
"Salsa! Salsa!" Kevin terus berteriak walaupun Salsa sudah tidak terlihat lagi, dan sepertinya Salsa sudah menjauh dari hotel. Tidak peduli ibunya berusaha menenangkannya, Kevin hanya terus memanggil nama mantan istrinya. Tidak, dia tidak mau kehilangan Salsa, dia tidak mau kehilangan kedua anaknya, dia ingin kehidupan yang normal seperti dulu. Kevin merasakan lebih bahagia ketika Salsa bersikap posesif padanya, tidak seperti sekarang.
"Kevin, sudah Kevin," ucap Aurel, dia terus berusaha membuat Kevin tenang.
Davika yang baru saja menerima telepon dari ayahnya, langsung berniat untuk pergi meninggalkan aula, tapi dengan cepat langkahnya dihadang oleh Aurel.
"Kau mau ke mana, Davika?" tanya Aurel, kali ini Aurel bersikap lemah lembut pada Davika karena dia yakin hanya Davika yang bisa membantu mereka atau setidaknya jika dia hidup dengan Davika, hidupnya tidak akan terlalu kesusahan. Dia masih bisa hidup mewah, begitulah pikir Aurel.
Davika terkekeh. "Aku harus menemui ayahku dulu," jawab Davika, dia berencana untuk meminta pertolongan ayahnya agar lepas dari jerat hukum Salsa dan tidak harus menikah dengan Kevin.
"Kami akan ikut ke rumahmu," jawab Aurel membuat mata Davika membulat.
"Nanti saja, aku akan menghubungi Bibi." Davika dengan cepat langsung pergi meninggalkan Aurel dan juga Kevin, dan setelah itu Aurel menatap Kevin yang sedang meraung lalu memeluk tubuh putranya.
***
Aurel turun dari mobil, wanita itu baru sampai di rumahnya. Tadi setelah Devika pergi, Aurel memutuskan untuk membawa Kevin pulang ke kediaman mereka. Namun tak lama, mata Aurel membulat ketika banyak sekali koper yang terjejer di luar. Dia ingat tadi Salsa mengatakan bahwa rumahnya sudah disita. Aurel pikir itu hanya sebuah candaan atau gertakan, tapi sepertinya bukan, mengingat sekarang banyak sekali penjaga di luar dan koper serta barang-barang miliknya ada di sana.
"Kenapa kalian berada di rumahku?!" teriak Aurel pada penjaga.
"Tidak, ini rumahku, ini rumah suamiku!" teriak Aurel. Sepertinya, kemalangan benar-benar menimpa wanita paruh baya itu hingga sekarang dia sungguh hancur sehancur-hancurnya.
“Aaaaa!" Tiba-Tiba, terdengar suara orang berteriak. Rupanya Kevin berusaha turun dari mobil, tapi karena dia sedang tidak bisa berjalan, akhirnya dia terjatuh ke tanah.
“Kevin!” Aurel berteriak dengan kencang, ia pun langsung menghampiri putranya lalu membantu Kevin untuk bangkit.
"Mom, Untuk sekarang, kita bagaimana?" tanya Kevin, dia seperti anak kecil yang sedang bertanya pada ibunya. Dia sudah mendengar apa yang dikatakan oleh penjaga di depan dan dia tidak menyangka Salsa benar-benar menghancurkannya.
“Ayo kita ke rumah Davika, Kevin," ucap Aurel, dia lupa, dia masih bisa pergi ke rumah Davika. Sebelum penjaga itu menyita mobilnya,
Aurel memutuskan untuk membantu Kevin masuk kedalam mobil. Dan setelah dia ikut masuk kedalam mobil, dia langsung menyalakan dan menjalankan mobilnya untuk pergi ke rumah Davika, dan sekarang di sinilah dia berada, di depan rumah Davika. Aurel tahu rumah Davika karena saat itu Davika pernah memberitahukan alamat rumahnya.
"Wah, ternyata Davika sangat kaya," ucap Aurel ketika melihat rumah Davika yang mewah, begitupun dengan Kevin yang sedikit bisa bernapas lega karena walaupun tidak hidup dengan Salsa, setidaknya dia masih bisa hidup nyaman dengan Davika. Apalagi Davika mengandung anaknya.
"Sepertinya, Davika bisa menolong kita," ucap Kevin.
Baru saja Aurel akan melanjutkan mobilnya untuk ke pos penjaga, tiba-tiba Aurel menghentikan niatnya kala pintu gerbang terbuka. Mata Aurel dan mata Kevin membulat ketika melihat Davika keluar membawa koper. Rupanya, Davika pun diusir oleh ayahnya karena ternyata selain scandal bersama Kevin, Davika juga sudah membangkrutkan perusahaan dengan meminjam uang secara berlebihan.