
Keesokan paginya, Icha berangkat ke sekolah bersama Gavin. Degup jantung gadis itu berirama cepat karena gugup. Apalagi ketika motor Gavin baru saja memasuki parkiran SMA Dinata. Banyak murid yang berada di sekeliling mereka menatap kedatangan keduanya. Terlebih kearah Icha yang sejak tadi menundukkan kepala.
"Ada apa?" Tanya Gavin saat melihat kearah gadis itu.
Icha menggelengkan kepalanya. "Gak apa-apa." Jawabnya masih dengan kepala menunduk.
Gavin menarik tangan Icha untuk berjalan bersamanya. Di sepanjang koridor, banyak sekali bisikan-bisikan yang mencemooh Icha. Apalagi setelah melihat Icha datang bersama Gavin. Gavin yang sejak awal menyadari ketidaknyamanan Icha pun berdecih kesal. Ia berhenti di tengah koridor dan menatap tajam kearah murid yang sejak tadi membicarakan Icha.
"Apa kalian disekolahkan hanya untuk mengurusi kehidupan orang lain?" Suara dingin Gavin membuat semua orang di koridor terkejut. Mereka terkejut antara baru kali ini mendengar Gavin berbicara sepanjang itu atau dengan kalimat berisi sindiran keras dari laki-laki itu.
"Lebih baik tutup mulut kalian dari pada berbicara sesuatu yang tidak kalian tau kebenarannya. Apa uang spp disini kurang mahal untuk melatih mulut kalian supaya lebih pantas disebut sebagai orang yang berpendidikan?" Suara Gavin kembali terdengar dengan sangat dingin dan penuh ancaman. Jangan lupakan aura menyeramkan dan tatapan tajam yang kini ia berikan pada semua murid yang tampak ketakutan.
Koridor yang awalnya ramai karena pembicaraan mereka tentang Icha pun akhirnya menjadi hening. Tidak ada yang berani menjawab perkataan Gavin. Aura menyeramkan laki-laki itu terasa sangat mengintimidasi semua murid di koridor.
"Bersikaplah layaknya orang berilmu yang tidak mudah percaya gosip murahan yang kebenarannya belum bisa dipastikan." Ucap Gavin sebelum menarik pelan tangan Icha untuk melanjutkan langkah mereka menuju kelas. Keduanya tidak menyadari ada seseorang yang menatap kearah mereka dengan tatapan tajam dan penuh kebencian.
"Gavin, seharusnya Gavin gak perlu ngomong gitu ke mereka." Icha menahan tangan Gavin saat keduanya hampir sampai di kelas.
"Lalu aku harus apa? Biarin mereka ngomongin sesuatu yang buruk tentang kamu? Gak Cha. Apa yang aku lakukan sudah benar." Gavin bersandar di dinding sambil menyilangkan kedua tangannya di dada, menatap kearah Icha yang juga menatap kearahnya.
"Tapi Icha gak apa-apa kok, itu juga hak mereka mau berpendapat seperti apa tentang Icha." Jawab Icha dengan nada pelan. Ia dapat merasakan tatapan tajam Gavin yang sangat menusuk kearahnya.
"Jangan mau ditindas Cha, kamu punya harga diri yang harus kamu bela. Baik boleh, tapi jangan lemah. Itu akan buat orang semakin suka menindas kamu." Gavin memegang kedua bahu Icha.
Mendengar perkataan Gavin, diam-diam Icha membenarkan dalam hatinya. Ia hanya bisa diam saja tanpa menjawab padahal dalam hatinya ia sangat membenarkan bahwa dirinya adalah sosok yang lemah.
"Udah, jangan dipikirin lagi. Ayo ke kelas. Bentar lagi bel." Gavin beralih menggenggam tangan Icha dan membawa gadis itu masuk kedalam kelas.
"Wahhh nempel banget nih pagi-pagi. Pj nya dong." Teriak seseorang saat Gavin dan Icha masuk kedalam kelas. Mendengar suara itu, semua murid di kelas kecuali Dara dan Rere langsung berteriak "Huu".
"Dara!" Tegur Rere tak suka dengan sikap sepupunya itu. Dara yang ditegur Rere hanya menunjukkan sikap bodoamatnya.
Dara melangkah mendekati Icha dan Gavin yang masih berada di depan kelas. Semua murid di kelas itu menatap ingin tau kearah ketiganya. Melihat kedatangan Dara, Icha beralih memegang kuat lengan Gavin dan bersembunyi dibelakang tubuh tegap laki-laki itu.
"Awas." Kata Gavin dengan nada dinginnya. Dara menghalangi jalannya dengan Icha sehingga mereka tidak bisa lewat. Mendengar suara Gavin membuat Dara tersenyum miring.
Dara menatap kearah Icha yang masih bersembunyi di belakang tubuh Gavin. "Lo maruk ya Cha, gak cuma bang Teza, ternyata lo juga mau Gavin. Apa gak cukup satu aja untuk lo? Seberapa kurang sih perhatian yang dikasih orang tua lo sampe lo ngemis perhatian ke dua cowok sekaligus?" Tanya Dara dengan nada penuh sindiran membuat semua murid kembali berbisik tentang Icha.
"Kenapa Re? Gue cuma nanya aja kok ke dia. Salah gitu?" Dara tersenyum miring menatap Icha yang hanya diam tak berkutik di belakang tubuh Gavin.
"Ayo Cha." Gavin menarik Icha untuk berjalan kearah yang lain dan menuntun Icha untuk duduk dibangku gadis itu. Gavin melihat kearah bangku yang terletak disebelah Icha yang masih kosong, berarti Safira belum datang.
"Gue heran deh, lo pake pelet apa si Cha sampe tiga most wanted Dinata ngejar-ngejar lo? Gue juga mau dong pake pelet yang sama." Ucapan Dara membuat Gavin spontan menggebrak meja dengan keras. Kedua mata itu menatap tajam kearah Dara.
"Gue dari tadi udah coba sabar, tapi lo malah makin ngelunjak!" Gavin berjalan kearah Dara dan berdiri di depan gadis itu.
"Denger baik-baik. Sekali lagi lo nyebarin fitnah soal Icha, gue gak akan segan-segan balas semua dengan hal yang sama. Camkan itu!" Meskipun raut wajahnya datar, semua orang dapat merasakan kemarahan dalam diri Gavin. Setelah mengatakan hal tersebut, Gavin berjalan kembali menuju bangku Safira. Sebelum duduk, dia menolehkan kepalanya ke samping.
"Gosip yang lo sebar di mading terlalu murahan. Lebih baik lo perbaiki sebelum gue sebar aib lo ke murid Dinata biar mereka tau siapa lo sebenarnya." Kata Gavin dengan nada penuh peringatan lalu melanjutkan jalannya menuju bangku Safira.
Dara berdecak kesal kemudian melangkah kembali menuju bangkunya. "Sial!" Umpatnya. Bagaimana mungkin laki-laki itu bisa tau bahwa ia yang menyebarkan gosip itu. Bahkan telinganya mulai panas ketika mendengar bisikan teman sekelasnya yang membicarakan tentangnya.
"Awas aja lo Cha!" Batin Dara sambil menatap Icha dengan penuh kebencian.
"Icha?" Panggil Gavin saat ia sudah duduk di bangku Safira. Pandangan gadis itu terlihat kosong. Gavin menarik tangan Icha, menggenggamnya dan mengusapnya pelan.
"It's okay." Bisik Gavin sambil mengelus rambut Icha dari samping.
Dara yang melihat itu pun diam-diam mengepalkan tangannya dibawah meja. Ia bahkan menatap penuh rasa iri dan kebencian pada Icha.
"Tumben kelas sepi." Kata Safira yang baru saja datang terheran ketika mendapati kelasnya yang selalu ramai tiba-tiba menjadi sepi seperti perpustakaan.
"Lo duduk di kursi gue." Kata Gavin saat Safira mendekat. Meskipun banyak pertanyaan yang hinggap di kepalanya, Safira tetap menuruti dan duduk di kursi Gavin.
"Sudah ya, jangan dipikirin lagi." Ucap Gavin dengan nada lembut. Ia tau apa yang membuat Icha seperti itu. Tidak seperti yang Dara katakan, kasih sayang yang diberikan kedua orang tuanya pada Icha sangat melimpah. Belum lagi dari kedua kakak kembarnya, Kenzo dan Kenzi. Ditambah Teza, Gavin, Rio dan kedua sahabat gadis itu. Icha terlalu banyak dilimpahkan kasih sayang. Hatinya sangat lembut dan menyebabkannya lemah jika mendapatkan sebuah kekasaran seperti tadi. Untung saja ada dirinya. Dalam hati, Gavin berjanji akan selalu menjaga gadisnya ini.
"Makasih ya Gavin." Icha berucap dengan pelan. Meskipun hatinya masih sakit mendengar bisikan demi bisikan yang terus menerus terbayang dipikirannya, setidaknya Icha bisa sedikit merasa tenang. Ia yakin Gavin akan menjaganya dan ia harus belajar menjadi kuat seperti yang dikatakan oleh laki-laki itu.
TO BE CONTINUE
Serem banget deh ya Gavin kalo lagi marah😱