
Rere dan Safira membawa Icha menuju kelas. Disepanjang perjalanan, banyak sekali murid yang menyindir Icha. Icha yang mendengar itu hanya menundukkan kepalanya. Berbeda dengan Safira dan Rere yang sejak tadi menatap tajam orang yang membicarakan Icha.
Sesampainya mereka bertiga di kelas, semua murid di kelas tampak menatap kedatangan mereka dengan tatapan yang mengarah pada Icha. Rere dan Safira yang melihat itu pun berdecak kesal.
"Apa liat-liat?!" Sentak Rere membuat semua teman sekelasnya langsung kembali pada kesibukan masing-masing.
"Icha, udah. Jangan sedih gitu." Safira mencoba menenangkan Icha yang dari tadi hanya diam saja, tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
"Icha kenapa?" Tanya Dara yang baru saja datang dan duduk di samping kursi Rere.
"Jangan dibahas dulu." Kata Rere dengan cepat.
Dara mengangguk dan mengeluarkan handphonenya.
"Eh Sat ini si Gavin mana sih?" Reno menatap Satria sambil sesekali mengetik sesuatu di handphonenya.
Satria yang memasang wajah panik pun sama hal nya dengan Reno. "Gak tau, dia ngilang disaat yang gak tepat. Kasian tuh Icha."
Keduanya sedari tadi terlihat sangat rusuh di kursi belakang, menunggu kedatangan Gavin yang hingga saat ini belum menampakkan batang hidungnya sama sekali. Bahkan panggilan dari mereka pun tidak diangkat oleh laki-laki itu.
Tak lama kemudian, guru Biologi memasuki ruangan karena memang jam pelajaran sudah di mulai. Gavin belum juga datang, mungkin laki-laki itu terlambat atau bolos sekolah.
"Icha, kamu sakit nak? Keliatannya lemas sekali." Tegur Bu Fera, guru Biologi itu berjalan kearah Icha.
"Iya bu, Icha lagi gak enak badan." Bukan, bukan Icha yang menjawab melainkan Safira yang duduk di sebelahnya.
"Yaudah, kamu istirahat aja di uks." Kata Bu Fera sebelum pergi menuju ke depan kelas.
"Ayo Cha, gue temenin." Baru saja Safira ingin berdiri, Icha terlebih dahulu menahan tangannya.
"Icha mau sendiri Ra." Kata Icha lalu berdiri dan pergi meninggalkan kelas.
Sepanjang jalan, Icha tak dapat lagi menahan tangisnya. Ia menangis sambil menundukkan kepalanya. Untung saja koridor sedang sepi karena jam pelajaran sudah dimulai.
Icha terus berjalan dan menangis dalam diam. Saat ia akan sampai di ruang uks, Icha merasakan sepasang sepatu menghalangi jalannya. Perlahan, Icha mendongakkan kepalanya.
"Jangan nangis." Kata orang itu menghapus air mata yang masih keluar dari sudut mata Icha.
Melihat orang itu, Icha spontan memeluknya dan menangis di dada bidang yang kini disandarinya. Icha juga merasakan tangan hangat yang memeluknya dengan erat dan elusan di kepalanya. Jujur saja, ini sangat nyaman. Sejenak Icha bisa menghapus masalah yang sedang dihadapinya tadi.
"Ayo pergi." Bisik orang itu.
Icha hanya mengangguk saja dan mengikuti langkah orang itu yang menuju kearah belakang sekolah mereka. Icha terbingung ketika melihat tembok belakang sekolah yang menjulang dihadapannya. Tembok itu memang tidak terlalu tinggi, hanya sebatas kepalanya saja.
"Gavin, kenapa ngajak Icha kesini?" Tanya Icha pada Gavin yang kini berjalan kearahnya sambil membawa tangga.
Gavin meletakkan tangga itu di tembok. "Panjat tangga itu!" Perintah Gavin.
"Tapi.."
"Disana ada tangga lagi." Jawab Gavin seakan tau hal yang mengganggu pikiran Icha.
"Kita mau bolos?" Tanya Icha pada Gavin, masih ragu dengan keputusannya.
"Iya, udah ayo. Tenang aja aman kok."
Icha mengangguk. "Jangan ngintip." Kata Icha saat ia mulai menaiki tangga. Gavin yang mendengar itu pun membalikkan tubuhnya membelakangi Icha.
"Sudah belum?" Tanya Gavin.
"Sudah." Balas Icha dari balik tembok.
Setelah mendengar balasan Icha, Gavin pun memanjat tembok itu dan melompat turun. Kini, mereka telah berada di luar sekolah. Ternyata, ada motor Gavin yang terparkir dibalik tembok itu. Gavin langsung menuju ke motornya dan mengode Icha untuk naik keatas motornya.
"Gavin, Icha boleh peluk Gavin lagi?" Tanya Icha saat sudah berada diatas motor.
Gavin tidak menjawab tapi ia meraih tangan Icha dan melingkarkan tangan itu di pinggangnya. Lalu, Gavin mulai menjalankan motornya untuk pergi meninggalkan sekolah.
"Gavin, tas Icha masih di sekolah." Kata Icha masih bersender dengan nyaman di punggung Gavin.
"Itu sudah diurus Satria." Jawab Gavin dibalik helm fullfacenya.
"Kita mau kemana? Bang Kenzo sama bang Kenzi bakal marah kalo tau Icha bolos." Kata Icha lagi.
Gavin hanya diam tak menjawab perkataan Icha. Beberapa menit kemudian, motor Gavin berhenti di taman yang terdapat danau. Icha ingat taman itu. Ia pun turun dari motor Gavin.
Dirasa motornya sudah terpakir dengan benar, Gavin pun menarik tangan Icha menuju ke tepi danau itu. Ia duduk diatas rumput, disusul oleh Icha yang duduk di sebelahnya.
"Ada apa?" Tanya Gavin dengan pelan.
Icha menoleh kearah Gavin lalu perlahan air mata kembali turun dengan derasnya. Gavin yang melihat itu langsung menarik Icha dan mendekapnya erat. Ia mengelus pelan kepala Icha, berharap gadis itu akan merasa nyaman berada di pelukannya. Sedangkan Icha, dipeluk seperti itu oleh Gavin malah membuatnya makin menangis. Dicengkramnya seragam bagian belakang Gavin hingga kusut.
"Sudah tenang?" Tanya Gavin saat dirasa tangisan Icha mulai mereda. Gavin merasa Icha mengangguk dalam pelukannya.
"Ada apa?" Tanya Gavin masih dengan keadaan memeluk Icha karena gadis itu belum mau melepasnya.
"Icha bukan perusak hubungan orang Gavin. Icha bukan." Lirih Icha dengan nada yang bergetar menahan tangisnya kembali.
"Iya, kamu bukan kok. Sudah ya, jangan nangis lagi. Anggap aja orang itu iri mangkanya dia nyebarin berita bohong itu." Kata Gavin mencoba menenangkan Icha.
"Gavin beneran gak ada hubungan kan sama Dara?" Tanya Icha.
"Gak. Bahkan gak pernah sekali pun aku berfikir mau berhubungan sama dia." Jawab Gavin dengan cepat.
Icha yang mendengar jawaban Gavin pun merasakan dadanya lega. Tangisnya sudah mereda. Tapi entah mengapa Icha belum mau melepaskan pelukannya pada Gavin. Ia merasa sangat nyaman hingga rasanya tidak mau melepaskannya.
"Kenapa Gavin selalu bisa buat Icha tenang dan nyaman." Lirih Icha dengan nada pelan meskipun masih bisa didengar oleh Gavin.
"Gavin, boleh tolong nyanyiin Icha lagu? Icha pengen denger suara Gavin." Kata Icha.
Gavin terdiam, memikirkan lagu apa yang akan ia nyanyikan untuk Icha. Setelah mendapatkan lagu apa yang pas untuk ia nyanyikan, Gavin pun menggenggam tangan Icha. Laki-laki itu membuka bibirnya dan mulai menyanyikan lagu Bukti.
Satu hal yang mudah
Kau berhasil membuat
'Ku tak bisa hidup tanpamu
Menjaga cinta itu bukanlah
Satu hal yang mudah
Namun sedetik pun tak pernah kau
Berpaling dariku
Beruntungnya aku
Dimiliki kamu
Kamu adalah bukti
Dari cantiknya paras dan hati
Kau jadi harmoni saat kubernyanyi
Tentang terang dan gelapnya hidup ini
Kaulah bentuk terindah
Dari baiknya Tuhan padaku
Waktu tak mengusaikan cantikmu
Kau wanita terhebat bagiku
Tolong kamu camkan itu*
Suara Gavin sangat merdu terdengar di telinga Icha meskipun tidak diiringi suara musik apapun. Laki-laki itu menyanyikan lagu tersebut dengan sangat berperasaan. Sesekali ia mengelus rambut Icha dengan tangan lainnya. Mengungkapkan perasaannya berdasarkan sentuhannya yang selalu berhasil membuat Icha nyaman. Bahkan, Icha melupakan kejadian yang tadi sempat membuatnya sedih.
*Meruntuhkan egoku bukanlah
Satu hal yang mudah
Dengan kasih lembut kau pecahkan
Kerasnya hatiku
Beruntungnya aku
Dimiliki kamu
Kamu adalah bukti
Dari cantiknya paras dan hati
Kau jadi harmoni saat kubernyanyi
Tentang terang dan gelapnya hidup ini
Kaulah bentuk terindah
Dari baiknya Tuhan padaku
Waktu tak mengusaikan cantikmu
Kau wanita terhebat bagiku
Tolong kamu camkan itu
Kamu adalah bukti
Dari cantiknya paras dan hati
Kau jadi harmoni saat kubernyanyi
Tentang terang dan gelapnya hidup ini
Kaulah bentuk terindah
Dari baiknya Tuhan padaku
Waktu tak mengusaikan cantikmu
Kau wanita terhebat bagiku
Tolong kamu camkan itu
Tolong kamu camkan itu*
Gavin mulai berhenti bernyanyi. Ia melihat Icha sudah tertidur dipelukannya. Gavin menyingkirkan helai rambut yang menutupi wajah cantik Icha. Dipandangnya wajah itu lama-lama. Perlahan, Gavin mencium kening Icha, sebagai penutup lagu yang tadi ia nyanyikan dan ungkapan perasaannya pada gadis yang saat ini berada di dekapannya.
"Aku cinta kamu, Cha." Bisik Gavin meskipun ia yakin Icha tak akan mendengarnya.
TO BE CONTINUE
HAIII
Gimana nih menurut kalian Gavin dan Icha di part ini heheh??? Yuk Comment pendapat kalian dibawah😉😉