
Icha, Rere, Safira dan Dara kini sedang berada di Pondok Indah Mall. Mereka berencana menonton film untuk sekedar melepas penat. Kini mereka sedang mengantri di antrian tiket. Setelah mendapatkan tiket, Icha dan Safira pergi menuju toilet, sedangkan Rere dan Dara membeli popcorn untuk mereka.
"Safira, ada yang mau Icha ceritain." Kata Icha saat mereka berjalan jauh meninggalkan Rere dan Dara.
"Iya Cha, ada apa?" Tanya Safira.
"Icha jadian sama Bang Teza."
"Ohh."
"APA?" Safira sontak berteriak. Untung saja toilet itu sepi. Hanya ada petugas kebersihan yang tampak melihat mereka tadi.
"Lo.. lo beneran Cha?" Safira bertanya untuk meyakinkan.
Icha mengangguk pelan.
"Rere tau? Gavin tau? Bang Kenzo sama Bang Kenzi gimana?" Tanya Safira beruntun.
"Mereka gak tau. Baru Safira aja yang tau."
Safira yang sedang mengoleskan lipbalm di bibirnya pun menoleh kearah Icha. "Ada apa Cha? Gue bisa ngeliat lo ragu. Lo bisa cerita ke gue."
"Icha memang ragu, tapi Icha bakal coba jalanin." Jujur Icha.
"Apa ini ada hubungannya sama Gavin Cha? Gue kira awalnya lo suka sama Gavin."
"Iya, Icha memang suka sama Gavin. Mangkanya Icha mau ngelupain Gavin. Dia sudah punya Dara, Icha gak mungkin rebut Gavin dari Dara."
"Ya ampun Icha, Gavin sama Dara gak kayak yang digosipin semua orang. Mereka gak ada hubungan apa-apa. Dara memang suka sama Gavin, tapi Gavin enggak Cha. Gavin maunya sama lo. Dia cinta sama lo." Jelas Safira memegang kedua bahu Icha.
Icha memalingkan wajahnya. "Tetep aja, Icha gak bakal mau nyakitin Dara kalo nanti Icha milih Gavin."
"Lo gak bisa selalu pasrah gini Cha, kalo suka ya perjuangin. Lagian ya mereka gak ada hubungan apa-apa. Jadi sah aja kalo lo punya rasa sama Gavin. Dara gak berhak marah Cha." Jelas Safira.
"Hmm gak tau Ra, Icha pusing." Icha berbalik untuk mencuci tangannya agar dapat menghindar dari Safira.
Safira yang melihat Icha menghindar pun menghela nafasnya. Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang menguping pembicaraan mereka.
Icha dan Safira kembali ke tempat Rere dan Dara. Mereka berdua terkejut melihat keberadaan Teza, Kenzo, Kenzi dan Gavin disana. Seingat mereka hanya mereka berempat saja yang membuat janji.
"Loh kalian kenapa disini?" Tanya Safira menunjuk keempat laki-laki di depannya.
"Nyamperin pacar yang dari tadi gak kasih kabar." Sindir Kenzo dengan keras dan menatap tajam kearah Safira.
"Kalian... apa?" Rere memasang wajah tak percaya.
Safira menatap tajam Kenzo sedangkan yang ditatap tampak biasa saja.
"Sejak kapan?" Tanya Rere lagi.
"Serius kalian nanyain gue sama Safira? Gak nanyain yang tadi baru jadian?" Kenzo memasang wajah meledek kearah Teza.
Kenzi berdecih lalu memalingkan muka. Ia tau Kenzo akan membicarakan perihal Teza dan Icha. Tentu saja Kenzo dan Kenzi sudah mengetahui dari Teza tadi. Sedangkan Gavin yang belum tau sama sekali diam-diam menebak siapa yang dimaksud Kenzo.
"Hah? Siapa?" Tanya Rere dengan wajah penuh keingin tahuan.
"Tuh tanya sama abang lo." Kata Kenzo menunjuk kearah Teza.
Belum sempat Rere bertanya, ternyata teater mereka telah dibuka. Mereka berdelapan pun masuk ke dalam teater bersama karena memang laki-laki tadi juga membeli tiket yang sama.
Saat sudah duduk di kursi bioskop, Icha terlihat bingung saat kursi di samping kanan dan kirinya bukan diduduki Safira dan Rere melainkan Gavin dan Teza. Di sebelah Gavin ada Dara dan di sebelah Teza ada Rere, lalu Safira, Kenzo dan Kenzi.
"Tadi kami tukeran tiket sama Rere dan Safira." Jawab Teza seakan mengerti kebingungan Icha.
Icha mengangguk mengerti. Film pun mulai ditayangkan. Selama film diputar, Icha hanya fokus pada film dan popcorn nya. Begitupun Teza dan Gavin yang berada disampingnya.
***
Setelah film itu selesai, mereka semua memutuskan untuk mampir ke salah satu restoran untuk mengisi perut mereka. Dan disinilah mereka. Setelah memesan makanan, mereka tampak sibuk dengan urusan masing-masing.
"Jadi, lanjut yang tadi. Bang Teza jelasin." Rere menatap intimidasi kearah Teza.
"Icha? Lo.. Abang gue? Beneran?" Rere menunjuk kearah Icha hingga semuanya kini menatap kearah Icha.
Icha menelan ludahnya gugup. Ia menatap Teza untuk meminta bantuan. Untung saja Teza adalah golongan laki-laki yang peka.
"Iya beneran." Jawab Teza.
"Sejak kapan?"
"Tadi siang."
"Wahhh selamat ya Icha, gak nyangka deh lo ngeduluan in gue sama Gavin. Semoga langgeng ya. Jangan lupa doain gue sama Gavin." Kata Dara yang duduk bersebrangan dengan Icha.
"Dara!" Gavin berteriak kesal lalu pergi meninggalkan restoran itu dengan hati penuh amarah.
"Gavin." Dara ingin mengejar Gavin namun ditahan oleh Rere.
"Gak usah dikejar Dar. Biarin Gavin sendiri. Dia butuh waktu, jangan buat semuanya makin rumit."
Dara mendengus kesal lalu duduk kembali. Icha menatap kearah perginya Gavin hingga punggung laki-laki itu semakin menjauh.
Beberapa menit kemudian, makanan mereka pun disajikan. Semuanya makan dengan hening. Setelah selesai, mereka pun memutuskan untuk pulang.
"Icha, ayo pulang." Ajak Kenzi saat mereka sudah selesai makan.
"Icha biar gue yang antar pulang." Ucap Teza.
"Tapi.."
"Udah, biarin Icha sama Teza aja." Kata Kenzo mencegah Kenzi melanjutkan perkataannya.
"Kalian tadi kesini naik apa?" Tanya Kenzo pada Safira, Rere dan Dara.
"Pake mobil Safira." Jawab Rere.
"Yaudah, nanti gue ikutin dari belakang."
"Lo hati-hati bawa adek gue, jangan sampe lecet." Kenzi memperingati Teza.
Teza tersenyum lalu mengangguk.
Mereka pun berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing. Teza dan Icha berjalan berdampingan ke tempat diparkirnya mobil Teza.
"Bang Teza tau dari siapa Icha ada disini?' Tanya Icha saat mereka sedang berjalan.
Teza menoleh kearah Icha lalu menjawab, "Dari Kenzo sama Kenzi. Tadi abang mampir ke rumah kamu, eh kamu nya gak ada. Kata mereka kamu pergi sama Rere."
"Emangnya Rere gak bilang dia mau pergi sama Icha?" Tanya Icha.
"Abis pulang dari restoran sama kamu tadi abang gak ketemu sama Rere di rumah karena dia lagi main ke rumah Dara."
Icha mengangguk mengerti. Tidak terasa, mereka telah sampai di parkiran mobil Teza. Keduanya masuk kedalam mobil. Mobil itu pun bergerak meninggalkan parkiran.
"Bang Teza besok mau nemenin Icha jenguk Rio?" Tanya Icha.
"Boleh, besok pulang sekolah kita kesana."
"Icha masih ngerasa bersalah sama Rio."
Teza mengambil tangan Icha lalu digenggamnya erat. "Abang yakin Rio bakal cepat sadar kok. Lagian itu bukan salah kamu."
Icha balik menggenggam tangan Teza dengan erat lalu tersenyum. "Makasih ya Bang Teza, karena selalu ada untuk Icha."
Mobil Teza berhenti karena lampu lalu lintas berwarna merah. Ia menoleh kearah Icha dan mengelus pelan rambut gadis itu dengan tangan yang masih menggenggam tangan Icha.
"Bukan masalah Cha, abang senang bisa selalu ada untuk kamu. Bang Teza cinta kamu." Teza tersenyum manis hingga lesung pipinya terlihat.
Icha terdiam mendengar pernyataan cinta Teza. Ia ingin menjawab hal yang sama tapi ia belum yakin dengan perasaannya. Maka dari itu ia hanya balas tersenyum. Sepanjang perjalanan setelahnya mereka hanya terdiam dengan pikiran masing-masing.
TO BE CONTINUE