Oh My Salsa

Oh My Salsa
Bab 38



Gengs kemarin komennya kurang dari 100, jadi aku up satu bab dulu ya. Ayo gas komen sampe 100 komen, bsok 3 bab upnya


Salsa tersenyum ketika melihat layar di mana menampilkan Kevin sedang di Landa kepanikan. Rasanya dia benar-benar puas ketika melihat Kevin seperti ini, terbayang saat dia sekarat dan terjatuh di tangga tidak ada yang menolongnya dan sekarang Salsa melakukan hal yang sama menyuruh pelayan pergi dan juga membiarkan Kevin ketakutan.


Mungkin sekarang posisinya impas. Dulu, Salsa jatuh dari tangga karena dia sedang mengandung dan sekarang Kevin jatuh dari tangga dengan kondisi ada di kursi roda. Dan inilah alasan kenapa Salsa melumpuhkan Kevin, tentu saja sama agar Kevin terjatuh dengan kondisi seperti ini, dan rasa sakit yang akan di terima Kevin akan semakin menjadi-jadi ketika Kevin dalam kondisi yang tak bisa berjalan.


Salsa sengaja memodifikasi kursi roda itu dan dia dia bisa mengontrolnya melalui remote yang dia pegang, dan sekarang Salsa sedang menghentikan kursi roda Kevin yang berada di ujung tangga, membiarkan Kevin menikmati rasa takutnya.


Jujur, Salsa juga lelah dengan apa yang dia lakukan. Dia tidak pernah ingin seperti ini, dan dia tidak menyangka bahwa hubungannya dengan Kevin akan runyam begini. Tapi ini semua berawal dari lelaki itu, seandainya semua baik-baik saja atau Kevin tidak melakukan hal aneh-aneh tentu dia tidak akan mengambil langkah seperti ini.


**"


“Tolong ... tolong!” Kevin berteriak dengan kencang, lelaki tampan itu melihat ke sana kemari namun suasana benar-benar sepi, sayangnya Kevin tidak berpikir bahwa dia pun pernah melakukan hal yang sama pada Salsa, dan dia juga tidak mencurigai istrinya.


Dan tak lama tubuh Kevin terdiam ketika kursi roda mulai bergerak dan sedetik kemudian, teriakan Kevin terdengar sangat kencang karena kursi roda itu terjatuh ke bawah. Kevin terjatuh dengan kursi roda yang dipakainya dan saat di bawah, Kevin berteriak kencang-kencangnya bahkan suaranya hampir habis karena dia benar-benar kesakitan apalagi di bagian kaki belakangnya. Dan kali ini, Kevin tidak hanya berteriak tapi menangis merasakan rasa perih yang tidak berujung.


***


Setelah melihat Kevin sudah terkapar di lantai, Salsa menelepon pelayan yang ada di rumahnya menyuruh mereka untuk membawa Kevin ke rumah sakit, sedangkan dia harus menemui Davika. Ya semalam ternyata Davika meneleponnya dan mengatakan ingin berbicara padanya, dan dia tahu ada sesuatu yang penting yang akan dikatakan oleh wanita itu.


Dan sekarang di sinilah Salsa berada, di restoran yang sudah dia janjikan di mana mereka akan bertemu, dan mungkin sekarang, Davika sudah berada di dalam.


Rupanya, Davika berpikir tidak bisa untuk terus mengambil hati Aurel, karena keuangannya juga benar-benar sedang tidak stabil, hingga dia memutuskan untuk langsung mengatakan pada Salsa, dia tidak peduli peduli lagi tentang apapun yang dia pikirkan adalah Salsa harus mengetahui kehamilannya dan agar Kevin jadi miliknya.


Walaupun Kevin melarang untuk memberitahukan pada Salsa, tapi Davika tidak memperdulikan itu. Terlebih lagi, ponsel Kevin tidak bisa dihubungi dan Davika yakin Kevin sedang menghindari Davika pikir, menemui Salsa adalah jalan terbaik yang bisa dia ambil, dia hanya ingin secepatnya Kevin bertanggung jawab dan karena dia tidak ingin anaknya hidup tanpa seorang ayah, itu sebabnya dia nekat menemui Salsa.


Salsa menggeser pintu hingga pintu terbuka dan ketika Salsa datang, Davika bangkit dari duduknya, berniat menyapa Salsa. Namun, ketika melihat Salsa, nyali Davika langsung menciut walaupun Salsa menatapnya tanpa ekspresi.


Salsa menarik kursi kemudian mendudukan dirinya begitupun dengan Davika dan ketika mereka duduk, jari-jari Davika saling meremass. Sebelum Salsa datang, Davika sudah menyiapkan kata-kata apa saja yang akan diucapkan, tapi ketika melihat wanita itu seketika semuanya buyar lidahnya terasa Kelu untuk si gerakan. Aura Salsa benar-benar hebat. Namun, sangat menakutkan.


“Kau ingin mengatakan apa?” tanya Salsa.


“Aku ...."


“Mengatakan kehamilanmu?” mata Davika membulat saat mendengar ucapan Salsa, dia tidak tahu kenapa wanita di depannya ini bisa menebal apa yang dia ingin sampaikan.


“No-nona, Salsa!” panggil Davika dengan terbata.


“Tidak usah berbasa-basi, aku memang tahu kau hamil anak Kevin,” jawab Salsa. Tentu saja dia sudah mengawasi gerak-gerik Devika dan ada yang melaporkan bahwa Davika datang ke dokter kandungan dan Salsa yakin itu anak dari mantan suaminya.


“Aku minta maaf sebelumnya dan juga ....”


Ketika nanti Davika menikah dengan Kevin, Davika akan menjalani harinya seperti di neraka. mempunyai suami yang lumpuh dan mertua yang toxic, belum jika keluarga Kevin bangkrut sudah pasti Davika yang akan dijadikan bulan-bulanan oleh mereka, dan itu adalah hukuman yang paling pas untuk wanita di depannya ini.


“Tidak ada lagi yang harus dibicarakan lagi, kan?” tanya Salsa membuat Davika tersadar, dia masih benar-benar tidak mengerti dengan reaksi Salsa. “Tidak usah heran dengan sikapku yang seperti ini, aku bukan tipe wanita yang akan memperebutkan lelaki seperti dia. Aku bukan kasihan padamu. Tapi kasihan pada anakmu, sekarang diam saja biar aku yang mengurus semuanya, kau jangan khawatir Kevin pasti mau menikahimu.” Setelah mengatakan itu, Salsa pun lebih untuk pergi meninggalkan Davika.


Sementara di sisi lain


Dua orang berbeda umur sedang duduk saling berhadapan, Nino sedari tadi terus menunduk jari-jarinya saling di meremas, sedangkan Tommy malah asik menikmati makan siangnya seolah tidak ada yang terjadi, berbeda dengan Nino yang tidak menyentuh makanannya sama sekali.


Bagaimana dia bisa makan, jika di depannya ada orang yang dia hormati, sekaligus orang yang paling dia takuti.


“kau tidak makan?" tanya Tommy membuat Nino tersadar, bahkan ketika Tommy berbicara saja, Jantung Nino seperti akan melompat dari rongga dadanya.


“Na-nanti saja Paman,” jawab Nino, hingga Tommy mengangguk-nganggukkan kepalanya, dan kembali menikmati malam siangnya. Sedari tadi, masuk ke ruang privat yang dipesan oleh Tommy Nino benar-benar tidak berkutik, tubuhnya diam membeku, dia terus menebak-nebak apa yang akan dikatakan oleh lelaki itu.


“Jangan Terlalu tegang, tidak akan ada yang terjadi,” ucap Tommy membuat Nino yang sedang melamun lagi-lagi tersadar.


“Ba-baik, Paman," dia bisa saja menjawab seperti itu, tapi tubuhnya tetap diam membeku. Kini, Tommy bagaikan malaikat maut yang akan mencabut nyawanya kapan saja.


Akhirnya acara makan Tommy pun selesai, Tommy menyimpan garpu dan juga sendok yang dia pegang, kemudian dia menatap Nino. “Ayahmu sangat pemberani. Lalu kenapa kau tidak seberani ayahmu dalam mengambil keputusan?” tanya Tommy tiba-tiba, membuat Nino langsung menoleh. Dia semakin bingung dengan apa yang diucapkan oleh Tomi, meminta penjelasan pun dia tidak berani.


“Kenapa kau begitu pengecut?” tanya Tommy lagi


“Pak-Paman, aku tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Paman,” jawab Nino, dia memberanikan diri pertanyaan. Lalu setelah itu, dia kembali menunduk karena tidak berani menatap Tommy.


Tommy bangkit dari duduknya. Lalu setelah itu dia menghampiri Nino dan menepuk bahu lelaki itu. “Terima kasih atas waktumu. Nama ayahmu akan segera dibersihkan,” jawab Tommy. Setelah mengatakan itu Tommy pun berbalik lalu keluar dari ruangan tersebut.


Dan setelah Tommy pergi, tiba-tiba tubuh Nino ambruk ke lantai Dia membeku selama beberapa saat, hingga tak lama bahu lelaki itu bergetar, Nino menangis tergugu, kalau menyadari apa yang diucapkan oleh Tommy. Walaupun Tommy tidak mengatakan secara gamblang, tapi Nino yakin Tommy sudah mengetahui semuanya bahwa ayahnya tidak bersalah.


“Terimakasih, Tuhan," lirih Nino dengan tangis yang berlinang. Akhirnya semua terbongkar, Walaupun dia harus merasakan kesakitan terlebih dahulu dan sekarang, dia menangis bahagia terlebih lagi ucapan Tommy membuatnya terharu di mana Tomi mengatakan akan membersihkan nama ayahnya.


Setelah beberapa saat berlalu, ketika Nino sudah bisa menguasai diri, lelaki itu pun memutuskan untuk keluar dari restoran tempat tadi di mana dia bertemu dengan Tommy.


Saat akan berjalan ke mobilnya, tiba-tiba Nino menghentikan langkahnya kala melihat Siapa yang berdiri di depan mobilnya, siapa lagi jika bukan Salsa. Dan sekarang, Nino mengerti kenapa sikap Salsa tiba-tiba berubah, kemungkian Salsa juga sudah tau bahwa Salsa sudah berubah.


Nino kembali melanjutkan langkahnya, kemudian dia menatap Salsa dengan mata yang berkaca-kaca. Mati-matian dia menahan untuk tidak menangis.


“Da-darri mana kau tahu aku ada di sini?” tanya Nino dengan terbata. Bukannya menjawab, Salsa malah maju, kemudian wanita itu langsung memeluk Nino, dan sedetik kemudian Nino sudah tidak bisa lagi menahan tangisnya, dia memeluk Salsa dengan erat di sertai tangis dengan suara yang kencang.


Sedangkan Kevin ....