PITAGORA

PITAGORA
Part 43



Seminggu telah berlalu. Malam ini adalah malam perayaan dari kelulusan kelas dua belas. Prom night diadakan di salah satu gedung terbesar di Jakarta. Semua guru dan panitia bekerja sama untuk memastikan bahwa malam ini merupakan malam yang tidak akan terlupakan untuk murid kelas dua belas. Begitupun murid lain yang pasti sudah mempersiapkan diri mereka sebaik-baiknya agar dapat tampil dengan penampilan terbaik mereka nanti. Sama seperti murid lainnya, Icha, Rere dan Safira kini berada di salon ternama di Jakarta. Sejak siang tadi, mereka sibuk memanjakan diri mereka agar dapat tampil cantik malam ini. Meskipun awalnya Icha memang menolak, tapi karena bujukan Rere dan Safira akhirnya gadis itu setuju.


"Re, kapan selesainya? Icha capek banget dari tadi cuma duduk aja gak ngapa-ngapain." Keluh Icha. Kini, ia dan kedua sahabatnya sedang dirias oleh penata rias setelah menjalani beberapa perawatan sebelumnya.


"Ya ampun Cha, bentar lagi selesai kok. Udah deh lo ikutin aja. Emangnya lo gak mau ngeliat Gavin terpana sama kecantikan lo nanti?" Jawab Rere sambil memejamkan matanya karena penata riasnya sedang membubuhi pewarna mata dalam kelopak matanya.


"Bener kata Rere Cha. Tenang aja, bentar lagi juga selesai kok." Tambah Safira.


"Ini sudah kelima kalinya kalian bilang gitu. Lagian Icha gak pergi sama Gavin nanti."


"APA?" Rere dan Safira sontak menatap kearah Icha dengan pandangan terkejut.


"Mbak, jangan banyak gerak ya." Tegur penata rias Rere. Rere tersenyum tidak enak dan kembali pada posisi sebelumnya.


"Lo pergi sama siapa Cha?" Tanya Safira.


"Sama Bang Kenzi."


"Tapi kan lo juga bakal ketemu Gavin nantinya. Udah deh lo ganggu fokus mbak Sari tau gak. Liat tuh dia kebingungan ngerias lo Cha." Safira menunjuk kearah penata rias Icha yang bernama Sari.


Icha menghela nafasnya pasrah. Mereka bertiga menghabiskan waktu di salon hingga pukul enam sore. Acara akan dimulai pada pukul tujuh malam. Setelah selesai dengan persiapannya, mereka pun membayar biaya salon dan pergi keluar. Ternyata, diluar sudah terdapat Kenzo, Kenzi dan Pram.


"MasyaAllah. Bidadari dari surga mana ini?" Puji Kenzi terkagum-kagum.


Icha memakai dress berwarna pink muda diatas lutut yang menampilkan bahu putihnya. Terdapat aksen renda di lengannya dan bunga-bunga cantik dibagian dadanya. Ia juga memakai heels 5cm berwarna silver. Rambutnya dibuat bergelombang dibawah. Sangat manis untuk wajahnya yang memang sangat imut. Jangan lupakan pouch berwarna senada dengan heelsnya yang menambah manis penampilan Icha malam ini. (bayangin aja ya di gambar itu Icha megang pouch warna silver di tangannya)



Sementara itu, Safira memakai gaun off-shoulder berwarna hitam model atasan sabrina. Terdapat bunga berwarna pink muda yang melingkari pinggangnya dan bertaburan di rok gaun yang memanjang kebelakang. Rambut berwarna coklat milik Safira diikat kebelakang, menyisakan dua belah sisi rambut di kanan dan kiri telinganya. Untuk menambah glamournya penampilan Safira malam ini, ia memakai heels berwarna emas dan pouch yang berwarna senada dengan heels yang dikenakannya.



Sedangkan Rere memakai gaun panjang berwarna abu-abu muda dengan atasan yang terbuat dari bahan tile berwarna sama dengan bunga berwarna emas menghiasi pinggang dari gaun itu. Heels putih dan pouch berwarna putih menjadi pilihan untuk melengkapi penampilannya. Rambut Rere ditata hampir sama dengan Safira, bedanya tidak ada poni atau rambut yang disisakan oleh Rere karena semua rambutnya terikat ke belakang.



"Itu ilernya sampe netes." Ledek Rere saat melihat Kenzi, Kenzo dan Pram tidak berhenti menatap kearah mereka.


Ketiga pria itu juga terlihat tampan dengan setelan jas dan celana bahan berwarna hitam, kemeja berwarna putih dan dasi berwarna hitam. Kenzi, Kenzo dan Pram langsung mengulurkan tangan mereka untuk menyambut ketiga gadis cantik di depannya.


"Icha baru tau Rere sama Pram. Dari kapan Re?" Tanya Icha saat mereka berjalan menuju parkiran.


"Belum lama." Jawab Rere dengan malu-malu.


Kenzi membukakan pintu mobilnya untuk Icha. Begitupun Kenzo yang membukakan pintu untuk Safira. Sedangkan Pram menaiki mobilnya sendiri bersama Rere. Ketika semua sudah berada dalam posisi nyaman, kedua mobil itu pun berlalu meninggalkan salon menuju gedung tempat berlangsungnya acara prom night.


Sesampainya mereka, ternyata sudah ramai sekali murid-murid yang berdatangan dengan pasangan mereka masing-masing. Mereka turun diatas red carpet dan membiarkan mobil diparkirkan oleh petugas parkir. Kedatangan mereka sontak mengalihkan semua pandangan orang yang berada disana. Seakan mereka semua terkagum pada sosok yang kini sedang berjalan dengan anggun disamping kakaknya.


"Kenapa mereka ngeliatin Icha kayak gitu bang?" Bisik Icha semakin mengeratkan pegangannya pada lengan Kenzi.


"Icha cantik, mangkanya mereka ngeliatin." Balas Kenzi terkikik geli karena kepolosan adiknya itu.


Icha mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan sang pujaan hati. Hingga matanya terpaku pada sosok yang berdiri tak jauh darinya, memandangnya seolah-olah hanya dialah satu satunya orang yang berada dalam gedung ini. Gavin. Laki-laki itu sangat tampan malam ini. Seperti biasanya, ia mengenakan semua serba hitam dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku sambil memandang lurus kearahnya.



Lama keduanya saling berpandangan, Gavin akhirnya berjalan maju menuju kearah Icha. Kedua matanya tidak menatap kearah lainnya selain kepada Icha. Begitupun dengan Icha yang terus menatap Gavin hingga laki-laki itu berdiri tepat di depannya. Wangi parfum musk dan kayu kayuan khas Gavin tercium oleh Icha membuatnya seakan kehilangan kesadarannya karena saking candu oleh bau itu. Bahkan keduanya tidak menyadari bahwa Kenzi telah pergi untuk bergabung bersama teman-teman seangkatannya dan meninggalkan mereka berdua.


"Sangat cantik." Kata pertama yang berhasil keluar dari bibir Gavin. Mendengar pujian Gavin membuat Icha menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan rona merah dipipinya.


"Jangan menunduk." Gavin memegang dagu Icha dan menuntunnya untuk mengarah padanya. Terlihat jelas oleh Gavin rona merah di pipi Icha membuatnya semakin terlihat cantik sehingga rasanya tidak rela membagikan kecantikan gadisnya pada orang lain.


"Ayo, kita cari tempat duduk." Gavin memberikan tangannya untuk digandeng Icha. Keduanya berjalan dengan anggun menuju meja bundar yang masih terdapat kursi kosong. Kebetulan sekali Rere, Safira, Satria dan Reno lah yang menduduki kursi di sekeliling mereka. Kelas dua belas duduk terpisah dengan mereka.


"MasyaAllah. Bidadari dari mana yang kau kirimkan padaku ya Allah." Puji Satria saat melihat Icha duduk berhadapan dengannya. Mendengar pujian Satria membuat Gavin melayangkan tatapan tajamnya pada Satria.


"Ampun bos. Gue bercanda kali. Gitu amat ngeliatinnya." Satria mengangkat kedua tangannya seperti tanda menyerah. Perkataan Satria direspon dengan pandangan jengah Gavin.


"Udah udah, itu acaranya mau dimulai." Tegur Safira.


Acara itu pun dimulai dengan kata sambutan oleh kepala sekolah, perwakilan guru, perwakilan orang tua murid dan perwakilan kelas dua belas. Ketika giliran penyampaian kata sambutan oleh perwakilan kelas dua belas, Icha melihat sosok tidak asing baginya berjalan naik keatas panggung. Dia adalah Teza. Laki-laki itu tampan seperti biasanya. Wibawa yang memang selalu menjadi ciri khasnya masih dapat dirasakan oleh semua orang yang berada di gedung tersebut.


"Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih atas kesempatannya untuk menyampaikan kata sambutan selaku perwakilan dari kelas dua belas. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada guru-guru yang sudah membimbing kelas dua belas hingga kami semua dapat lulus dengan nilai yang memuaskan. Terima kasih juga untuk teman teman semua untuk semua kenangan indah yang pernah kita lalui bersama. Kurang lebih tiga tahun kita telah melewati semua manis dan pahitnya kehidupan sma. Kita sudah memulai kisah ini tiga tahun yang lalu, dan saatnya kita mengakhirinya sekarang. Tidak akan mudah memang, melupakan semua kenangan semasa sma yang sudah sangat melekat dalam memori kita." Teza berhenti sebentar.


"Bangun pagi untuk berangkat ke sekolah, mengerjakan pr, tugas kelompok, konser dadakan di kantin, dan masih banyak lagi kenangan yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Saat kita kuliah nanti, masuk ke dalam universitas yang kita inginkan, yakinlah semua yang kalian dapatkan disini tidak akan kalian dapatkan kembali. Saya harap semoga kita semua dapat meraih cita-cita dan menjadi generasi yang akan membanggakan negeri kita tercinta. Ingatlah bahwa kita pernah berjuang bersama di SMA Dinata ini. Suatu saat nanti, kita pasti akan bertemu dengan almamater atau profesi yang berbeda. Semoga tuhan selalu memberkati kita semua. Sukses untuk semuanya!" Tatapan mata Teza selama berbicara di depan selalu tertuju pada Icha. Tentu saja gadis itu terlihat sangat menonjol dari pada yang lainnya. Bahkan tanpa sadar, Teza meneteskan air matanya. Ia kemudian turun dari panggung, disambut pelukan oleh teman-temannya.


"Sangat mengharukan sekali ya. Baiklah mari kita lanjutkan acara ini dengan pembagian mendali dan penghargaan pada siswa berprestasi." Ucap MC.


"Bakal kangen deh sama kelas dua belas." Kata Satria dengan wajah sedihnya.


"Gak kerasa ya waktu berjalan begitu cepat. Sekarang, kita udah naik tingkat jadi kelas dua belas." Sambung Reno.


"Uas dulu baru jadi kelas dia belas." Celetuk Rere mengingatkan.


"Iya itu maksud gue." Jawab Reno.


"Kamu haus gak?" Tanya Gavin pada Icha dibalas anggukan kepala.


"Tunggu sebentar ya, aku ambil minum dulu." Gavin berdiri untuk mengambil minum untuknya dan Icha.


"Bang Teza lanjut kemana Re?" Tanya Safira saat mendengar nama Teza disebutkan sebagai siswa berprestasi.


"Ortu nyuruhnya ke luar negeri, tapi dianya mau di Indo. Gak tau juga deh." Jelas Rere.


"Panjang umur, orang yang diomongin beneran dateng." Satria menunjuk kearah belakang Icha.


"Icha.." Panggil Teza membuat Icha langsung terdiam kaku di tempatnya. Ia tidak berani untuk menoleh ke belakang. Dalam hati, Icha berharap Gavin segera kembali dan membawanya jauh dari sini.


To be continue


Maap yaaa ngaret hehehehhe dah panjang belom nihhh????? Menurut kalian gaun Icha cocok gak ya? Atau lebih bagus gaun yang panjang aja? Soalnya aku juga bingung milihnya.. Pleaseee comment dibawah menurut kalian bagus gaun yang mana? Salah satu yang dibawah ini atau yang udah ada di cerita? Kasih pendapat kalian di kolom komentar yaaa 😉😉😉