
Aurel melihat ke sekelilingnya, di mana Mayra dan Salsa semua sudah keluar dari gedung dan di sana, hanya tinggal Kevin, Davika, Salsa dan Nino.
Kali ini, Aurel mengendalikan keberaniannya kemudian dia berjalan ke arah Salsa. Baru saja dia akan menampar Salsa, tiba-tiba tangannya berhenti di udara ketika Nino menahan tangan wanita paruh baya itu.
"Jangan pernah menyentuh Salsa," ucap Nino membuat Kevin yang sedang berada di lantai, tidak berdaya menatap ke arah Nino. Dia baru menyadari kehadiran lelaki itu.
Emosi Aurel semakin meledak-ledak ketika Nino menahan tangannya. Dia menatap Salsa dengan amarah yang membara.
"Dasar wanita sialann! Tidak tahu diuntung!" Aurel terus mengeluarkan umpatan demi umpatan pada Salsa, karena ternyata ini adalah ulah mantan menantunya.
Salsa menyeringai. "Davika, terimalah ini, dia akan menjadi mertuamu. Oh ya, siap-siap saja untuk menampung gaya hidupnya." Salsa berucap dengan wajah yang penuh dengan kemenangan.
"Tidak, aku tidak apa-apa membesarkan anakku seorang diri," balas Davika dengan cepat. Seumur hidup terlalu lama jika harus di habiskan dengan keluarfa toxic seperti keluarga Kevin.
"Davika, anakmu butuh figur seorang ayah, juga butuh surat-surat agar sah di mata hukum dan negara, dan seperti yang aku bilang, jika kau tidak mau menikah dengan Kevin, maka aku akan laporkan atas penggelapan dana dan kau akan dipenjara, begitupun kau Kevin, jika kau tidak mau menikahi Davika, akan kupenjarakan atas asas pembunuhan. Oh ya, untukmu, mantan ibu mertuaku, semua barang-barangmu yang tidak terlalu penting sudah diletakkan di luar karena rumah kalian sudah disita.”
"Apa?!" Teriak Aurel, Kali ini, Aurel benar-benar terkejut saat mendengar ucapan Salsa.
"Kau punya hutang yang banyak pada ibuku, dan rumah itu di sita karena tau tidak membayar hutang." Setelah mengatakan itu, Salsa menoleh ke arah Nino kemudian dia menggandeng tangan lelaki itu. "Sampai jumpa, selamat menempuh hidup baru," ucap Salsa dengan wajah yang sangat-sangat berbinar. Lalu, setengah itu dia dan Nino pun berjalan untuk keluar dari Aula.
"Salsa! Salsa!" Kevin berteriak seraya berjalan mengesot, berusaha untuk mengejar Salsa, berharap Salsa tidak pergi. Dia tidak mau hidup sengsara.
"Salsa!" Kevin kembali berteriak dengan kencang ketika Salsa sudah tidak terlihat, lalu dia meraung menangisi Salsa yang sudah pergi dengan Nino.
Aurel langsung berlari kemudian menghampiri Kevin.
"Sudah, jangan mengejar wanita itu lagi!" teriak Aurel. Di tengah rasa hancur yang mendera keluarganya, dia masih mempertahankan harga dirinya.
"Sudah, biarkan saja kita masih punya Davika. Davika pasti tidak akan seperti Salsa, dia akan menerima kita," kata Aurel.
Tiba-Tiba, tubuh Davika dia mematung ketika mendengar ucapan Aurel. Sungguh, dia benar-benar menyesal telah menemui Salsa dan mengatakan bahwa dia mengandung anak Kevin. Jika begini, dia sungguh tidak ingin menikah dengan lelaki itu. Dia tidak mau menanggung dan hidup bersama mertua seperti Aurel dan tak lama, ponsel Davika berdering, satu panggilan masuk dari ayahnya membuat jantung Davika seperti akan terlempar dari rongga dadanya, dan dia yakin ayahnya pasti sudah mendengar apa yang terjadi, karena tadi dia juga melihat beberapa rekan kerja ayahnya datang ke pesta ulang tahun perusahaan Kevin, dan pasti sudah melaporkan Pada ayahnya.
***
"Sebentar Nino, sebentar," kata Salsa ketika mereka sudah berada di luar hotel. Salsa merasa tubuhnya lemas tidak berdaya. Bohong jika Salsa merasa kuat ketika melihat apa yang terjadi. Nyatanya, melihat ulang rekaman di mana Davika bercinta dengan Kevin membukakan luka lama, tapi dia berusaha untuk kuat dan untuk tetap tegar hingga sekarang, ketika berada di luar, Salsa merasakan lemas, tapi dia merasakan lega yang luar biasa.
Akhirnya, pembalasan pada mereka sudah selesai. Salsa sudah melakukan pembalasan yang sangat hebat untuk keluarga mantan suaminya, sebab sanksi sosial lebih berat daripada apapun. Kevin dan Davika akan menanggung malu seumur hidupnya, ayah mertuanya adalah urusan ayahnya, dan Aurel tentu saja dia ikut terbawa dengan masalah Davika dan Kevin.
Salsa merasa seluruh beban yang ditanggungnya selama ini hilang. Dia merasakan rasa lega yang luar biasa hingga beberapa saat kemudian, Nino membantu Salsa untuk berdiri, tapi Salsa masih belum bisa hingga pada akhirnya Nino pun berjongkok.
Saat berada di dalam mobil, Nino langsung mendudukkan Salsa di depannya dan setelah itu, Nino pun juga ikut masuk ke dalam. Hening, tidak ada yang berbicara, keduanya sama-sama diam, hanya saja tangan mereka saling menggenggam.
Salsa berusaha menenangkan dirinya, sedangkan Nino menunggu Salsa siap untuk berbicara.
"Are you okay?" tanya Nino ketika Salsa terus menghela napas.
"I'm okay. Aku sedang memikirkan bagaimana cara mengatakannya pada Alona," jawab Salsa.
"Oke, semua akan mengalir seperti air," jawabnya, Nino menenangkan Salsa.
"Mau pergi ke apartemenku?" tanya Nino membuat Salsa menoleh, Salsa begitu menggoda.
"Of course," jawab Salsa dan tanpa menunggu lagi, Nino pun langsung menyalakan dan menjalankan mobilnya.
***
Napas Nino dan Salsa terengah-engah, mereka baru saja melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan percintaan mereka benar-benar terasa amat hebat. Salsa tidak seperti biasanya, dia lebih berani mengekspor diri begitupun dengan Nino hingga keduanya terkapar kelelahan.
"Air, aku haus," ucap Salsa dengan mata yang setengah terpejam.
Nino yang juga baru saja selesai, dengan cepat bangkit dari berbaringnya kemudian dia mengambil minum lalu setelah itu memberikannya pada Salsa.
"Aku mengantuk, jangan ganggu aku," ucap Salsa, dia bahkan menjatuhkan gelas yang di pegangnya, membuat Nino menggeleng, seraya tertawa.
Setelah semuanya selesai dan setelah percintaannya dengan Nino, Salsa sudah tidak berdaya lagi karena benar-benar mengantuk, apalagi selama beberapa hari ini dia jarang sekali tertidur karena tentu saja dia merencanakan semuanya dengan tangannya sendiri. Lalu sekarang, ketika semua selesai, Salsa hanya ingin kembali mendapatkan waktu tidur yang berkualitas.
Tak lama, ponsel Nino berdering, satu panggilan masuk membuat Nino tersadar. Dia pun langsung mencari ponselnya yang ada di saku kemudian mengangkat panggilan itu, dan ternyata itu dari Tommy.
"Apa kau sudah bersama Salsa sekarang?" tanya Tommy.
Nino tergagap. “I-ia, Paman," jawab Nino.
"Paman mengerti, kalian sedang melepas rindu, 'kan?" tanya Tommy.
"Jangan khawatirkan apapun, katakan pada Salsa, Alona dan Kalindra ada di sini. habiskan saja waktu kalian berdua," jawab Tommy. Setelah mengatakan itu, Tommy pun langsung menutup panggilannya, membuat Nino menghela nafas. Dia kembali membaringkan tubuhnya di ranjang kemudian memeluk Salsa.