PITAGORA

PITAGORA
Part 45



Icha berlarian di sepanjang koridor rumah sakit untuk mencari ruangan Gavin. Dibelakangnya, Kenzo dan Kenzi ikut berlari mengejar adik mereka. Setelah mendengar kabar dari kedua kakaknya tadi, mereka langsung pergi menuju rumah sakit tempat Gavin dirawat. Icha terus melihat ke kanan dan kiri untuk mencari ruangan milik Gavin. Kedua matanya terus mengeluarkan air mata. Bahkan ia tidak sadar bahwa saat ini ia masih memakai piyama dan sendal jepit.


Setelah menemukan ruangan Gavin, Icha langsung masuk tanpa mengetuk pintu dulu membuat semua orang yang berada di dalam ruangan kaget dengan kedatangannya. Icha menatap Gavin yang terbaring diatas ranjang dengan mata yang tertutup. Banyak sekali alat penunjang kehidupan yang dipasangkan pada tubuh itu. Jangan lupakan beberapa luka dan perban yang terpasang ditubuh yang kini terlihat lemah. Dengan langkah lemah, Icha berjalan mendekat kearah Gavin. Di dalam ruangan terdapat ibu Gavin, Satria dan Reno yang melihat kearahnya.


"Tante, Gavin kenapa? Dia baik-baik aja kan?" Tanya Icha saat telah sampai di samping ranjang, menatap nanar pada laki-laki tampan yang kini tengah terbaring lemah.


Wanita paruh baya itu menatap sedih kearah Icha. Ia berjalan menghampiri Icha dan memeluknya. "Gavin koma nak." Ucapnya diiringi isak tangis.


Icha melepaskan pelukan Tante Nita. "Apa? Tante pasti bohong kan? Gavin itu kuat, mana mungkin dia bisa koma. Gavin, Gavin bangun. Ada Icha disini." Icha memegang tangan Gavin. "Gavin pasti lagi tidur kan? Reno, Satria, tolong bangunin Gavin. Icha mau bicara." Icha berjalan menuju Satria dan Reno yang juga memasang wajah sedih.


"Cha.." Ucapan Reno telah lebih dulu dipotong oleh Icha.


"Jangan bilang kalo Gavin koma. Icha yakin Gavin cuma tidur aja. Iya kan? Jangan bohongin Icha. Icha mohon bangunin Gavin. Icha.. Icha mau ngomong sama Gavin." Icha menggerakkan tangannya seperti memohon. Air mata tidak berhenti mengalir dari kedua matanya.


"Cha. Dengerin abang. Gavin lagi koma sekarang. Keadaannya kritis dan dia butuh dukungan kamu untuk bantu dia supaya dia bisa bangun lagi." Kenzi memegang kedua bahu Icha untuk dihadapkan kearahnya.


Mendengar ucapan Kenzi membuat Icha merasakan lututnya lemas seketika. Ia terduduk di lantai dengan tangis yang masih belum reda. "Kalian bohong. Kalian pembohong. Gavin gak mungkin koma.. dia tadi baru aja dansa sama Icha, dia peluk Icha, dia nganterin Icha pulang dan dia juga bilang selamat malam. Dia gak mungkin koma. Gak mungkin." Icha menangis dalam dekapan Kenzi.


"Cha, kendaliin diri kamu. Gavin pasti gak bakal suka ngeliat kamu sedih gini. Udah ya, jangan nangis lagi." Kenzi berusaha menenangkan Icha yang masih menangis. Bahkan mama Gavin tidak tega melihat Icha dan pergi keluar ruangan untuk menenangkan dirinya.


"Kenapa Gavin bisa koma bang? Kenapa dia bisa kecelakaan? Seharusnya tadi Icha gak minta diantar pulang sama Gavin. Seharusnya Icha nungguin Bang Kenzi aja tadi. Semua salah Icha. Icha bodoh. Bodoh." Icha memukuli kepalanya sendiri.


"ICHA!" Kenzo bergerak menahan tangan Icha yang tadi memukuli kepalanya sendiri.


"Cha, ini bukan salah lo. Semua ini takdir. Gue yakin Gavin bentar lagi pasti sadar. Bener kata bang Kenzi tadi, Gavin gak bakal suka ngeliat lo sedih gini." Jelas Satria berusaha menghibur Icha.


Icha mengeratkan pelukannya pada Kenzi dan menangis keras disana. Kenzi yang merasa iba dengan adiknya pun bergerak mengelus punggung rapuh itu untuk menenangkannya. Sedangkan Kenzo, Satria dan Reno berjalan menuju sudut ruangan yang jauh dari keberadaan Icha.


"Siapa yang buat semua ini?" Tanya Kenzo. Ia tau kejadian Gavin ini bukanlah suatu kebetulan. Ia sangat mengenal Gavin dan tidak mungkin laki-laki itu mengalami kecelakaan seperti itu.


"Jadi gini.."


FLASHBACK


BEBERAPA JAM YANG LALU


Gavin baru saja mengantar Icha pulang. Ia membuka handphonenya dan melihat pesan dari Satria yang memintanya untuk berkumpul di basecamp mereka. Setelah menjawab bahwa ia dalam perjalanan, Gavin pun menghidupkan mesin mobilnya dan pergi meninggalkan rumah Icha.


Ditengah jalanan yang sepi, tiga motor ninja menghadangi jalan mobilnya membuat Gavin mengerem mendadak. Kedua matanya menatap tajam kearah salah satu pengendara motor yang sangat ia kenal itu. Dengan emosi yang ditahan, Gavin turun dari mobilnya dan berjalan menghampiri pengendara motor yang menghadang jalannya.


"Hai Gavin. Kangen gak sama gue?" Orang itu tersenyum miring lebih seperti meremehkan.


"Gak usah basa basi. Apa mau lo?" Tanya Gavin dengan nada tajam.


"Kalo gue bilang, gue mau lo mati gimana?" Tanya laki-laki yang ternyata merupakan Arga itu. Arga tersenyum miring, terus menatap remeh Gavin yang berdiri beberapa langkah di depannya.


"Dalem mimpi lo." Balas Gavin beranjak menuju mobilnya kembali. Namun, belum sempat ia menuju ke mobil, Arga sudah lebih dahulu menarik kerah kemeja Gavin dan menghantam wajah tampan itu.


Gavin meludah kesamping saat merasakan amis karena darahnya yang berasal dari sudut bibirnya yang robek. Wajahnya yang semula datar kini menatap Arga dengan penuh emosi. Tanpa aba-aba, Gavin langsung membalas pukulan Arga hingga Arga mundur beberapa langkah ke belakang.


"Br**gs*k!" Arga memberikan kode pada kedua temannya untuk menangkap Gavin.


Karena belum siap, Gavin pun tertahan oleh kedua teman Arga. Matanya menyala karena amarah. "An**ng lo! Pengecut! Lepasin gue! Kalo berani satu lawan satu bukan keroyokan!" Gavin meronta untuk dilepaskan.


"Gue gak peduli. Yang penting gue harus mastiin lo mati hari ini."


Bughh


Arga memberikan pukulan pada perut Gavin. "Uhuk." Gavin meringis kesakitan. Mulutnya mengeluarkan darah, matanya sayu dan bajunya sangat berantakan.


"Br**ngs*k!" Umpat Gavin merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


Bughh. "Ini karena geng lo yang cupu itu!"


Bughh. "Ini karena nyokap lo udah ngerebut bokap gue!"


"Uhuk." Gavin lagi-lagi memuntahkan darah. Tubuhnya sudah lemas sekarang.


"Ny-okap lo yang ngerebut bokap gue.." Kata Gavin dengan susah payah. Rasa sakit di dadanya membuatnya semakin lemah. Bahkan pandangannya sudah berkunang-kunang.


"Beraninya lo bilang gitu tentang nyokap gue? Dasar anak pelakor. Cuih!" Arga meludah sembarangan.


"LO TAU? GUE BENCI BANGET SAMA LO. LO SELALU NGEREBUT APA YANG GUE PUNYA! BOKAP GUE, REPUTASI GUE, DAN ICHA. GUE BENCI SAMA LO. MATI LO MATI." Arga melayangkan pukulannya pada Gavin secara membabi buta.


"CUKUP!" Gavin melepaskan cekalan kedua teman Arga dengan cepat. Ia telah mendapatkan tenaganya kembali. Dengan cepat, Gavin langsung melawan Arga dan kedua temannya. Pukulan demi pukulan ia layangkan. Sakit ditubuhnya sekuat mungkin ia tahan.


"An**ng! Cabut!" Kata Arga lalu pergi menuju motornya dan meninggalkan Gavin disusul oleh kedua temannya.


"Uhuk. Shh." Ringis Gavin saat merasakan ngilu di semua tubuhnya. Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju mobilnya.


Dalam perjalanan, Gavin melamunkan masalah keluarganya yang tadi disinggung Arga. Memang benar, Arga adalah saudara tirinya. Tapi yang dituduhkan oleh Arga tentang ibunya tidaklah benar. Ayah Gavin memang sudah lebih dulu menikah dengan Ibu Gavin meskipun karena perjodohan kedua orang tua mereka. Namun, diawal pernikahan keduanya yang memang tidak dilandaskan cinta, ayah Gavin ternyata memiliki seorang kekasih yang sedang mengandung anaknya yaitu Arga. Bersamaan dengan itu, ibunya juga sedang mengandung dirinya. Keluarga ayahnya juga menentang hubungan ayahnya dengan ibu Arga. Maka dari itu, Arga dendam kepadanya dan menganggap bahwa ibunya yang merebut ayahnya padahal tidak begitu. Tapi seiring berjalannya waktu, Ayahnya mulai mencintai ibunya dan melupakan ibu Arga.


Melihat lampu merah, Gavin menginjak remnya tapi mobilnya tidak mengalami perubahan laju. Berkali-kali Gavin menginjak rem namun nihil. Wajahnya pucat pasi. Tadi saat ia sedang sibuk bicara pada Arga, salah satu teman Arga memotong kabel rem nya. Dan kecelakaan itu tidak bisa dihindari.


FLASHBACK OFF


"Terus polisi nelfon gue pake hp Gavin dan lo tau kelanjutannya." Jelas Satria. Tadi memang polisi yang menangani kecelakaan Gavin mengatakan kejadian sebenarnya berdasarkan saksi mata. Kebetulan juga polisi itu sedang berjaga di lampu lalu lintas dan melihat sendiri bagaimana kecelakaan itu terjadi.


Pintu ruangan terbuka, menampilkan wajah Ibu Gavin. Wanita paruh baya itu menghampiri Icha yang sedang duduk di sebelah ranjang Gavin sambil memegangi tangan kekasihnya itu.


"Icha.. ini sudah malam. Kamu pulang ya nak? Besok kan kamu bisa kesini lagi. Bukannya kamu lusa ujian ya? Itu artinya kamu harus belajar dan banyak istirahat." Ibu Gavin mengelus rambut Icha.


"Tapi Icha mau nemenin Gavin tante. Icha gak mau pulang. Icha mau disini." Tolak Icha dengan mata sendu nya.


"Memangnya kamu gak kasian sama orang tua kamu pasti lagi nyariin kamu sekarang. Tante janji kalo Gavin sadar nanti tante bakal langsung nelfon kamu." Bujuk Ibu Gavin.


"Cha, bener kata tante Nita. Ayo pulang, ayah sama bunda udah nelfonin abang dari tadi." Kata Kenzi ikut membujuk.


"Gak mau. Icha gak mau ninggalin Gavin."


"Icha, jangan keras kepala gini Cha. Gavin pasti gak suka kalo kamu gini. Gimana pun keadaannya kamu juga harus mikirin kondisi kamu. Tadi sejak pulang dari prom kamu belum istirahat. Abang gak mau kamu sakit." Sambung Kenzo mengelus rambut adiknya.


"Bener kata abang lo Cha. Gavin pasti sedih kalo ngeliat lo sakit. Tenang aja, gue sama Satria ada disini untuk jagain Gavin." Reno yang sejak tadi diam pun ikut mengeluarkan suaranya.


"Janji besok abang anterin Icha pagi-pagi kesini?" Kata Icha menunjukkan jari kelingkingnya pada Kenzo yang berada di sebelahnya.


"Janji." Balas Kenzo mengaitkan kelingkingnya.


"Tante, Icha pulang dulu ya. Tolong kabarin Icha kalo Gavin udah sadar." Pinta Icha.


Ibu Gavin menganggukkan kepalanya. "Jaga diri kamu ya nak. Tante yakin Gavin pasti sembuh." Ibu Gavin mengelus pelan rambut Icha sambil memberikan senyumnya.


Icha beralih menatap Gavin yang masih saja memejamkan matanya. "Gavin, Icha pulang dulu ya. Jangan lama-lama tidurnya nanti Icha kangen." Kata Icha dengan lirih lalu pamit untuk meninggalkan ruang rawat Gavin meskipun setengah hatinya tidak rela meninggalkan Gavin.


TO BE CONTINUE