
Ketika Nino mengatakan sampai jumpa, Salsa menoleh.
"Kenapa harus mengatakan sampai jumpa? Aku ingin kau yang melayaniku sama seperti waktu itu," ucap Salsa.
Nino menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sungguh, tingkah Salsa benar-benar di luar nalar.
"Apa kau seperti ini karena anak yang ada di dalam kandunganmu?" tanya Nino.
"Benar, jadi kau tidak mau melayaniku seperti kemarin?"
Nino memberikan kursi. "Duduklah dulu di sini, aku ingin menunggu Kalindra, aku ingin memberikan cake ini," kata Nino dan tanpa diduga, Salsa menurut. Dia mendudukkan diri di kursi yang tadi diberikan oleh Nino, sedangkan Nino juga duduk di kursi, tapi sedikit jauh dengan Salsa karena walau bagaimanapun dia tidak seberani itu untuk dekat dengan wanita yang masih dia cintai sampai saat ini.
Hening, tidak ada yang berbicara, Salsa dan Nino sama-sama terdiam. Banyak sekali hal yang dipikiran Salsa, hingga rasanya dia ingin menangis, tapi tak lama dia menggeleng. Tidak, bukan waktunya seperti ini. Dia hanya butuh sedikit waktu lagi agar dia bisa benar-benar terbebas dari belenggu yang mengikatnya.
Setelah beberapa saat berlalu, terdengar suara orang yang berlari hingga Nino dan Salsa menoleh ke arah koridor, dan ternyata Kalindra yang datang. Salsa langsung merentangkan tangannya, lalu setelah itu dia langsung memeluk putranya.
"Mommy, kenapa di sini?" tanya Kalindra. Dia menatap Salsa dan Nino secara bergantian.
"Kita menikmati makanan di cafe Paman Nino, ya? Kau mau?" tanya Salsa membuat mata Nino membulat. Sungguh, dia tidak menyangka Salsa akan mengatakan itu pada Kalindra. Bukankah saat itu Salsa sendiri yang melarang dia untuk dekat-dekat dengan Kalindra dan Alona, tapi kenapa sekarang begini? Ah, sudahlah, Nino bingung memikirkannya.
“Bukankah Kalian tidak saling mengenal?" Tanya Kalindra tiba-tiba. Hingga Nino dan Salsa
saling tatap.
"Mommy bolehkah sebelum kita pergi, aku makan cake ini? Aku lapar," ucap Kalindra hingga Salsa mengangguk, lalu setelah itu Nino memberikan kursi yang tadi dia duduki pada Kalindra, hingga kini Kalindra dengan Salsa. Membuat Nino menghela nafas karena Kalindra tidak bertanya lagi.
Nino menyadarkan tubuhnya ke belakang. Rasanya, dia begitu senang ketika melihat Salsa dan Kalindra duduk di dekatnya, hingga beberapa saat berlalu Salsa bangkit dari duduknya.
"Ayo, Kalindra," panggil Salsa sambil mengulurkan tangan pada putranya, lalu setelah itu Salsa langsung melihat ke arah Nino.
"Ayo, bukankah sudah kubilang aku ingin dilayani olehmu?" tanya Salsa, menyadarkan Nino dari lamunannya hingga Nino mengangguk, lalu setelah itu Nino pun langsung membereskan beberapa peralatan yang tadi dia keluarkan.
Setelah selesai, Nino langsung keluar dari area stand lalu menghampiri Salsa dan Kalindra, hingga Salsa dan Kalindra langsung berjalan diikutin Nino di belakangnya.
Nino dibuat heran ketika Salsa berjalan ke mobilnya, padahal mobil Salsa jauh lebih mewah daripada mobilnya.
"Kau ingin naik mobilku?" tanya Nino hingga Salsa menoleh. Dia pikir Salsa akan memakai mobilnya sendiri.
"Kenapa, apakah keberatan?" tanya Salsa.
"Tidak." Nino langsung menyalakan mobilnya kemudian membukakan pintu untuk Kalindra.
Baru saja Salsa akan masuk, Nino langsung menarik lengan wanita itu hingga Salsa berbalik.
"Salsa, ini seperti bukan kau. Kenapa kau berubah tiba-tiba? Padahal beberapa saat lalu kau tidak seperti ini." Pada akhirnya, pertanyaan itu keluar dari mulut Nino. Hingga tak lama, Nino terpikirkan sesuatu. "Salsa, apakah kau sudah tahu yang sebenarnya?" tanya Nino. Salsa ....