
SILAHKAN TINGGALKAN JEJAK
BUDAYAKAN VOTE SEBELUM BACA
COMMENT SETELAH BACA
WARNING!!!
BANYAK TYPO
NO COPAS
NO DARK READERS
SELAMAT MEMBACA
^^
AUTHOR : GITA
-----~oOo~-----
Pertandingan basket telah selesai beberapa menit yang lalu. Pertandingan itu dimenangkan oleh SMA Dinata dengan skor yang terpaut sangat jauh dengan SMA Pancasila. Tim basket yang diketuai oleh Gavin pun kini sedang berfoto bersama dengan memegang piala kemenangan mereka. Icha melihat kearah dimana kekasihnya sedang duduk dengan perasaan kesal. Di samping Arga masih ada perempuan yang tadi ia lihat.
"Bang Teza, Icha mau kesana dulu." Kata Icha lalu segera pergi sebelum Teza mencoba menahannya. Teza yang menatap kepergian Icha langsung menghela nafasnya.
"Semoga kamu baik-baik aja Cha." Gumamnya masih menatap Icha dari kejauhan.
Icha berjalan menuju kearah Arga. Ia melihat Arga memasang wajah terkejut ketika melihatnya berjalan kearah laki-laki itu.
"Icha." Katanya lalu berdiri dengan raut wajah gugup.
"Kamu kenapa disini?" Tanya Arga dengan wajah pucat pasi.
"Icha mau liat pertandingan Arga, emang gak boleh?" Tanya Icha.
"Ya.. ya boleh." Arga menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Sayang, dia siapa?" Tanya perempuan di samping Arga.
"Sayang?" Ulang Icha.
"Nessi, lo pergi dulu ya. Gue mau ngomong sama Icha." Kata Arga mengusir perempuan bernama Nessi itu.
"Tapi kan aku pa-"
Belum sempat Nessi berkata, Arga sudah mendorong perempuan itu sedikit keras. Akhirnya, Nessi pergi meninggalkan Arga dan Icha dengan perasaan kesal.
"Awas lo." Ancam Nessi sebelum pergi meninggalkan Arga dan Icha.
Arga pun menarik tangan Icha menuju tempat yang sedikit sepi. Ia melihat kesana kemari sebelum kembali menatap Icha.
"Kamu kesini sama siapa?" Tanya Arga.
"Sama Rio. Kenapa Arga gak kasih tau Icha kalo hari ini sekolah Arga tanding sama sekolah Icha? Terus kenapa dari kemarin Arga gak bisa dihubungin?" Icha menatap Arga sambil menaikkan satu alisnya.
"Maaf aku lupa. Kamu kan tau aku sibuk latihan untuk tanding." Jawab Arga.
"Cewek tadi siapa? Kenapa dia panggil sayang ke Arga? Itu selingkuhan Arga?" Tanya Icha lagi.
Wajah Arga langsung berubah panik. Sebisa mungkin laki-laki itu menguasai raut wajahnya sebelum ia mulai berbicara pada Icha.
"Dia.. dia." Arga menelan ludahnya.
"Dia sepupu aku, lagian gak apa-apa kan sepupu manggil sayang?" Kata Arga dengan cepat.
Mendengar itu, Icha memasang wajah sedih. "Maaf ya Arga, tadi Icha berprasangka buruk."
"Gak apa-apa kok. Ayo ke lapangan lagi." Ajak Arga.
"Arga bisa antar Icha nanti? Sekalian kita jalan. Udah lama gak jalan bareng Arga lagi."
"Maaf Icha, kamu kan tau aku harus antar sepupu aku pulang. Lain kali aja ya." Tolak Arga.
Meskipun awalnya Icha merasa sedih, ia berusaha menampilkan senyumnya pada Arga. "Gak apa-apa. Maaf ya Icha egois. Yaudah yuk ke lapangan." Icha hendak menggandeng tangan Arga namun laki-laki itu segera menghindar.
"Kamu jalan duluan aja, nanti aku jagain kamu dari belakang. Aku takut ada yang niat jahat sama kamu." Kata Arga dengan senyum palsunya.
"Tapi Icha mau jalan sama Arga." Kata Icha.
"Gak Icha, kamu jalan duluan aja."
"Tapi.."
"AKU BILANG GAK YA ENGGAK. KAMU NURUT KENAPA SIH?" Bentak Arga.
Icha langsung terdiam mendengar bentakan dari Arga. Air matanya perlahan turun di sisi wajahnya. Bibirnya ia gigit agar tidak mengeluarkan suara sesenggukan.
"Gak usah nangis. Cepet jalan, aku mau kumpul sama temen aku." Kata Arga dengan nada ketus.
"Maaf." Kata Icha menghapus air matanya dengan kasar lalu berjalan duluan dengan langkah gontai.
Saat sampai di bangku penonton, Arga pun menghampiri Nessi. Ketika ia hendak merangkul Nessi, gadis itu terlebih dahulu menghindar.
"Dia siapa?" Tanya Nessi menunjuk Icha yang kini berjalan kearah Teza.
"Cuma orang gak penting kok sayang. Ayo pulang." Kata Arga dengan entengnya.
"Tapi aku mau jalan dulu." Nessi berucap dengan manja.
"Apa sih yang engga buat kamu." Arga mengedipkan satu matanya lalu menggandeng tangan Nessi menuju parkiran.
***
Icha melangkah gontai menuju kearah Teza berada. Ia tidak mau menoleh kebelakang lagi karena masih takut oleh bentakan Arga tadi. Baru kali ini laki-laki itu membentak Icha, bahkan tidak peduli dengan keadaan Icha. Gadis itu merasa sedih dan kecewa.
Gavin yang masih dikerumuni temannya untuk memberikan ucapan selamat memakukan pandangannya pada Icha. Ia memicingkan matanya lalu melihat kearah Arga yang berjalan meninggalkan lapangan dengan menggandeng lengan seorang gadis. Gavin mengepalkan tangannya sambil menggeram pelan.
Tanpa memperdulikan temannya lagi, laki-laki itu melangkah lebar menuju tempat Icha berada. Saat sampai di dekat Icha, dicekal nya tangan Icha. Gadis itu tampak terkejut saat melihat Gavin di sebelahnya.
"Kenapa?" Tanya Gavin dengan raut datarnya.
Icha menggeleng. "Gak apa-apa." Jawabnya.
"Jangan nangis." Gavin menghapus air mata yang masih mengalir dari sudut mata Icha.
Mendengar ucapan Gavin bukannya membuat Icha berhenti menangis, melainkan semakin keras. Gavin menggeram marah, berusaha menahan kekesalannya pada Arga. Ditariknya Icha kedalam pelukannya. Tangannya perlahan terangkat untuk mengusap rambut Icha.
"Jangan nangis." Ulang Gavin.
Ia merasakan Icha mengangguk dalam pelukannya. Tangan Icha memeluk pinggangnya semakin erat. Masih terdengar sesenggukan dari bibir gadis itu.
Sedangkan Icha merasakan nyaman ketika memeluk Gavin. Apalagi dengan wangi parfum musk laki-laki itu bercampur dengan keringatnya membuat Icha setidaknya merasa nyaman dan terlindungi. Setelah puas menangis di dada Gavin, Icha pun melepas pelukannya.
"Makasih Gavin." Kata Icha dengan mata sembab.
"Jangan nangis lagi, gue gak suka ngeliat lo nangis." Gavin berkata masih dengan wajah dingin.
"Maaf.." Gumam Icha.
"Pulang." Kata Gavin membuat Icha menatap kearah laki-laki itu.
Baru saja Icha mau menjawab, pelatih basket dari SMA Dinata memanggil laki-laki di depannya.
"Gavin!"
Sontak Gavin dan Icha menatap kearah pelatih itu. Gavin menaikkan alisnya seolah bertanya ada apa.
"Jangan pulang dulu. Kita kumpul, ada yang mau saya bahas." Kata pelatih itu.
"Shit." Umpat Gavin dengan nada pelan namun ia tetap mengiyakan permintaan pelatihnya.
Setelah kepergian pelatihnya, Gavin pun memandang kembali kearah Icha. Ia lalu mengarahkan pandangannya seperti mencari seseorang.
"Teza." Panggil Gavin.
Yang dipanggil pun langsung menoleh. Teza segera pamit kepada ketua osis SMA Pancasila lalu berjalan menghampiri Gavin dan Icha.
"Ada apa?" Tanya Teza saat sudah ada di depan mereka.
"Loh? Kamu abis nangis?" Mata Teza langsung beralih pada Icha dengan wajah khawatirnya.
"Antar dia pulang. Gue ada urusan." Kata Gavin membuat Teza kembali menatap kearah laki-laki itu.
"Jangan tanya, langsung antar pulang." Kata Gavin dengan nada tajamnya. Gavin mengacak pelan rambut Icha sebelum pergi meninggalkan Icha bersama Teza.
"Ayo pulang Cha." Kata Teza.
"ICHAAA!!!" Teriak seseorang membuat Icha dan Teza menoleh.
Disana, Rere, Safira dan Rio sedang berlari kearah mereka. Tiba di depan Icha, Rere menekuk lututnya dengan nafas ngos-ngosan.
"Icha gak pergi kok." Kata Icha.
"Icha lo kemana aja? Kami dari tadi nyariin lo tau gak. Buat khawatir aja." Kata Safira.
Sedangkan Rio menatap kearah Teza seolah bertanya ada apa lalu dibalas Teza dengan gelengan kepala.
"Icha.. Icha.."
"Loh? Lo nangis Cha? Siapa yang buat lo nangis? Abang gue ya?" Perkataan Rere membuat Teza mendelik kearah adiknya itu.
"Udah, jangan tanya Icha dulu. Ayo Cha, balik." Ajak Teza.
"Bang, gue gimana?" Tanya Rere.
"Rio, anterin Safira sama adek gue ya. Yuk Cha."
"Tapii.."
"Ayo." Teza menarik pelan tangan Icha.
"Dasar abang laknat. Adiknya malah ditinggalin." Umpat Rere.
"Bang Teza.. Rere kenapa ditinggal?" Tanya Icha saat mereka berdua sedang dalam perjalanan menuju parkiran.
"Aku tau kamu butuh ketenangan. Kalo bawa Rere bukannya tenang malah stress nanti." Kata Teza lalu tertawa diakhir kalimatnya.
Mereka pun telah sampai di depan mobil Teza. Setelah membuka kunci mobil, keduanya masuk. Tak lama, mobil berwarna hitam itu pun meninggalkan parkiran SMA Pancasila.
Sepanjang perjalanan, Icha hanya terdiam sambil melihat kearah jendela luar. Sedangkan Teza sesekali melirik kearah gadis itu. Bukannya langsung membawa Icha pulang seperti perintah Gavin tadi, Teza malah membelokkan mobilnya menuju taman. Icha tampak tidak menyadari itu, mungkin karena gadis itu sedang melamun.
Saat mobil Teza berhenti, Icha baru tersadar dari lamunannya lalu menatap ke sekeliling. Alisnya terangkat melihat tempat yang tidak dikenalinya itu.
"Bang Teza, ini dimana?" Tanya Icha.
Teza tersenyum lalu berkata, "Ayo turun."
Icha pun turun dari mobil dengan perasaan bingung. Ia melangkah mengikuti Teza dari belakang. Hingga mereka telah sampai di sebuah danau yang pinggirnya terdapat kursi berwarna putih.
Icha terperangah lalu berkata, "Wahhh bagus banget." Katanya masih menatap sekeliling taman itu
Terdapat bunga lili berwarna pink yang terapung diatas danau buatan itu. Lagi-lagi, Icha berdecak kagum. Teza lalu membawa gadis itu menuju bangku berwarna putih yang berada di dekat mereka.
"Bang Teza tau tempat ini dari mana?" Tanya Icha masih menatap sekeliling taman.
"Dari Gavin. Dia yang paling sering kesini."
"Gavin sering kesini?" Tanya Icha dibalas anggukan Teza.
"Iya, tunggu sebentar ya." Teza berdiri.
"Bang Teza mau kemana?" Tanya Icha.
"Mau ke suatu tempat dulu. Sebentar aja kok."
Teza berjalan menjauh. Icha pun menatap kearah perginya Teza sebelum kembali menatap danau indah di depannya. Wajahnya berubah sedih. Ia teringat dengan sikap kasar Arga kepadanya tadi. Baru kali ini laki-laki itu membentaknya selama satu tahun hubungan mereka. Saat ia ingin menangis lagi, tiba-tiba bayang wajah Gavin terbayang di pikirannya.
"Jangan nangis lagi, gue gak suka ngeliat lo nangis."
Itulah kata laki-laki itu tadi. Icha buru-buru menghapus air matanya. "Icha gak boleh nangis." Katanya berusaha menguatkan hatinya.
Berkali-kali ucapan Gavin tadi terngiang di kepalanya. Saat Icha sedang melamun kembali, Teza datang dengan dua cup eskrim cone rasa coklat. Diulurkan nya eskrim itu ke wajah Icha. Karena terkejut, ujung hidung Icha sampai menyentuh eskrim itu.
"Dingin." Kata Icha lalu menghapus eskrim yang menempel di hidungnya.
"Ini." Teza kembali menyondorkan eskrim itu pada Icha.
"Wahh eskrim. Makasih bang Teza." Kata Icha menerima eskrim itu dan mulai menjilatinya.
"Icha, aku gak tau masalah kamu apa. Dan aku gak akan maksa kamu untuk nyeritain ke aku. Tapi aku mohon sama kamu, jangan nangis ya. Ketika ada satu orang yang menginginkan kesedihan kamu, ingatlah kalo selalu ada seribu orang yang menginginkan kamu tersenyum." Kata Teza.
Icha menatap kearah Teza. "Kenapa semua orang ngelarang Icha buat nangis?"
"Karena kami sayang sama Icha. Ngelihat Icha sedih juga buat kami sedih. Apalagi Bunda Icha. Bang Teza yakin bunda Icha akan sedih ngeliat Icha nangis."
"Tapi, kalo Icha gak kuat gimana?"
"Yaudah nangis, tapi abis itu tersenyum lagi ya. Inget, banyak yang sayang sama Icha termasuk bang Teza."
"Bang Teza sayang Icha?"
"Iya, mangkanya senyum dong. Mana senyumnya?"
Icha pun tersenyum dan menular pada Teza. Keduanya tersenyum sambil memakan eskrim coklat yang tadi dibawa oleh Teza.
***
Gavin baru saja selesai diskusi dengan pelatih dan timnya mengenai pertandingan basket bulan depan. Ia lalu pamit duluan menuju motornya. Dibelakangnya, Satria dan Reno mengikuti.
"Lo mau kemana Gav? Nongkrong yuk." Ajak Satria.
"Pulang, capek." Balas Gavin singkat padat dan jelas.
"Yaudah, besok jangan lupa ngumpul di markas ya Gav." Kata Reno saat mereka telah sampai di depan motor Gavin.
Gavin berdehem sebagai jawaban. Laki-laki itu memakai helmnya lalu menghidupkan mesin motornya.
"Gue duluan."
Katanya sebelum motor yang dikendarainya bergerak meninggalkan parkiran SMA Pancasila. Gavin mengendarai motornya dengan kecepatan yang tinggi. Tangannya meremas kuat stir kemudi motornya saat mengingat bagaimana tangisan Icha tadi.
Laju motor itu perlahan melambat ketika ia melihat Arga dan Nessi sedang berkencan di depan sebuah cafe. Ia menggerakkan motornya kearah kedua pasang kekasih itu. Setelah memarkirkan motornya dengan asal-asalan, Gavin kemudian melangkah dengan perasaan yang sangat marah kearah Arga dan Nessi. Tanpa berkata apapun, Gavin menarik kerah baju Arga dan menghadiahi wajah laki-laki itu dengan pukulan mautnya.
"Shit. Lo kenapa anjing." Geram Arga lalu membalas pukulan Gavin.
Mereka terlibat adu pukulan dan disaksikan orang di sekitar cafe. Tidak ada yang berani melerai mereka ketika melihat kebrutalan Gavin saat menghajar Arga. Bahkan Nessi pun berteriak ketakutan dibelakang Arga. Jangan lupakan bahwa Gavin merupakan seorang ketua dari geng GOD yang menguasai bela diri. Baginya, Arga tidak ada apa-apanya.
Gavin berhenti ketika dirasa Arga sudah hampir kehilangan kesadarannya. Ia menatap tajam Arga dengan kedua bola matanya.
"Pengecut. Jangan beraninya lo nyakitin Icha lagi!" Kata Gavin.
Gavin menatap kearah Nessi lalu berkata, "Bawa ke RS Dallas. Gue yang tanggung biaya perawatannya. Dan pastikan dia gak muncul dihadapan Icha lagi." Kata Gavin lalu meninggalkan Arga yang terkapar dilantai dengan wajah penuh lebam dan luka.
TO BE CONTINUE
GUYSSS JANGAN LUPA VOTE DAN COMMENT YAAAA HEHEHE. Gimana nih masa karantina kalian? Apakah membosankan? Wkwkwk aku juga kok huhuhu :') siapa nih yang #teamrebahan juga kayak aku? Wkwkw. Ingat ya guys, meskipun itu membosankan, kita tetap harus #dirumahaja karena itu akan sangat membantu mencegah penyebaran covid-19 ini.
Btw maaf ya dari kemarin aku gak ngepost part revisi AZKAR. Tugas kuliah numpuk banget kayak cucian kotor wkwkwk insyaallah besok aku post langsung 20 part kok. Sabar ya..
Hayooo kalian ada di team mana nih?
#TEAMGAVIN
#TEAMTEZA
#TEAMRIO
yuk komen dibawah!!!
The GOD of GOD, Gavin Oskarion Dallas
Rio, si tengil bin menyebalkan wkwk
Abang ketos berdarah konglomerat, Teza
@gitasyaf at ig