
SILAHKAN TINGGALKAN JEJAK
BUDAYAKAN VOTE SEBELUM BACA
COMMENT SETELAH BACA
WARNING!!!
BANYAK TYPO
NO COPAS
NO DARK READERS
SELAMAT MEMBACA
^^
AUTHOR : GITA
-----~oOo~-----
Teza dan Kenzo berjalan beriringan menuju kelas mereka yang berada di lantai dua. Saat melewati koridor dimana kelas Icha berada, mereka berdua melihat gadis itu sedang dikelilingi oleh Rio dan Gavin. Melihat itu, Teza mempercepat langkahnya mendahului Kenzo untuk menghampiri keberadaan Icha.
"Icha nanti sama Rio aja belajarnya. Rio pinter fisika kok tenang aja. Dijamin dapet 100 deh." Suara Rio terdengar dengan jelas.
"Rio tapi.."
"Selamat pagi, Icha." Sapaan dari Teza membuat Icha mengurungkan untuk melanjutkan kalimatnya.
"Selamat pagi, ketos." Bukan Icha yang menjawab, melainkan Rio.
"Yang disapa Icha, ngapa lo yang jawab dekil monyet?" Kesal Teza.
"Gue sebagai calon suami Icha, kan nantinya bakal jadi wali dia, jadi berhak dong gue jawab. Ya gak Cha?" Rio menatap Icha sambil menaik turunkan alisnya.
"Muka lo ngapa bonyok gitu Gav?" Tanya Teza saat melihat kearah Gavin.
Gavin tidak menjawab, melainkan masih fokus menatap kearah Icha dari samping. Melihat itu, Teza mendengus kesal.
"Kayak gak tau Gavin aja lo, gak bakal dijawab deh kalo lo nanya kecuali Icha yang nanya." Kata Rio.
"Hah? Icha kenapa?" Tanya Icha sambil menunjuk dirinya sendiri.
Baru saja Rio mau menjawab, seseorang tiba-tiba datang menghampiri mereka.
"Bang Teja, itu si Kenzi atau Kenzo?" Bisik Rio pada Teza yang berada disampingnya.
Bisikan Rio itu terdengar keras bahkan sampai Kenzo melihat kearahnya dengan pandangan bertanya. Baru saja Kenzo ingin menjawab, buru-buru Teza memotongnya.
"Kenzi." Kata Teza.
"Tapi.." Icha mau mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi karena mendapat delikan mata dari Teza. Akhirnya gadis itu pun bungkam kembali.
Rio seketika membulatkan kedua matanya. "Mati gue." Gumam Rio sambil menepuk dahinya dengan telapak tangan.
"Apa Dimas? Lo manggil gue? Oke gua kesana!!" Teriak Rio saat temannya yang bernama Dimas itu berada tak jauh dari mereka.
"Tapi gue kan.."
"Gue ada urusan sama Dimas. Sampai jumpa semuanya, sampai jumpa Icha." Kata Rio lalu pergi menuju Dimas dengan membawa skateboard kuning itu dilengan kirinya.
Setelah kepergian Rio, Teza tertawa terbahak-bahak. "Mau aja diboongin tu bocah." Kata nya disela-sela tawa.
"Gimana pertandingan kemaren Gav?" Tanya Kenzo.
Gavin pun mengalihkan pandangannya untuk menatap Kenzo. "Biasa." Jawabnya singkat.
Kenzo mengangguk.
"Bang Kenzo ngapain disini?" Tanya Icha.
Saat Kenzo ingin menjawab, Safira berjalan melewati mereka sambil menundukkan kepalanya seolah menyembunyikan wajahnya. Refleks, Kenzo langsung menarik tas Safira sehingga langkah cewek itu berhenti.
"Lepasin Kenzoooooo!!!!!!" Teriak Safira dengan kesal.
Kenzo pun menarik tas Safira agar mendekat kearahnya. "Masalah kita belum selesai Ra." Katanya.
"Bang Kenzo ada masalah apa sama Safira?" Tanya Icha.
Kenzo menatap kearah adiknya itu, lalu beralih pada Gavin dan Teza, memberikan isyarat pada dua orang itu untuk membawa Icha pergi.
"Icha, ayo masuk dulu. Sekalian bang Teza mau ngeliat Rere." Ajak Teza dengan nada lembut dan wajah tampan yang sedang tersenyum.
"Tapi..."
"Masuk." Suara dingin Gavin lalu menyentak Icha.
Dengan kepala menunduk, Icha pun masuk kedalam kelas diikuti oleh Teza dan Gavin. Saat sampai di dalam kelas, terlihatlah Rere yang sedang sibuk menyalin tugas dengan kekuatan SKS (Sistem Kebut Semenit) nya. Teza yang melihat kelakuan adiknya itu pun menggelengkan kepala. Gavin sudah duduk di tempat duduknya yang berada di pojok belakang. Sedangkan Teza berjalan menghampiri Rere. Saat sampai di depan Rere, Teza pun langsung mengambil buku yang sedang disalin oleh Rere.
"ABANGGGG!!! BALIKIN!" Teriak Rere berusaha menggapai bukunya yang sengaja diangkat tinggi-tinggi oleh Teza.
"Pr itu dikerjainnya dirumah, bukan di sekolah. Heran abang, gak berubah-berubah ya kamu Re." Teza menggelengkan kepalanya.
Rere yang masih meraih buku itu pun mencubit pinggang kakak laki-lakinya itu. Teza pun sontak langsung menjatuhkan buku itu dan memegangi bekas cubitan Rere sambil sesekali meringis.
"Apa lo bilang?!" Tanya Rere dengan wajah marah.
"Gak bilang apa-apa kok."
"Abang-"
TEEETTTT
Bel masuk jam pelajaran pertama pun berbunyi. Mendengar itu, Teza langsung memundurkan langkahnya secara perlahan, apalagi ketika melihat wajah merah padam Rere.
"ABANGGGG!!!!!!! GUE BELUM SELESAI NYALINNYA!!!!!" Teriak Rere dengan kesal.
Teza pun berlari keluar menghindari amukan adiknya sambil tertawa terbahak-bahak karena telah mengerjai adiknya itu. Sedangkan Rere, gadis itu duduk kembali ke kursinya lalu kembali menyalin tugas itu dengan kecepatan turbonya.
"Rere serem ya kalo marah." Kata Icha sambil terkikik diakhir kalimatnya.
"Abisnya punya abang satu ngeselin banget minta ditampol." Gerutu Rere masih menyalin tugas.
"Bang Teza kan sayang sama Rere."
Rere menutup buku yang telah selesai ia salin lalu mendengus kesal. "Eh Safira mana? Gak masuk? Tumben telat." Tanya Rere dengan heran ketika melihat bangku didepannya kosong.
Icha sontak langsung menepuk keningnya. "Tadi Icha ngeliat Safira sama Bang Kenzo, tapi gak tau ngapain. Katanya Safira ada masalah sama Bang Kenzo. Rere tau gak masalah apa?" Tanya Icha.
Rere yang mendengar perkataan Icha pun tersontak kaget. "Gak tau Cha." Bohong Rere.
Untung saja Icha percaya. Beberapa menit kemudian, Bu Tesa pun masuk ke dalam kelas sambil membawa buku pelajaran ditangan kanannya.
"Bang Kenzi udah pulang Re." Kata Icha yang langsung membuat Rere terkejut.
Tentu saja Rere mengenal Kenzi. Laki-laki itu adalah kakak laki-laki Icha dan saudara kembar Kenzo. Selain itu, ia juga adalah sahabat dari Teza dan Kenzi juga adalah salah satu mantannya. Ia pernah menjalin hubungan dengan Kenzi dulu, tapi tidak bertahan lama karena Kenzi yang saat itu selingkuh dengan teman seangkatannya. Mengingat itu, membuat Rere secara tidak sadar menghela nafasnya.
"Re? Kenapa?" Tanya Icha. Ah, iya. Gadis itu tidak tau bahwa ia pernah berhubungan dengan Kenzi karena ini memang dirahasiakan. Lagipun usia hubungan mereka hanya satu minggu. Bayangkan saja.
"Eh itu Safira." Kata Rere berusaha mengalihkan pembicaraan.
Benar saja, Safira berdiri didepan kelas sambil ngos-ngosan. Ia menyalami Bu Tesa. Untung saja pelajaran belum dimulai sehingga ia tidak harus dihukum. Mereka berdua melihat kearah Safira yang duduk di depan meja mereka.
"Dari mana Ra?" Tanya Rere.
"Toilet." Jawab Safira.
Setelah itu mereka pun tidak mengeluarkan suara kembali karena pelajaran sudah dimulai.
***
Saat pulang sekolah, Icha duduk di kursi yang terletak di samping pagar sekolah. Kakinya ia ayunkan dan terdapat headset yang menyumpal telinganya. Beberapa menit kemudian, sebuah motor terparkir di depannya. Icha pun mendongak untuk melihat orang itu. Wajahnya langsung tersenyum.
"Arga." Panggil Icha sambil berjalan menuju kekasihnya itu.
"Hai." Kata Arga.
Icha pun naik keatas motor Arga dan perlahan, motor itu mulai meninggalkan kawasan sekolah. Mereka berdua tidak sadar bahwa dari parkiran, terdapat tiga pasang mata yang melihat mereka tadi. Tiga pasang mata itu adalah Gavin, Teza dan Kenzo.
Dalam perjalanan, mereka berdua hanya terdiam tanpa membuka suara.
"Arga gak apa-apa? Tumben kok diem terus." Kata Icha.
Arga berdehem, kemudian menaikkan kaca helmnya. "Gak apa-apa kok." Jawabnya.
Icha pun hanya mengangguk tanpa merasa curiga sedikitpun. Akhirnya mereka pun telah sampai di sebuah cafe. Keduanya turun dan berjalan bersama menuju cafe itu. Saat sampai di dalam, Icha menatap bingung kearah Arga.
"Arga, itu sepupu kamu kan?" Tunjuk Icha pada seorang gadis yang sedang tersenyum kearah mereka-ah tepatnya kearah Arga.
Arga hanya diam tak menjawab. Ia menarik pelan tangan Icha menuju meja yang terdapat Nessi yang sedang duduk disana. Saat sampai di meja itu, Arga menyuruh Icha untuk duduk di depan Nessi, sedangkan dirinya duduk di samping Nessi. Melihat itu, Icha semakin memasang raut bingungnya.
"Arga.."
"Icha, ada yang mau aku omongin ke kamu." Kata Arga memotong perkataan Icha.
"Ngomong apa?" Tanya Icha.
"Kenalin, namanya Nessi. Dia.."
"Iya, dia sepupu kamu kan?" Potong Icha.
Arga menggelengkan kepalanya. Icha yang melihat itu pun langsung melemaskan badannya.
"Dia pacar gue Cha. Dari dulu gue gak pernah suka sama lo! Lo itu cuma gue jadiin bahan balas dendam untuk Gavin karena gue benci banget sama dia. Dan sekarang, kita putus!" Suara Arga terdengar sangat keras, bahkan ada pengunjung cafe yang melihat kearah mereka.
Terdengar beberapa cacian di sekitar mereka. Beberapa mencaci Arga, ada yang mencaci Nessi, bahkan ada juga yang mencaci Icha.
Icha, gadis itu masih terdiam. Wajahnya tidak menunjukkan reaksi apapun. Kemudian ia tersenyum kepada kedua pasangan yang sedang menatapnya dengan sinis itu.
"Oke. Kita putus." Kata Icha lalu berjalan pelan meninggalkan cafe.
Arga yang melihat itu pun tidak peduli lalu kembali bercanda dengan gadis di sampingnya itu.
***
TO BE CONTINUE