
Seminggu telah berlalu. Belum ada perubahan dari Gavin sejak minggu lalu. Kedua mata itu masih tertutup hingga sekarang. Ujian sekolah pun sudah selesai hari ini. Setiap hari setelah ujian, Icha selalu menemani Gavin di rumah sakit. Ia selalu membawa bunga mawar untuk dipajang di nakas setiap kali ia datang berkunjung. Seperti saat ini, Icha baru saja masuk kedalam pintu ruangan Gavin dan menemukan Satria di dalam.
"Hai Satria!" Sapa Icha menuju kearah nakas dan mengganti bunga yang dibawanya kemarin lalu menggantinya dengan yang baru.
"H-hai.. Cha." Balas Satria tampak gugup.
"Ada apa? Kenapa gugup gitu?" Tanya Icha mengangkat alisnya curiga.
Satria langsung tergagap, secepat mungkin ia memasang wajah meyakinkannya agar Icha tidak curiga. "Gak apa-apa Cha. Gue pamit ya, ada urusan soalnya."
Icha yang sedang menarik kursi untuk diletakkan di sebelah ranjang Gavin pun menoleh kearah Satria. "Cepet banget. Kalo gitu hati-hati ya." Balas Icha tanpa curiga sedikitpun.
Satria mengangguk dan berlalu menuju pintu. Sebelum ia membuka pintu, Satria menoleh kebelakang, menatap Gavin dengan pandangan yang sulit diartikan hingga kembali melanjutkan langkahnya untuk keluar.
"Gavin, udah seminggu nih. Gak capek apa tidur terus? Ujian udah selesai loh, Gavin gak mau bangun untuk ikut ujian susulan?" Icha berbicara sendiri sambil menatap sendu kearah Gavin.
Icha meraih tangan Gavin dan digenggamnya. "Gavin tau gak, tadi Icha bisa ngerjain soal penjasnya. Soalnya kebanyakan tentang basket dan Icha inget karena Gavin pernah ngajarin Icha waktu itu. Semoga aja nilai Icha bagus deh." Icha terdiam sebentar. Ia mengusap sudut matanya yang telah mengeluarkan air mata.
"Gavin kapan bangun? Icha kangen banget. Apa Gavin gak kangen sama Icha mangkanya sampe sekarang tidur terus? Gavin inget kan terakhir kali kita ketemu pas prom. Gavin bilang cinta sama Icha tapi Icha gak bisa jawab. Sekarang, Icha bakal jawab. Icha cinta sama Gavin. Bangun dong, jangan tinggalin Icha sendiri. Siapa yang bakal hibur Icha pas lagi sedih kalo bukan Gavin?" Lirih Icha membaringkan kepalanya diatas ranjang sambil masih terus menggenggam tangan Gavin. Tanpa Icha sadari, setetes air mata keluar dari sudut mata yang masih terpejam itu.
Icha terus menerus menangis sendirian dalam ruangan rawat Gavin. Karena kelamaan menangis, ia merasakan matanya berat. Memang benar jika kita akan merasakan kantuk sesudah menangis. Perlahan namun pasti, Icha mulai terlelap. Sebelum kesadarannya benar-benar hilang, Icha merasakan elusan di kepalanya.
Dua jam telah berlalu, Icha terbangun dari tidurnya. Ia menatap Gavin yang masih saja tertidur. Lalu matanya melihat kearah Tante Nita yang sedang duduk di sofa sambil memainkan handphone. Icha berdiri, menghapus sisa air matanya dan berjalan mendekati ibu dari orang yang sangat ia cintai itu.
"Icha? Sini duduk sebelah tante, pasti kepala kamu sakit kan karena posisi tidurnya gak nyaman tadi." Tante Nita menepuk sofa kosong di sebelahnya, bermaksud menyuruh Icha duduk disana.
"Tante sejak kapan datang kesini? Kenapa gak bangunin Icha?" Tanya Icha setelah duduk di sebelah Tante Nita.
"Belum lama kok. Lagian tidur kamu pules banget jadi tante gak tega banguninnya." Tante Nita mengelus pelan rambut Icha. Ia begitu menyayangi Icha dan sudah menganggap gadis itu seperti anaknya sendiri.
"Gimana kabar mama sama papa kamu?"
"Alhamdulillah baik kok tante." Balas Icha.
Icha dan Tante Nita pun melanjutkan pembicaraan mereka dengan membahas banyak hal. Mereka memang sudah sangat akrab. Obrolan mereka terhenti ketika terdengar suara deringan handphone di saku seragam Icha. Icha meminta izin pada Tante Nita untuk mengangkat telfon dan berjalan keluar ruangan.
"Halo."
"Halo Cha, ini Bang Kenzi."
"Iya ada apa bang?"
"Bang Kenzi baru aja dari rumah temen, kebetulan lewat rumah sakit. Sekarang abang udah di parkiran, kamu sekalian aja pulangnya sama abang. Abang tunggu di mobil."
"Iya, Icha mau pamit dulu sama Tante Nita."
Sambungan itu diputus oleh Icha. Ia pun kembali masuk ke dalam ruangan dan melihat Tante Nita berdiri di sebelah ranjang Gavin. Wajah Tante Nita tampak gugup saat melihat kedatangan Icha tapi hal itu tidak disadari oleh Icha.
"Siapa yang nelfon Cha?" Tanya Tante Nita.
"Bang Kenzi, tan. Icha pamit pulang dulu ya, tolong cepet kabarin Icha kalo Gavin sadar." Icha mengambil tasnya yang berada di sofa dan berjalan mendekati ranjang Gavin untuk menyalami Tante Nita.
"Gavin, Icha pulang dulu ya. Besok Icha kesini lagi, cepet sadar ya.. Icha kangen." Kata Icha pada Gavin sebelum pergi meninggalkan ruangan.
Icha berjalan menuju parkiran dan mencari mobil Kenzi. Ketika ia sudah menemukannya, Icha langsung menuju kesana dan masuk kedalam mobil.
"Vanilla Latte." Kenzi menyondorkan cangkir plastik pada Icha.
"Thank you." Icha menerima minuman itu dan meminumnya.
Kenzi menyalakan mobilnya dan menjalankannya keluar dari parkiran rumah sakit. Di mobil, hanya terjadi keheningan diantara keduanya. Icha memang menjadi sedikit lebih pendiam dari pada sebelumnya semenjak Gavin koma.
"Cha, lusa abang berangkat ke Australia." Kata Kenzi memecahkan keheningan diantara keduanya.
Icha menoleh kearah kakak laki-lakinya itu. "Sama Bang Kenzo?" Tanya Icha.
Kenzi menggelengkan kepala. "Kenzo tetep di Indo. Cuma abang yang pergi. Lagian Kenzo harus disini untuk jagain kamu."
"Icha bakal kangen abang." Lirih Icha.
"Abang juga." Balas Kenzi lalu mengelus pelan puncak kepala Icha dengan tangan kirinya.
***
Keesokan harinya, Icha berjalan menuju toko bunga yang berada dekat dengan rumahnya. Bunyi bel terdengar ketika Icha membuka pintu berwarna putih itu. Wangi bunga langsung menyapa hidungnya. Icha berjalan mendekati Salsha, teman baru nya yang merupakan penjaga toko bunga.
"Hai Sal!" Sapa Icha.
Salsha yang tadinya sedang menata bunga pun menoleh kearah Icha dan tersenyum. "Mawar merah seperti biasa?"
Icha mengangguk. "Ya.."
Salsha pergi menuju tempat bunga mawar berada dan membungkusnya untuk Icha. Sambil menunggu pesanannya, Icha menatap keseliling toko bunga. Sesekali ia memegang bunga yang berada disana dan mencium wanginya.
"Pesananmu." Salsha menyondorkan bunga mawar yang sudah dibungkus kepada Icha. Icha menerimanya dan memberi bayaran.
"Pacar mu itu belum bangun juga?" Tanya Salsha.
"Belum."
"Sabar ya Cha, aku yakin dia pasti bakal bangun." Salsha berusaha menyemangati Icha.
Icha tersenyum hambar. Sudah banyak orang yang mengatakan hal itu kepadanya, tapi hingga sekarang belum ada perubahan dari Gavin.
"Makasih Sal. Icha pergi dulu ya." Icha berjalan keluar dari toko bunga.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Salsha ramah.
"Bunga mawar merah, dibungkus."
"Baik."
Disisi lain, Icha turun dari ojek online yang tadi dipesannya. Ia menatap gedung rumah sakit yang selama seminggu ini selalu dilihatnya. Icha berjalan masuk kedalam dan mencari ruangan Gavin. Saat menemukannya, Icha mendorong pintu itu. Ketika melihat kedalam, Icha spontan langsung menjatuhkan bunga yang tadi dipegangnya.
"Gavin?" Icha masuk kedalam, mencari keberadaan Gavin yang sudah tidak ada lagi diatas ranjang rumah sakit itu.
Icha berjalan kearah nakas yang kini kosong. Beralih ke sofa dan laci yang berada di nakas, Icha membuka semua tempat termasuk kamar mandi tapi hanya kekosongan yang ia dapatkan.
"Gavin.. Gavin pasti sudah sadar." Icha keluar dari ruangan. Beruntung sekali, seorang suster lewat di depan ruangan dan langsung dicegat oleh Icha.
"Sus, pasien di ruangan ini kemana ya?" Tanya Icha.
"Pasien itu sudah keluar tadi pagi."
Icha tersenyum senang mendengar itu. "Makasih ya sus."
Suster itu mengangguk dan berjalan kembali.
"Gavin sudah sadar." Icha tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya. Ia lalu pergi tergesa-gesa keluar dari rumah sakit.
"Taxi!" Icha melambaikan tangannya pada Taxi yang baru saja lewat di depannya. Dengan perasaan gembira, Icha masuk dan menyebutkan alamat rumah Gavin.
Setiap detiknya dalam perjalanan itu terasa sangat lama bagi Icha. Ayolah, dia sangat tidak sabar bertemu kembali dengan Gavin. Bahkan dari tadi senyum tidak berhenti merekah di wajahnya. Setelah sampai di depan rumah Gavin, Icha membayar ongkos dan berlari masuk ke rumah.
Rumah itu terlihat sepi. Awalnya Icha ragu untuk mengetuk pintu, melihat keadaan rumah yang seperti tak berpenghuni itu. Namun ia tepis pikiran negatif itu dan mengetuk pintu berwarna coklat di depannya.
"Assalamu'alaikum. Tante Nita, Gavin." Panggil Icha.
Hening. Tidak ada jawaban. Icha mulai resah sekarang. Diketuknya pintu itu lagi tapi masih juga tidak ada jawaban. Icha memutuskan untuk menelfon Gavin. Berkali-kali panggilan itu hanya berdering tanpa dijawab. Bertambah cemas, Icha lanjut menelfon Tante Nita, Satria dan Reno. Nihil. Tidak satupun panggilannya di jawab.
"Neng, orangnya gak ada dirumah." Suara itu membuat Icha menoleh.
Seorang wanita paruh baya berdiri di depan gerbang. Icha menghampiri wanita itu, berharap bahwa ia bisa mendapatkan informasi tentang keberadaan Gavin.
"Yang punya rumah kemana ya bu?" Tanya Icha.
"Kalo itu saya gak tau neng mereka pergi kemana. Tapi mereka baru aja pergi tadi bawa koper besar."
Icha merasakan pasokan udara disekitarnya menipis. Lututnya lemas. Senyum sepenuhnya pudar dari wajahnya. Masih berusaha berpikir positif, Icha pun menatap kembali kearah wanita paruh baya di depannya.
"Laki-laki yang seumuran saya juga ikut pergi bu?"
"Iya neng. Itu si ganteng yang baru keluar dari rumah sakit kan? Tadi dia bawa koper besar sama tas. Kayaknya pindah deh neng."
Icha terdiam. Ia tidak bisa mengatakan apapun. Bahkan, Icha masih berusaha mencerna apa yang terjadi sekarang. Koper? Kemana perginya Gavin? Kenapa tidak ada yang mengabarinya soal Gavin yang sudah sadar? Kenapa ia tidak diberitahu soal kepergian Gavin? Semua pertanyaan itu berputar di kepala Icha.
"Saya pergi dulu ya neng."
Suara ibu itu menyadarkan Icha dari lamunannya. Tak sanggup bicara, Icha hanya membalas dengan anggukan. Masih tidak percaya, Icha berjalan masuk kembali. Digedornya pintu rumah Gavin dengan perasaan yang berkecamuk.
"Tante Nita, Gavin. Icha disini. Kalian di dalam kan? Tolong bukain pintunya untuk Icha." Icha terus menggedor pintu itu tapi hasilnya tetap sama. Tidak ada jawaban dari dalam.
Icha berjalan menuju undakan tangga di teras rumah Gavin dan duduk disana. Kepalanya ia tenggelamkan dalam lipatan tangan. Perlahan, terdengar isakan tangis. Icha menangis. Ia merasa bingung dengan apa yang terjadi sekarang. Apa maksudnya semua ini?
Lama menangis dalam posisi seperti itu, Icha mengangkat wajahnya. Kedua matanya tak sengaja melihat setangkai bunga mawar diatas meja yang berada di teras rumah Gavin. Icha berjalan menghampiri meja itu. Ada surat yang diletakkan dibawah bunga mawar. Diambilnya bunga mawar merah itu dan dihirupnya. Kemudian Icha menatap surat itu dan dibukanya. Itu tulisan Gavin.
_____________________
Dear Icha,
Hai Cha. Apa kabar? Semoga kamu sehat selalu ya..
Saat kamu baca surat ini, aku pasti sudah gak ada disini lagi. Aku harus pergi Cha. Maaf. Maaf karena aku meninggalkan kamu. Maaf karena aku pergi tanpa pamit. Aku tau itu semua salah, tapi aku gak punya pilihan. Aku harus pergi.
Aku harap kamu bisa menjalani hari-hari tanpa aku Cha, seperti yang kamu lakukan tujuh hari terakhir. Jangan bersedih lagi, aku gak akan sanggup ngeliat kamu sedih. Sebenarnya, aku sudah sadar dari koma kemarin dan aku mendengar semua keluh kesah kamu. Maaf aku pura-pura tidur dan mengancam Satria dan Mama supaya mereka gak ngasih tau hal itu ke kamu. Aku cuma gak mau ngeliat kamu sedih dengan kepergian aku.
Aku senang karena tau kamu juga cinta sama aku Cha. Itu kalimat terindah yang pernah aku dengar. Aku sangat bahagia. Tapi juga sedih. Kenyataannya, aku harus pergi. Jaga diri kamu baik-baik Cha, aku akan selalu rindu kamu. Jangan lupakan aku.. Sekali lagi, maaf. Aku cinta kamu. Tunggu aku, aku pasti akan kembali.
Love, Gavin.
________________
Icha jatuh berlutut diatas lantai teras. Tubuhnya lemas sehingga tidak bisa menopang berat badannya lagi. Air mata mengalir deras dari matanya. Surat dan bunga itu dibuangnya sembarang arah.
"Gavin gak mungkin pergi. Gak mungkin!" Icha tampak histeris sambil menutup kedua telinganya.
"Semua ini pasti bohong." Icha mengeluarkan handphonenya dan kembali menelfon Gavin. Tetap saja, panggilannya tidak masuk. Icha menggeram kesal dan membanting handphonenya asal.
"Gak mungkin! Kenapa Gavin? Kenapa ninggalin Icha disaat Icha sudah sadar perasaan Icha sama Gavin? Apa salah Icha?" Tangis Icha terdengar pilu.
Icha terus menangis. Menangis karena takdir yang sudah mempermainkannya. Menangis karena kepergian orang yang dicintainya. Bahkan Icha tidak tau kemana tujuan Gavin dan alasan laki-laki itu pergi. Semua terasa sangat membingungkan dan kejadian hari ini terus menerus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
Apa salahnya? Kenapa ia harus mendapatkan semua ini? Hatinya sangat sakit. Seminggu yang lalu, Gavin masih bersamanya. Hingga kabar menyedihkan datang. Laki-laki itu kecelakaan dan koma. Semenjak itu, Icha sedih terus menerus dan berusaha tegar menunggu Gavin sadar dari komanya. Lalu, Icha sadar akan perasaannya. Ia mencintai Gavin. Sangat. Tapi hari ini, kenyataan seolah menamparnya. Orang yang dicintainya, pergi meninggalkannya sendiri dengan pertanyaan yang tidak bisa ia temukan jawabannya. Hatinya hancur. Jika tau jatuh cinta akan sesakit ini, Icha akan memilih untuk tidak pernah mencintai.
TAMAT
AKHIRNYA TAMAT JUGAAAA
Sebenernya aku mau bagi ini jadi dua part tapi biar sekalian jadinya aku jadiin satu part deh hehehe. Gimana menurut kalian endingnya? Epilognya nanti menyusul yaaaa