
Desahann demi desahann terdengar dari kedua orang itu, Salsa dan Nino memadu kasih di dalam mobil dengan suasana yang begitu mendukung di mana basement sangat sepi tidak ada siapapun di sana, terlebih lagi kaca mobil Salsa berubah menjadi hitam, karena memang mereka tadi ke rumah Sakit menggunakan mobil salsa.
Percintaan keduanya memang pelan, tapi terasa hebat. Salsa benar-benar puas dengan apa yang dia lakukan bersama Nino, sudah lama sekali Salsa tidak merasakan kesenangan seperti ini sebagai seorang wanita normal tentu dia butuh kehangatan, begitupun dengan Nino yang merindukan wanita ini hingga pada akhirnya mereka pun mencapai puncaknya bersama-sama dan berakhir di mana Salsa jatuh di pelukan Nino.
nafas keduanya masih terengah-engah, Nino memeluk Salsa dengan erat. Pelukan Nino benar-benar membuat Salsa sangat yakin, bahwa Nino mencintainya dengan sangat tulus.
Beberapa saat berlalu, Nino dan Salsa sudah membetulkan pakaian mereka dan Salsa sudah kembali duduk di tempatnya. “Kau yakin ingin masuk seorang diri?” tanya Nino.
“Hmm, aku butuh waktu beberapa saat lagi untuk mengakhiri semuanya, dan maaf jika nanti aku tidak bisa sering menemuimu. Oh ya, kau bawa saja mobilku biar aku nanti pergi pakai taksi,” balas Salsa.
Namun, Nino menggeleng.. “Biar aku yang pulang pakai taks,i kau pulanglah pakai mobil,” Jawab Nino, dia tidak pernah ingin membuat wanitanya kesusahan walaupun hanya hal sederhana.
Salsa dan Nino pun turun dari mobil, dan saat akan pergi Salsa kembali memeluk Nino, dan setelah melepaskan pelukannya dari Nino, Salsa pun berbalik. Namun dengan cepat, Nino menarik tangan wanita itu, kemudian memeluk Salsa.
“Hentikan jika kau merasa berat,” kata Nino sambil membelai punggung Salsa.
“Aku tidak akan berhenti sebelum semuanya impas.” Setelah mengatakan itu, Salsa melepaskan pelukannya dari Nino, kemudian dia langsung berbalik. Lalu setelah itu pergi begitupun dengan Nino Yang juga keluar dari basement.
Setelah berada di depan ruang rawat Kevin, Salsa langsung mengintip, ternyata di ruang rawat Kevin ada Aurel dan juga Gevin, Ayah mertuanya. Kedua orang tua itu sepertinya sedang syok dengan keadaan anak lelaki mereka.
“ Kevin!" Salsa berteriak ketika masuk ke dalam membuat semuanya menoleh. Kevin hanya meringis Dia merasakan seluruh tubuhnya mati rasa, seluruh tubuhnya kebas bahkan sekarang dia juga ikut tidak bisa menggerakkan badannya.
“Untuk apa kau kemari!" teriak Aurel, dia langsung mendorong tubuh Salsa membuat Gavin membulatkan matanya, lelaki paruh baya itu langsung menarik lengan istrinya.
“Apa-apaan Kau!" teriak Gavin pada Aurel.
Aurel menatap suaminya dengan tatapan tak percaya, karena Gavin malah membela Salsa.
“Karena dia anak kita jadi seperti ini!" teriak Aurel pada suaminya, sedangkan Gavin tentu saja dilanda kepanikan, ketika Aurel mendorong Salsa. jangan sampai keluarga Tommy murka jika mengetahui Salsa diperlakukan buruk oleh istrinya.
“Kau tidak apa-apa, Salsa?" Tanya Gavin, membuat mata Aurel membulat. Karena tentu saja Gavin lebih memprioritaskan kekuasaannya, di mana dia tetap bisa mendapatkan kekuasaan jika masih bekerja sama dengan keluarga Tommy, hingga sekarang dia lebih memperdulikan Salsa, dari pada istrinya.
Salsa mengangguk, kemudian dia langsung melihat ke arah Kevin. “Kevin kau tidak apa-apa? apa yang terasa Kenapa kau bisa jatuh?" Tanya Salsa dengan panik, hingga mata Kevin yang setengah tertutup langsung terbuka ketika mendengar suara Salsa.
Kevin tersenyum. “Hmm, aku tidak apa-apa," jawab Kevin. Di tengah rasa sakitnya, dia tidak boleh terlihat tidak berdaya di hadapan wanita itu. Sebab Dia bisa saja di depak, jika Salsa menganggapnya lemah hingga dia harus berpura-pura baik-baik saja.
“Kau pasti berpura-pura perduli, kan,!” teriak Aurel. Hingga Gavin di Landa emosi. Dia langsung menarik tangan Aurel keluar.