
Davika ambruk di atas tubuh Kevin, tentu saja mereka baru saja mencapai puncaknya bersama-sama. Helaan nafas keduanya masih terengah, sesekali Kevin mencium bahu Davika membuat Davika terasa terbang.
“Apa servisku lebih baik dari Salsa?" tanya Davika dengan nada menggoda.
“Hmm, kau ebih baik Sayang," jawab Kevin seraya memainkan dada Davika membuat Davika melenguh.
“Rasanya aku ingin setiap waktu melakukan ini denganmu," jawab Davika saya menggoyangkan pinggulnya membuat Kevin semakin mengadahkan kepalanya ke atas.
“ Bagaimana jika kita mulai ronde kedua," kata Kevin.
“Tunggu aku beristirahat dulu. Aku masih lelah, kau bermain begitu hebat barusan.” puji Davika membuat Kevin semakin melayang. Tanpa mereka sadari mereka akan benar-benar menyesal telah melakukan ini, dosa mereka benar-benar akan mereka tanggung dengan hebat di masa depan.
"Sayang, Aku tidak jadi memberikanmu hadiah danaku ditahan oleh Salsa, dia mengawasi semuanya.”
“Apa!” Davika terpekik ketika mendengar itu.
“Kau keberatan berkencan denganku saat aku sudah tidak punya apa-apa?" Tanya Kevin.
Seketika Davika menggeleng. “Tidak, aku tidak keberatan sama sekali," jawab Davika
“Kau boleh memakai danaku, jika kau butuh sesuatu kau bisa memakai uangku," ucap wanita itu, tidak apa-apa Kevin memakai uangnya asal Kevin tetap bersamanya begitulah pikir Davika.
****..
Nino berjalan lesu masuk ke dalam toko kue miliknya, lelaki itu mendudukkan diri di kursi lalu melihat ke arah jendela. Rasanya dia begitu buntu, percakapannya dengan Dareen beberapa hari lalu tidak membuahkan hasil.
Dia sudah menceritakan semuanya pada Dareen. Tapi, Dareen tidak mempercayainya, bahkan Dareen meninggalkannya ketika dia belum selesai menjelaskan
Satu-satunya orang yang dia harap akan percaya tidak mau mendengarkannya. Nino mengusap wajah kasat. ‘Seandainya Aku punya kuasa, atau hartaku masih seperti dulu. Mungkin aku bisa menyelidiki semuanya. Tuhan bukan aku tidak bersyukur atas apa yang kau berikan, tapi bisakah kau berikan jalan agar aku bisa memutihkan nama ayahku dan agar aku bisa kembali lagi pada Salsa.’
Saat tidak ada lagi yang bisa menolongnya. Nino hanya bisa memasrahkan semuanya pada Tuhan.
Setelah duduk cukup lama, Nino pun bangkit dari duduknya kemudian dia berencana untuk mengecek stok di toko. Hingga, setengah jam kemudian Nino dipanggil oleh pelayan yang berjaga di depan, hingga Nino yang sedang mengecek barang-barang langsung keluar dari gudang.
“Ada apa?” tanya Nino pada pelayan.
“Tuan, ada tamu yang ingin di layani oleh anda."
Nino mengerutkan keningnya hingga dia pun langsung berjalan ke arah luar. Jantung Nino terasa berdebar dua kali lebih cepat ketika melihat siapa tamu yang ingin dilayani olehnya, yaitu Salsa.
Sungguh dia tidak ingin berdebat dengan wanita itu, karena Nino takut akan mempengaruhi kehamilan mantan kekasihnya, tapi mau tak mau dia harus datang menghampiri Salsa.
“Salsa!” panggil Nino
”Aku ingin memesan beberapa menu kesukaanku," kata Salsa tiba-tiba, membuat Nino mengerutkan, keningnya.
”Menu apa?" Nino menatap bingung pada Salsa.
“Kau tahu bukan, menu apa saja favoritku," jawab Salsa lagi membuat Nino benar-benar bingung.
“Salsa, are you oke?" tanya Nino yang malah bertanya. Apakah Salsa baik-baik saja atau tidak karena dia takut mental Salsa terguncang.
“Cepat buatkan, kau ingin aku marah?” Tanya Salsa lagi. Nino benar-benar bingung dengan apa yang terjadi. Padahal beberapa saat lalu, saat mereka bertemu di sekolah Kalindra, Salsa masih terlihat membencinya. Lalu kenapa sekarang kenapa Salsa seperti ini.