Oh My Salsa

Oh My Salsa
bab 8



“Ni-Nino!” panggil Salsa dengan terbata, dia tidak menyangka ternyata Nino yang menyelamatkannya


“ Bagaimana kau bisa membawaku kemari?” Tanya Salsa lagi dengan suara yang super pelan.


Nino terdiam, diia bingung untuk menjawab. “Tadi, aku melihat mobilmu terparkir dan menghalangi jalan, hingga aku turun dari mobilku dan menyusul ke mobilmu. Maaf jika aku lancang memecahkan kaca mobil milikmu,” jawab Nino hingga Salsa mengangguk, dengan helaan nafas lega.


“Terima kasih, Nino. jika tidak ada kau, mungkin aku tidak akan selamat," ucap Salsa lagi. Nino terdiam, tatapan Nino pada Salsa masih tetap sama, tidak ada yang berubah dia tetap menatap Salsa dengan tulus. Tapi Salsa tidak menyadari tatapan lelaki yang ada di depannya ini.


"Nino!” panggil Salsa.


“Terima kasih atas bantuanmu, tapi bisakah kau tinggalkan aku. Aku tidak enak pada Anak dan istrimu."


“Hah, anak dan istri?” ulang Nino membuat Salsa mengerutkan keningnya.


" Oh iya baiklah.” Nino langsung menyadari ucapannya barusan, kemudian meralatnya dan setelah itu dia pun langsung keluar dari ruang rawat.


Nino mendudukan diri di kursi tunggu, lelaki itu terdiam sejenak tidak langsung pulang. Dia bingung harus menghubungi siapa untuk menjaga Salsa, dia juga sudah hilang kontak dengan semua keluarga Salsa kecuali Kalindra.


Tidak mungkin juga dia memberitahukan kondisi Salsa pada Kalindra yang jelas belum mengerti apa-apa. Tapi dia juga tidak mungkin meninggalkan salsa di sini, hingga beberapa saat berlalu Nino terpikirkan sesuatu lelaki itu pun langsung menelepon seseorang yang tak lain, Alice Kakak Salsa, karena dia mengingat masih menyimpan nomer Alice.


Satu jam kemudian


Terdengar suara orang berlari dan ternyata itu adalah Alice, hingga Nino yang sedang duduk langsung bangkit dari duduknya. “Apa yang terjadi, kenapa kau bisa bersama Salsa?” tanya Alice yang menatap tak suka, tentu saja karena apa yang pernah terjadi di masa lalu, dan Nino pun menjelaskan semuanya.


“Aku masih membencimu karena apa yang kau lakukan, tapi aku berterima kasih karena kau sudah membawa Salsa ke rumah sakit,” ucap Alice, Nino menunduk kemudian mengangguk.


“Kalau begitu aku pergi.” pamit Nino. Setelah mengatakan itu Nino pun lebih memilih berbalik, kemudian dia berjalan meninggalkan Alice dan Alice pun langsung masuk ke dalam.


“ Salsa!” panggil Alice.


Salsa yang sedang melamun langsung menoleh ketika mendengar suara kakaknya. Dia cukup terkejut ketika melihat kedatangan sang Kakak


“Kaka kenapa ada di sini?” Tanya Salsa. Alice langsung menarik kursi kemudian menundukkan diri di sebelah berangkar yang di tempati adiknya


Alice mengerutkan keningnya kala adiknya tampak berbeda. “Salsa, Kenapa Kau tampak kurus. Apa ada yang terjadi?” Alice malah bertanya tentang hal lain, membuat Salsa menggit bibirnya, kemudian menggeleng.


“Tidak ada yang terjadi, Kak,” jawab Salsa, berusaha untuk menormalkan ekspresinya. “Aku sedang mengandung, dan aku drop karena kandunganku lemah.”


“Apa! kau hamil.” Alice terpekik senang ketika mendengar ucapan adiknya


“Kau benar-benar hamil, Salsa?” tanya Alice lagi yang memastikan.


“Hmm, aku mengandung lagi.”


Alice membungkuk, kemudian emeluk adiknya dia begitu bahagia ketika mendapatkan keponakan baru..“Di mana Kevin?" tanya Alice, ketika dia sudah menegakkan tubuhnyaa.


“Oh, kevin sedang ada perjalan bisnis.” Alice mengerutkan keningnya kala ekspresi Salsa tampak berbeda.


“Aku sudah menghubunginya," dusta Salsa hingga Alice septinya percaya.


***


Davika turun dari mobil, cantik itu mau sedikit membanting pintu mobilnya. Entah kenapa dia merasa kesal sepulang dari restoran karena q Aurel tidak banyak berbicara, dia tahu sedikitnya Mungkin wanita paruh baya itu terpengaruh dengan keluarga Salsa.


“Davika kau kenapa?” tanya Nana sang ibu, dia bertanya ketika melihat Davika yang tampak kesal.


Davika mendudukan dirinya di sebelah sang ibu.


“Mom, apa kau tau keluarga Josepin?” tanya Davika Sayangnya dia baru dalam dunia bisnis hingga dia tidak tahu siapa keluarga Josephine


“Josepin?” ulang Nana, hingga Davika mengangguk. Wanita paru baya itu tampak berpikir. Nama Josepin seperti tidak aneh.


“Ah, Josepin. Mommy ingat marga itu."


“Siapa mereka. Apa keluarga mereka lebih kaya dari keluarga kita.” seketika Nana tertawa saat mendengar jawaban Davika, buat membuat Davika mengerutkan keningnya.


“Kenapa Mommy tertawa?” jawab Davika dengan bingung.


“Keluarga Josepin adalah salah satu keluarga yang cukup berpengaruh di negri ini, turunan mereka sangat di segani, apalagi keluarga Josepin berkeluarga dengan dengan Tuan mending keluarga Smith, yang juga sama-sama berkuasa.”


Nana terkekeh, “Kau ini baru di dunia bisnis, mana mungkin kau tau mereka. Lagian kenapa kau bertanya tentang mereka? Jangan bilang perusaan kita berurusan dengan perusahaan Josepin?” Nina menatap Davika dengan tatapan penuh selidik, bisa hancur perusahaan mereka ketika membuat satu kesalahan saja.


“Tidak, bekerja sama dengan mereka pun tidak," jawab Davika. Setelah mengatakan itu Davika lebih memilih untuk meninggalkan sang Ibu membuat Nana menggeleng.


Sampai di kamar, Davika langsung mengeluarkan ponsel dari tasnya. Wanita cantik itu dengan cepat mengetik nama Josephine di Wikipedia dan muncullah beberapa info tentang keluarga Josephine. Setelah melihat semuanya, Davika menjatuhkan ponselnya, dalam sekejap kepercayaan Davika runtuh saat mengetahui semuanya tentang Salsa.


Davika mendudukkan diri di ranjang, tatapan matanya menatap lurus ke depan. Sungguh, dia masih belum percaya dengan apa yang dia lihat. “Jika di keluarga konglomerat. Lalu kenapa dia mau dengan Kevin, bahkan ketika Kevin bersikap semena-mena Kenapa dia tidak melawan,” Davika berbicara lirih.


Bukan dia tidak mengerti dengan apa yang terjadi dengan kehidupan rumah tangga Kevin dan Salsa, jelas dia lebih mengerti karena dia yang menggoda lelaki itu, dan Kevin juga menceritakan semuanya lalu Jika benar Salsa sehebat itu kenapa Salsa tidak mengadukan semuanya begitulah pikir Davika


Tak lama, Davika terpikirkan sesuatu. “Tunggu, bukankah itu bagus. Seharusnya aku tidak menakutkan apapun, toh Salsa juga tidak bertindak.” Walaupun sempat insecure pada Salsa tapi karena berpikir Salsa tidak bertindak tentang kelakuan Kevin, Davika memutuskan untuk tidak menyerah dia akan memepet lelaki itu, apalagi dia sudah menyukai Kevin sejak mereka pertama kali bertemu.


***


Aurel masuk ke dalam rumah, wanita paruh baya itu berjalan dengan langkah yang berat. Tubuh Aurel terasa mengambang, ada rasa gelisah yang dia rasakan apalagi ketika dia mengingat ucapan Salsa di mana Salsa mengisyaratkan pengancaman dan juga yang paling penting dia harus mengembalikan satu set berlian milik besannya.


berlian itu memang sangat berharga fantastis. Dulu, saat ketika akan ada perkumpulan sosialita Aurel meminjam itu pada Mayra. Tapi, sampai sekarang belum dikembalikan, bahkan Maira juga tidak menanyakan itu hingga Aurel tidak berniat untuk mengembalikannya dan ketika Salsa tadi meminta untuk dikembalikan, Aurel merasa bingung.


Memakai berlian itu dia merasa lebih disegani di grup sosialita tempatnya berkumpul, dan bagaimana jika teman-temannya bertanya tentang berlian yang selalu dia kenakan ketika sedang ada acara


Aurel mendudukkan diri di sofa, dia tampak termenung hingga tak lama terdengar suara derap langkah membuat Aurel tersadar, ternyata itu adalah suaminy. Dengan cepat, Aurel pun bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Gevan.


”Dad, kau dari mana saja?” tanya Aurel.


“ Aku baru saja selesai bermain golf.”


“Kau bermain gold sampai selama ini?” tanya Aurel dia menatap suaminya dengan tatapan menyelidik.


“Aku lelah, aku ingin beristirahat,” jawab Gevin, lelaki paruh baya itupun langsung melewati tubuh istrinya begitu saja, membuat Aurel berdecak kesal. Gevin hanya tidak ingin Aurel mencium wangi parfum di tubuhnya, karena tentu saja dia bukan bermain golf, melainkan memadu kasih bersama selingkuhannya


***


Kevin masuk ke dalam rumah, lelaki itu mengerutkan keningnya kala rumah tampak sepi dia juga tidak melihat mobil salsa di parkiran. hingga dia memutuskan untuk masuk ke kamar Kalindra


“ Kalindra!” panggil Kevin ketika em dia masuk ke dalam kamar putranya.


Kalindra yang sedang menelpon seseorang langsung menurunkan ponselnya, ”Rumah tanpa sepi sekali, Mommy ke mana?” tanya Kevin. Rasanya, Kalindra ingin sekali tidak menjawab pertanyaan sang ayah, sebab tadi Salsa sudah menelponnya mengatakan bahwa dia menginap di rumah Alice.


“Mommy menginap di rumah bibi Alice,” jawab Kalindra, hingga Kevin mengangguk-anggukkan kepalanya


“Kau sedang menelpon Siapa?” tanya Kevin.


“Temanku,” jawab Kalindra, melihat reaksi Kalindra yang masih dingin, Kevin memutuskan untuk keluar dari kamar putranya dan ketika Kevin keluar dari kamar Kalindra langsung kembali mengangkat ponselnya lalu melanjutkan panggilannya bersama Nino.


“Baiklah Paman sampai jumpa.”


***


Setelah panggilan terputus, Nino langsung menyimpan ponselnya, kemudian lelaki tampan itu menyandarkan tubuhnya ke belakang. Helaan nafas lega terlihat dari wajah Nino ketika berbicara dengan anak itu, dia merasa senang Setiap berbincang dengan Kalindra.


“Nino!” tiba-tiba terdengar suara sang Ibu hingga Nino dengan cepat bangkit dari duduknya, kemudian berjalan menghampiri ibunya yang berada di kursi roda.


“Momny kenapa keluar, apa Mommy Butuh sesuatu?” tanya Nino. Selama 12 tahun ini, semenjak berpisah dari Salsa, banyak sekali hal yang Nino alami, kehidupan Nino yang segala serba ada harus berubah karena suatu hal.


Tapi, pada akhirnya lelaki itu mampu bangkit. Perlahan, dia sudah bisa mendapatkan apa yang sempat hilang. Tapi, ibunya masih selalu ragu untuk meminta sesuatu padanya.


“Nino, apa kau mempunyai tabungan yang cukup?” tanya Karina.


“Kenapa Mommy bertanya seperti itu, tentu saja ada.” Nino adalah lelaki baik. Dia adalah lelaki yang selalu bersikap hangat pada keluarganya begitupun kedua orang tua Nino yang juga dikenal sebagai pribadi yang sangat baik.


“Mommy boleh meminta uang untuk kontrol besok?” tanya Karina, terlalu banyak yang Nino alami selama 12 tahun ini, walaupun dia tahu keuangan putranya sudah membaik tapi dia tidak berani meminta uang


“Hmm, aku akan memberikan uang cash besok.”


“Ya, sudah kalau begitu Mommy istirahat dulu.” Karina pun menekan tombol yang ada kursi roda kemudian wanita paruh baya itu pun keluar dari kamar Nino, dan setelah itu Nino kembali menundukkan dirinya di kursi.


Saat melamun, tiba-tiba, Nino teringat masa lalunya di mana saat itu dai .... tanpa Nino ketika mengingat masa lalu dimana saat itu dia