PITAGORA

PITAGORA
Part 25



Icha berjalan menyusuri koridor sekolah. Bel pulang sekolah sudah berbunyi beberapa menit yang lalu. Ia sedikit terlambat karena tadi ia harus piket terlebih dahulu. Rere sudah pulang bersama Dara sedangkan Safira sedang bersama Kenzo entah kemana. Tiba-tiba Icha merasakan bahunya di tepuk oleh seseorang. Ia pun menoleh ke belakang dan mendapati Teza yang sedang tersenyum kearahnya.


"Bang Teza." Icha ikut tersenyum.


"Kenapa baru pulang jam segini?" Tanya Teza berjalan sejajar dengan Icha.


"Tadi Icha piket, jadi pulangnya agak telat. Bang Teza kenapa pulangnya telat juga?" Tanya Icha.


"Ada urusan tadi sama ketua osis yang baru, perihal UN minggu depan."


"Gak terasa ya kalian sebentar lagi pergi." Wajah Icha berubah sedih.


"Memangnya abang kamu Kenzo sama Kenzi mau masuk universitas mana?" Tanya Teza.


"Bang Kenzi mau daftar beasiswa ke Australia, kalo Bang Kenzo katanya mau daftar ke ITB." Balas Icha.


"Icha sedih karena Bang Kenzi bakal ke Australia?"


Icha mengangguk. "Gak cuma Bang Kenzi aja, Bang Teza juga bakal jauh kan."


"Icha, sejauh apapun jarak gak akan pernah ngerubah perasaan abang terhadap kamu. Lagian abang bisa kok pertimbangin kuliah di Indonesia, gak harus jauh-jauh keluar negeri kan. Kasian Rere gak ada temen ribut nanti." Teza terkekeh diakhir kalimatnya.


"Icha takut kehilangan kalian semua. Icha gak bakal sanggup kalo itu terjadi."


Teza menghentikan langkah Icha dan memutar badan gadis itu agar menghadap kearahnya. "Icha, kehilangan itu bagian dari hidup. Gak ada satu orang pun yang lepas dari rasa kehilangan. Dan kamu gak usah khawatir, nanti kamu kan bisa nyusul kesana atau Bang Kenzi pasti liburan bakal pulang kan."


"Hmm iya."


Teza menatap kearah samping karena ia dapat merasakan kehadiran seseorang. Dan benar saja, seseorang berdiri tak jauh dari mereka. Teza tersenyum simpul.


"Kayaknya ada yang mau bicara sama kamu." Teza menunjuk kearah orang itu.


Icha mengikuti arah tunjuk Teza dan melihat Gavin berjalan mendekat kearahnya dengan tatapan datar seperti biasanya.


"Semua orang berhak punya kesempatan." Kata Teza tersenyum kemudian ingin pergi jika tangannya tidak ditahan oleh Icha.


"Jangan pergi." Pinta Icha.


Teza menghela nafasnya lalu mengangguk pelan. "Abang bakal tunggu disana, sekarang kalian harus bicara." Kata Teza sebelum pergi meninggalkan Icha dan Gavin.


Icha menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Gavin yang berdiri di depannya. Suasana terasa canggung karena memang terakhir kali pembicaraan mereka tidak berakhir dengan baik. Icha perlahan sedikit memundurkan tubuhnya agar jauh dari Gavin.


"Kenapa menjauh?" Tanya Gavin memulai pembicaraan.


"Hah?" Icha mendongakkan kepalanya.


"Kenapa menjauh?" Ulang Gavin.


Icha memalingkan muka, menghindari tatapan Gavin. Ia lalu melihat kearah Teza yang tersenyum dari jarak yang agak jauh. Bibirnya masih terkatup seperti tidak ingin menjawab pertanyaan Gavin.


"Jangan menjauh lagi, semua gak akan selesai kalo kamu lari dari masalah." Kata Gavin lagi dengan nada lembut.


"Icha cuma gak siap nerima kalo nantinya kebenaran itu menyakitkan." Jawab Icha dengan nada pelan.


"Lebih menyakitkan kalo kamu gak tau yang sebenarnya. Kamu pikir aku suka jauh dari kamu, Cha? Gak sama sekali. Setiap detiknya terasa sangat menyiksa bagi aku." Terdengar nada lirih dari Gavin membuat Icha menatap kearah laki-laki itu.


"Gavin yang buat Icha jauh."


"Dimana letak salahnya? Kasih tau Gavin Cha, jangan diem aja. Biar nanti bisa Gavin perbaiki."


"Icha.. Icha gak bisa. Maaf. Icha takut." Kata Icha sebelum berlari meninggalkan Gavin dan langsung disusul oleh Teza.


"Sampe kapan kamu terus lari dari masalah Cha?" Gumam Gavin menatap kepergian Icha.


Teza berlari mengejar Icha. Gadis itu berlari kearah luar sekolah. Sebisa mungkin ia percepat langkahnya. Setelah dirasa dekat, ia pun menahan tangan Icha.


"Kamu gak apa-apa?" Tanya Teza.


Icha tersenyum, menghapus air mata di sudut matanya. "Icha gak apa-apa."


"Ayo, biar abang antar kamu pulang. Kenzi sama Kenzo sudah pulang dari tadi."


Icha tampak berpikir sebentar lalu mengangguk setuju. Mereka pun berjalan kearah parkiran. Di parkiran, mereka berdua bertemu kembali dengan Gavin. Kebetulan sekali motor Gavin dan Teza bersebelahan. Gavin tampak mengenakan helmnya lalu menjalankan motornya meninggalkan sekolah tanpa mengucapkan satu patah kata pun.


Icha naik keatas motor Teza. Selama perjalanan, Icha hanya terdiam memikirkan apakah yang ia lakukan sudah benar atau tidak. Ia merasa sangat bersalah karena tidak mendengar penjelasan Gavin, tetapi di lain sisi ia sangat takut untuk mendengarnya. Icha bahkan tidak tau pasti apa yang ia takutkan dan apa yang salah dengan detak jantungnya sekarang.


"Loh, bang Teza, ini bukan jalan kerumah Icha." Kata Icha saat melihat bahwa jalan saat ini tidak menuju ke rumahnya.


"Iya, abang tau." Jawab Teza.


Tak lama, mereka pun sampai di cafe milik keluarga Teza. Icha menatap keselilingnya. Ia ingat bahwa Teza pernah membawanya kesini. Teza mengajak Icha masuk ke dalam dan mereka kembali berada di taman rahasia milik keluarga Teza.


"Abang gak tau apa yang tadi kalian bicarain, tapi ngeliat akhirnya, abang berpikir. Mungkin kamu butuh waktu untuk nenangin diri dulu." Kata Teza.


Icha tersenyum. Ia berjalan mendekati ayunan dan duduk diatasnya.


"Tunggu sebentar ya." Kata Teza lalu pergi meninggalkan Icha sendiri.


Setelah kepergian Teza, Icha kembali memasang wajah murungnya. Ia mengayunkan kakinya kedepan dan kebelakang untuk menggerakkan ayunan putih itu. Icha sedang berpikir untuk keputusan yang akan ia buat.


"Princess." Panggil seseorang membuat Icha spontan menoleh dengan terkejut.


Icha merasakan dingin di hidungnya. Ia melihat ice cream cone di hadapannya dan tatapannya tertuju pada Teza yang tersenyum. Icha pun menerima ice cream itu dengan gembira. Moodnya kembali baik setelah memakan eskrim.


"Makasih bang Teza."


"Sama-sama."


"Feeling better right now?" Tanya Teza duduk di ayunan satunya lagi.


Icha mengangguk sambil masih menjilati eskrim coklat kesukaannya. "Much better." Jawab Icha semangat.


Teza terkekeh melihat eskrim yang belepotan di sekitar bibir Icha. Ia mengambil tisu di kantung seragamnya lalu mengelap eskrim itu. Hal itu membuat Icha tersenyum malu dengan semburat merah yang muncul di pipinya.


"Ehmm Bang Teza." Panggil Icha saat eskrim di tangannya sudah habis.


"Iya?"


Icha berdiri dari duduknya lalu berjalan maju. "Soal yang Icha bilang di taman rumah sakit itu Icha bener-bener serius Bang Teza. Icha mau mulai semuanya sama Bang Teza."


Teza ikut berdiri dari duduknya, menghampiri Icha. "Kamu yakin?"


"Yakin."


Teza spontan langsung memeluk Icha dan memutar badan gadis itu. Ia berteriak bahagia. Icha yang melihat Teza bahagia pun ikut tersenyum. Mungkin ini adalah keputusan yang tepat. Icha akan mulai membuka hatinya untuk Teza. Saat merenung tadi, ia sadar bahwa ia mempunyai perasaan terhadap Gavin. Maka dari itu ia selalu takut untuk bicara pada Gavin, takut kalau yang selama ini ia pikirkan tentang Gavin dan Dara adalah kebenaran. Anggap saja ia pengecut namun itulah yang ia rasakan. Lebih baik ia tidak mengetahui sama sekali dibanding harus tau namun sakit kemudiannya. Lagian, bukankah Gavin sudah mempunyai Dara sekarang. Icha tidak mungkin merebut Gavin dari Dara. Mereka terlihat bahagia ketika mereka berpapasan tadi pagi.


Teza pun melepaskan pelukannya.


"Jadi... kita pacaran?" Tanya Icha.


"Iya."


TO BE CONTINUE