PITAGORA

PITAGORA
Part 3



SILAHKAN TINGGALKAN JEJAK


BUDAYAKAN VOTE SEBELUM BACA


COMMENT SETELAH BACA


WARNING!!!


BANYAK TYPO


NO COPAS


NO DARK READERS


SELAMAT MEMBACA


^^


AUTHOR : GITA


-----~oOo~-----


Guardian Of Dinata. Geng terkenal yang didirikan dan diketuai oleh Gavin ini beranggotakan 76 orang. Tidak seperti geng biasanya, GOD tidak pernah mengikuti tawuran ataupun masalah nakal lainnya. Geng ini didirikan dengan tujuan melatih kemampuan karate, taekwondo dan seni bela diri lainnya sehingga para anggota dapat menguasai seni itu. Gavin dikenal sebagai raja dari segala seni bela diri. Ia telah memenangkan lebih dari 10 perlombaan bela diri, 3 diantaranya adalah perlombaan berskala internasional. Saking terkenalnya, banyak siswa dari sma lain yang ingin masuk menjadi anggota, namun harus melewati seleksi yang begitu ketat. Bagi yang sudah masuk, apabila diketahui berkhianat maka konsekuensinya akan diberikan sendiri oleh GOD of the GOD yaitu Gavin. Tidak hanya sendiri, ada satu geng yang merupakan saingan terbesar GOD yaitu Condescendent Of Pancasila atau biasa disebut COP yang diketuai oleh Argantara Mahendra.


Gavin dan dua orang temannya  (Satria dan Reno) yang merupakan pengurus inti GOD dan Klub Basket SMA Dinata kini sedang berdiskusi. Sekolah telah bubar beberapa jam yang lalu. Mereka kini berada di markas GOD yang terletak di seberang sekolah mereka, tepatnya di cafe milik Reno.


"Gue curiga Pancasila main curang lagi tahun ini, sama kayak tahun lalu." Kata Satria.


"Mereka emang selalu pengecut, beraninya main curang biar bisa menang. Tapi tetap aja GOD yang akan menang." Balas Reno.


"Besok pasti banyak anak Dinata yang nontonin kita tanding, apa kita perlu bawa semua anggota GOD untuk jaga-jaga disana. Antisipasi aja, takutnya mereka nyerang kita atau berbuat curang lainnya."


Gavin menatap kearah Satria, lalu berkata, "Cukup 20."


"Gav, itu kedikitan. Inget, kita tanding di SMA Pancasila, di kandang mereka. Dan dipastikan jumlah mereka lebih banyak dari pada jumlah keseluruhan GOD dan lo bilang 20 aja cukup?" Bantah Reno.


"Lebih dari cukup." Jawab Gavin.


"Tapi Gav.." Satria hendak berbicara namun dipotong oleh Gavin.


"Mereka harus mikir dua kali untuk nyerang kita." Kata Gavin.


Reno dan Satria saling pandang sambil menatap bingung satu sama lain.


"Maksudnya?"


"Karena GOD punya gue." Jawab Gavin lalu berdiri dan pergi meninggalkan cafe.


"Baru kali ini gue denger Gavin nyombongin diri. Kesambet apa dia?" Tanya Satria pada Reno.


"Lo kan tau segimana gak sukanya Gavin sama Arga. Apalagi Arga itu pacarnya Icha. Pasti bakal menegangkan nih pertandingan besok, semoga kejadian dulu gak keulang lagi."


***


Gavin berjalan menuju parkiran sekolahnya. Ia memakai jaket berwarna hitamnya dan sedikit membenarkan scarf di kepalanya yang sedikit turun. Motor berwarna hitam itu dikendarai Gavin menuju keluar gerbang sekolah. Sampai di gerbang, ketika mau menyebrang, Gavin melihat seorang perempuan yang tidak asing sedang duduk di kursi yang tersedia didepan pagar sekolah yang sengaja disediakan untuk anak-anak yang menunggu jemputan.


Gavin pun memarkirkan motornya disamping pagar lalu berjalan menghampiri gadis itu sambil masih memakai helm berwarna hitamnya.


"Kenapa belum pulang?"


Gadis didepannya terkejut ketika mendengar suara Gavin. Dia lalu melihat kearah Gavin sambil masih terdiam karena wajah Gavin yang tertutupi oleh helm. Gavin yang mengerti pun membuka helmnya.


"Gavin.. Icha kira siapa.."


"Kenapa belum pulang?" Tanya Gavin sekali lagi.


"Icha lagi nungguin jemputan." Kata Icha sambil menunduk karena merasakan tatapan tajam dari cowok didepannya.


"Arga?"


Icha langsung mendongakkan kepalanya ketika Gavin menyebut nama orang itu. Lalu perlahan ia menganggukkan kepalanya.


"Pulang sama aku." Kata Gavin yang lebih mirip dengan sebuah pernyataan.


"Tapi.. Arga.."


"Udah mau sore."


Icha menatap kearah jam tangannya, dan benar saja hari sudah hampir jam empat sore. Itu artinya ia sudah menunggu selama 3 jam. Sekolah pun sudah sepi karena murid telah pulang kerumah masing-masing.


"Icha.."


"Pulang." Kata Gavin sebelum membawa motornya mendekati tempat Icha berdiri.


Gavin memakai kembali helmnya lalu kembali menatap Icha. " Ayo."


Icha pun akhirnya pasrah lalu berjalan menuju motor Gavin. Melihat motor Gavin yang tinggi, Icha terdiam bingung bagaimana cara menaikinya. Bahkan motor Arga pun tidak seperti ini. Ini kali pertama Icha menaiki motor sport dan motor itu adalah milik Gavin.


"Pegang tangan gue." Kata Gavin sambil mengulurkan tangannya.


Icha menyambut uluran tangan itu dengan ragu lalu dibantu Gavin, ia pun akhirnya berhasil menaiki motor itu. Setelah Icha naik, Gavin sedikit melirik kearah belakang dan melihat Icha yang berusaha menurunkan roknya yang sedikit tersingkap. Dengan inisiatif sendiri, Gavin membuka jaket hitam yang dipakainya dan diulurkannya kepada Icha.


"Pake." Kata Gavin.


Tangan Icha mengambil jaket Gavin sambil menggumamkan terimakasih. Setelah melihat Icha selesai memakai jaketnya, Gavin pun mengendarai motornya dengan pelan.


"Gavin, Icha boleh pegang tas Gavin?" Tanya Icha.


"Udah makan?" Tanya Gavin.


"Hmm belum."


Gavin pun kembali menutup kaca helmnya. Ketika lampu merah berganti menjadi lampu hijau, Gavin kembali menancap gasnya menuju suatu tempat.


"Gavin, ini bukan jalan ke rumah Icha, kita mau kemana?" Tanya Icha dengan suara sedikit panik.


"Makan."


Tak lama kemudian, motor Gavin berhenti didepan sebuah cafe vintage ala ala anak muda. Icha turun dari motor Gavin dengan bantuan tangan Gavin kembali. Gadis itu terpaku melihat suasana cafe yang tampak sangat nyaman dan indah.


"Gavin tau dari mana tentang cafe ini?" Tanya Icha.


Gavin melirik kearah Icha lalu mengode untuk segera masuk. Mereka berdua pun masuk. Terdengar bunyi bel ketika pintu dibuka oleh Gavin.


"GAVIN YA AMPUN." Suara histeris seorang wanita membuat mereka berdua menoleh kearah teriakan tersebut.


Disana, seorang wanita paruh baya sedang berjalan kearah mereka dengan tatapan antusias.


"Anak mama." Kata Mama Gavin memeluk anaknya itu.


"Ma." Kata Gavin merasa risih dipeluk seperti itu.


Mama Gavin pun melepas pelukannya. Matanya beralih pada Icha yang hanya terdiam menatap mereka berdua.


"Eh ada cewek cantik, ayo ikut sama tante. Duduk disana yuk." Kata Mama Gavin menuntun bahu Icha untuk duduk di sisi kanan pojok cafe.


"Nama kamu siapa cantik?" Tanya Mama Gavin.


"Prischa Imelda Rasyifa, tante. Panggilannya Icha." Jawab Icha dengan senyum manisnya.


"Nama yang cantik, seperti orangnya. Panggil tante Nita aja ya. Oh iya, kamu pacarnya Gavin ya?"


"B-bukan tante. Icha temannya."


"Ma, biarin Icha makan dulu." Kata Gavin menyela. Ia tau ibunya itu akan lanjut bertanya pada Icha.


"Yaudah deh, tante ke belakang dulu ya cantik. Nanti tante suruh pelayan untuk kesini. Dah sayang, semoga jadi calon mantu tante ya." Kata Mama Gavin mengedipkan satu matanya sebelum pergi meninggalkan Icha dan Gavin berdua.


Tak lama, pelayan datang dan menanyakan pesanan mereka. Setelah mencatat pesanan, pelayan itu langsung pergi. Seketika, meja itu hening. Gavin sibuk memandangi Icha sedangkan Icha hanya diam sambil menundukkan kepala.


"Gavin jangan liatin Icha kayak gitu. Icha malu." Kata Icha dengan suara pelan.


"Memangnya gak boleh?" Tanya Gavin.


"Gak boleh."


"Kenapa?"


"Karena Icha malu." Kata Icha semakin menundukkan kepalanya.


"Icha cantik, kenapa harus malu?" Kata Gavin langsung membuat Icha melihat kearahnya.


"Gavinnnnn." Kata Icha sambil menutup wajahnya yang memerah.


Gavin terkekeh kecil. Makanan pun datang, mereka berdua menyantap makanan itu tanpa berbicara apapun. Hingga keduanya telah selesai dengan makanannya.


"Pulang." Kata Gavin lalu berdiri dan berjalan meninggalkan meja.


Icha pun berjalan mengikuti Gavin.


"Icha." Panggil seseorang.


Icha dan Gavin menoleh kebelakang. Ternyata itu mama Gavin, membawa bungkusan plastik.


"Udah mau pulang?" Tanya Mama Gavin.


Icha mengangguk, "Iya tante. Icha pamit ya."


"Iya hati-hati ya. Ini ada sedikit salam perkenalan untuk mama kamu. Dan tante juga titip salam ya untuk mama kamu." Mama Gavin menyerahkan bungkusan plastik itu ke Icha.


"Ya ampun tante, jangan repot-repot. Icha jadi gak enak."


"Gak apa-apa kok, untuk calon besan juga. Udah gih, itu Gavin udah nungguin diluar." Kata Mama Gavin menunjuk Gavin yang sudah siap dengan motornya.


"Makasih ya tante, Icha duluan."


Icha melambaikan tangannya kepada Mama Gavin saat sudah berada diatas motor cowok itu. Mama Gavin terlihat membalas lambaian tangannya sambil tersenyum. Motor Gavin pun meninggalkan cafe ibunya.


Beberapa menit kemudian, motor Gavin sudah terparkir didepan pagar rumah Icha. Icha pun turun dari motor itu dengan bantuan tangan Gavin.


"Makasih ya Gavin udah mau nganterin Icha." Kata Icha dengan senyumannya.


"Masuk gih." Kata Gavin menggunakan isyarat mata, menunjuk kearah pagar rumah Icha.


"Iya, Gavin hati-hati ya. Icha masuk dulu."


Setelah memastikan bahwa Icha sudah masuk ke dalam rumahnya, Gavin pun kembali menjalankan motornya meninggalkan rumah Icha.


---------


TO BE CONTINUE