
SILAHKAN TINGGALKAN JEJAK
BUDAYAKAN VOTE SEBELUM BACA
COMMENT SETELAH BACA
WARNING!!!
BANYAK TYPO
NO COPAS
NO DARK READERS
SELAMAT MEMBACA
^^
AUTHOR : GITA
-----~oOo~-----
Icha menatap motor Teza yang mirip dengan motor Gavin. Sekali lagi, ia teringat dengan Gavin. Bahkan ia sampai tidak sadar kalo dirinya melamun dari tadi.
"Icha?" Panggil Teza.
"Eh iya."
"Kamu melamun?" Tanya Teza.
"Hmm Icha cuma mikirin pelajaran aja kok." Bohong Icha.
Teza mengangguk tanpa curiga sedikitpun. "Udah yuk naik."
Icha menatap kearah bangku motor itu yang sangat tinggi. Biasanya, Gavin selalu mengulurkan tangannya untuk membantu Icha duduk diatas sana.
"Maaf bang Teza." Kata Icha sebelum memegang bahu Teza untuk membantunya naik keatas motor.
"Udah siap?" Tanya Teza menoleh ke belakang.
"Udah." Jawab Icha yang memegangi tas Teza agar ia tidak jatuh.
Motor Teza pun bergerak meninggalkan sekolah. Dalam perjalanan, tidak ada yang membuka pembicaraan. Hingga mereka sampai di cafe yang terlihat di penuhi oleh anak sekolahan seperti mereka.
"Ayo." Ajak Teza.
Icha mengangguk dan mereka pun masuk ke dalam cafe. Dahi Icha mengernyit ketika melihat Teza bergerak menuju ke pintu yang terletak di pojok ruangan. Mata Icha menatap kagum ketika melihat apa yang ada di balik pintu itu. Sebuah taman yang terdapat ayunan, karpet dan meja kecil. Seperti perlengkapan untuk garden picnic.
"Ini cafe keluarga abang. Kadang-kadang kami picnic disini. Dan cuma Icha yang pernah abang bawa kesini selain keluarga abang." Kata Teza dengan senyum manisnya.
Icha melangkah mendahului Teza, masih dengan mata yang melihat kesana kemari dengan kagum. "Cantik." Kata Icha.
"Iya, kayak kamu."
Icha menoleh kearah Teza yang masih tersenyum kearahnya la mengalihkan pandangannya karena malu.
"Icha boleh duduk di ayunannya gak?" Tanya Icha sambil menunjuk ayunan berwarna putih yang berada di tanaman itu.
"Boleh."
Setelah mendapat jawaban itu, Icha berlarian kecil menuju ayunan itu ada duduk diatasnya. Teza menyusul duduk di ayunan yang berada di sebelahnya. Teza menatap Icha dari samping.
"Hal apa yang bisa buat Icha bahagia?" Tanya Teza.
Icha menoleh sebentar kearah Teza sebelum kembali menatap kearah depan. "Hmm banyak."
"Salah satunya?"
"Es krim!" Jawab Icha sedikit teriak.
Gadis itu mulai mengayunkan kakinya, diikuti oleh Teza. Seiring naik turunnya ayunan itu, Icha tertawa. Rambut coklatnya yang digerai pun berterbangan kesana kemari. Teza yang berada di sebelahnya terpana melihat tawa Icha.
"Cantik." Batin Teza.
"Icha!" Panggil Teza.
Icha menoleh kearah Teza dengan wajah bingungnya.
"Icha mau gak jadi pacar bang Teza?" Tanya Teza yang saat ini sudah menghentikan ayunannya.
Ayunan Icha perlahan mulai berhenti. Gadis itu menatap Teza dengan pandangan tak terbaca. Terjadi keheningan beberapa saat. Tidak ada yang memulai pembicaraan.
"Maaf bang Teza, Icha gak bisa." Kata Icha dengan pelan setelah memalingkan wajahnya dari Teza.
"Kenapa?" Kenapa Cha?"
"Icha.. Icha baru putus dari Arga beberapa hari yang lalu." Jawab Icha sedikit tidak yakin pada dirinya sendiri.
"Itu sudah berlalu Cha, kamu bisa memulai yang baru."
"Icha takut sakit hati lagi." Kata Icha sambil menunduk ketika mengatakan itu.
"Icha, liat bang Teza."
Icha masih terdiam, belum mau menoleh.
"Icha, please."
Icha pun akhirnya menoleh kearah Teza. Kedua matanya menatap kearah Teza dan mendapatkan tatapan keseriusan di mata itu.
Teza menarik pelan kedua tangan Icha dan digenggamnya tangan itu. "Pertama kali abang ngerasain rasa ini, itu saat kamu datang sama Kenzo pas latihan futsal. Dari situ abang sudah punya rasa sama kamu. Bahkan sebelum kamu kenal sama abang. Selama ini abang menunggu kamu, dan terus menunggu. Abang cinta sama kamu, Icha. Dan ini bukan permainan. Abang serius. Abang janji gak bakal nyakitin kamu."
"Tapi.."
"Icha, please. Kasih abang kesempatan, kita mulai ini dari awal. Okey?"
Icha terdiam. Bingung harus menjawab apa.
"Maaf bang Teza, Icha bener-bener gak bisa. Kasih Icha waktu ya, untuk mulihin hati Icha dulu. Semua ini terlalu tiba-tiba untuk Icha." Jawab Icha dengan nada menyesal.
Teza pun memaklumi dan mengangguk pelan. "Oke, abang paham. Maaf kalo kesannya abang kayak maksa kamu." Kata Teza.
"Hmm gak apa-apa."
Seketika, suasana berubah menjadi canggung. Yang Icha lakukan saat ini hanya memainkan jari jemarinya.
"Ayo masuk." Ajak Teza.
Icha mengangguk dan mengikuti langkah Teza untuk masuk ke dalam cafe. Mereka duduk di pojok ruangan, jauh dari keramaian muda-mudi. Teza izin pergi sebentar dan tak lama ia kembali dengan semangkuk kecil eskrim coklat dan toppingnya yang banyak. Melihat itu, mata Icha langsung berbinar.
"Ini, untuk kamu." Kata Teza meletakkan semangkuk eskrim itu di depan Icha.
"Bang Teza?"
"Enggak, abang udah kenyang ngeliat kamu makan."
"Mana bisa ngeliat orang makan bikin kenyang." Icha tertawa kecil lalu mengambil satu sendok berisi eskrim untuk dimakannya.
Teza ikut tertawa. "Selain eskrim, hal apa lagi yang bisa buat kamu bahagia?" Tanya Teza sambil menopang dagu di telapak tangan.
"Pasar malam, gulali, komedi putar." Kata Icha lalu kembali menyuapkan eskrim kedalam mulutnya.
"Oke, hari sabtu besok ikut abang ya."
"Apa? Kemana?" Tanya Icha bingung.
"Pasar malam."
"Serius?? Yeay!!!" Teriak Icha membuat semua orang yang berada di cafe melihat kearahnya.
"Ups. Sorry." Kata Icha tersenyum malu.
Teza tertawa pelan. "Se seneng itu ya?"
"Iya, soalnya udah lama Icha gak ke pasar malam lagi."
"Kenapa?"
Wajah Icha berubah sedih, "Terakhir kali Icha ke pasar malam sama Arga, beberapa bulan yang lalu. Dia ninggalin Icha sendiri disana. Mulai saat itu, Bang Kenzo dan Bang Kenzi gak ngebolehin Icha ke pasar malam lagi."
"Jangan sedih, sabar ya sampe hari sabtu. Kita senang-senang disana." Teza memberikan senyumnya.
Icha mengangguk antusias.
"Udah selesai makan eskrimnya?" Tanya Teza ketika melihat mangkuk eskrim Icha sudah kosong. Icha mengangguk sebagai jawaban.
"Ayo, abang antar pulang."
Mereka pun bergerak meninggalkan cafe itu. Di perjalanan, kepala Icha menghadap kearah kiri. Teza sesekali melirik wajah Icha dari kaca spion. Sebuah senyum terbit di wajah tampan Teza.
"Cantik." batinnya seakan tidak bosan selalu mengatakannya.
Ketika motor Teza melewati danau yang pernah dulu mereka singgahi, Icha melihat siluet orang yang sangat di kenalnya. Secara refleks, ia berteriak menyuruh Teza berhenti.
"Bang Teza berhentiiii!" Teriak Icha.
Teza otomatis mengerem motornya membuat tubuh Icha terpental ke depan. "Kenapa Cha?"
"Ehm Icha mau mampir ke mini market itu." Tunjuk Icha ke mini market yang berada dekat dengan taman itu.
"Lain kali kalo mau mampir ke mini market, langsung bilang aja ya. Jangan teriak kayak tadi. Abang khawatir kamu kenapa-napa."
"Maaf bang Teza." Jawab Icha dengan pelan.
Teza pun menjalankan motornya menuju mini market itu. "Mau abang temenin ke dalamnya?"
"Ehm Abang pulang duluan aja."
"Apa? Gak. Abang tunggu kamu, nanti abang anter pulang." Tolak Teza.
"Icha belanjanya lama."
"Abang sabar kok nunggunya."
Icha berpikir sebentar. "Abang pulang duluan aja, Icha mau ketemu sama temen Icha disini."
"Yaudah abang tungguin sampe kamu selesai."
"Aduhh. Ehm itu.. kami mau pergi bareng kerumah nya."
"Abang minta nomor temen kamu." Kata Teza menyondorkan handphonenya.
Icha pun langsung gelagapan. Namun, deringan handphone Teza membuat laki-laki itu menarik kembali handphonenya. Setelah menerima panggilan, ia pun melihat kembali kearah Icha.
"Abang ada urusan, kamu beneran pergi sama temen kamu?"
"Iya."
"Yaudah nanti abang kabarin ke Kenzo. Abang duluan ya, kamu hati-hati. Kalo ada apa-apa telfon abang, Bang Kenzi atau Bang Kenzo oke?"
"Oke."
Motor Teza pun perlahan meninggalkan mini market itu. Setelah dirasa motor Teza sudah jauh, ia pun berjalan menuju taman yang berada di dekat mini market itu. Icha bergerak menuju tempat dimana ia melihat siluet Gavin tadi. Namun, saat ia sampai disana, tidak ada siapa-siapa.
"Gavin?" Panggil Icha.
"Gavin dimana?" Panggil Icha lagi.
Tidak ada jawaban. Icha pun melanjutkan langkahnya untuk duduk di kursi putih yang berada disana. Kedua matanya melihat kearah danau.
"Gavin dimana? Tadi Icha yakin banget ngeliat Gavin disini." Gumam Icha menatap lurus kearah danau itu.
TO BE CONTINUE