
๐น๐น๐น
"Hiks... Hiks... "
"Aku tidak menyukai ini, Nick. Bagaimana bisa melihatmu klimaks aku merasa berdebar!"
"Dan apa ini? Aku menjadi panas dingin saat melihatmu yang tampan!"
Kate terus berbicara sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena enggan bertatapan dengan Nick yang tampan yang akan membuatnya berpenyakitan.
Yang mana membuat Nick terkekeh geli melihat tingkah Kate. Sepertinya dia tahu penyakit yang dialami Kate dari gejala-gejalanya adalah penyakit jatuh cinta.
"Jadi kau sudah merasakan debaran itu, Kate?" goda Nick dengan mendekatkan dirinya.
Kate terus mundur ke belakang merasa Nick mendekatinya. Demi Tuhan, jantungnya berdegup semakin kencang apalagi aroma maskulin Nick yang menyeruak di hidungnya membuat Kate merasa melayang ke udara. Kate baru menyadari jika jatuh cinta akan membuat semua panca inderanya akan lebih sensitif.
"Jangan dekat lagi, Nick. Aku bisa mati!" pinta Kate yang tubuhnya sudah membentur dinding.
Nick tetap mendekat dan mengukung Kate hingga keduanya tidak berjarak lagi dalam posisi pepet maksimal.
Nick menjauhkan tangan Kate yang menutupi wajah blaster Inggris-Korea itu. Tapi Kate tetap menutup matanya.
"Buka matamu, Kate," bisik Nick di telinga Kate sambil menggigit daun telinganya.
Dan itu sukses membuat Kate menjadi sesak nafas. "Hosh.. hosh.. hosh.."
Nafas Kate tersengal apalagi saat Nick membelai lembut wajahnya dia merasa seperti terkena sengatan listrik.
"Masih belum mau buka mata, hem?" ucap Nick lagi.
Kate menggeleng. "Ketampananmu membuatku berpenyakitan, Nick! Aku tidak mau melihatnya!"
Melihat Kate yang seperti itu membuat Nick semakin bersemangat menggodanya. Diraihnya salah satu kaki Kate dan Nick menekuknya disana.
"Bagaimana kalau kita bermain satu ronde? bukankah itu sangat menyenangkan!"
Kate menggeleng kuat. "Nick, jika kau mengatakan hal seperti itu membuatku semakin memanas seperti kepiting rebus. Bagaimana ini, kenapa aku jadi malu!"
Nick semakin terkekeh. "Cepat buka matamu, Kate! Atau aku akan membuka bajumu disini!"
Mendengar itu Kate malu bukan main, akhirnya perlahan dia membuka matanya dan menatap wajah Nick yang membuatnya gelisah.
DEG DEG DEG
Debaran itu semakin kuat Kate rasakan hingga sedetik kemudian...
CUR!
Darah dari hidung Kate keluar, Kate mimisan!
Yang mana membuat Nick tambah geleng kepala. "Parah... Parah... "
๐น๐น๐น
Hingga makan malam tiba, Kate masih enggan keluar kamar. Dia sangat tidak menyukai reaksi tubuhnya yang seperti ini. Dia pikir setelah jatuh cinta pada Nick dia akan semakin bergairah dan mampu menandingi permainan Nick yang buas tapi siapa sangka justru dia merasakan sebaliknya dia jadi sangat malu jika berhadapan dengan Nick sekarang.
"Apa jatuh cinta rasanya memang aneh begini," gumam Kate frustasi.
Tok! Tok! Tok!
Tiba-tiba suara ketukan pintu mengalihkan pikirannya yang kacau.
"Masuk!" teriak Kate karena pintu memang tidak dikunci.
"Mommy, are you okay?"
Kate menggeleng. "Not okay Mich!"
"Ayo kita makan malam, daddy sudah menunggu. Kata pelayan mommy belum makan seharian," ajak Mich dengan menarik tangan Kate.
"Aku merasa tidak lapar Mich! Aku tiba-tiba tidak mempunyai nafsu makan, dan terus membayangkan ketampanan daddy-mu yang membuatku kenyang!"
"Wow! Sakit apa itu? sangat aneh," ucap Mich polos.
"Iya kan aneh kan, huhuhu... " Kate memeluk tubuh Mich yang kecil sambil bergaya menangis.
Sementara Nick yang menunggu mereka dimeja makan menjadi gusar pasalnya keduanya tak kunjung datang menghampirinya.
Lalu Nick mengulum senyumnya saat mengingat bagaimana tingkah Kate yang jatuh cinta padanya.
"Ck, dasar gadis liar yang bodoh!"
Nick ingin menyusul mereka di kamar tapi baru saja berdiri ponselnya berdering dan nama Lusy yang tertera disana. Karena sudah beberapa kali mengacuhkan panggilan dari mommy-nya akhirnya kali ini Nick menjawab panggilan itu.
"Halo, Mom," jawab Nick.
"Nick, what are you doing! Kau selalu menolak panggilan mommy! Pasti karena gadis itu kau jadi seperti ini, iya kan!"
Inilah yang membuat Nick malas menerima panggilan dari Lusy karena mommy-nya itu tidak berhenti membahas masalah Kate.
"Mom, jika terus membahas Kate lebih baik kita akhiri panggilan ini," ucap Nick kemudian.
"Kau lebih membela gadis itu Nick! Aku sudah menyuruhmu memecatnya tapi apa ini sekarang kau malah tinggal bersama dengannya. Dia pasti menggodamu, iya kan!"
Nick menghela nafasnya mencoba untuk tidak emosi. "Mom, aku akan menikahi, Kate!"
"What? Apa aku tidak salah dengar? Sampai kapanpun aku tidak akan merestui kalian!"
TUT!
Panggilan dimatikan sepihak oleh Lusy yang mana membuat Nick mengusap wajahnya kasar.
Bersamaan dengan itu Kate dan Mich turun. Yang mana membuat Mich heran kenapa daddy-nya tampak kusut. Dia berjalan mendekati Nick yang masih berdiri di tempatnya saat menerima panggilan tadi.
"Dad, are you okay?"
Nick menoleh dan mengusap rambut putranya itu. "It's Okay. Ayo kita makan!"
Lalu Nick melirik Kate yang berjalan dengan tertunduk karena malu dengan dirinya sampai dia terbentur meja.
"Akhhh... " Kate meringis dengan memegang betisnya yang terbentur kaki meja.
Tanpa Kate duga, dia menerima pelukan tiba-tiba dari Nick.
Nick memeluk Kate dengan mengelus punggung gadis itu. "Semua akan baik-baik saja Kate!" ucap Nick dengan mengecup puncak kepala Kate dengan lembut.
PLUK!
Tiba-tiba Kate tak sadarkan diri dipelukan Nick karena tidak bisa mengontrol lagi debaran jantungnya.
"Kate... Kate... " panggil Nick dengan menepuk-nepuk pipi gadis itu.
Nick mendengus pelan. "Sepertinya aku harus menjadi dokter cinta!"
๐น๐น๐น