Oh My Salsa

Oh My Salsa
bab 37



“Kau kenapa?" tanya Salsa ketika Kevin masuk ke dalam kamar, dia berpura-pura bertanya. Padahal dia tahu bahwa Kevin sedang merana karena diacuhkan oleh kalindra.


Kevin terdiam kemudian dia menekan tombol lalu memajukan kursi rodanya ke arah Salsa yang sedang duduk di sofa.


“ Aku sedang tidak enak badan saja. Mungkin karena kejadian di lift kemarin,” jawab Kevin dia tidak ingin Salsa mengetahui apa yang dia rasakan.


Salsa melihat jam di pergelangan tangannya. “Kau akan pergi?” tanya Kevin.


“Hmm, Aku akan pergi.”


“Kau mau pergi kemana?” tanya Kevin ketika Salsa bangkit dari duduknya.


“Aku ada urusan sebentar di luar, aku harus membeli beberapa bahan untuk di Jawa ke sekolah Kalindra," dusta Salsa.


“Tapi ini sudah malam. Kenapa kau tidak menyuruh orang lain saja?”


“Aku harus memilih semuanya dengan tanganku sendiri.”


“Maafkan aku, seandainya aku tidak seperti ini mungkin aku akan menemanimu,” jawab Kevin dia tahu, Salsa amemang selalu mengurus anak-anaknya seorang diri, jadi Kevin tidak curiga.


“Tidak masalah,” jawab Salsa lagi. Setelah itu, Salsa pun langsung bangkit dari duduknya kemudian dia keluar dari kamar.


Dan sekarang di sinilah Salsa berada, dia berada di depan cafe milik Nino Entah kenapa sedari tadi siang Salsa ingin sekali menikmati kue buatan Nino, karena tadi dia begitu sibuk dengan urusan yang sedang dia tangani hingga dia baru sempat sekarang untuk datang ke cafe ini.


Dan tepat ketika Salsa akan masuk, ternyata Nino keluar dari cafe. Hingga keduanya saling tatap. Banyak sekali pertanyaan yang ada di otak Nino tentang Salsa.


Kenapa Salsa berubah tiba-tiba. Nino terus menebak, apa Salsa sudah tahu yang sebenarnya atau belum.


“Aku ingin menikmati cake, tidak usah dilayani olehmu,” ucap Salsa ketika Nino sudah berada di depannya dan menghampirinya.


Nino tidak menjawab, Dia malah berjalan ke arah pintu, kemudian membukakan pintu untuk Salsa hingga Salsa pun masuk.


“Kau ingin memesan apa?” tanya Nino ketika Salsa sudah duduk.


“Bukankah kau akan pergi?” tanya Salsa.


“Aku akan pergi nanti.” Salsa mengangguk-anggukan kepala kemudian dia menyebutkan makanan yang dia mau, hingga Nino pun langsung berjalan ke arah dapur.


15 menit kemudian


menu yang dipesan Salsa sudah terhidang di meja. “Mau aku temani?” tanya Nino. Salsa tidak menjawab. Namun dari wajah salsa. Nino tau Salsa ini yang ditemani olehnya, hingga Nino pun menarik kursi kemudian dia menundukkan diri di sebelah Salsa.


“Kau ke mana?” tanya Nino.


“Membayar lalu aku akan pulang.”


Nino melepaskan tangan Salsa, kemudian bertanya. “Mau menginap di apartemenku lagi?” tawar Nino. Jika sikap Salsa sudah tidak jelas seperti ini, Nino tahu banyak sekali yang dipikirkan oleh wanita itu.


“Tidak sekarang mungkin nanti.” Setelah mengatakan itu, Salsa pun langsung melepaskan tangan Nino membuat Nino bingung dengan ucapan Salsa.


Dan ketika dia tersadar dari lamunannya, Nio melihat ke arah depan dan ternyata Salsa sudah tidak ada di kafe miliknya, membuat Nino menggeleng.


Saat dia akan keluar dari cafe dan berniat pulang, tiba-tiba ponsel Nino berdering, dia pun langsung merogoh saku, kemudian mengambil ponselnya. tubuh Nino diam mematung, nafasnya mendadak tidak beraturan. Jantungnya seperti berhenti berdetak kala tahu kalau nomor siapa yang memanggilnya..


Nomor yang masih dia simpan sampai saat ini, nomor dari orang yang sangat dia hormati. Dan tak lama, Nino tersadar ketika panggilan mati dengan sendirinya karena dia tidak kunjung menjawab dan ketika Nino masih terdiam di tempat, ponsel kembali lagi berdering ternyata nomor itu kembali memanggilnya.


Dengan tangan gemetar, Nino langsung menekan tombol hijau. Lalu setelah itu mendekatkan ponselnya ke kuping. “Hallo Paman Tommy," jawab Nino dan suara yang super pelan. Ya, ternyata Ayah Salsa yang menelponnya.


Keesokan harinya


Kevin terdiam, dia bingung harus melakukan apa. Sedangkan Salsa sedang mengantar Kalindra dan Alona yang ke sekolah. Sedari tadi, tidak beraktivitas sama sekali dan tidak tahu apa yang harus dia kerjakan. dia mematikan ponselnya karena takut Devika menelepon jadi dia tidak mungkin bermain ponsel. Saat ini, dia akan fokus dulu pada kesembuhannya sebelum dia menemui wanita it. Dan tak lama, Kevin memutuskan untuk pergi ke taman belakang, untuk berlatih berjalan.


Dan tak lama,. Kevin langsung menekan tombol yang ada di kursi roda, hingga kursi roda itu berjalan dengan sendirinya, dan ketika dia keluar dari kamar Kevin menghentikan kursi roda ketika melihat sekitarnya tampak sepi, tidak ada pelayan di manapun. Bahkan dia juga tidak melihat pelayan yang saat itu bekerja sama dengannya.


Tak ingin ambil pusing, Kevin menekan kembali kursi rodanya. “A-ada apa ini?" Lirih Kevin ketika tiba-tiba kursi roda Kevin bergerak tidak beraturan, padahal jelas-jelas Kevin menekan tombol agar kursi roda maju ke depan, tapi kursi roda Kevin malah mundur. Sungguh sekarang Kevin begitu takut terjatuh dari kursi roda yang sedang dia duduki, sebab jika dia terjatuh tentu saja rasanya akan sangat menyakitkan.


“Tolong ... tolong!” Kevin meminta tolong karena kursi roda yang didudukinya terus maju dan mundur, beberapa kali Kevin menekan tombol yang ada di sebelahnya tapi tombol itu tidak berfungsi.


hingga tak lama kursi roda Kevin berhenti dengan sendirinya, membuat Kevin menghela nafas, dia pun langsung menekan tombol yang berada di pegangan kursi roda dan mengarahkan kembali ke kamar untuk mengambil ponsel dan menelepon Salsa.


Ketika Kevin sudah berhasil masuk ke dalam kamar, dan saat dia akan mengambil ponselnya tiba-tiba ponsel Kevin terjatuh kemudian kursi roda yang dia duduki mundur ke belakang, membuat Kevin benar-benar ketakutan


. Sungguh dia tidak tahu ada apa dengan kursi roda yang sedang didudukinya, tidak mungkin ada yang bermasalah sedangkan dia tahu kursi roda ini dia pesan dari temannya, apalagi kursi roda yang dia pesan sangat canggih Lalu kenapa sekarang bisa seperti ini.


Dan setelah kursi roda itu keluar dari kamar, tiba-tiba kursi roda itu mengarah ke arah tangga membuat wajah Kevin semakin panik. Tidak ada sesuatu yang dia bisa pegang, sekedar untuk menahan kursi roda yang sedang berjalan. Nafas Kevin semakin mendadak tidak beraturan kala kursi roda berjalan ke arah tangga.


“Tolong ... tolong!” teriakan Kevin semakin mengencang. Namun sama sekali tidak ada yang mendengar dan menolongnya, semua pelayan juga tidak ada di sekitar Kevin.


“Aaaaa!” Kevin berteriak ketika kursi roda yang dia duduki sudah berada di depan tangga, membuat dia memejamkan matanya karena berpikir dia akan terjatuh. Tiba-tiba kursi roda berhenti membuat Kevin langsung membuka mata. Jangan di tanyakan betapa panik dan takutnya dia saat ini. Jika saja kursi roda ini kembali bergerak sudah di pastikan dia akan jatuh ke bawah.