
SILAHKAN TINGGALKAN JEJAK
BUDAYAKAN VOTE SEBELUM BACA
COMMENT SETELAH BACA
WARNING!!!
BANYAK TYPO
NO COPAS
NO DARK READERS
SELAMAT MEMBACA
^^
AUTHOR : GITA
-----~oOo~-----
Bel waktu istirahat berbunyi. Icha, Rere dan Safira sedang merapikan buku mereka. Kelas yang semula ramai kini berangsur sepi karena murid-murid sudah keluar untuk menuju ke kantin.
"Eh kantin yuk! Laper nih." Kata Rere yang sudah siap membereskan bukunya.
"Kalo makan aja cepet Re." Safira menimpali.
"Ayo, Icha juga laper nih."
Mereka bertiga pun berjalan beriringan keluar kelas. Ketika sampai di kantin, mereka langsung duduk di tempat duduk yang ternyata memang tersisa satu meja saja. Suasana di kantin sangat ramai dan berisik, bahkan kantin sudah penuh dan tidak ada lagi tersisa meja kosong untuk murid yang baru sampai.
"Untung kita cepet-cepet duduk disini. Liat tuh meja lain udah pada penuh semua." Rere menunjuk meja lain disekitar mereka.
"Iya, tumbenan banget ya kantin segini ramenya." Sambung Icha.
"Cha, kalo kantin pasti rame kali. Kalo sepi baru perpustakaan." Safira menjawab sambil menggelengkan kepalanya.
"Eh kalian pesen apa? Biar gue aja yang pesen." Tawar Rere.
"Kesambet apaan lo Re? Tumbenan banget." Safira memandang curiga.
"Yaelah baik salah jahat salah. Udahlah, mau apa engga? Kalo engga ntar kalian pesen sendiri aja." Kata Rere sambil memasang wajah cemberut.
"Iya iya canda doang kok. Gue pesen mie ayam aja sama es teh."
"Icha mau bakso sama air mineral aja Re."
Rere mengangguk dan berjalan meninggalkan meja menuju kearah pedagang di kantin. Mereka berdua memandangi Rere dari kejauhan. Setelah Rere tidak terlihat, Safira membuka mulutnya untuk berbicara pada Icha. Namun, belum sempat ia berbicara, seseorang lebih dulu menginstrupsi mereka berdua.
"Boleh duduk disini?" Tanya orang itu dengan senyum manisnya.
Safira dan Icha saling terdiam lalu berpandangan satu sama lain.
"Meja yang lain udah penuh." Sambung orang itu lagi.
"Iya boleh kok, Bang Teza." Jawab Icha.
Teza pun duduk di sebelah Icha. Tak lama setelah Teza duduk, sebuah teriakan terdengar.
"BANG TEJAAAA BUSET DAH NGEREPOTIN GUE BANGET SI LO. EH EH APAAN TUH DEKET DEKET ICHA NYA GUE? DASAR MENCARI KESEMPITAN DALAM KESEMPATAN!" Teriak Rio yang datang sambil membawa nampan berisi tiga porsi bakso. Disebelah Rio terdapat Gavin yang membawa nampan berisi tiga es teh.
"Kesempatan dalam kesempitan Yo, bukan kesempitan dalam kesempatan. Heran gue, emang kaga pernah bener orangnya." Kata Safira saat Rio sudah duduk disampingnya.
"Lagian lo ngapain sih pake teriak-teriak segala, gue sebagai ketos merasa malu sekolah ini punya spesies kayak lo." Sambung Teza.
"Spesies kayak gue di dunia ini cuma ada satu, yaitu gue. Dan gue cuma buat Icha. Jadi lo semua pada minggir karena gue mau duduk sebelah Icha."
Icha terkekeh, membuat semua pasang mata disekelilingnya melihat kearahnya. "Ada apa?" Tanya Icha bingung.
"Kenapa ketawa Cha? Lo sehat kan?" Tanya Safira.
"Rio lucu, mangkanya Icha ketawa."
Semua yang berada di meja itu saling pandang, kecuali Gavin yang dari tadi hanya fokus menatap Icha yang duduk di sampingnya.
"ALHAMDULILLAH AKHIRNYA ADA YANG MENGAKU KALO GUE INI LUCU DAN IMUT." Kata Rio sambil membuat ekspresi terharu.
"Woi woi gausah nambahin, tadi Icha bilangnya lucu aja, gaada kata imut."
"Sirik aja Bang Teja, iri bilang."
"Eh eh ini kenapa tiga monyet ada disini?" Tanya Rere yang baru saja datang sambil membawa nampan berisi makanan.
"Ya Allah, abang sendiri dikatain monyet." Teza menatap Rere sambil menggelengkan kepala.
"Abisnya ganggu aja, bosen gue tiap hari liat muka kalian mulu. Apalagi lo bang, dirumah ketemu, disekolah pun ketemu juga."
"Uhhh gemesssss." Kata Rio yang sekarang menopang wajahnya dengan telapak tangan sambil menatap kearah Icha.
"Aduh." Rio mengaduh kesakitan saat kakinya dibawah meja ditendang oleh seseorang.
"Mau dicolok tuh mata?" Gavin yang dari tadi diam pun mengeluarkan suara.
Rio pun mengangkat kedua tangannya menunjukkan tanda menyerah. Kemudian, mereka berenam pun memakan makanan mereka dalam keheningan. Semua tampak menikmati makanan mereka kecuali Icha yang terlihat kesusahan memotong baksonya. Ketika Icha ingin mencoba memotong baksonya lagi, seseorang menarik mangkuknya.
"Kalo susah bilang, biar abang bantu." Kata Teza sambil memotong bakso yang ada di mangkuk milik Icha.
Semua yang berada di meja melirik Teza dan mangkuk milik Icha secara bergantian. Setelah selesai memotong kecil semua bakso dalam mangkuk milik Icha, Teza mendorong kembali mangkuk itu kehadapan Icha.
"Ini, pelan-pelan ya makannya." Kata Teza dengan nada lembut dan dihiasi senyuman diakhir kalimatnya.
"Makasih bang Teza." Kata Icha dengan suara yang pelan namun masih bisa didengar oleh Teza dan Gavin yang duduk di sebelahnya.
Teza tidak menjawab, dia hanya memberikan senyumannya lalu kemudian memakan makanannya sendiri ketika Icha sudah mulai makan dan tidak terlihat kesusahan seperti tadi lagi.
"Nanti-"
"Re." Tegur Teza.
"Adatman kembali lagi, tuh Re inget adat gak boleh ngomong kalo lagi makan." Kata Rio dibalas pandangan tajam Rere.
"Kan gak ada Bunda, lagipun ini disekolah. Bebas dong." Bantah Rere.
"Tetep aja gak boleh. Mau abang bilangin ke Bunda?"
"Ish nyebelin."
Akhirnya mereka pun lanjut makan tanpa ada yang berbicara sedikitpun. Memang Teza akan selalu menegur mereka yang berbicara saat sedang makan, sama seperti adat yang diajarkan oleh keluarganya.
Setelah selesai makan, Rio bersendawa dengan keras tanpa merasa malu.
"Rio, gak sopan." Tegur Teza.
"Buset dah. Iya iya maapkeun."
"Cha, ke kelas." Kata Gavin yang sudah berdiri.
"Eh iya.. Ayok Re, Ra ke kelas." Ajak Icha yang ikut berdiri.
"Lo duluan aja Cha, kita masih kenyang. Ya gak Re." Kata Safira sambil mengedipkan mata kanannya kepada Rere.
"Iya, duluan aja Cha, nanti kita nyusul."
"Tapi.."
"Udah, ayok. Biar cogan anterin." Kata Rio sambil merangkul bahu Icha.
Gavin yang melihat itu langsung memukul tangan Rio yang merangkul bahu Icha.
"Aduh."
"Patah tangan." Kata Gavin dengan nada mengancam.
Rio mengelus tangannya yang dipukul oleh Gavin sambil memasang muka cemberut. "Iss gak asik lo Gav."
"Sini Icha sama Bang Teza aja. Mereka berdua gak jelas." Kata Teza menarik pelan Icha yang tadinya berada diantara Rio dan Gavin.
"Teza." Suara peringatan dari Gavin dihiraukan oleh Teza.
"Eum bang.. tangan Icha.." Icha menatap tangannya yang masih dipegang oleh Teza.
"Maaf." Kata Teza sambil melepaskan tangan Icha.
Mereka berdua kemudian berjalan, disusul oleh Gavin. Tinggallah Rio yang menatap mereka dari belakang.
"Nasib jomblo mah gini ya, ditinggalin mulu. Nasib nasib." Kata Rio lalu berlari menyusul mereka bertiga.
----------
TO BE CONTINUE
Jadi, Teza itu mukanya Indo banget gaes, aslinya orang Jogja tapi tinggal di Jakarta. Beda sama Rio dan Gavin. Kalo Rio, dia blasteran Australia-Indonesia sedangkan Gavin 100% bule Spanyol.
Hayoo kalian team mana nih? Yuk komen di bawah!!
#TEAMTEZA
#TEAMGAVIN
#TEAMRIO