PITAGORA

PITAGORA
Part 15



SILAHKAN TINGGALKAN JEJAK


BUDAYAKAN VOTE SEBELUM BACA


COMMENT SETELAH BACA


WARNING!!!


BANYAK TYPO


NO COPAS


NO DARK READERS


SELAMAT MEMBACA


^^


AUTHOR : GITA


-----~oOo~-----


Mereka bertiga telah sampai di pasar malam. Rio dan Icha terlihat sangat antusias untuk menaiki beberapa wahana, sedangkan Teza tersenyum ketika melihat Icha terlihat sangat senang. Pasar malam itu sangat ramai oleh pengunjung. Banyak stand makanan, baju, aksesoris dan juga permainan.


"Icha, mau main itu?" Tanya Rio menunjuk kearah stand dimana terdapat permainan melempar sebuah ring kedalam botol.


"Siapa takut! Ayo."


Mereka berdua pun bergerak menuju stand itu. Masing-masing dari mereka mendapatkan tiga ring. Siapapun yang berhasil memasukkan ketiganya kedalam botol maka orang itu dapat memilih hadiah yang telah disediakan.


"Oke, aku duluan ya. Siapa yang kalah, senin besok traktir pemenang makan di kantin sepuasnya." Kata Rio memasang kuda-kudanya.


"Setuju!"


Rio pun melempar ring itu dan masuk ke dalam botol. "Yeay masuk!" Teriak Rio.


"Icha lagi, pasti masuk. Ya kan Bang Teza."


Teza yang berada di samping Icha pun hanya menganggukkan kepalanya. Icha menatap botol yang menjadi targetnya lalu ia melempar ring itu. Namun sayang, ring itu tidak masuk.


"Yeayy gak masuk. Permisi permisi, giliran calon pemenang melempar lagi." Kata Rio dengan wajah sok angkuhnya.


"Yah gak masuk." Kata Icha dengan wajah sedihnya.


Rio melempar ring itu dan tepat mengenai sasaran. Ia berteriak senang karena tinggal satu ring lagi yang harus ia lempar agar menjadi pemenang. Icha dan Teza menatap kearah Rio yang bersiap melempar.


"Masuk masuk masuk." Gumam Rio.


"YEAY GAK MASUK!" Teriak Icha lalu menjulurkan lidahnya ke arah Rio.


"Itu kena angin, gak gak mau ulang. Ulang lagi."


"Oke ulang lagi. Tapi Icha bakal digantiin Bang Teza. Gimana?"


"Hah?"


"Apa? Abang?" Tanya Teza menunjuk dirinya sendiri.


"Gak boleh gitu dong." Tolak Rio.


"Mau ya bang Teza." Kata Icha memasang puppy eyes nya.


Teza yang merasa tak tega pun akhirnya menganggukkan kepalanya.


"Yeay!"


"Icha curang." Rio memanyunkan bibirnya, menatap kesal kearah Icha.


"Biarin." Icha menjulurkan lidahnya, mengejek Rio lalu terkekeh kecil.


"Untung sayang." Keluh Rio.


Rio dan Teza pun memegang masing-masing ring mereka. Keduanya menatap satu sama lain. Kini, giliran Rio yang melempar. Dan masuk. Laki-laki itu menaik turunkan alisnya menatap angkuh kearah Teza. Teza membalas dengan senyuman lalu melempar ring itu hingga masuk ke botol.


"Wahhh bang Teza hebat!" Puji Icha bertepuk tangan.


Rio menggeram kesal lalu melempar lagi dan masuk. Dilanjutkan dengan Teza yang juga masuk ke target. Di babak terakhir, Rio menatap tajam kearah Teza sebelum melempar ringnya. Semua terasa seperti sangat lambat. Ring itu berputar-putar diatas botol, hingga akhirnya..


"JATUH!!" Teriak Icha saat ring yang di lempar Rio tidak mengenai sasaran.


"****!" Umpat Rio.


Teza tersenyum sebelum kemudian melempar ring itu. Dan ternyata, ring itu masuk.


"Horeee bang Teza menang!" Teriak Icha lalu spontan memeluk Teza karena terlalu senang.


Rio terlihat memasang wajah cemberutnya. "Hoki aja tuh."


"Icha mau hadiah apa?" Tanya Teza.


Seakan tersadar, Icha pun melepaskan pelukannya. Ia menggaruk kepala bagian belakangnya dengan tersenyum canggung.


"Udah, gak usah malu. Abang malah seneng kok di peluk gitu sama Icha." Kata Teza membuat semburat merah di pipi Icha semakin terlihat jelas.


"Modus!" Rio memukul pelan lengan Teza membuat laki-laki itu tertawa.


"Hmm Icha mau boneka kelinci itu." Kata Icha menunjuk boneka kelinci berwarna putih.


Penjaga stand itu pun mengambil boneka itu dan memberikannya kepada Icha. Icha menerima boneka itu dan langsung memeluknya.


"Mau main apa lagi?" Tanya Teza.


"Bianglala!" Teriak Rio dan Icha bersamaan.


Sesampainya mereka di tempat bianglala, mereka langsung mengambil antrian untuk membeli tiket. Antrian itu lumayan panjang. Semua orang yang sedang mengantri tampak tidak sabar menaiki bianglala.


"Panjang banget." Keluh Icha menjulurkan kepalanya untuk melihat antrian di depannya.


"Kalo capek Icha duduk aja, biar bang Teza yang ngantri." Teza mengelus pelan rambut Icha dan diselipkannya di kebelakang telinga.


"Tau aja sih Bang Teja, gue duduk dulu ya. Bye bye." Kata Rio langsung berlari menuju kursi yang tak jauh dari mereka.


"Icha gak mau duduk juga?" Tanya Teza. Kini, mereka berdiri berhadapan.


Icha menggelengkan kepalanya. "Gak mau. Disini aja nemenin Bang Teza."


Teza mengembangkan senyumnya. "Gemesnya." Kata Teza sambil mencubit pelan pipi Icha.


"WOI MAJU WOI!!" Suara teriakan dari belakang mereka membuat mereka berdua tersadar bahwa antrian itu sudah bergerak sejak tadi.


Mereka berdua pun tertawa lalu maju menyusul barisan. Antrian itu sudah tidak begitu panjang. Terjadi keheningan diantara mereka. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Icha." Panggil Teza.


Icha menoleh kearah laki-laki itu. "Iya?"


"Abang.."


"Tiket untuk berapa?" Tanya petugas itu.


Ternyata keduanya tidak sadar bahwa ini adalah giliran mereka. Mereka pun membeli tiket untuk tiga orang. Setelah mendapatkan tiket yang diinginkan, mereka bergerak menuju kearah Rio.


"Sudah?" Tanya Rio.


Teza menunjukkan tiket yang dipegangnya. Mereka bertiga langsung bergerak untuk memasuki wahana bianglala. Ketika bianglala itu sudah penuh, wahana itu pun mulai bergerak memutar. Ketika mereka sudah berada di puncak tertinggi, mereka dapat melihat keindahan kota Jakarta dari atas.


"Indah banget." Kata Icha melihat kesana kemari.


"Iya, kayak kamu." Balas Teza yang duduk di sebelah Icha. Mendengar pujian Teza membuat Icha tersenyum malu.


"Uhuk uhuk banyak nyamuk disini." Sindir Rio menepuk-nepuk pelan lengannya.


"Nih." Kata Icha memberikan lotion anti nyamuk pada Rio.


"Itu dapet dari mana Cha?" Tanya Rio sedikit heran dan terkejut.


"Tadi dikasih bang Kenzi, katanya buat jaga-jaga kalo ada nyamuk." Jawab Icha dengan polos.


Teza dan Rio menggelengkan kepala mereka.


"Kenzi Kenzi." Teza terkekeh pelan.


Tidak terasa, bianglala itu pun sudah selesai berputar. Mereka bertiga turun dari wahana itu. Beberapa wahana lain mereka coba setelah menaiki bianglala. Membeli baju, aksesoris, berkeliling.


Kini, mereka sedang duduk di bangku. Mengistirahatkan kaki yang terasa pegal karena sejak tadi berjalan kesana kemari.


"Icha mau gulali?" Tanya Teza.


"Mau mau." Jawab Icha dengan antusias.


"Icha tunggu disini sebentar ya sama Rio, biar abang yang beli dulu gulalinya."


"Rio gue titip Icha, jangan ditinggal." Pesan Teza. Setelah mendapat anggukan dari mereka berdua, Teza pun beranjak mencari pedagang gulali.


"Icha." Panggil Rio.


"Hm?" Gumam Icha menoleh kearah laki-laki itu.


"Besok pagi jogging bareng yuk! Sekalian nanti aku ajarin main skateboard. Mau gak?"


"Wahh boleh. Jam berapa? Dimana?"


"Gimana kalo jam setengah 7?"


"Boleh boleh."


"Besok aku jemput ya, kita kesana nya bareng naik sepeda."


Icha menganggukkan kepalanya. "Oke."


Rio bergerak gelisah disamping Icha membuat gadis itu menoleh kearah Rio. "Rio kenapa?" Tanya Icha.


"Kebelet." Jawab Rio singkat.


"Yaudah ke toilet sana."


"Gak, aku gak mau ninggalin kamu. Kalo terjadi apa-apa gimana? Bisa diamuk Bang Kenzi, Bang Kenzo, Bang Teza sama Gavin nanti aku." Tolak Rio masih bergerak-gerak gelisah.


"Icha gak apa-apa kok. Udah sana Rio ke toilet." Usir Icha.


Rio berfikir sejenak, "Eh Cha, aku udah gak tahan nih. Aku tinggal sebentar gak apa-apa ya?" Rio bergerak gelisah seakan menahan sesuatu.


"Iya Rio, gak apa-apa kok." Jawab Icha.


"Jangan kemana-mana ya. Tunggu Bang Teja dateng." Kata Rio sebelum berlari terbirit-birit menjauhi Icha.


Setelah Rio pergi, Icha menghabiskan waktunya dengan memainkan handphone. Ia terlalu fokus hingga tidak sadar bahwa seseorang sedang memperhatikannya dari jauh.


"Icha?"


Suara itu membuat Icha mendongakkan kepalanya. Sepersekian detik kemudian, kedua matanya melotot melihat seseorang yang sedang berdiri di depannya.


"Arga?"


TO BE CONTINUE