
Maaf baru update gengs, aku update dua bab sebagai pengganti kemarin. Besok.hari senin, jangan lupa vote ini ya
Setelah pergi dari kamar Kalindra, Kevin langsung pergi ke kamar Alona berharap reaksi Alona tidak seperti Kalindra yang dingin.
“Alona!” panggil Kevin ketika masuk kedalam kamar putrinya.
“Dadddyy!” Alona berteriak senang saat melihat sang ayah ada di depannya. Dia pun langsung berlari ke hadapan ayahnya kemudian langsung berhambur memeluk Kevin.
“Daddy rindu sekali denganmu," ucap Kevin, dia memeluk Alona begitu erat. Dia begitu rindu dengan anak-anaknya.
”Daddy tidak akan pergi lagi, kan?” tanya Alona ketika Kevin melepaskan pelukannya.
“Hmm, Daddy tidak akan pergi lagi. Maafkan Daddy yang saat itu pernah membentakmu. Kau mau, kan, memaafkan Daddy?"
Alona mengangguk dengan girang. Tentu saja dia sudah melupakan apa yang terjadi 2 bulan lalu. ”Daddy membawa apa?” tanya Alona ketika melihat paper bag yang di bawa oleh ayahnya.
“Oh, ini. ...” Kevin memberikan paperbag pada putrinya.
“Wah.” Alone berdecak senang saat melihat apa yang ayahnya bawa.
"kau suka?" Tanya Kevin, Alona mengangguk senang.
"Ya sudah, Daddy pergi ke kamar dulu. Nanti setelah makan malam, Daddy akan menemanimu bermain.” Alona pun mengangguk. Lalu setelah itu Kevin keluar dari kamar putrinya, dan berjalan ke arah kamarnya, dia hanya berharap Salsa tidak berbicara apapun.
Kevin membuka pintu dan ternyata Salsa sedang tertidur, lelaki itu pun langsung berjalan ke arah walk in closet dan ketika Kevin masuk Salsa membuka mata. Rupanya, wanita itu terbangun ketika, Kevin datang ke kamarnya. Rasa sesak langsung menghinggapi diri Salsa, ketika melihat suaminya datang. Entah kenapa setelah pengakuan Kevin tadi, Selasa lebih memilih untuk tidak melihat suaminya.
Waktu menunjukkan pukul 8 malam, Salsa keluar dari kamar karena barusan Kalindra sudah memanggilnya untuk makan malam bersama. Sebenarnya, Salsa tidak ingin turun karena di meja makan ada Kevin, tapi dia tidak ingin membuat kedua anaknya berkecil hati dan tidak ingin membuat kedua anaknya tahu tentang permasalahan yang terjadi, walaupun tanpa Salsa sadari Kalindra sudah mengetahui bahwa hubungan keduanya tidak baik-baik saja.
Saat Salsa datang ke meja makan, Kevin hanya melirik sekilas dia masih tetap mempertahankan egonya, tidak mau Salsa berbuat semena-mena padanya, hingga dia berencana untuk tidak menyapa Salsa terlebih dahulu, sedangkan Salsa juga sama dia langsung menarik kursi tanpa melihat ke arah Kevin.
“Mommy ingin ini?” tanya Kalindra menawarkan makanan kesukaan Salsa, sebab sang Ibu hanya mengambil beberapa makanan ringan. Sungguh, Salsa benar-benar tidak berselera.
”Hmm, boleh,” jawab Salsa. Kevin melihat interaksi Kalindra dan Salsa, dan entah kenapa dia merasakan perasaann aneh, Kevin merasa Kalindra seperti tidak ingin melihatnya, putranya bahkan terkesan mengabaikan kehadirannya berbeda dengan Alona. Padahal seharusnya Kalidera tidak seperti ini, apalagi mereka sudah lama tidak bertemu.
Makan malam langsung dengan hening, semua sibuk dengan makanan masing-masing berbeda dengan Alona yang dari tadi terus berceloteh dan ditanggapi oleh Kevin. Namun,. mata Kevin terus melihat ke arah kalindra yang tampak anteng dengan makanannya, bahkan sekali- kali Kalindra hanya berbicara pada Salsa.
Acara makan pun selesai, Salsa pamit untuk ke kamar tentu saja dia hanya pamit pada Kalindra dan Alona, sedangkan Kalindra juga pergi ke kamarnya dan Kevin memutuskan untuk menemani Alona.
***
Kevin menarik selimut putrinya, karena Alona sudah tertidur dan setelah itu lelaki itu pun langsung keluar dari kamar Alona. Saat dia melewati kamar Kalindra, tiba-tiba Kevin mendengar suara gelak tawa, dia pun langsung mengintip ternyata Kalindra sedang menelepon seseorang.
Kevin mengerutkan keningnya ketika mendengar percakapan Kalindra dengan orang yang Kalindra sebut paman, tidak mungkin Kalindra berbicara dengan Dareen, adik Salsa, begitulah pikir Kevin.
Tidak ingin terus penasaran, Kevin langsung membuka pintu hingga Kalindra yang sedang menelepon dengan seseorang langsung menghentikan ucapannya dan lagi-lagi Kevin cukup tertohok, ketika Kalindra langsung merubah ekspresinya ketika dia masuk.
“Kau sedang menelpon siapa?" Tanya Kevin.
“Oh, ini bukan siapa-siapa,” jawab Kalindra yang enggan menjawab pertanyaan. Kevin tidak lagi bertanya, lelaki itu memutuskan untuk keluar dari kamar putranya. Lalu setelah itu dia langsung berjalan ke arah kamarnya dan ketika dia masuk ternyata Salsa sudah tidak ada di kamar. Rupanya, Salsa memutuskan untuk tidur di kamar lain karena dia tidak ingin satu ranjang dengan suaminya.
***
Waktu menunjukkan pukul 02.00 malam
Salsa terbangun dari tidurnya, wanita itu mungkin baru terlelap beberapa saat kemudian terbangun lagi ketika dia merasakan kram di perutnya, hingga dengan Salsa bangkit dari berbaringnya kemudian dia berjalan ke arah nakas untuk mengambil obat.
“Tuhan, aku tahu aku kau tidak akan pernah memberi cobaan jika aku tidak sanggup dan aku juga tidak pernah menyalahkanmu atas apa yang terjadi. Tapi, aku hanya meminta satu hal, tolong kuatkan Aku. Tolong berikan aku kekuatan untuk tetap bertahan demi ketiga anakku.” Bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Salsa ketika dia mengadukan semuanya pada Tuhan. Dia tidak punya siapapun dengan arti yang kata, dia tidak punya tempat untuk bercerita.nDia hanya bisa mengatakan semuanya pada TuhanNya.
Mungkin Salsa bisa saja menceritakan semuanya pada keluarganya. Tapi, Salsa lebih memilih memendam semuanya sendiri. Karena Sedari Dulu, Wanita itu sudah terbiasa tidak pernah menceritakan apa yang dia rasakan pada siapapun termasuk pada kedua orang tuanya.
Setelah selesai berdoa Salsa langsung berbalik kemudian dia kembali naik ke ranjang, wanita itu berusaha terlelap. Namun, beberapa kali dia mencoba memejamkan matanya tetapi tetap tidak bisa dan pada akhirnya, Salsa tidak bisa tertidur dan dia melewati malamnya dengan penuh rasa sakit.
Malam berganti pagi, Kevin keluar dari kamar, hari ini dia sengaja tidak pergi ke kantor karena dia ingin mengantarkan kalindra dan Alona pergi ke sekolah, sikap dingin kalindra membuat Kevin kebingungan hingga dia berusaha untuk mendekat lagi pada putranya, walau bagaimanapun dia tidak mungkin membiarkan putranya jauh darinya. Tentu saja yang pertama karena dia menyanyi kedua anaknya, dan kedua hanya anak yang bisa terus menyatukan dia dan Salsa dan anaknya pula yang bisa membuat Salsa terus bertahan bersamanya di tengah apa yang dia lakukan.
“Kalindra .... Alona, Daddy akan mengantar kalian ke sekolah," kata Kevin yang bergabung di meja makan, dia menoleh sekilas pada Salsa, tapi Salsa tidak melihat ke arah suaminya dia anteng dengan sarapannya.
Kalindra dan Alona hanya mengangguk, Alona tampak antusias, berbeda dengan Kalindra dan akhirnya Kevin pun ikut bergabung di meja makan.
***
Kevin mengendarai mobilnya dengan kecepatan pelan, sesekali dia melihat Kalindra yang duduk di belakang, putranya tampak sibuk dengan tab di tangannya. Sesekali putranya tertawa, sungguh dia merasa aneh ketika melihat Kalindra mengabaikannya.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Kevin sampai di sekolah. “Alona aku pergi duluan.” Kalindra langsung turun dari mobil, bahkan lelaki itu tidak pamit pada ayahnya. Rasanya dia tidak sabar untuk bertemu Nino, karena hari ini Nino mengatakan akan berjaga di stand cake miliknya.
Nino jarang sekali pergi ke sekolah, dia hanya akan datang di hari-hari tertentu ketika pekerjaannya senggang dan tentu saja Kalindra terasa senang. Semenjak dia bertemu lagi dengan Nino, kalindra menjadi dekat dengan mantan kekasih ibunya, dan jika Nino sedang menjaga stand yang ada di sekolah ketika siang hari mereka menyempatkan untuk bermain bola bersama.
“Apa kau tahu kenapa Kakak pergi terburu-buru dan dan tidak menunggumu?” tanya Kevin.
“Mungkin Kakak ingin bertemu dengan paman Cake.”
“Paman Cake?” ulang Kevin. Alona dia tidak tahu nama Nino, hingga dia menyebut Nino sebagai Paman Cake. “Siapa paman Cake?” tanya Kevin dia menatap putrinya dengan penuh penasaran.
“Paman yang menjaga stand cake di sekolah,” jawabnya. “Ya sudah Daddy, aku turun.” Alona pun turun dari mobil dan Kevin pun langsung menjalankan mobilnya untuk pulang ke rumah ibunya, dia lupa belum pamit pada ibunya.
***
Kevin turun dari mobil, lelaki tampan itu baru saja sampai di kediaman ibunya dia pun langsung masuk. “Kevin!” panggil Aurel
“Kau menginap di mana semalam?” tanya Aurel lagi.
“Mom, Aku sudah pulang ke rumah Salsa.”
“Apa! kau pulang ke rumah istrimu?” tanya Aurel.
“Hmm, aku tidak bisa terus meninggalkan rumah lama-lama, akan bahaya untuk posisiku,” jawab Kevin hingga Aurel mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Tapi dia tidak kurang ajar lagi bukan padamu?” tanya lagi.
"Tidak, bahkan kami tidak bertegur sapa."
Tiba-tiba Aurel terpikirkan sesuatu. "Kevin apa kau tidak mengirimi uang lagi ke rekening Mommy?”
“Salsa belum mengirimi Mommy uang?”
”Ah ternyata istrimu menyetop uang bulanan Mommy, kurang ajar sekali dia," ucap Aurel, dia terus menggerutu.
Selama ini Kevin selalu memberikan uang bulanan yang fantastis untuk Salsa, tapi sudah satu bulan lalu Kevin tidak memberikan nafkah lagi untuk istrinya. Sebenarnya Salsa tidak masalah, toh bisa dibilang keuangan Salsa lebih baik dari Kevin walaupun Salsa tidak bekerja. Dan karena Kevin tidak memberikannya uang lagi, tentu saja Salsa juga menyetop uang bulanan untuk mertuanya.
“Biar aku yang transfer, aku sudah tidak memberikan nafkah lagi untuk Salsa.”