
Tiba-tiba .... bug!
Seketika, Kevin langsung memberikan bogem mentah untuk Nino. Nino terpental karena Kevin memukul dengan keras.
Nino tidak ingin tercampur dengan emosi karena dia hanya ingin melihat Salsa. Lelaki itu pun langsung bangkit dari lantai, kemudian dia menarik tubuh Kevin yang menutupi pintu dan setelah itu, dia masuk ke dalam. Tak lupa, dia menarik penutup pintu agar Kevin tidak bisa masuk.
Nino dengan cepat langsung berjalan ke arah brankar. Ternyata, Salsa sedang menatap ke atas. Tadi, Kevin keluar karena dia ingin menelepon keluarga istrinya dan mengatakan bahwa Salsa terjatuh agar dia tidak disalahkan, tapi dia tidak menyangka dia akan bertemu dengan Nino.
"Salsa," panggil Nino. Lelaki tampan itu menggenggam tangan Salsa kemudian mengecupnya. Satu tangannya tidak berhenti mengelus rambut Salsa. Dia juga terus membisik memanggil nama Salsa, mengingatkan Salsa tentang hari-hari bahagia wanita itu. Dia juga membahas tentang kelahiran Kalindra dan juga Alona, hingga pada akhirnya Salsa mengerjap.
Nino sudah tahu betul jika Salsa sudah sangat tertekan, Salsa akan seperti ini. Dulu, Salsa pernah kalah dengan dari lomba yang dia inginkan dan reaksi Salsa seperti ini, apalagi sekarang ketika dia kehilangan anaknya. Namun, pada akhirnya, Nino berhasil membuat Salsa tersadar dengan menggunakan nama Kalindra.
Salsa menoleh ke arah Nino, kemudian raut wajahnya terlihat menahan rasa sakit yang luar biasa. Nyatanya, kehilangan anak lebih menyakitkan daripada apapun.
"Nino," panggil Salsa dengan berderai air mata. Menatap Nino kian sesak karena tatapan Salsa benar-benar di penuhi dengan rasa sakit
"Kau boleh menangis, Salsa, menangislah," ucap Nino, dan pada akhirnya Nino membungkukkan tubuhnya, membiarkan Salsa memeluknya. Salsa merangkul kepala Nino dengan erat, dia memeluk Nino sambil menangis sejadi-jadinya. Air mata seakan belum cukup mewakili rasa sakit hatinya karena kehilangan anaknya.
Keesokan harinya.
Kevin masuk ke dalam ruangan. Rasanya, dia tidak sabar untuk segera mengusir Nino. Sedari kemarin, Kevin terus diam di luar karena pintu dikunci dari dalam. Dia juga mengurungkan niatnya untuk menelepon keluarga Salsa, sebab ada Nino. Bisa bahaya jika keluarga Salsa bertemu dengan lelaki itu, dan barusan karena sudah tidak tahan, Kevin langsung meminta kunci cadangan ruang rawat Salsa agar pintu terbuka hingga pada akhirnya setelah pintu dibuka, hati Kevin semakin memanas ketika melihat apa yang sedang terjadi di ruangan Salsa, ternyata Nino berbaring di brankar yang sama dengan Salsa karena sedari semalam, dia terus memeluk Salsa.
Setelah sampai di depan brankar, Kevin langsung menarik baju Nino hingga Nino yang sedang tertidur langsung menoleh.
"Turun kau!" Kevin meninggikan suaranya membuat Salsa yang sedang tertidur, terbangun.
"Aku akan keluar dulu," ucap Nino, dia sungguh tidak ingin membuat Salsa tertekan, hingga dia memilih untuk pergi karena tidak ingin ribut dengan Kevin. Tapi dengan cepat Salsa memegang pakaian mantan kekasihnya. Tatapan matanya seolah mengatakan untuk Nino jangan pergi.
"Kau lihat, 'kan? Kau saja yang pergi," kata Nino lagi yang mengusir tapi secara terang-terangan.
"Aku ini suaminya, aku yang berhak di sini. Aku ingin menemani istriku, atau kau mau aku panggilkan keluarga istriku agar mereka menghajarmu? Apa kau lupa apa yang telah dilakukan keluarga ayahmu kepada keluarga mertuaku?" tanya Kevin lagi yang memanfaatkan keadaan, berharap Salsa ingat bahwa Nino pernah mengkhianatinya.
Nino memejamkan matanya kemudian dia menoleh ke arah Salsa dan lagi-lagi, Salsa menggeleng pelan. Dia benar-benar tidak berdaya sekarang, dan dia butuh Nino bukan butuh Kevin, hingga di tengah rasa lemas yang luar biasa, dia berusaha untuk meminta tolong lewat tatapannya mengisyaratkan agar Nino tidak pergi.