
Nino, Apa yang kau lakukan?" tanya Salsa ketika Nino terlihat sibuk membuat adonan kue. Padahal ini masih jam 03.00 pagi dan Nino sudah berada di dapur.
Nino menghentikan sejenak kegiatannya. “Kenapa kau bangun?” tanya Nino yang malah balik bertanya pada Salsa.
“Apa yang kau lakukan, seharusnya kau istirahat!” Nino melepaskan sarung tangan, kemudian dia langsung keluar dari area dapur. Lalu setelah itu menarik lembut tangan Salsa dan berjalan ke arah sofa, hingga kini dia duduk di sofa dan Salsa di atas pangkuannya.
“Aku akan launching baru, dan aku harus memastikan semuanya sempurna,” jawab Nino. Salsa menatap Nino dengan lekat.
“Ini pasti tidak mudah untukmu, kan?” Tanya Salsa Nino terdiam matanya sendu. Namun, dengan cepat Nino menggeleng. Seperti biasa, dia tidak pernah memperlihatkan kesedihannya.
“Tidak, semua baik-baik saja,” Jawab Nino. Namun matanya tidak bisa berbohong, 12 tahun ini sangat berat. “Hmm, selama ini aku menjalani hariku dengan berat.” Melihat tatapan Salsa, pada akhirnya Nino mengaku tentang apa yang dia rasakan.
“Aku hampir menyerah, karena aku benar-benar diuji dengan hal yang luar biasa dan ketika ....”
“Sudah, tidak usah bercerita lagi jika berat,” ucap Salsa ketika Nino terlihat akan menangis, apalagi barusan bibir Nino bergetar karena walaupun bagaimanapun, tidak mudah untuk mengatakan yang terjadi. .
"Apa aku boleh membantu?" tanya Salsa.
"Membantu? Ini masih pagi, Sayang. Ayo tidur lagi," ucap Nino, "aku sudah terbiasa melakukan ini."
"Benarkah?" tanya Salsa.
Walaupun seperti ingin membantu Nino, tapi sepertinya rasa mengantuk Salsa lebih mendominasi dan pada akhirnya, Nino pun langsung mengantarkan Salsa ke kamar dan setelah itu Nino kembali ke dapur untuk melanjutkan aktivitasnya.
***
Nino menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali, dia mencium kening Salsa yang sedang bersandar di bahunya. Saat ini, Nino berencana untuk mengantarkan Salsa pulang ke rumah Tommy dan Mayra, karena dia harus pergi ke cafe
. Awalnya, Salsa ingin ikut, tapi Nino ingin Salsa menghabiskan waktu dengan Kalindra dan juga Alona karena walaupun bagaimanapun, mental kedua anak itu sangat penting dan juga Nino menyarankan agar Salsa harus memberitahu semuanya, karena tidak bagus untuk Alona atau Kalindra jika tidak diberitahukan secepatnya, apalagi ini menyangkut hubungan antara ayah dan ibu mereka.
Sedari tadi masuk mobil, seperti biasa Salsa langsung menyandarkan kepalanya di bahu Nino, tangan mereka saling menggenggam. Jika ditanya apakah Salsa sudah mencintai Nino? Mungkin jawabannya belum, tapi dia berusaha untuk terus memasukkan Nino ke dalam hatinya, dan sepertinya sedikit ada perubahan di mana Salsa mulai nyaman dekat dengan lelaki itu.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Nino sampai di kediaman Salsa.
"Kau ingin turun?" tanya Salsa ketika mobil sudah terparkir di pekarangan.
"Sebenarnya aku masih malu bertemu dengan ayahmu walaupun Paman sudah mengetahui semuanya," ucap Nino
"Tidak usah malu, turun saja," kata Salsa lagi hingga pada akhirnya Nino pun turun dan ternyata ketika mereka turun, Tommy sedang duduk di halaman, dan tiba-tiba Salsa terdiam ketika melihat siapa di samping Tommy, yaitu Adrian, ayah kandungnya. Ya, Salsa memang bukan anak Tommy, melainkan anak Adrian.
Dulu sebelum menikah dengan Tommy, Mayra pernah menikah dengan Adrian, tapi pernikahan mereka kandas ketika Mayra hamil Salsa, dan entah kenapa sampai saat ini Salsa tidak pernah bisa dekat dengan ayahnya.
"Why?" tanya Nino ketika Salsa menghentikan langkahnya.
Salsa menggeleng. "Tidak apa-apa, ayo."
Nino dan Salsa pun berjalan ke arah rumah.
"Oh, kalian sudah datang," ucap Tommy yang langsung bangkit dari duduknya hingga Salsa mengangguk lalu tersenyum canggung, dia bahkan enggan melihat ke arah ayahnya.
"Daddy Adrian ingin berbicara denganmu, Salsa," ucap Tommy. Sepertinya, Adrian baru saja mendengar apa yang terjadi pada putrinya hingga dia langsung datang, walaupun dia tahu kehadirannya tidak terlalu pedulikan oleh putrinya, sebab masa lalu Mayra dan Adrian pun juga tidak terlalu baik, hingga terbawa pada Salsa yang tidak terlalu menyukai ayahnya.
***
"Davika! Davika!" panggil Aurel yang menggedor pintu kamar Davika.
"Davika, ayo bangun, cepat buatin sarapan untuk kami, kami lapar!" teriak Aurel lagi.
Davika membuka matanya karena suara Aurel begitu nyaring. Dia berdecak kesal ketika mendengar ucapan wanita tua itu, hingga dia pun langsung bangkit dari duduknya kemudian berjalan ke arah pintu.
"Bibi, apa kau tidak mempunyai sopan santun?" tanya Davika.
"Davika, kau ini apa-apaan? Cepat bangun, siapkan sarapan untuk kami," ucap Aurel.
Kini, matanya terbuka dengan sempurna ketika mendengar perintah Aurel.
"Bibi, aku itu bukan pembantu kalian. Jika Bibi mau sarapan, ya sudah buat saja. Ini apartemenku, jadi jangan mengganggu kesenanganku, jika tidak suka tinggal di sini, silakan pergi," ucap Davika lalu setelah itu dia membanting pintu di hadapan Aurel.
Kevin yang melihat itu hanya bisa tersenyum getir, tiba-tiba dia teringat Salsa di mana dulu Salsa selalu mengurusnya dengan baik, memastikan keadaannya, lalu sekarang dia harus hidup terjebak dengan Davika.
Kevin mengusap wajah kasar kemudian melihat lagi ke arah ibunya yang sedang berteriak memanggil Davika.
"Mom, sudahlah, siapkan saja sarapan sendiri," ucap Kevin.
"Kevin, mana bisa Mommy memasak?!" teriak Aurel lagi, dia begitu frustrasi hingga dia tanpa sadar membentak Kevin.
"Ayo kita pergi ke rumah Daddy Tommy, kita memohon dan berlutut di sana," ajak Kevin.
"Kevin, kau gila. Kau pikir Mommy mau berlutut di hadapan mereka?" tanya Aurek yang tidak terima.
"Ya sudah, biar aku saja yang berlutut. Ayo antar aku ke sana." Sepertinya Kevin tidak bisa mengandalkan sang ibu. jadi, dia lebih memilih untuk berlutut dan memohon seorang diri.
Karena tidak ingin pusing dan tidak ingin hidup seperti ini terus, Aurel pun langsung menyetujui ucapan Kevin dan mereka pun memutuskan untuk pergi ke rumah Tommy.
Dan sekarang di sinilah mobil Aurel terparkir, di depan rumah Tommy.
“Tolong biarkan aku masuk, aku ingin bertemu besanku!” ucap Aurel ketika berada di depan pos penjaga.
“Maaf, Nyonya. Anda tidak di perkenankan untuk masuk.”
“Apa!” Aurel terpekik. Tiba-tiba paruh baya itu terpikirkan sesuatu dia langsung masuk ke dalam mobil. Pokoknya hari ini dia harus menemui Tommy dan Maira.
Awalnya dia memang tidak ingin berlutut di hadapan besannya, atau yang tak lain mantan besannya. Namun, dipikir-pikir dia tidak bisa hidup seperti ini, dia akan membujuk Tommy dan Mayra agar memberikan satu kartu kredit saja untuknya bertahan hidup, setidaknya walaupun tidak hidup seperti dulu. Tapi, dia tetap ingin hidup enak.
Dan sekarang ketika dia tadi tidak diperbolehkan masuk, Aurel akan nekat menabrak gerbang dengan mobilnya sendiri.
“Mommy apa yang Mommy lakukan?" Teriak Kevin, ketika Aurel mengendarakan mobilnya dengan kecepatan penuh. Namun bukannya menjawab, Aurel malah terus melajukan mobilnya.
“Kevin pegangan!” teriak Aurel ketika mobil akan menabrak gerbang dan akhirnya mobil wanita paruh baya itu menabrak pada gerbang yang sangat kokoh.
Namun, bukannya gerbang terbuka malah mobil Aurel yang rusak, tentu saja karena gerbang rumah Tommy sangat kokoh dan selain mobil Aurel rusak pintu juga terbuka secara otomatis hingga Kevin terlempar keluar.