
Icha menjalani perawatan di rumah sakit selama seminggu. Dua hari yang lalu ia sudah diperbolehkan dokter untuk pulang. Dokter menyarankan Icha untuk bedrest sehari agar tubuhnya bisa kembali pulih sebelum beraktivitas seperti biasanya. Hari ini, Icha berniat untuk pergi ke sekolah. Ia sangat merindukan suasana sekolah dan sahabatnya tentu saja.
"Kamu yakin gak mau bedrest lagi?" Tanya Bunda Icha saat mereka berada di meja makan.
Icha menggelengkan kepalanya. "Gak Bun, Icha udah cukup delapan hari istirahat." Jawab Icha.
"Nanti kalo kamu sakit langsung kabarin abang ya." Kata Kenzi.
"Bener kata abang kamu, nanti langsung kabarin mereka ya kalo kamu ngerasa gak enak badan lagi. Ah iya, Kenzo sama Kenzi kalian yang semangat belajarnya, bentar lagi ujian kan. Jangan lupa berdoa." Kata Ayah Icha dengan penuh perhatian.
"Benar kata ayah, usaha tanpa doa juga sia-sia. Jadi jangan lupa keduanya ya, hasilnya biar jadi rahasia tuhan. Gak cuma untuk abang, untuk Icha juga." Kata Bunda mereka.
Icha menganggukkan kepalanya. Lalu ia melihat kearah kursi yang biasanya diduduki oleh Rio. Kini suasana meja makan terasa berbeda karena tidak ada candaan yang dilontarkan Rio. Icha juga sedikit heran, apa yang membuat Rio sampai saat ini belum sadarkan diri. Padahal dokter mengatakan luka di kepala laki-laki itu sudah mulai membaik.
"Tenang aja, Rio pasti sadar kok." Kata Kenzo yang duduk di sebelah Icha, berusaha menenangkan adiknya itu.
Icha mengangguk pelan.
Setelah selesai sarapan, Kenzo, Kenzi dan Icha berpamitan pada kedua orang tua mereka untuk pergi sekolah. Seperti biasa, mereka menggunakan mobil milik Kenzi. Di sepanjang perjalanan, Icha hanya melihat kearah luar jendela.
Lima belas menit dibutuhkan untuk mereka sampai di SMA Dinata. Kini, mobil Kenzi sudah terparkir rapi di parkiran SMA Dinata. Icha turun terlebih dahulu, di susul kedua kakaknya.
"Abang anterin ke kelas ya." Tawar Kenzi mendekati Icha.
"Gak usah bang, Icha bisa sendiri kok." Icha tersenyum meyakinkan.
"Yakin gak mau dianter?" Tanya Kenzo.
Icha mengangguk, "Iya."
"Yaudah, semangat ya belajarnya." Kenzi mengelus puncak kepala Icha dengan sayang.
Icha mengangguk sekali lagi lalu pergi meninggalkan kedua kakaknya. Di sepanjang koridor, banyak yang menyapanya dan Icha pun balik menyapa mereka. Tiba-tiba, semua perhatian murid-murid di koridor berubah kearah sepasang manusia yang berada di depan Icha. Langkah Icha terhenti melihat mereka berdua.
"Hai Icha! Seneng banget ngeliat lo udah sekolah, kangen banget tau." Dara bergerak mendekati Icha lalu memeluk Icha.
Di balik punggung Dara, Icha menatap nanar kearah Gavin yang hanya menampilkan wajah datar. Tak lama, Dara melepaskan pelukannya lalu kembali mendekati Gavin dan merangkul laki-laki itu.
"Banyak banget hal yang terjadi semenjak lo dirawat di rumah sakit, Cha. Salah satunya gue sama Gavin jadi semakin deket. Lo seneng kan? Gue bahagia banget Cha. Lo juga bahagia untuk gue juga kan?" Dara menampilkan senyumnya.
Icha perlahan mulai memaksakan senyumnya. "Iya, gue bahagia juga. Semoga.. semoga kalian selalu bahagia." Ucap Icha menyembunyikan sakitnya.
"Lo emang yang terbaik deh Cha!" Dara terlihat sangat senang.
"Icha, kamu ngapain masih disini? Gak ke kelas?" Suara itu membuat Icha, Dara dan Gavin menoleh ke sumber suara.
"Bang Teza." Icha berucap lirih.
"Hai bang Teza!" Sapa Dara.
Teza melihat kearah Dara dan Gavin, lalu beralih menatap kearah Icha. Teza bergerak merangkul bahu Icha agar lebih dekat kearahnya. Ia lalu menatap kearah Dara dan memberikan senyumnya.
"Hai Dara. Rere mana?"
"Dia udah di kelas sama Safira. Btw, Dara sama Gavin pamit dulu ya, bentar lagi bel masuk. Icha mau bareng kami gak?"
"Icha sama abang, kalian duluan aja." Teza mewakili Icha berbicara karena ia tau Icha sedang tidak ingin bicara sekarang.
"Oke, jumpa nanti di kelas ya Icha." Kata Dara sebelum pergi bersama Gavin.
Setelah kepergian Dara dan Gavin, Icha menatap kearah Teza. "Makasih bang Teza." Kata Icha dengan nada lirih.
Teza tersenyum lalu menarik Icha menuju tempat yang tidak dipadati murid-murid.
Icha memeluk Teza dan menangis di bahu laki-laki itu. Ia merasa sangat beruntung masih ada yang peduli padanya.
***
Setelah menenangkan diri bersama Teza, Icha pun diantar Teza menuju kelas. Mereka sampai di depan kelas tepat ketika bel masuk berbunyi.
"Makasih ya bang Teza, untuk semuanya."
Teza mengangguk dan mengacak pelan rambut Icha. "Udah sana, masuk gih."
Icha mengangguk lalu masuk ke dalam kelasnya. Saat ia masuk kelas, Icha langsung mendapat pelukan dari Rere dan Safira. Begitupun ia juga mendapat ucapan selamat datang kembali dari teman sekelasnya.
"Icha, kita kangen banget sama lo." Kata Rere setelah pelukan itu terlepas.
"Kelas sepi gak ada lo Cha. Gue jadinya duduk sendiri." Safira terkekeh diakhir kalimatnya.
"Icha juga kangen kalian kok."
"Pokoknya kita harus jalan bareng sesegera mungkin!" Kata Rere dengan semangat.
Icha tertawa kecil lalu mengangguk setuju. Memang benar, semua beban masalah terasa ringan apabila bertemu sahabat. Icha diam-diam menghela nafas lega karena tidak seorang pun sadar akan matanya yang sembab. Atau lebih tepatnya Icha tidak menyadari bahwa ada satu orang yang sadar bahwa ia habis menangis. Siapa lagi jika bukan Gavin yang memerhatikan Icha semenjak gadis itu masuk ke dalam kelas.
"Lo ada masalah sama Icha Gav? Lo keliatan beda banget gak kayak biasanya." Satria menatap kearah Gavin.
"Gak."
"Kalo ada masalah selesaikan Gav, jangan kabur dari masalah. Masalah gak akan selesai sendiri kalo yang punya masalah gak mau coba menyelesaikan." Kata Reno menepuk pelan pundak Gavin.
Dalam hati, Gavin berpikir bahwa bukan ia yang lari dari masalah, namun Icha. Gadis itu lah yang tidak ingin menyelesaikan kesalahpahaman antara mereka dan membiarkan masalah ini berlarut. Sebenarnya dia juga merasa tidak nyaman harus memerhatikan gadis itu dari jauh namun ia bisa apa? Gadis itu bahkan tidak mau berbicara dengannya. Ah, bahkan Gavin tidak sadar bahwa dari tadi ia banyak menyebut Icha dengan sebutan "Gadis itu".
***
Teza tersenyum melihat Icha keluar dari kelasnya. Ia memang sengaja menunggu Icha untuk mengajak gadis itu ke kantin bersama. Tentu saja ia tidak sendiri, ada Kenzo dan Kenzi bersamanya. Mereka pun akhirnya pergi ke kantin bersama ditambah Rere dan Safira juga Dara dan Gavin.
"Dua kali kepercayaan gue dikhianati, gue jadi ngerasa gak bisa lagi ngasih kepercayaan gue ke orang lain. Apalagi menyangkut Icha." Kata Kenzi dengan nada menyindir.
Kenzi terlihat sangat tidak suka melihat Dara dan Gavin yang sedang diberitakan berpacaran oleh semua murid di SMA Dinata. Dulu, ia mempercayai Arga namun kepercayaannya dikhianati saat laki-laki itu menghancurkan hati adiknya. Lalu ia kembali menaruh kepercayaan pada Gavin, namun kepercayaannya lagi-lagi dikhianati.
"Kenzi, cukup. Jangan berlarut-larut. Semua belum tentu seperti yang lo pikirkan." Kata Kenzo berusaha menenangkan saudara kembarnya itu.
"Lo gak tau rasanya gimana. Gue kecewa sama orang yang gue percaya dan itu adalah hal yang paling menyakitkan." Kata Kenzi lalu pergi meninggalkan kantin.
"Maafin Kenzi ya, dia masih kebawa kejadian yang lalu." Kata Kenzo mewakilkan.
Icha menundukkan kepalanya sedih.
Teza yang melihat Icha sedih pun menghela nafasnya.
"Permisi." Gavin mendorong kursinya ke belakang lalu pergi meninggalkan kantin.
"Gavin, tunggu!" Teriak Dara menyusul Gavin.
"Icha, gimana kalo setelah kami ujian, nanti kita ke Dufan? Sama Rere sama Safira juga. Kamu mau?" Tanya Teza.
"Wahh ide bagus. Ayo Cha, udah lama kita gak ke Dufan lagi." Balas Safira dengan senang.
"Bener, ayo Cha. Lo mau kan?" Tanya Rere penuh harap.
Icha menatap kearah Safira dan Rere, lalu kearah Teza. Lalu kemudian ia mengangguk pelan.
TO BE CONTINUE