
gengs aku up 3 bab, seperti biasa gas komen
Beberapa polisi masuk ke dalam aula hotel, hingga Gavin dan Aurel menoleh. Mata Gavin membulat ketika melihat para polisi yang datang dia langsung menatap ke arah Tommy, sudah dipastikan bahwa polisi itu datang menjemputnya karena Tommy sudah mengetahui apa yang dia lakukan, memfitnah Bastian dua belas tahun lalu.
Gavin kembali berjalan ke arah Tommy kemudian dia berlutut, memohon agar Tommy tidak memasukannya ke dalam penjara, apalagi berurusan dengan hukum . Tentu saja Tommy tidak memasukkan Gavin ke dalam penjara, karena dia sendiri akan memberikan hukuman yang pantas untuk Gavin.
Hubungan Tommy dan ayah Nino sangat baik, Bastian yang tak lain Ayah Nino adalah sahabatnya ketika kuliah, mereka sukses bersama-sama hanya saja Tommy lebih sukses karena dia menikah dengan Mayra dan koneksi Tommy lebih besar karena dia adalah menantu seorang Gabriel, tapi walaupun begitu Tommy tidak pernah berubah dia tetap bersikap sama kepada para sahabat-sahabatnya, termasuk Bastian.
Tommy semakin bersyukur, saat itu ternyata Salsa dan Nino saling mencintai dan dia juga bersyukur dia dan Bastian bisa menjadi besan. Tapi, Semuanya hancur lebur karena apa yang dilakukan oleh Gavin, dan sekarang Tommy benar-benar tidak akan melepaskan lelaki itu, apalagi dia baru mengetahui bahwa kondisi kesehatan Bastian menurun karena kasus yang diciptakan oleh Gavin itu sebabnya Tommy sekarang tidak akan memberi ampun pada mantan besannya yang menghancurkan hubungannya dengan Bastian dan dia akan membalas kematian sahabatnya.
“Bawa dia, nanti aku akan menyusul ke sana,” ucap Tommy pada polisi. Mata Gavin membulat ketika mendengar itu, nafasnya mendadak tidak beraturan ketika Tommy mengatakan akan menyusul ke kantor polisi.
Mungkin sekarang, Gavin berpikir dia lebih baik ditangani polisi daripada ditangani oleh Tommy. “Tuan tolong ampuni aku, tolong jangan hukum aku," kata Gavin. Sekarang Tommy bagaikan malaikat maut yang bisa kapan saja mencabut nyawanya, lelaki itu tidak masalah jika harus berlutut di hadapan Tommy, hingga Tommy pun langsung menyuruh membawa Gavin.
Posisi Aurel masih sama, dia masih diam mematung begitupun dengan Kevin yang masih diam di lantai memeluk kaki Salsa, berharap Salsa mau mengampuninya. Jangan ditanyakan betapa menyesalnya Kevin saat ini, yang pasti dia benar-benar terjatuh dalam titik rasa sesalnya.
Apalagi Barusan Salsa mengatakan bahwa mereka sudah bercerai.
Saat Gavin sudah dibawa kantor polisi, Salsa melhat lagi ke arah bawah di mana Kevin sedang memeluk kakinya. Dengan cepat, Salsa langsung menghempaskan tubuh Kevin, dia mundur satu langkah.
Salsa menekuk kakinya menyetarakan diri dengan Kevin. “Sayangnya Kau harus tahu, bahwa sudah lama sekali kita berpisah,” jawab Salsa dengan entengnya.
“Sa-sayang, Apa maksudmu?" tanya Kevin dia menatap Salsa dengan tatapan tak percaya. Kapan Salsa mengurus perceraian, sedangkan selama ini mereka tinggal satu atap.
“Kau tahu kekuasaan di atas segalanya, jadi tidak butuh waktu yang lama untuk aku berpisah dengan lelaki sepertimu dan juga Kau pikir, aku tidak tahu apa yang kau lakukan di belakangku?” Tanya Salsa lagi.
Jantung Kevin berpacu dengan cepat ketika mendengar Salsa mengatakan itu, dia pikir Salsa baru tahu barusan. Hingga tiba-tiba, Kevin terpikirkan sesuatu. “Sa-Salsa Apa ini ulahmu?” tanya Kevin dengan terbata, dia baru menyadari bahwa kejadian demi kejadian yang dia alami dari mulai dia lumpuh sampai jatuh ke tangga mirip seperti apa yang dia lakukan pada Salsa.
Salsa Tertawa. “Itu memang ulahku. Aku yang mengatur semuanya agar kau merasakan apa yang aku rasakan. Apa kau pikir aku tidak tahu bahwa kau yang menuangkan minyak di tangga hingga aku dan anakku terjatuh.” tiba-tiba wajah Kevin memucat ketika Salsa mengatakan itu.
“Seandainya saat itu Kau tidak terlalu jauh melangkah, dan sampai bermain gila dengan Davika, kita tidak akan sampai seperti ini. Tapi, kau sudah kehilangan, kau kehilangan segalanya, kau juga harus menerima hukuman yang pantas. Jangan kau pikir hukuman hanya sampai di sini saja ....”
“Sa-Salsa, apa maksudmu?” tanya Kevin dengan terbata.
Salsa menyaringnya. “Kau hanya harus menikah dengan Davika, bertanggung jawab atas kandungannya."
Belum hilang dari kejutan Kevin dengan apa yang terjadi, dia di buar lagi terkejut saat mendengar jawaban Salsa yang menyuruhnya bertanggung jawab dengan kandungan Davika. Tentu saja dia terkejut, karena dia tidak tahu bahwa selama ini Davika sudah mengandung.
“Hmm, Davika mengandung anakmu. Dan sekarang kau harus bertanggung jawab dengan cara menikahinya. Dan aku akan melepaskan semua tuntutan hukum. Kau tidak perlu masuk ke dalam penjara, asal kau mau menikahi dia dan bertanggung jawab dengan ....” Salsa menghentikan ucapannya ketika melihat Davika masuk ke dalam Aula.
Sedari tadi Davika sebenarnya sudah hadir. Namun ketika dia akan masuk, layar sudah menyala, hingga Davika bersembunyi dan sekarang ketika semuanya sudah pergi, Davika masuk ke dalam Aulia.
Dia pikir Salsa benar-benar tulus mendukungnya bersatu dengan Kevin demi anak yang dia kandung. Tapi ternyata dia terlalu naif dan sialnya dia melupakan siapa Salsa. Terkejut? tentu Davika sangat terkejut, dia bingung bagaimana Salsa mendapatkan rekaman rekaman ketika dia dan Kevin bercinta di apartemennya.
Perlahan Davika maju ke arah Salsa, kemudian dia langsung menatap Salsa dengan mata yang membasah, tentu saja karena dia sedih karena dia harus mengalami hal pahit ini.
“No-Nona Salsa, kenapa kau tega padaku?” tanya Davika dengan terbata. Rasanya, dia ingin menangis sekencang-kencangnya. Semua yang hadir di dalam pesta Kevin, tentu saja orang-orang yang berkecimpung di dunia bisnis, sedikitnya pasti mereka mengenal perusahaan yang dia pimpin dan sekarang Davika benar-benar merasakan malu yang luar biasa. Lalu bagaimana dia akan menghadapi dunia, dan yang terpenting bagaimana dia akan menghadapi kedua orang tuanya.
“Davika, menurutmu Apa hukuman yang pantas untuk wanita perebut sepertimu?” tanya Salsa.
“Aku tahu Kevin bersalah. Tapi kau jauh lebih bersalah. Sudah tahu Kevin masih mempunyai anak dan istri, tapi kau malah nekad mendekatinya. Lalu apa Kau pikir aku akan tinggal diam, apa Kau pikir aku akan membuatmu bahagia? kita sama-sama wanita. Lalu kenapa kau tidak mempunyai empati. Padahal Kevin mempunyai dua anak.”
Davika tertunduk ketika mendengar ucapan Salsa.
“Jadi inilah hukuman yang pas untuk kalian," kata Salsa lagi, "Kevin jika kau tidak mau menikahi Davika, maka aku akan menuntutmu dengan pasal pembunuhann karena kau pernah berencana untuk pembunuhann, dan kau juga harus mau menikah dengan Kevin, apapun keadaan Kevin sekarang. Jika tidak, aku akan melaporkanmu dengan pasal penggelapan karena kau membantu Kevin untuk menggelapkan dana perusahaan yang selama ini Kevin kelola."
Tubuh Davika melemah saat mendengar itu. Jujur ketika melihat apa yang terjadi, minat Davika untuk menikah dengan Kevin meluap begitu saja, terlebih lagi ketika dia melihat ayah Kevin diseret oleh polisi.