
Kini, Icha dan Gavin sedang berada diatas motor Gavin. Icha menghabiskan waktunya di rumah Gavin hingga jam pulang sekolah agar orang tua dan kakaknya tidak curiga. Mereka menghabiskan waktu dengan menonton, bermain game dan juga mengobrol dengan mama Gavin. Sesampainya di depan rumah Icha, Gavin pun menghentikan motornya.
"Gavin mau mampir dulu?" Tanya Icha menawarkan. Gavin menjawab dengan gelengan kepala.
"Aku langsung aja, ada urusan sama Satria dan Reno." Jawab Gavin menolak. Icha yang paham pun mengangguk.
"Yaudah, hati-hati ya." Ucap Icha saat Gavin menghidupkan mesin motornya.
Tanpa mengucapkan satu patah katapun, Gavin pun melajukan motornya meninggalkan rumah Icha. Icha tersenyum sendiri melihat kepergian Gavin. Ia pun membuka gerbang rumahnya dan masuk ke dalam. Karena tidak fokus, Icha sampai tidak sadar bahwa dari tadi ada seseorang yang memerhatikannya dengan Gavin.
"Aduh." Icha mengelus kepalanya yang menabrak sesuatu. Ia mendongakkan kepalanya dan melihat Teza berdiri menjulang dihadapannya.
"Kamu dari mana?" Tanya Teza dengan tatapan yang menurut Icha sedikit berbeda dari biasanya.
"Hmm dari sekolah.." Jawab Icha menyembunyikan kegugupannya karena sedang berbohong. Ia menyadari bahwa Teza kini sedang menatap kearahnya dengan tatapan mengintimidasi.
"Kamu gak lagi bohong kan?" Teza memicing curiga pada Icha yang menundukkan kepalanya, tak berani menatap kearahnya.
"Enggak." Icha berkata dengan nada pelan, masih tidak berani menatap kearah Teza.
Teza menghela nafasnya pelan. "Tadi abang ke sekolah nyariin kamu, kata Rere kamu ke UKS tapi pas abang cek kamu gak ada."
Perkataan Teza membuat Icha terkejut. Karena tau kebohongannya sudah terbongkar, Icha pun hanya diam tidak menjawab Teza. Dalam hati, Icha berharap Kenzo atau Kenzi keluar dari rumah untuk menyelamatkannya.
"Permintaan abang kemarin untuk kesempatan dapetin hati kamu lagi, sejak saat itu kita memang gak ada hubungan lagi Cha. Abang mau berusaha berjuang agar kamu bisa sedikit aja buka hati kamu untuk abang. Tapi abang gak nyangka abang bakal kalah dengan cepat. Segitu susahnya kamu buka hati kamu untuk abang Cha?" Suara Teza terdengar semakin melemah. Pandangannya menatap kecewa pada Icha saat gadis itu tadi mendongakkan kepalanya.
"Maafin Icha." Lirih Icha. Suaranya bahkan tercekat saat mengatakannya.
"Semoga kamu bahagia." Teza mengucapkan itu dengan nada yang sangat pelan lalu pergi meninggalkan Icha yang terdiam seribu bahasa menatap kepergiannya.
Entah kenapa Icha saat ini merasa sangat bersalah pada Teza. Ia tetap menatap kearah laki-laki itu yang kini sudah masuk kedalam mobil dan mengendarai mobil itu meninggalkan rumahnya.
"Dek, ngapain di depan pintu?" Kenzo menegur Icha yang hanya berdiam diri di depan pintu menatap kearah gerbang.
Icha berbalik menatap Kenzo lalu menggelengkan kepalanya. "Gak apa-apa kok Bang." Jawab Icha.
"Yaudah masuk gih, langsung ganti baju abis itu ke meja makan. Bunda udah siapin makanan untuk kamu."
"Bunda emang kemana bang?" Tanya Icha.
"Bunda lagi keluar sebentar, belanja bulanan sama ayah. Bentar lagi juga pulang." Jelas Kenzo.
"Ohh oke deh. Icha keatas dulu ya bang." Pamit Icha melepaskan sepatunya, meletakkan di rak sepatu lalu berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai atas.
"Ada yang gak beres." Gumam Kenzo menatap kepergian adiknya. Dibandingkan Kenzi, Kenzo lah yang lebih peka dengan sekitar. Maka dari itu ia sangat tau bahwa ada sesuatu yang terjadi pada Icha tadi walaupun adiknya itu menampilkan senyum manis seperti biasanya.
Sampai di kamarnya, Icha merebahkan dirinya sebentar. Ia menatap nanar kearah langit-langit kamarnya.
Lama ia berdiam diri dengan posisi seperti itu, tidak melakukan apa-apa. Icha akhirnya bangkit dari tidurnya dan berjalan kearah lemari untuk mengambil baju ganti.
Setelah selesai mengganti baju, Icha berjalan menuju ruang makan seperti yang dikatakan Kenzo tadi. Ia dapat melihat bundanya baru saja datang bersama ayahnya yang menenteng tas belanjaan.
"Bunda, ayah." Icha mencium pipi bunda dan ayahnya.
"Iya sayang. Adek udah makan belum? Baru pulang ya? Abang kamu mana?" Tanya bundanya mengelus rambut Icha dengan penuh kasih sayang.
"Belum bun, ini baru mau makan. Abang kayaknya masih diatas deh."
"Panggil abang kamu ya, kita makan sama-sama sebelum ayah balik lagi ke kantor." Kata Ayahnya yang baru saja datang setelah meletakkan barang belanjaan di kulkas.
"Iya yah." Icha menurut dan berjalan menuju kamar abangnya.
tok tok tok
Icha mengetuk pintu berwarna coklat itu tiga kali. Tak lama kemudian, pintu itu terbuka dan menampilkan wajah Kenzo.
"Disuruh ayah kebawah makan bareng." Kata Icha menyampaikan perkataan ayahnya tadi.
"Iya, bentar lagi abang turun." Jawab Kenzo.
"Bang Kenzi ada di kamarnya?" Tanya Icha.
"Tuh." Kenzo membuka pintunya lebar sehingga Icha dapat melihat Kenzi sedang duduk dengan stick ps ditangannya. Mungkin kedua abangnya itu baru saja bermain game.
"Oh yaudah deh, Icha kebawah dulu ya. Jangan lama-lama, ayah mau balik ke kantor soalnya." Kata Icha sebelum pergi meninggalkan Kenzo dan Kenzi yang melihat dari dalam kamar.
"Sudah dipanggil?" Tanya Bunda Icha saat Icha duduk disalah satu kursi.
"Sudah bun." Jawab Icha.
Beberapa menit kemudian, Kenzo dan Kenzi turun dan bergabung di meja makan. Keduanya duduk bersebelahan sedangkan Icha duduk di sebelah bundanya. Ayahnya duduk di tengah sebagai kepala keluarga.
"Abang mau lanjut kuliah dimana?" Tanya Bunda Icha setelah mengambilkan nasi untuk suaminya.
"Kenzo di Jakarta aja bun." Jawab Kenzo cepat dan penuh keyakinan.
Melihat wajah Kenzo yang tak ada sedikitpun keraguan, sang ayah pun melihat kearah saudara kembar laki-laki itu. "Kenzi?" Tanyanya.
Kenzi terdiam sebentar lalu menatap Icha yang sejak tadi melihat kearahnya seolah menunggu jawaban yang keluar dari mulutnya. "Kenzi di Jakarta aja, ayah kan tau sendiri Kenzi gak bisa jauh dari keluarga." Jawab Kenzo.
"Bukannya lo bilang mau kuliah di luar negeri?" Tanya Kenzo dengan wajah bingungnya. Spontan Kenzi menginjak kaki Kenzo dan menghadiahi tatapan tajam pada saudaranya itu.
"Aduh. Sakit b*g*!" Bisik Kenzo dengan nada yang ditekankan.
"Mulut lo gak bisa diem apa." Balas Kenzi berbisik mengancam pada Kenzo. Tak lupa pula tatapan tajam dihadiahkan pada saudara kembarnya itu.
"Maaf." Bisik Kenzo.
"Kalian bisikin apa sih?" Tanya sang Bunda.
"Gak ada bun." Jawab Kenzi dengan cepat, tak mau sampai bundanya curiga.
"Kalo kamu mau kuliah di luar negeri gak apa-apa Kenzi, ayah dukung apapun keputusan kamu." Kata sang ayah dengan bijak.
"Nanti Kenzi pikirin dulu deh yah. Masih bingung juga mau kuliah dimana." Jelas Kenzi. Sang ayah menganggukkan kepalanya.
"Kelulusan kalian sama acara perpisahan kapan?" Tanya Bundanya lagi.
"Minggu ini kalo gak salah bun." Jawab Kenzi.
"Dua minggu lagi. Jangan ngubah sendiri deh." Kenzo meralat.
"Iya itu deh pokoknya."
"Icha ke prom sama abang ya, jadi pasangan abang." Ajak Kenzi.
"Jomblo sih lo, mangkanya cari pacar." Ejek Kenzo.
"Diem lo!"
"Mau kan Cha?" Tanya Kenzi lagi.
"Tapi.." Belum sempat Icha menyelesaikan perkataanya, Kenzi lebih dulu memotongnya.
"Please." Kata Kenzi dengan wajah memelasnya.
Merasa tak tega, Icha pun menganggukkan kepalanya. Sebenarnya ia berencana akan mengajak Gavin pergi bersama, namun ketika dipikir lagi, perasaan Teza akan terluka jika melihat itu. Dan Icha juga akan merasa semakin bersalah. Sungguh, bahkan Icha saat ini tidak tau maksud dari hatinya memilih kepada siapa. Apakah pilihannya sudah benar? Pikiran Icha tak henti-hentinya bertanya tentang hal itu. Semoga saja yang ia lakukan adalah hal yang tepat.
TO BE CONTINUE