PITAGORA

PITAGORA
Part 44



"Cha, itu Bang Teza manggil." Tegur Rere.


Icha pun menoleh kebelakang, menatap Teza yang saat ini sedang tersenyum kearahnya.


"Dansa?" Tawar Teza mengulurkan tangannya pada Icha.


"Hmm tapi..." Icha ingin menolak, mengingat janjinya pada Gavin bahwa laki-laki itulah yang harusnya jadi pasangan dansa pertamanya.


"Please jangan nolak. Untuk pertama dan terakhir kalinya. Abang gak tau kita bisa ketemu lagi apa enggak nanti." Pinta Teza membuat Icha malah semakin serba salah.


Lama membiarkan tangan Teza tergantung di udara, akhirnya Icha dengan ragu menyambut uluran tangan itu. Badannya langsung ditarik oleh Teza menuju lantai dansa. Tanpa mereka sadari, Gavin melihat itu semua dengan pandangan marah.


"Gav, lo yakin gak mau dansa sama gue?" Tanya Dara yang berada di belakang Gavin sambil tersenyum miring.


Disisi lain, Icha dan Teza kini sudah berada di lantai dansa. Banyak pasangan yang berada di sekitar mereka juga sedang melakukan dansa seperti yang mereka lakukan. Sejak tadi, kepala Icha selalu menunduk, untuk menghindari tatapan Teza. Teza menyadari itu, dan dia hanya tersenyum memakluminya.


"Icha, bang Teza mau minta maaf atas yang sudah abang lakukan. Bang Teza terlalu terbutakan untuk dapetin kamu sampe bang Teza gak sadar kalo kebahagiaan kamu itu bukan abang tapi Gavin. Bang Teza tau apa yang udah dilakukan abang ini gak bisa dimaafkan." Teza terdiam sejenak.


"Besok bang Teza bakal berangkat ke USA. Bisa abang minta satu hal sama kamu? Sebelum abang pergi besok, abang pengen kamu dateng ke bandara. Abang mau lihat kamu untuk yang terakhir kalinya besok." Pinta Teza dengan nada memohon.


Baru saja Icha ingin menjawabnya, suara merdu disertai dari petikan gitar itu mengalihkan pandangannya. Di atas panggung, Gavin sedang menatapnya sambil memegang gitar ditangannya. Tidak hanya Icha, semua orang yang berada di ruangan itu juga terpaku pada sosok tampan yang kini mulai memetik senar gitarnya. Suasana gedung yang awalnya ramai kini menjadi bisu karena satu objek yang kini diterangi oleh lampu sehingga menjadi fokus semua orang. Gavin membuka mulutnya, mengeluarkan suara merdu dan mulai bernyanyi.


Everybody's laughing in my mind


Rumors spreading 'bout this other guy


Do you do what you did when you did with me


Does he love you the way I can


Did you forget all the plans that you made with me?


'Cause baby I didn't


That should be me, holding your hand


That should be me, making you laugh


That should be me, this is so sad


That should be me


That should be me


That should be me, feeling your kiss


That should be me, buying you gifts


I can't go on


Till you believe


That should be me


That should be me


You said you needed a little time from my mistakes


It's funny how you used that time to have me replaced


Did you think that I wouldn't see you out at the movies


What you doin' to me


You're taking him where we used to go


Now if you're trying to break my heart


It's working cause you know


That should be me, holding your hand


That should be me, making you laugh


That should be me, this is so sad


That should be me


That should be me


That should be me, feeling your kiss


That should be me, buying you gifts


Till you believe


That should be me


I need to know should I fight for our love


Or disarm


It's getting harder to shield


This pain in my heart oh oh


That should be me, holding your hand


That should be me, making you laugh


That should be me, this is so sad


That should be me


That should be me


That should be me, feeling your kiss


That should be me, buying you gifts


I can't go on


Till you believe


That that should be me


Holding your hand


That should be me


The one making you laugh (oh baby oh)


That should be me


That should be me


Giving you flowers


That should be me


Talking for hours


That should be me (that should be me)


That should be me


I never shoulda let you go


Never shoulda let you go oh oh


That should be me


I'm never gonna let you go ooh


That should be me


Never gonna let you go oh oh


I'm never gonna let you go ooh


Lagu itu diakhiri dengan tepuk riah semua orang yang berada di gedung. Penampilan Gavin tampak memukau semua orang. Kata-kata yang ia sampaikan dalam lagu seolah telah merasuk kedalam hati setiap orang. Begitupun Icha yang meneteskan air matanya.


Setelah mengucapkan terima kasih, Gavin berjalan turun dari panggung menuju keluar gedung. Icha yang melihat itu pun langsung hendak mengejarnya.


"Icha pergi dulu bang Teza." Kata Icha lalu berlari mengejar Gavin. Agak sedikit kesusahan baginya karena gaun dan heels yang menghambatnya untuk bergerak lebih cepat.


Sesampainya Icha di luar, ia sudah tidak lagi melihat keberadaan Gavin. Akhirnya, Icha memutuskan untuk mengelilingi area sekitar gedung untuk mencari Gavin. Bagian luar dari gedung ini terlihat lebih indah ketika malam hari. Lampu taman berwarna oranye menerangi setiap sudut taman yang berada di sekeliling gedung. Terdapat juga kolam ikan kecil dan bangku taman yang berada di sana. Tak butuh waktu lama untuk Icha menemui Gavin. Kini, punggung tegap laki-laki itu terlihat di salah satu bangku taman yang tak jauh darinya. Gavin tidak memakai jasnya karena terlihat bahwa jas hitam itu tergantung di sandaran kursi. Icha berjalan menghampiri Gavin dan duduk di sebelahnya membuat Gavin langsung menatap kearahnya dengan terkejut.


"Kenapa kesini? Diluar dingin." Kata Gavin kembali menatap kearah depan.


"Maafin Icha." Gumam Icha menjalin tangannya karena merasa gugup sekarang.


Gavin terdiam tidak membalas perkataan Icha. Mereka berdua berada dalam keheningan selama beberapa menit. Hingga kursi taman itu berderit pertanda bahwa Gavin bangkit dari duduknya. Icha melihat sebuah tangan terulur di depannya. Ia mengikuti tangan itu dan mendapati wajah tampan Gavin yang sedang menatap kearahnya. Gavin sangat tampan dengan penampilan seperti ini meskipun agak berantakan dari sebelumnya karena kini lengan kemejanya tergulung hingga siku. Dan jangan lupakan rambutnya yang acak acakan menambah kesan maskulin dalam diri laki-laki itu.


"Setidaknya aku lah yang akan jadi pasangan dansa terakhir kamu." Kata Gavin mencoba menjelaskan maksudnya.


Icha menerima uluran tangan Gavin dan bangkit dari duduknya. Keduanya berdiri berhadapan, saling menatap dalam kearah mata masing-masing. Icha meletakkan tangannya di bahu Gavin, sedangkan tangan Gavin melingkari pinggang Icha. Keduanya berdansa dibawah sinar bulan, di taman yang indah dengan lampu yang menambah kesan romantis. Alunan lagu Perfect Ed Sheeran dari dalam gedung terdengar hingga ke taman tempat mereka berada.


"Baby, I'm dancing in the dark, with you between my arms. Barefoot on the grass, we're listenin' to our favorite song. I have faith in what I see. Now I know I have met an angel in person. And she looks perfect. No, I don't deserve this. You look perfect tonight.." Gavin bernyanyi mengikuti lagu.


"Aku cinta kamu Cha." Bisik Gavin saat dansa mereka berakhir, namun posisi mereka tidak berubah.


Icha tersenyum dan menyembunyikan wajahnya dalam dekapan Gavin. Begitupun dengan Gavin yang juga memeluk Icha dengan erat.


"Gavin gak marah sama Icha?" Tanya Icha pelan-pelan. Mereka kini sudah duduk kembali di kursi taman seperti sebelumnya.


"Marah kenapa?" Gavin balik bertanya dengan satu alisnya terangkat.


"Bang Teza.." Belum sempat Icha melanjutkan ucapannya, Gavin sudah lebih dulu memotongnya.


"Jangan dibahas lagi." Kata Gavin membuat Icha bungkam.


***


Acara prom night sudah selesai satu jam yang lalu. Icha pulang diantar oleh Gavin. Kenzi dan Kenzo baru saja pulang beberapa menit yang lalu karena sebelumnya mereka harus merayakan kelulusan mereka dengan teman seangkatan mereka. Icha kini sudah berganti piyama. Ia berjalan menuju meja belajar untuk mengambil buku biologinya karena UAS biologi akan dimulai senin besok.


brakk


Saat Icha mengambil buku biologinya, sebuah album tua terjatuh dari atas rak bukunya. Icha menaruh buku yang berada di tangannya dan menunduk untuk mengambil album yang jatuh. Ia pun membawa album itu dan mendudukkan dirinya diatas kasur dengan album berada dipangkuannya.


"Album apa ini?" Gumam Icha lalu membuka album itu.


Di halaman pertama album itu terdapat fotonya saat masih kecil sekitar umur lima tahun. Icha kemudian membuka lembaran-lembaran selanjutnya. Hingga ia terhenti pada halaman paling belakang dari album itu. Ada tulisan dibagian atas foto yang menampilkan sepasang anak kecil yang terlihat sedang tersenyum kearah kamera sambil saling menggandeng satu sama lain.


"Imel dan Oskar. Icha kayak pernah ngeliat foto ini sebelumnya." Gumam Icha mencoba mengingat dimana ia pernah melihat foto ini sebelumnya.


"Icha inget. Ini.. ini foto yang Icha liat di kamar Gavin. Apa artinya?"


Brakkk


Pintu kamar Icha dibuka paksa oleh seseorang membuat Icha tersentak kaget. Diambang pintu, berdirilah Kenzo dan Kenzi yang menatap cemas kearahnya. Icha menaruh album itu keatas kasurnya dan berjalan menghampiri kedua kakak laki-lakinya itu.


"Ada apa bang?" Tanya Icha saat melihat raut khawatir tercetak jelas pada wajah kedua kakaknya.


"Itu Cha.. Gavin.. Dia.." Kenzo berucap dengan terbata-bata.


Icha melebarkan matanya dan memegang kedua bahu Kenzo dan mengguncangnya pelan. "Gavin kenapa bang?" Tanya Icha mulai khawatir.


"Gavin.. dia kecelakaan."


TO BE CONTINUE