
Icha terbangun dari tidurnya. Ia melihat kearah sekeliling kamar tempatnya berada sekarang. Icha merasa kenal dengan kamar ini. Terutama wangi maskulin yang sangat familiar dan kini terhirup olehnya.
"Sudah bangun?" Icha menoleh kearah sumber suara. Disana, Gavin berjalan menghampirinya dan duduk di sampingnya.
"Berapa lama Icha tidur?" Tanya Icha.
"Dua jam." Mendengar jawaban Gavin, Icha pun menganggukkan kepalanya.
"Eh terus gimana Gavin bawa Icha kesini?" Tanya Icha saat sadar bahwa tadi Gavin membawa motor bukan mobil. Bagaimana cara laki-laki itu membawanya menggunakan motor.
"Aku pinjam mobil Satria, motor aku dia yang bawa. Dan dia bawain tas kamu." Gavin menunjuk tas sekolah Icha yang berada di sofa tak jauh dari kasur.
"Emangnya sudah pulang sekolah?" Tanya Icha heran. Ia melirik kearah jam dinding yang berada di kamar Gavin dan masih menunjukkan pukul sembilan pagi.
"Belum, biasa lah Satria."
Icha mengangguk paham. Sudah tidak asing lagi jika teman Gavin itu membolos sekolah. Bahkan Satria dan Reno pernah terancam tidak naik kelas karena sering sekali membolos. Jangan ditiru ya gaes wkwk
"Tante Nita ada di rumah?"
Gavin menggelengkan kepalanya. "Mama lagi pergi ke kantor papa aku."
"Terus sekarang kita mau ngapain? Icha gak mau pulang sekarang. Bunda, Bang Kenzo dan Bang Kenzi bakal marah kalo tau Icha bolos sekolah."
"Kamu maunya ngapain?" Bukannya menjawab, Gavin malah bertanya balik. Jujur saja, ia juga bingung apa yang akan mereka lakukan sekarang.
"Icha boleh pinjem laptop Gavin?" Pinta Icha menunjuk laptop berlogo apel yang berada di meja belajar Gavin.
Gavin menatap Icha dengan alis yang diangkat sebelah lalu ia bangkit dari duduknya dan berjalan mengambil laptop yang tadi ditunjuk Icha. "Buat apa?" Tanya Gavin menyerahkan laptopnya pada Icha.
"Sekarang, Gavin duduk disebelah Icha." Icha menepuk sisi kosong di sebelahnya. Gavin pun menuruti Icha untuk duduk disebelah gadis itu. Ia masih bingung dengan apa yang akan dilakukan Icha.
"Icha mau nonton sama Gavin." Kata Icha menjawab semua pertanyaan yang ada diotak Gavin. Mendengar itu, Gavin hanya menganggukkan kepalanya.
Icha mulai menghidupkan laptop milik Gavin. "Ini passwordnya apa?"
"Nama kamu."
"Icha?"
"Prischa." Jawab Gavin.
Icha mengangguk dan mengetik namanya di kolom password.
"Sebentar." Gavin turun dari kasurnya menuju kearah meja belajar. Ia mengambil meja lipat yang berada di sisi kanan meja belajar lalu berjalan kembali dan duduk disebelah Icha.
Gavin membuka kaki meja lipat dan menaruhnya diantara paha Icha. "Laptopnya taruh disini aja, gak baik kalo kamu pangku gitu."
Icha tersenyum sambil meletakkan laptop Gavin diatas meja lipat itu. Ia mencari film yang ingin ia tonton. "Gavin sudah nonton five feet apart gak?" Tanya Icha sambil menunjukkan poster film itu pada Gavin.
"Belum."
"Yeay. Kita nonton ini aja ya." Kata Icha menekan tombol untuk memulai film itu.
Film itu dimulai. (FYI sebenernya author pengen jelasin dikit tentang filmnya tapi takut ada yang belom nonton eh jadi spoiler malah nanti wkwk btw ini salah satu film terfavorit author selain marvel. Yang belum nonton wajib bgt nonton!!)
Awalnya, Icha dan Gavin tampak menghayati film tersebut. Ketika berada di puncak masalah, Icha mulai terbawa perasaan dan menangis. Film itu sangat menyentuh dengan alur yang tidak bisa ditebak.
"Kenapa nangis?" Suara Gavin membuat Icha menghapus air mata yang masih mengalir di pipinya dan menatap sendu kearah laki-laki itu.
"Film nya sedih banget. Kenapa ya selalu aja ada rintangan untuk orang yang jatuh cinta?"
Gavin menyelipkan rambut Icha ke belakang telinga gadis itu. "Itu sudah siklusnya Cha. Kalau siap jatuh cinta, maka harus siap sakit hati pula." Jelas Gavin.
"Gavin kalau ada diposisi Will, apa yang akan Gavin lakukan?" Tanya Icha.
Gavin mengalihkan matanya pada layar laptop yang masih menampilkan film yang tadi ia tonton bersama Icha. "Kita tidak bisa memilih akan jatuh cinta pada siapa Cha, karena semua datang tanpa direncanakan. Tapi kita selalu punya pilihan untuk bertahan atau tidak. Dalam posisi Will, aku akan memilih mundur, menjauh dari kehidupan Stella agar ia tetap aman. Aku gak mau membahayakan nyawa orang yang sangat aku cintai meskipun untuk itu aku harus menjauh darinya."
"Gavin, ada yang mau Icha omongin."
"Iya?" Tatapan Gavin kembali kepada Icha. Ia dapat melihat gadis itu tengah gugup sekarang.
"Gavin, Icha.. sebenernya Icha.." Icha meremas kedua tangannya dengan gugup.
"Kenapa?" Tanya Gavin.
"Icha selalu nyaman sama Gavin. Icha senang, Icha bahagia. Semua itu karena Gavin. Dan Icha rasa, Icha sudah jatuh cinta sama Gavin, bahkan mungkin sudah lama dan Icha baru bisa yakin sekarang." Jelas Icha dengan nada pelan meskipun Gavin masih bisa mendengarnya.
Gavin masih terdiam, tidak menampilkan ekspresi apapun. Hal itu membuat Icha menundukkan kepalanya dengan jantung yang semakin berdebar keras.
"Aku tau."
Jawaban Gavin membuat Icha mengangkat kepalanya, menatap kearah Gavin.
Mendengar itu, Icha menyenderkan kepalanya di bahu Gavin dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kamu kenapa?" Tanya Gavin merasa gemas dengan tingkah Icha yang menurutnya sangat menggemaskan itu.
"Icha malu." Jawab Icha masih dengan kedua tangan menutupi wajahnya.
Gavin tertawa lalu perlahan ia melingkarkan tangannya di pinggang Icha, menarik gadis itu agar semakin mendekat kearahnya. Ia kemudian mengecup puncak kepala Icha berkali-kali.
"Aku cinta kamu Cha." Kata Gavin membuat pipi Icha bersemu dibalik telapak tangannya.
"Gavin, Icha jadi tambah malu."
Gavin terkekeh pelan. "Udah ya, buka tangannya. Emang gak pegel gitu terus? Aku kan mau liat wajah kamu." Satu tangan Gavin berusaha melepaskan tangan Icha dari wajah gadis itu.
Dengan pelan, akhirnya Gavin berhasil melepaskan tangan Icha. Wajah gadis itu masih bersemu merah. Senyum manis mengembang di wajah cantik itu membuat hati Gavin menjadi sangat mengagumi wajah gadis yang sedang ia peluk ini.
"Kamu pacar aku ya." Bisik Gavin di telinga Icha. Icha hanya diam tidak menjawab karena memang Gavin tidak bertanya melainkan menegaskan.
Lama mereka berdiam seperti itu sambil menonton film yang tadi sempat tertunda. Saat film itu habis, Icha melepaskan diri dari pelukan Gavin dan mematikan laptop milik laki-laki itu.
"Hari ini Rio berangkat. Kayaknya dia udah mau siap-siap ke bandara." Kata Icha ketika mengingat perkataan Rio kemarin malam.
"Kamu mau ke bandara?" Tanya Gavin.
"Icha mau, tapi Rio bilang gak perlu. Dia takut nanti dia bakal semakin berat ninggalin Indonesia kalo Icha ada disana." Icha seketika memasang wajah sedihnya lagi.
Gavin yang melihat Icha sedih pun memikirkan cara agar gadis itu tidak sedih lagi. "Kamu video call aja." Saran Gavin.
"Emang boleh?"
"Boleh."
Icha mengangguk antusias. "Icha pinjam handphone Gavin dong. Handphone Icha di tas, mager ngambilnya." Icha menengadahkan tangannya, meminta handphone milik Gavin.
Gavin mengambil handphonenya yang berada di nakas dan memberikannya pada Icha. Icha menerima handphone milik Gavin. Ketika ia membuka handphone itu, ia langsung dapat melihat fotonya menjadi wallpaper disana.
"Ya ampun, Gavin dapet foto ini dari mana?" Tanya Icha menunjukkan wallpaper handphone itu pada Gavin.
"Dari bang Kenzi."
Icha mengangguk lalu kembali mengotak-ngatik handphone Gavin. Berikutnya, terdengar suara nada panggilan. Tak butuh waktu lama, Rio segera menerima panggilan video itu.
"Loh Icha, kok kamu yang panggil?" Tanya Rio tampak bingung.
Icha mengarahkan layar handphone itu pada Gavin yang memasang wajah datarnya. "Icha lagi pinjem handphone Gavin."
"Itu kalian di kamar berdua ngapain? Gak ngelakuin yang enggak-enggak kan?" Tanya Rio memandang curiga.
"Maksudnya?" Tanya Icha bingung.
"Rio, jangan racunin otak Icha." Tegur Gavin dibalas cengengesan oleh Rio.
"Ya maap, kan nanya aja." Jawab Rio sambil menyengir.
"Rio lagi ada dimana? Udah berangkat belum?"
"Masih di rumah, sebentar lagi berangkat nih Cha. Oh iya ini kan masih jam sekolah, kok kalian gak sekolah sih? Bolos ya?"
"Iya, Icha sama Gavin bolos." Jawab Icha dengan wajah polosnya.
"Ada apa?"
"Gak ada apa-apa kok. Rio hati-hati ya disana. Semoga cepet sembuh, jangan lupain Icha ya."
"Aku gak bakal bisa lupain kamu Cha. Kamu juga hati-hati ya. Gavin, jagain Icha." Rio menatap kearah Gavin.
"Pasti." Jawab Gavin dengan mantap.
"Udah dulu ya Cha, aku mau berangkat ke bandara."
"Iya Rio, hati-hati ya. Safe flight." Kata Icha sebelum panggilan video itu dimatikan oleh Rio.
"Menurut Gavin, apa Rio bakal sembuh?" Tanya Icha mengembalikan handphone Gavin.
"Pasti."
***
TO BE CONTINUEE