagi TAMAT nih, mau happy ending atau sad ending wkwkwk🤣🤣🤣