
Gengs aku pengen update dari kemarin sebenarnya. Tapi komennya ko ga tembus 100 kan jadi sedih. Boleh ga sih minta komen 100 lagi, bsok up dobel ya
“Salsa apa yang kau lakukan?” Nino berteriak ketika Salsa menindih tubuhnya dan berusaha membuka kemejanya.
Salsa tidak menjawab dia terus fokus dengan apa yang sedang dia lakukan. “Salsa!” panggil Nino dia berteriak karena Salsa terus bergerak hingga seketika Salsa terdiam.
“Kau meneriaki-ku?” tanya Salsa, Kali ini matanya sedikit terbuka.
“Tidak -tidak, maafkan aku, aku bukan bermaksud begitu.” tiba-tiba Salsa turun dari tubuh Nino.
“ Ya sudah pergi sana!” umpat Salsa, wanita itu berjalan sempoyongan kemudian masuk ke dalam kamar Nino, membuat Nino menggeleng lalu dengan cepat Nino pun langsung menyusul. Namun, saat dia akan membuka pintu, ternyata pintu di tutup dari dalam membuat Nino panik, apalagi dia mendengar suara teriakan Salsa dan dengan cepat Nino langsung membuka pintu memakai kunci cadangan, hingga tak lama pintu terbuka ternyata Salsa sedang menangis di lantai seperti anak kecil dan Nino yakin, jika Salsa mengingat Ini calon istrinya pasti akan sangat malu.
Dengan pelan, Nino pun langsung berjalan ke arah Salsa kemudian dia langsung membopong tubuh Salsa. “Lepas lepaskan aku!” teriak Salsa.
“ Kau ini kenapa, kenapa kau marah-marah?” tanya Nino ketika Salsa sudah berbaring di ranjang. Lelaki itu berbicara lemah lembut.
“Kau tidak mencintaiku. Kau bohong, selama ini ucapanmu hanya bohong!” teriak Salsa sambil menunjuk wajah Nino. Dan itu begitu lucu di mata Nino.
“ Siapa bilang aku tidak mencintaimu?”
“Jika kau benar-benar mencintaiku, kau tidak akan mengobrol dengan wanita lain. Ah sial, aku benci sikap posesifku,” kata Salsa lagi yang dengan cepat meralat ucapannya. Lalu setelah itu, dia berguling ke sana kemari. Sungguh efek alkohol benar-benar membuat Salsa seperti orang lain dan mungkin benar, Salsa akan menyesalinya besok ketika mengingat Apa yang dia lakukan dan apa yang dia katakan pada Nino.
Dan ketika melihat Salsa seperti ini, Nino langsung tertawa membuat Salsa menghentikan gerakannya. “Diam kau!” teriak Salsa.
Nino berbaring di samping Salsa, kemudian dia menahan tubuh Salsa agar tidak terus bergerak karena dia tahu efek alkohol ini benar-benar hebat di diri wanita yang sedang di sampingnya ini.
“Kenapa kau mabuk?” tanya Nino yang berusaha sabar walaupun dia tahu ucapannya hanya angin lalu di telinga Salsa.
“ Aku ingin melupakan semuanya.”
“kau ingin melupakanku juga?” Tanya Nino.
“Tentu aku ingin melupakanmu. Aku tidak ingin kau hadir lagi.”
“Kenapa, bukanlah kita sepakat untuk menikah?”
“ Kau pikir aku sanggup melihatmu mengobrol seperti tadi dengan wanita lain. Ah sial,.Kenapa aku tidak bisa menghilangkan sikap posesifku, pasti ujungnya akan sama jika aku terus bersikap seperti ini, aku pasti akan dikhianati lagi.” Kali ini nada suara Salsa mulai mengecil, bahkan mata Salsa mengembun pertanda dia ingin menangis.
“Tidak akan sayang. Setelah menikah aku akan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah akan ada karyawanku yang menghandle semuanya jadi kau tidak perlu khawatir, aku berjanji aku tidak akan pernah mengobrol dengan lawan jenis kecuali Alona dan juga ibuku dan tentu saja ibumu.”
“ kau bohong Nino, jika kau tidak berbohong Ayo bercinta denganku.”
“Kau menantangku, hmm?” tanya Nino kali ini Salsa menyingkirkan tangan Nino dari pinggangnya, kemudian dia menindih tubuh lelaki itu dan sekarang dia yang mengambil kendali hingga pada akhirnya percintaan panas itu pun terjadi.
Malam berganti pagi, Salsa mengerjap dia terbangun dari tidurnya dan ketika dia membuka mata, rasa sakit langsung mendera kepala wanita itu. Sejenak otak Salsa kosong, dia kembali memejamkan mata hingga beberapa saat berlalu kejadian demi kejadian semalam langsung menghukum otak Salsa hingga dengan reflek Salsa membuka mata.
“A-apa yang aku lakukan,” ucap Salsa dengan lirih ketika dia mengingat tingkahnya. “Ah, sial. Sekarang bagaimana aku bisa menghadapinya setelah apa yang aku lakukan semalam.
Tak lama terdengar suara derap langkah hingga dengan cepat Salsa menarik selimut kemudian wanita itu langsung menutupi seluruh tubuhnya, dia sungguh malu menatap Nino dan sedetik kemudian pintu terbuka, Nino masuk ke dalam kamar. Rupanya lelaki itu baru saja selesai mamasak, dan dia berniat untuk membangunkan Salsa dan rupanya saat Nino masuk, Salsa sudah terbangun.
Walaupun Salsa menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, tapi Nino bisa melihat ada pergerakan dari calon istrinya. “Sayang, Ayo sarapan,” kata Nino yang berusaha menarik selimut Salsa. Namun dengan cepat Salsa memegang selimutnya dengan erat agar Nino tidak melihatnya. Sungguh dia begitu malu menghadapi Nino.
Salsa masih bergeming dia tidak bergerak sedikit pun dan terus menahan selimutnya. Hingga perlahan, Salsa Turun Dari ranjang tapi dia belum melepaskan selimutnya dan sedetik kemudian wanita itu pun berlari ke kamar mandi sambil menggulung tubuhnya dengan selimut karena dia tidak mau Nino meihatnya dengan wajah yang kacau.
Beberapa saat kemudian
Wajah Salsa sudah segar, tapi rasanya dia begitu enggan untuk keluar dari kamar mandi. Ini sudah 1 jam dia berada di sana, dan selama 1 jam ini pula Nino juga terus diam di depan pintu kamar mandi, tak lupa dia memanggil Salsa agar Salsa keluar dari kamar mandi.
“Kau pergi saja ke cafe, aku akan pulang nanti memakai taksi,” jawab Salsa ketika Nino kembali memanggilnya.
“Ya sudah, baiklah aku akan pergi.”
Salsa berdecak kesal ketika mendengar jawaban Nino yang malah menuruti ucapannya. Memang benar wanita itu adalah makhluk yang rumit padahal barusan Salsa sendiri yang menyuruhnya untuk pergi. Tapi dia malah sendiri yang kesal ketika Nino menuruti ucapannya.
Beberapa saat kemudian, ketika sudah mendengar suara derap langkah menjauh, pertanda Nino sudah pergi, Salsa pun langsung keluar dari kamar mandi.
“Ya,Tuhan, kau mengagetkanku," ucap Salsa. Rupanya, Nino berpura-pura pergi karena dia tahu Salsa tidak akan keluar Jika dia tidak berpura-pura.
“Bukankah sudah aku bilang kau harus ke cafe?” Tanya Salsa, dia bisa saja mengatakan dengan kesal. Namun, hatinya berbunga-bunga sungguh kini Salsa seperti remaja yang baru saja jatuh cinta
Nino tidak menjawab, dia langsung menggenggam tangan Salsa, lalu membawa Salsa untuk pergi ke luar dari kamar dan mengajak Salsa untuk sarapan.
” Apa kau ingat apa yang aku ucapkan semalam?”
“Tidak, aku tidak ingat apapun. Aku tidak mengingat apapun yang terjadi semalam, aku sangat mabuk. Kadar alkohol yang aku minum begitu tinggi, jadi aku tidak mengingat apapun,” dustanya yang langsung berbicara panjang lebar karena takut Nino mengungkit Apa yang dia lakukan.
Ikuti
Nino tidak membalas lagi, lelaki itu memilih untuk melanjutkan sarapan, dan setelah beberapa saat berlalu akhirnya sarapan pun selesai. Dengan cepat, Salsa langsung bangkit dari duduknya kemudian dia memutuskan untuk mengurung diri di kamar. Sebab Dia masih belum mau berbicara dengan Nino, membuat Nino menggeleng.
Setelah Salsa pergi, Nino pun bangkit kemudian di membereskan bekas sarapannya. Lalu setelah itu dia langsung menyusul Salsa ke kamar dan ternyata Salsa sedang berdiri di balkon kamarnya.
Nino berjalan ke arah balkon, kemudian dia memeluk Salsa dari belakang membuat Salsa menggigit bibirnya.
“Nino, kita batalkan saja pernikahan kita,” kata Salsa, dia sudah banyak berpikir dan sepertinya dia terlalu cepat membuka hati. Dia takut terluka lagi sama seperti kemarin. “Ayo kita batalkan pernikahan kita!” Salsa kembali mengulang ucapannya ketika Nino tidak kunjung menjawab dan malah memeluknya semakin erat.
“Hmm, kita batalkan saja," Jawab Nino dia mengerti betul bahwa sekarang Salsa sedang bimbang. Mendengar itu, Salsa langsung melepaskan pelukannya kemudian dia menatap ke arah Nino.
“Kau mudah sekali menyerah, kau tidak ingin mempertahankanku?” Hardik Salsa.
Bukannya menjawab, Nino malah menangkup kedua pipisSalsa kemudian merapikan rambut wanita itu. “Lalu, aku harus bagaimana sayang?” tanya Nino. Salsa menunduk. Ah sial, dia malah bingung dengan perasaannya sendiri.
“Kau ingin aku melepaskanmu?” tanya Nino lagi. Salsa menggeleng. “Atau kita akan kembali pada rencana kita untuk menikah secepatnya?” tanya Nino. Namun Salsa juga menggeleng hingga pada akhirnya Nino membawa Salsa ke dalam pelukannya.
“Pikirkan saja apa yang terbaik, aku tidak ingin membuatmu tertekan. Aku tidak akan pernah pergi kemana-mana, aku akan selalu disampingmu di sisimu. Seperti yang aku bilang semalam, aku tidak akan menyapa lawan jenisku lagi, aku hanya akan berbicara dengan keluarga kita.” Mendengar kesungguhan Nino,. Salsa menggigit bibirnya kemudian dia langsung membalas pelukan Nino. dan sepertinya Salsa mulai mengingat betapa sabarnya lelaki jni.
“Ya sudah ayo kita menikah secepatnya.”
Beberapa hari kemudian
Puluhan pria berjas berjajar di sisi landasan pacu, di sana ada juga Tommy dan juga Nino serta keluarga mereka. Kini, semua orang sedang menunggu pesawat yang membawa peti mati mendiang Ayah Nino.
Ya, Tommy memberikan penghormatan terakhir pada sahabatnya dengan cara memindahkan makam Bastian ke Rusia dan memberikan tempat istirahat terbaik untuk sahabatnya. Banyak sekali yang hadir di sana, dan tentu saja mereka juga memakai pakaian serba hitam sebagai tanda bela sungkawa.
Nino menggenggam tangan Salsa dengan erat, dia menunduk berusaha menahan tangis . Di luar negeri ayahnya hanya di simpan di rumah duka yang sangat sederhana dan Nino tidak menyangka pada akhirnya, ayahnya akan mendapatkan tempat yang layak.
Dan tak lama terdengar pesawat dan ketika pesawat mendarat, seluruh jajaran orang yang sedang menunggu mendekat ke arah pesawat tersebut.
Nino semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Salsa ketika pintu pesawat terbuka, dan sedetik kemudian anak buah Tommy turun sambil membawa peti mati yang berisi jasad Ayah Nino, walaupun sekarang jasadnya mungkin hanya tinggal tulang.
Ketika peti mati diturunkan, semua orang menunduk hormat pada peti mati tersebut, sebagai bentuk penghormatan terakhir. Begitupun dengan Tommy dan tak lama Tommy langsung menegakan kepalanya. Lalu setelah itu berjalan ke arah peti mati yang sudah disimpan di bawah.
“Bastian, maafkan aku yang tidak percaya padamu seharusnya aku lebih mempercayaimu. Aku bersumpah akan membalas perbatuan Gavin dan akan mengembalikan semua hak keluargamu.” Tommy berbicara lirih. Dan setelah mengatakan itu, Tommy menoleh ketika Nino berdiri di sampingnya.
“Nino ...” Tommy maju kemudian dia memeluk Nino dan pada akhirnya tangis lelaki itu pecah di pelukan calon Ayah mertuanya. Seketika suasana haru langsung menyelimuti semuanya, mereka kembali menunduk karena mendengar tangis Nino yang begitu pilu, terlebih lagi semua yang berada di sana sudah mengetahui kisah Bastian.
Sedangkan Salsa langsung menyetarakan diri dengan ibu mertuanya yang sedang duduk di kursi roda, lalu dia memeluk calon ibu mertunya. Tangis ibu dan anak itu benar-benar pecah ketika melihat peti mati Bastian.
Tommy melepaskan pelukannya. “Semua apa yang kau miliki di masa lalu akan kau dapat lagi sekarang. Paman berjanji, akan memberikan hukuman seberat-beratnya untuk Gavin," ucap Tommy. Nino menggangguk, dia berusaha untuk menghentikan tangisnya tapi tidak bisa hingga pada akhirnya anak buah Tommy kembali menggotong peti mati tersebut. Lalu membawanya ke arah mobil dan sekarang semua rombongan pun juga ikut pergi Untuk mengantarkan Bastian ke rumah duka.
***
Pada akhirnya acara yang sangat ditakutkan oleh Davika pun terjadi, di mana hari ini adalah hari pernikahannya dengan Kevin. Saat ini dia sedang berada sudah berada di gereja.
Rasanya dia ingin kabur dan rasanya dia ingin berlari dari sini, bukan seperti ini pernikahan yang dia inginkan, dia ingin menikah dengan lelaki yang normal yang bisa berjalan bersamanya ke arah altar, dan juga dia Ingin lelaki yang kaya dan mapan. Tapi sekarang, dia malah terjebak dengan lelaki miskin dan juga lelaki cacat seperti Kevin.
Dan sekarang, Davika dan juga Kevin sudah berada di depan pendeta bersiap untuk mengucapkan janji sehidup semati. Dengan suara yang gemetar, Davika mengucapkan janjinya disusul oleh Kevin hingga pada akhirnya mereka pun resmi menjadi pasangan suami istri dan ketika sudah selesai, Salsa yang berada di kursi tunggu langsung bertepuk tangan.
Ya dia sengaja menghadiri pesta pernikahan mantan suaminya dan juga Davika, dan ketika pendeta sudah mundur Salsa dan Nino maju untuk memberi selamat pada Kevin.
“Selamat, kalian sudah resmi menjadi suami istri,” ucap Salsa.. mata Kevin menatap Salsa dengan berkaca-kaca, apalagi ketika Salsa menggandeng tangan Nino.
“Pergi sana!” Hardik Aurel. Membuat Salsa menoleh.
“ Ya sudah kalau begitu sampai jumpa, hadiah untuk kalian sudah aku kirimkan e apartemen,” ucap Salsa. “Ayo sayang," ajak Salsa pada Nino.
“Kau duluan saja, aku ingin berbicara dulu dengan dia,” ucap Nino hingga Salsa menggangguk, wanita itu pun meninggalkan Nino terlebih dahulu.
“Seandainya kau tidak cacat seperti ini, sudah dipastikan aku akan menghabisimu,” kata Nino setelah mengatakan itu, Nino pun juga ikut berbalik membuat Kevin memejamkan matanya. Rasanya, dia ingin sekali menghajar Nino.
Dan sedetik kemudian, raut wajah Kevin berubah ketika melihat punggung Nino yang sekarang sudah berjalan berdampingan bersama Salsa, hati Kevin terasa nyeri ketika melihat Mantan istrinya menggandeng tangan wanita lain.