
Semua yang berada di ruangan itu masih tidak menjawab pertanyaan Icha. Tak lama, seorang dokter masuk untuk memeriksa keadaan Icha.
"Kamu harus diperiksa dulu." Kata Kenzi lalu sedikit menjauh dari ranjang Icha bersama yang lainnya.
Icha menahan tangan Teza membuat laki-laki itu menoleh kearahnya. "Bang Teza.. Gimana keadaan Rio?" Tanya Icha.
"Nanti ya Cha, kamu harus diperiksa dulu." Kata Teza tersenyum menenangkan.
Icha pun melepaskan tangan Teza. "Jangan pergi." Kata Icha dengan nada pelan.
Teza mengangguk dan berdiri di samping ranjang Icha. Dokter pun memeriksa keadaan Icha.
"Kamu sudah lebih baik, tapi masih harus banyak istirahat. Jangan lupa makan secara teratur dan minum obat yang saya berikan nanti ya." Kata Dokter itu.
"Baik dok."
"Baiklah kalau begitu saya permisi." Kata Dokter itu.
"Tunggu dok, saya ingin membicarakan sesuatu." Kenzi berjalan bersama dokter itu keluar ruangan.
"Jadi, gimana keadaan Rio?" Tanya Icha.
Teza mendekat kearah ranjang Icha dan mengelus pelan rambut gadis itu. Belum sempat Teza menjawab, pintu ruangan Icha terbuka membuat semua orang menoleh kearah pintu. Disitu, ada Gavin yang sedang dirangkul oleh Dara. Mata Icha menampilkan keterkejutan lalu ia pun memalingkan wajahnya. Sedangkan Gavin yang melihat keberadaan Teza di samping Icha pun menatap tajam keduanya tanpa ada yang melihat maksud tatapan itu.
"Jadi Rio.."
"Nanti aja bang Teza, Icha mau istirahat." Tolak Icha menarik selimut menutupi tubuhnya hingga batas leher dan memiringkan badannya kearah jendela yang berada di ruangannya.
Teza mengangguk dan mengelus pelan rambut Icha sebelum pergi meninggalkan gadis itu sendiri.
Dara dan Gavin berjalan mendekati ranjang Icha.
"Gimana keadaannya?" Tanya Gavin dengan suara datar seperti biasanya.
"Baik." Jawab Icha tidak mau melihat kearah Gavin.
"Icha, liat kearah Gavin dong kalo ditanya. Lo gak sopan banget sih." Sindir Dara yang masih menggandeng lengan Gavin.
Gavin yang mendengar nada sinis Dara pun menatap tajam gadis itu. Namun yang Dara lakukan hanyalah tersenyum seolah tidak peduli dengan tatapan tajamnya.
"Kalian semua pada balik gih, biar gue sama Kenzi yang jagain Icha. Lagian ini udah hampir sore, nanti orang tua kalian pada nyariin lagi." Kata Kenzo.
"Bener kata Bang Kenzo. Gavin, anterin gue pulang ya." Dara memasang wajah memohonnya lagi membuat Gavin menghembuskan nafasnya kesal.
"Cepet sembuh." Kata Gavin pada Icha sebelum pergi meninggalkan ruangan bersama Dara.
Teza dan Rere juga pamit pulang. Kini tinggallah Icha dan Kenzo di ruangan itu. Dibalik selimutnya, Icha meneteskan air matanya. Entah kenapa ia merasakan sakit ketika melihat Gavin bersama Dara tadi. Namun yang bisa ia lakukan hanya diam. Karena ia sadar ia tidak berhak marah. Lelah menangis, Icha pun perlahan menutup kedua matanya.
***
Dua hari sudah berlalu sejak Icha sadar dari komanya. Banyak sekali teman sekelas bahkan satu sekolah yang datang menjenguknya. Teza pun sering kali datang menjenguknya, menghiburnya dan mengajaknya bermain agar tidak bosan. Sedangkan Gavin sekali menjenguk dan itu pun bersama Dara membuat mood Icha kembali buruk.
Hari ini, Icha berencana menjenguk Rio bersama Teza. Rio sudah lima hari koma dan belum sadarkan diri. Ya, saat kejadian, Nessi hendak memukul Icha namun Rio mendorong Icha sehingga ia lah yang terkena pukulan itu. Laki-laki itu kehilangan banyak darah karena luka di kepalanya tidak bisa dikatakan kecil.
"Bun, Icha mau jenguk Rio dulu ya."
Bunda Icha mengangguk. "Jangan lama-lama ya."
Teza menggendong tubuh Icha dan di dudukkan di atas kursi roda dengan hati-hati. Setelah itu, ia mendorong kursi roda itu menuju pintu.
"Kami pamit dulu ya tante." Pamit Teza.
"Iya, hati-hati ya nak Teza."
Teza mendorong kursi roda Icha menyusuri koridor rumah sakit. Ditengah jalan, mereka bertemu dengan Gavin. Teza pun menghentikan dorongannya pada kursi roda Icha, begitupun Gavin yang menghentikan langkahnya.
"Icha gak mau ngomong sama Gavin!"
"Kita perlu bicara Icha."
"Icha bilang gak mau ya gak mau!!" Teriak Icha membuat Gavin dan Teza terkejut.
"Bang Teza, ayo jalan lagi." Kata Icha melanjutkan.
"Duluan ya Gav, lo tunggu di ruangannya Icha aja." Kata Teza sebelum kembali mendorong kursi roda Icha.
Gavin menatap kepergian keduanya hingga mereka hilang. Ia pun melanjutkan jalannya.
***
Icha menatap sedih kearah Rio yang terbaring di ranjang dengan alat bantu pernafasan dan selang infus di tubuhnya. Tidak ada lagi Rio yang selalu membuat Icha tertawa walau tidak lucu, tidak akan ada lagi yang setiap pagi selalu merecoki rumah Icha, tidak ada lagi yang mengajarkan Icha skateboard.
"Rio, maafin Icha." Kata Icha menitikkan air matanya. Ia sangat sedih karena gara-gara dirinya, Rio menjadi seperti ini.
"Ini bukan salah Icha." Kata Teza berusaha menenangkan.
Icha menundukkan kepalanya. "Tetep aja Rio gak bakal gini kalo gak nolongin Icha. Seharusnya Icha yang ada disana."
Teza memutar kursi roda Icha menghadap kearahnya lalu ia bersimpuh di lantai agar dirinya sejajar dengan Icha. Perlahan, kedua tangannya bergerak menghapus air mata yang mengalir dari sudut bibir Icha.
"Kamu gak bisa ngubah apapun yang udah terjadi Cha, menyesal pun gak bakal mengembalikan keadaan. Yang harus kamu lakukan adalah menerima dan menjalaninya. Bang Teza yakin Rio pasti sedih kalo ngeliat Icha nangisin dia. Udah ya, jangan nangis lagi. Kita doa sama-sama biar Rio cepet sadar." Kata Teza dengan nada pelan dan penuh perhatian.
Icha menatap dalam kearah mata Teza lalu mengangguk pelan. Mereka pun berdoa untuk kesembuhan Rio.
"Bang Teza, Icha mau ke taman rumah sakit." Pinta Icha saat mereka sudah selesai berdoa bersama.
"Yaudah, kita kesana." Kata Teza mendorong kursi roda Icha menjauhi ranjang Rio.
"Rio, cepet sembuh ya." Kata Icha dengan nada pelan sebelum ia pergi meninggalkan kamar inap Rio.
Mereka kini telah berada di taman rumah sakit. Semilir angin membuat rambut Icha berterbangan. Taman rumah sakit itu memang tidak luas namun sangat nyaman dan menenangkan. Icha sangat butuh ketenangan saat ini, untuk mencerna apa saja yang sudah terjadi dalam hidupnya. Dan ia memilih Teza untuk menemaninya. Pada siapa lagi ia harus meminta jika Rio sedang terbaring koma dan Gavin sudah memiliki tambatan hati yang baru? Mengingat Gavin membuat Icha sedih kembali. Hal itu dapat dilihat dengan jelas oleh Teza.
"Icha, sebaiknya kamu bicara sama Gavin." Teza menatap Icha dari samping.
Icha langsung menggeleng tegas. "Gak mau. Icha gak mau bicara lagi sama Gavin."
"Tapi.."
"Bang Teza, Icha mau. Icha mau mulai semuanya sama Bang Teza. Icha mau jalanin hari-hari Icha seterusnya sama Bang Teza." Kata Icha menatap balik kearah Teza.
Teza terdiam, ia terkejut dengan perkataan Icha. Ia senang tentu saja. Namun ia melihat ada sedikit keraguan di mata gadis itu. Ia sangat tidak ingin Icha menjalani semua dengan terpaksa dan malah menjadi buruk nantinya.
"Tapi kamu ragu Cha. Gak apa-apa, kita bisa kayak gini. Abang janji bakal selalu ada untuk kamu."
Icha menatap kearah depan. Menatap bunga yang bermekaran sangat cantik dan berwarna-warni.
"Icha memang ragu. Maka dari itu, Icha butuh bang Teza untuk meyakinkan Icha kalo keputusan Icha tepat."
Tanpa Icha sadari, sedari tadi ada seseorang yang melihatnya dengan Teza dari awal keduanya sampai di taman. Dan orang itu juga mendengar percakapan Icha dengan Teza. Siapa lagi, orang itu adalah Gavin. Gavin menundukkan kepalanya lalu berjalan menjauh.
TO BE CONTINUE
HAYOOO KALIAN TEAM MANA NIH SEKARANG?
#TEAMRIO
#TEAMTEZA
#TEAMGAVIN