PITAGORA

PITAGORA
Part 14



SILAHKAN TINGGALKAN JEJAK


BUDAYAKAN VOTE SEBELUM BACA


COMMENT SETELAH BACA


WARNING!!!


BANYAK TYPO


NO COPAS


NO DARK READERS


SELAMAT MEMBACA


^^


AUTHOR : GITA


-----~oOo~-----


Sudah satu jam Icha duduk diatas kursi itu sendirian. Yang ia lakukan sejak tadi hanya memandangi danau itu. Sedangkan di sisi lain staman, tepatnya di balik pohon, Gavin berdiri memandangi Icha. Sejak ia sadar Icha berada di taman itu, Gavin langsung bersembunyi, melihat kedatangan Icha dari balik pohon.


Gavin mengambil handphonenya di saku jaket hitam yang ia kenakan. Sekali lagi, ia melihat kearah Icha sebelum mengetikkan sesuatu di handphonenya.


Beberapa menit kemudian...


"ICHAA!!!"


Teriakan itu membuat Icha menoleh. Disana, tak jauh dari tempatnya berada, Kenzo, Kenzi dan Rio berjalan cepat kearahnya. Icha pun berdiri dari duduknya.


"Kamu ngapain disini? Ayo pulang." Kata Kenzi langsung merangkum wajah Icha dengan jemarinya.


"Kalian kenapa disini?" Tanya Icha heran dengan kedatangan mereka yang tiba-tiba.


"Jemput kamu." Jawab Kenzo.


"Ya ampun Icha, aku khawatir banget tau sama kamu. Ngapain sih disini sendirian. Ada yang lecet gak." Kata Rio memutar-mutar badan Icha untuk memeriksa apa ada yang luka atau tidak.


Puk. Kenzi memukul pelan kepala Rio membuat laki-laki itu mengaduh pelan.


"Adek gue pusing, ****." Kesal Kenzi.


Kenzo menarik pelan tangan Icha lalu mengelus pelan kepala adiknya itu.


"Maaf deh, namanya juga gue khawatir bang." Kata Rio dengan cengirannya.


"Yaudah yuk pulang." Kata Kenzi berjalan dulu meninggalkan taman, disusul Kenzo dan Icha.


Sedangkan Rio menatap kearah pohon yang dibaliknya terdapat Gavin. Ia menghela nafasnya pelan sebelum bergerak menyusul Kenzi, Kenzo dan Icha.


***


Semenjak hari dimana Teza menembak Icha untuk menjadi pacarnya, laki-laki itu rutin mengajak Icha berangkat dan pulang sekolah bersama. Hari ini adalah hari sabtu, nanti malam Icha akan pergi ke pasar malam dengan Teza seperti yang dijanjikan oleh laki-laki itu beberapa hari yang lalu.


"Cieee mau ngedate nih sama Teza." Kata Kenzo dengan jahil.


Kenzo masuk kedalam kamar Icha dan melihat adiknya itu sedang mengikat rambutnya. Kenzi menyusul beberapa menit kemudian dan langsung duduk diatas kasur Icha.


"Beneran kamu gak ngebolehin abang ikut?" Tanya Kenzi sekali lagi.


"Itu terus yang lo tanyain dari tadi. Tenang aja, gue percaya Teza bakal jagain Icha." Balas Kenzo yang merebahkan tubuhnya di sebelah Kenzi.


"Kalo ada apa-apa langsung telfon abang atau bang Kenzo ya. Pulangnya jangan malam-malam. Jangan jauh-jauh dari Teza."


"Gue cuma khawatir. Terakhir kali gue percaya sama orang, orang itu ngerusak kepercayaan gue. Dan gue paling gak suka sama orang yang nyakitin adek gue." Yang dimaksud oleh Kenzi disini adalah Arga. Dulu, dia lah yang pertama kali merasa percaya bahwa Arga dapat menjaga adiknya namun ternyata kenyataan berjalan sebaliknya.


"Bang Kenzi, Icha baik-baik aja kok. Lagian kan Icha sama bang Teza. Janji deh kalo ada apa-apa nanti Icha langsung telfon bang Kenzi." Icha duduk diantara kedua kakak laki-lakinya.


"Uhhh love you sister!" Ucap Kenzi memeluk Icha, disusul oleh Kenzo.


"Teletubbies, jangan kelamaan pelukannya, kasian tuh ada yang nungguin di bawah." Suara dari sang bunda membuat mereka bertiga menoleh kearah pintu.


"Bunda, Bang Teza sudah datang bun?" Tanya Icha.


"Iya, udah gih Icha ke bawah." Kata Bundanya sebelum pergi meninggalkan kamar Icha.


Icha, Kenzo dan Kenzi pun pergi bersama menuju ruang tamu. Kenzo dan Kenzi bertos ala laki-laki dengan Teza.


"Jagain adek gue ya bro, lecet sedikit siap-siap gue bogem lo." Kata Kenzi tertawa jahil diakhir kalimatnya.


"Siap. Gue berangkat ya. Eh tante Tania mana?" Tanya Teza.


"Udah mau berangkat?" Ibu Icha tiba-tiba datang.


"Iya tante, Teza pamit ya. Pinjam anak tante sebentar." Kata Teza menyalami Ibu Icha.


"Iya, hati-hati ya. Pulangnya jangan malam-malam, Icha jangan jauh-jauh dari bang Teza ya, jangan kebanyakan makan manis, kalo ada apa-apa langsung telfon mama, papa atau abang kamu."


"Like mother like son." Kata Kenzo membuat Kenzi mendelik kearahnya.


"Yaudah, kami permisi dulu ya tante. Assalamu'alaikum."


Setelah berpamitan, Teza dan Icha bergerak menuju mobil Teza yang terparkir di halaman rumah Icha. Kenzo dan Kenzi mengikuti Icha hingga berada di sebelah mobil Teza.


"Have fun! Jangan lupa pesan abang tadi." Kata Kenzi melambaikan tangannya saat Teza sudah menghidupkan mesin mobilnya.


"Iya abang. Dah."


"Be careful sister." Kata Kenzo sebelum mobil Teza bergerak meninggalkan halaman rumah Icha.


"Abang-abang kamu protektif banget ya." Kata Teza dengan sedikit terkekeh kecil.


"Iya, tapi Icha suka. Soalnya Icha bisa ngerasain kalo mereka bener-bener sayang sama Icha." Jawab Icha membuat Teza mengembangkan senyumnya.


"Hahhh dibawah sini panas."


Suara asing itu membuat Teza dan Icha sontak menoleh ke jok belakang. Seseorang duduk disana dengan cengiran khasnya, memasang wajah tak bersalah.


"Rio? Lo ngapain di mobil gue?" Tanya Teza terkejut melihat Rio duduk dengan wajah tak bersalahnya di jok belakang mobil.


"Mengganggu kencan kalian tentu saja. Gue gak mau ya lo modus in calon ibu dari anak-anak gue." Kata Rio.


"Gak apa-apa bang Teza, makin rame makin seru kok." Ucap Icha sehingga mau tidak mau Teza pun mengangguk meskipun masih sedikit kesal.


Perjalanan itu hanya dihiasi dengan suara lagu melow yang mengalun dari radio mobil. Hingga terdengarlah alunan lagu yang berjudul Pura pura lupa. Mendengar lagu itu, Rio dan Icha langsung tersenyum antusias.


"Jangan datang lagi cinta. Bagaimana aku bisa lupa. Padahal kau tahu keadaannya. Kau bukanlah untukku. Jangan lagi rindu cinta. Ku tak mau ada yang terluka. Bahagiakan dia aku tak apa. Biar aku yang pura pura lupa


Ohhh ohhhhh ohhhh." Rio bernyanyi dengan nada yang sangat fals dan memakai handphonenya sebagai mic.


Icha tertawa pelan lalu ikut bernyanyi dengan suara merdu. "Tiba tiba kamu datang. Saat kau telah dengan dia. Semakin hancur hatiku. Jangan datang lagi cinta. Bagaimana aku bisa lupa. Padahal kau tahu keadaannya. Kau bukanlah untukku. Jangan lagi rindu cinta. Ku tak mau ada yang terluka. Bahagiakan dia aku tak apa. Biar aku yang pura pura lupa."


Lagu itu sangat cocok dengan suasana hati Icha saat ini. Mengingat bahwa putusnya ia dengan Arga adalah karena seseorang lain. Di depan orang lain, Icha bersikap seolah berpura-pura tegar padahal nyatanya tidak. Ia sangat rapuh. Tidak mudah menghapus semua kenangan yang telah dibangun selama satu tahun lebih. Dan yang lebih menyakitkan adalah ketika Arga berkata bahwa ia tidak pernah mencintainya dan hanya berniat mempermainkan Icha. Membuktikan bahwa selama ini semua yang diberikannya adalah palsu semata.


Setelah perpisahan, dua hal yang paling sulit dilakukan adalah mengikhlaskan dan menerima. Mengikhlaskan kepergiannya, dan menerima bahwa semuanya tak lagi sama.


TO BE CONTINUE