
Gengs aku up 2 bab ya. Di paling bawah ada kisah Kalindra sama anak Kevin yang penuh teka teki. Sedih banget deh komennya ga smape 100
Aurel yang sedang mendorong kursi roda Kevin menghentikan langkahnya ketika melihat Davika sedang mengobrol bersama dua laki berjas. rupanya kedua anak dan ibu itu baru saja tiba di apartemen Davika.
“Siapa, dia?" Tanya Aurel, Kevin menoleh.
“Aku tidak tahu,” jawab Kevin. Hingga Aurel langsung melanjutkan langkahnya dan mendekat ke arah Davika.
“Siapa Kalian?” tanya Aurel hingga Davika menoleh. Davika berdecak kesal ketika melihat ibu dan anak itu, apalagi ketika dia tahu ternyata Salsa mengawasinya dan sekarang Davika yakin dia tidak bisa lagi kabur.
“Kau anak buah Salsa?” tanya Kevin hingga kedua orang berjas itu menggangguk.
“Kami akan datang dua hari lagi untuk menjemput kalian. Kalau begitu kami permisi.” Pada akhirnya kedua orang itu pun pamit, rupanya Salsa sudah mengetahui bahwa Davika akan kabur, hingga dia menyimpan beberapa orang di sekitar wanita itu.
Salsa tidak tidak akan melewatkan kesempatan untuk membalas Davika, hidup dengan suami seperti Kevin dan mertua seperti Aurel adalah hukuman yang pas untuk Davika
“ Davika, kau mau ke mana?”!tanya Aurel ketika melihat Davika membawa koper.
Davika tidak membalas, dia malah berbalik begitu saja dan masuk ke dalam apartemennya. Dia berjalan dengan lesu, mengingat hidupnya benar-benar berakhir ketika menikah dengan Kevin sedangkan Aurel dan juga kembali mendorong kursi roda Kevin untuk masuk ke dalam.
“kau ingin lari dari kami?” tanya Aurel ketika menghampiri Davika yang sedang duduk di sofa.
“Diamlah. Aku tidak ingin berbicara, hidupku sudah sungguh sangat rumit dengan kehadiran kalian jadi tutup mulut kalian, jangan bertanya apapun lagi,” balas Davika membuat Aurel berdecak.
“Asal kau tahu, Kevin sekarang kembali menjadi CEO perusahaan. Salsa sudah mengembalikan jabatan Kevin!" Jelas Aurel.
Davika yang mendengar itu langsung menegakkan tubuhnya, wanita cantik itu langsung menatap Kevin, terlihat jelas tatapan itu begitu berbeda dengan sebelumnya, membuat Kevin tersenyum getir. Ternyata benar semua bisa lancar jika dengan harta.
“Benarkah itu?” tanya Davika dengan terbata. Dia menatap Aurel dan Kevin dengan tatapan tak percaya, rasanya tidak mungkin Salsa mau mengembalikan posisi Kevin dan dan kali ini Aurel yang berdecak karena tatapan Davika
“Syukurlah, setidaknya kita tidak perlu hidup kesusahan lagi." Lirih Davika. Rasanya, Aurel ingin berteriak dan memaki calon menantunya karena dengan tanpa tahu malu menantunya mengatakan itu, setelah barusan Davika menghardik mereka.
“Aku memang kembali ke posisiku, tapi bukan berarti aku menjadi seperti dulu," jawab Kevin.
“Apa maksudmu?” tanya Davika, dia menatap Kevin dengan bingung.
“Perusahaanku sudah dibeli oleh orang lain, tapi orang yang membeli perusahaanku masih mempercayakan semuanya padaku, dengan artian kata aku juga menjadi karyawan biasa, hanya saja gajiku lebih besar dari karyawan biasa, tapi gajihku lebih kecil daripada jabatanku dulu. Salsa membebaskan kartu kredit untuk kita pakai, tapi tidak untuk bersenang-senang melainkan untuk kebutuhan sehari-hari dan aku juga akan mulai bekerja ketika kakiku sembuh. Dan aku mohon kerjasama dari kalian, jangan membuat kisruh sekitarku karena aku harus fokus mengembalikan semuanya. Jika kalian ingin hidup seperti dulu maka ikuti aku,” kata Kevin. Kali ini dia berbicara tegas, dia tidak mempunyai waktu lagi untuk mengurus Davika dan ibunya, dia harus tetap fokus mengurus perusahaan dan setelah itu dia akan bangkit lagi.
“Kevin, Mana kartu kreditmu? bukankah sudah diaktifkan oleh Salsa? Mommy ingin tidur di hotel. Mommy tidak mau tidur di sofa lagi," kata Aurel namun dengan cepat Kevin menggeleng.
“Mommy tidak ingat tadi Salsa mengatakan apa? Kartu kredit ini tidak untuk berfoya-foya, aku harus terus mengembalikan kepercayaan Salsa. Apa Mommy ingin hidup bagai pecundang seperti ini dan terus tidak mempunyai apapun?” tanya Kevin.
“Cukup, jangan berdebat lagi!” omel Davika. Barusan dia sempat bersikap manis pada Kevin karena berpikir Kevin sudah kembali menjadi CEO. Tapi, itu tidak lama sikap Davika kembali berubah ketika tau bahwa Kevin sudah tidak memiliki perusahan lagi . Dan rasanya, perdebatan anak dan ibu itu benar-benar membuatnya pusing tujuh keliling.
“Aku ingin istirahat Jangan ganggu aku!”
“Davika biarkan Kevin tidur di ranjang, dia harus segera sembuh agar kembali memimpin perusahaan.” Davika menghela nafas, kemudian menghembuskannya. Lalu setelah itu dia melihat ke arah Kevin yang tampak menyedihkan. Dulu, dia begitu tergila-gila pada lelaki ini, tapi sekarang ....
Dan pada akhirnya, Davika tidak menjawab hingga dia pun langsung bangkit dari duduknya kemudian berbalik, lalu masuk ke dalam kamar begitupun dengan Kevin yang juga mengikuti Davika. Saat ini dia ingin berbaring karena kakinya terasa nyeri akibat benturan tadi saat jatuh dari mobil dan dia tidak mungkin tidur di sofa.
***
“Nino Kau yakin ingin pergi sekarang?” Tanya Salsa ketika Nino akan pulang dari rumah Tomi. Nino haruspergi ke cafe untuk mengurus sesuatu dan juga mengurus peluncuran menu baru. Sedari tadi Salsa merengek ingin ikut. Namun Nino tidak mengizinkan.
Nino ingin Salsa memberikan waktu untuk kalindra dan juga Alona. Apalagi, tadi dia sempat mendekati Alona. Namun, Alona tidak mau mendekat padanya dan dia tidak mau Alona menganggapnya sebagai perebut Salsa
“Hmm, aku harus pergi. Nanti malam aku akan menjemputmu lagi, aku ingin kau menyaksikan peluncuran menu baru. Tapi untuk sekarang habiskan waktumu bersama anak-anak,” jawab Nino.
Bukannya membalas, Salsa malah memeluk Nino hingga Nino membalas pelukan wanita itu. “Sekarang kau lega?” tanya Nino.
“Hmm, aku lega. Bebanku seperti tidak ada lagi,” jawab Salsa. “Apa aku jahat?” tanyanya lagi.
“Tidak, Sayang. kau tidak jahat, kau wanita terbaik.” Salsa mendongak, dia mengangkat kepalanya, dan Nino langsung mencuri ciuman di bibir wanitanya, membuat wajah Salsa memerah
***
Waktu menunjukan ukul 06.00 sore
Salsa mematut diri di cermin memastikan tampilannya sudah rapih. Tadinya, Nino memang akan menjemput Salsa. Tapi mendadak Salsa terpikirkan sesuatu, dia ingin memberikan kejutan untuk lelaki itu. Dia ingin memberikan hadiah launching menu baru di cari Nina
Dan setelah siap, Salsa langsung keluar dari rumah. Sedangkan Kalndra dan Alona sedang pergi bersama kedua orang tuanya .
Dan sekarang, di sinilah Salsa berada di depan Cafe Nino. Beberapa mobil sudah terparkir, karena ternyata cafe Nino sangat ramai. Salsa sedikit gugup dia bingung harus mengatakan apa jika sudah berhadapan dengan Nino. Namun tak lama, Salsa mulai melangkahkan kakinya lalu berjalan masuk
Saat dia masuk tiba-tiba Salsa menghentikan langkahnya kala Nino sedang mengobrol dengan seorang wanita cantik dan itu membuat tubuh Salsa diam mematung, ada yang aneh dengan perasaannya, ketika melihat interaksi Nino. Padahal, Nino hanya sedang berbicara biasa dengan pelanggan cafenya, pelanggan yang Sedari Dulu selalu berkunjung ke cafe miliknya. Tentu saja dia hanya sekedar menyapa dan naasnya Salsa melihat mereka.
Dada Salsa terasa nyeri ketika melihat itu, harusnya dia tidak seperti ini karena dia mengerti profesi Nino ada di bidang kuliner yang pasti mengharuskan untuk dia berinteraksi dengan pelanggan. Tapi tetap saja dia merasa aneh dan ketika melihat itu, lagi-lagi Dia teringat Kevin dan pengkhianatannya. Di titik ini, smSalsa sadar dia terlalu cepat membuka hati, tapi dia belum sembuh dari traumanya dan pada akhirnya Salsa berbalik memutuskan untuk pergi.
jangan di skip ya dan tolong di beli ya 😭 Aku mau jual pdf Lihat Aku Suamiku! Kalau di sebelahkan 80 ribu sampai tamat, kalau beli pdf di aku 40 ribu sampai tamat . minat lewat wa ya di 088222277840
Bab 1. Aku lelah aku ingin menyerah
"Mas, hari ini jadwal kontrol kandunganku. Bisakah mas saja yang memeriksaku," ucapku pada suamiku saat kami sedang sarapan. Ada sedikit ketakutan dan rasa malu saat aku mengungkap keinginanku pada mas Ghani yang tak lain adalah suamiku.
Bagaimana tidak, suamiku yang berkerja sebagai dokter kandungan sama sekali tak mencintaiku, bahkan mungkin tak menganggapku ada. Kami menikah karena terpaksa. Mendiang istri suamiku memaksa kami menikah sebelum kematian datang menyapanya.
Mas Gani menaruh sendok yang sedang di pegang nya. Seperti biasa, dia menatapku dengan tatapan datar.
Mendengar jawaban suamiku. Mataku mengembun. Jawaban yang selalu sama setiap aku mengutarakan keinginanku. Seharusnya aku tak perlu sakit hati lagi dengan jawabannya karena aku tau, pasti dia akan menjawab hal yang sama. Tapi, tetap saja, rasa sakit itu tak bisa di hindari.
Setelah mendengar jawabannya, aku menunduk tak berani lagi menatapnya. Harga diriku seolah hilang karena mendengar jawabannya. Apa aku atau calon anakku salah jika menginginkan mas Gani suamiku yang mendampingi kami? Aku lelah Ya Allah, aku ingin menyerah.
Seperti biasa, dia pun bangkit dari duduknya dan melangkah pergi untuk bekerja tanpa mengucap satu patah kata pun padaku menegaskan bahwa aku memang istri yang tak dianggap.
Setelah mas Gani pergi, tangis yang sedari tadi aku tahan akhirnya pecah. Aku pun memilih pergi kekamar tanpa menyelesaikan sarapanku.
Aku menatap din-ding tempat Foto mendiang mba Rahma masih terpajang di din-ding kamar kami, kamar yang dulu merupakan kamar suamiku dan kamar mendiang mba Rahma.
Ingatanku kembali saat aku bertemu Mendiang mba Rahma untuk pertama kalinya.
beberapa bulan lalu Aku baru saja tiba dari kampung ke kota. Niatku ke kota karena ingin menghampiri temanku yang menawarkan pekerjaan padaku.
Namun, sayang. Saat aku akan menyetop angkot, aku kecopetan. Tasku dibawa oleh copet. Aku dan beberapa orang mencoba mengejar copet tersebut. Namun sayang, copet itu hilang kami tak berhasil mengejarnya.
Aku terduduk lemas di terminal. Perutku lapar, semua uang, ponsel dan alamat temanku ada di tas yang tadi di copet.
Aku hanya bisa menangis meratapi yang terjadi. Aku bingung harus melakukan apa, ingin kembali ke kampung pun aku tak memegang uang sama sekali.
Saat aku tertunduk dan menangis. Seseorang menepuk bahuku dari belakang.
Aku pun menoleh kebelakang.
"Kau tidak apa-apa, Dik?" tanya wanita yang menepuk pundaku. Wanita itu sangat cantik. Ia tersenyum kepadaku.
"A-aku tidak apa-apa, Mba," jawabku berbohong.
"Aku Rahma." Wanita cantik itu pun tersenyum sambil mengulurkan tangannya padaku.
Aku pun bangkit dari duduk dan membalas uluran tangannya.
"Aku Mahira," jawabku.
"Kau sedang mencari pekerjaan, Mahira?" tanyanya saat kami sudah berjabat tangan.
Aku pun mengangguk ragu.
"Kau mau menjadi pengasuh anakku?" tanyanya lagi.
"Mbak, apa Mba percaya padaku. Aku kehilangan kartu identitasku. Aku tak punya jaminan apa pun untuk ku berikan ...." perkataanku terputus saat Mba Rahma mengusap lembut pundakku.
"Aku percaya padamu," jawab mba Rahma.
"Kalau begitu ayo ikut aku, kita pulang ke rumahku," ucap mba Rahma sambil menarik tanganku. Aku merasa pernah melihat Mba Rahma, Mencoba mengingat-ngingatnya, tapi, tetap saja aku tak ingat.
Setelah sampai di rumah mba Rahma. Mba Rahma memperkenalkan ku pada suaminya dan kepada putrinya yang bernama Dita.
Dita sangat cantik, umurnya baru saja menginjak 5 tahun. Tak terasa aku sudah satu tahun bekerja menjadi pengasuh Dita, semua berjalan normal pada awalnya. Aku sangat menikamati peranku sebagai pengasuh. Terlebih lagi Dita anak yang manis dan penurut. Aku pun mulai menyayanginya.
Saat aku sedang menyuapi Dita, telpon rumah berdering. Betapa terkejutnya aku saat mendapat telepon dari pihak rumah sakit yang mengatakan bahwa Mba Rahma sedang di rawat.
Semua berkumpul di rumah sakit. Aku heran, kenapa aku harus ikut ke rumah sakit sedangkan Dita dititipkan pada Art dirumah.
Saat sedang bergelut dengan pikiranku sendiri. Perawat memanggil namaku dan nama mas Gani.
"Sayang, kenapa kau tak jujur pada Mas. Kenapa kau menyembunyikan dan menanggung semua ini sendiri," ucap mas Gani sambil menggenggam tangan mba Rahma.
Mba Rahma pun ikut menangis. Mba Rahma menderita leukimia dan merahasiakannya dari semua orang.
"Mas!" panggil mba Rahma.
"Ya, Sayang."
"Bolehkah aku meminta sesuatu padamu, Mas?" tanya mba Rahma penuh harap.
"Katakan, Sayang. Mas akan mengabulkan keinginanmu."
"Janji?"
Mas Gani pun tersenyum dan mengangguk.
"Aku mohon, menikahlah dengan Mahira."
Bagai tersambar petir di siang bolong. Aku sangat terkejut dengan permintaan mba Rahma. Bagaimana bisa dia memintaku menjadi madunya. Tidak, aku tidak mau. Dalam hati aku bertekad untuk menolak keinginannya.
"Sayang, apa maksudmu. Tidak! Sampai kapan pun aku tak akan menikahinya," jawab mas Gani. Tiba-tiba mas Gani menatapku sedikit sinis. Mungkin dia menyangka aku senang dengan tawaran mba Rahma.
Seminggu kamudian.
Selama seminggu. Mas Gani sama sekali tak menyapaku. Dia yang biasa bertanya tentang yang dilakukan Dita padaku mendadak membuang muka jika bertemu denganku di rumah atau saat aku menemani mba Rahma di rumah sakit.
Dan setelah seminggu berlalu, Mba Rahma kembali memanggil kami. Aku sudah akan menyiapkan jawaban untuk mba Rahma yang mengingingkan aku menikah dengan mas Gani. Tentu saja aku akan menjawab, Tidak! Aku tidak mau menikah dengan mas Gani.
Namun, betap terkejutnya aku saat melihat kondisi mba Rahma yang ....