Oh My Salsa

Oh My Salsa
bab 46



gengs dua bab dulu ya, kemarin komennya dikit banget bsok 3 bab ya tapi ayo gas komen gas like


Mata Aurel membulat ketika melihat Davika keluar dari rumah, yang membuat mereka terkejut adalah Davika membawa koper dan sudah dipastikan Davika diusir oleh keluarganya.


Ya, faktanya memang Davika di usir. video itu dengan cepat beredar hingga sampai ke keluarga Davika, ayahnya begitu murka apalagi tadinya ayahnya ingin menjodohkan Davika dengan anak rekan bisnisnya. Tapi sebelum itu terjadi, Davika malah terkena scandal.


Dan yang membuat yang paling membuat Ayah Devika murka adalah Davika hampir saja membangkrutkan perusahaan dengan meminjam uang secara berlebihan dan perusahaan hampir bangkrut, itu sebabnya sang ayah murka dan mengusir Davika keluar tanpa membawa apapun.


bahkan Davika juga tidak diperbolehkan membawa mobil dan sekarang Davika bingung harus bagaimana, dia hanya mempunyai satu hpartemennya dan dia berharap dia tidak berurusan lagi dengan Kevin. Setidaknya, Davika mempunyai deposit yang bisa dia cairkan dan itu cukup untuknya dan anaknya.


Tanpa Davika sadari sekarang, bahaya sedang mengintai apalagi jika bukan kehadiran Kevin dan Aurel yang sekarang ada di depannya.


Setelah Davika keluar, Aurel menyalakan dan menjalankan mobilnya untuk menghampiri Davika. Mata Davika membulat ketika melihat mobil siapa di depannya, dan ternyata mobil Aurel.


Sial! mati-matian dia menghindari wanita ini tapi ternyata Aurel malah datang ke tempatnya. “Bi-Bibi!’ panggil Davika dengan terbata.


“Bibi Kenapa bibi ada di sini?” tanya Davika dengan was-was.


“Davika, kenapa kau membawa koper? kau mau pergi ke mana?” tanya Aurel, kali ini dia tidak bisa bersikap Arogan pada Davika, dia harus bersikap lemah lembut Karena sekarang hanya Davika yang bisa membuat hidupnya tetap seperti dulu dan tidak kekurangan.


"Aku diusir oleh ayahku," jawab Davika dengan lesu. Dia baru saja di usir dan sekarang harus menghadapi Kevin dan Aurel.


"Apa?!" Aurel berteriak saat mendengar itu.


"Hmm, Aku diusir, jadi maaf aku tidak bisa membawa kalian atau tidak bisa bersama kalian," ucap Davika, dia lebih baik berbohong dan mengatakan bahwa dia tidak punya apa-apa lagi, daripada Kevin dan ibunya harus mengikuti padanya.


"Ayo kita ke apartemenmu. Kau punya apartemen, bukan?" Tiba-Tiba Kevin berteriak dari arah dalam mobil membuat mata Davika membulat, begitu pun dengan Aurel.


"Ayo, ayo kita pulang ke apartemenmu," ucap Aurel dengan semangat.


"Tap—" belum sempat Davika membatah, Aurel dengan cepat menarik tangan Davika lalu memasukkannya ke mobil, hingga pada akhirnya Davika tidak bisa untuk menolak lagi, dan mau tak mau dia ikut ke dalam. Sekarang, Davika menyesali kenapa dia harus mengikuti anak anak dan ibu ini?


Seketika, cintanya yang terikat pada Kevin, menguap begitu saja membayangkan hidup dengan ibu mertua seperti Aurel, dan suami seperti Kevin yang lumpuh dan sudah kehilangan semuanya.


Pada akhirnya, setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, mobil yang dikendarai oleh Aurel sampai di basement apartemen Davika.


"Setidaknya kau masih mempunyai apartemen yang layak," ucap Aurel ketika mereka sampai.


"Bibi, tapi aku ingin tinggal sendiri," kata Davika yang memberanikan diri untuk berbicara.


"Kau ingin dilaporkan oleh Salsa ke polisi karena kau tidak jadi menikah dengan Kevin?" Kali ini, Aurel menggunakan ancaman Salsa agar Davika menurut dan tidak mengusir mereka, membuat Davika menggigit bibirnya. Sekarang, penyesalan bertubi-tubi. Dia menyesal telah berurusan dengan Salsa dan sekarang, posisi Davika terjepit. Jika dia tidak menampung Kevin dan Aurel, dia akan dilaporkan pada Salsa dan Salsa akan memasukannnya kedalam penjara.


'Tuhan, kenapa hidupku jadi rumit begini?' Davika membatin. Dia menoleh ke arah Kevin yang duduk di depan. Rasanya, cinta Davika untuk Kevin lenyap begitu saja ketika situasinya seperti ini, bahkan yang ada dia merasa bergidik ketika membayangkan harus mengurus Kevin yang lumpuh.


Davika menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak, dia tidak mau begini.


"Davika, jangan kabur dari kami, kau mau masuk penjara? Bukannya tadi Salsa sudah menyuruhmu untuk menerima Kevin sebagai suamimu? Bukankah kau juga sedang mengandung anak Kevin?" Aurel kembali memberikan peringatan untuk Davika membuat Davika memejamkan matanya.


"Davika, ayo bantu Kevin," ucap Aurel.


Davika menghentikan langkahnya ketika mendengar suara Aurel. Dia yang baru saja akan pergi mendahului, terpaksa harus kembali berbalik untuk membantu lelaki itu.


"Ah!" Tiba-Tiba Davika berteriak ketika dia merasa perutnya kram, tentu saja karena dia barusan membantu tubuh Kevin yang cukup berat untuk mendudukkannya di kursi roda.


"Kau tidak apa-apa? Apa ada yang sakit?" tanya Aurel, dia kembali perhatian pada wanita itu padahal sebenarnya dia sama sekali tidak peduli dengan apa yang dirasakan oleh Davika.


"Hm, aku tidak apa-apa." Setelah itu Davika berbalik, meninggalkan ibu dan anak itu.


"Kevin, apakah tempatnya besar?" tanya Aurel ketika dia mendorong kursi roda Kevin.


"Tidak terlalu besar, hanya ada satu kamar," ucap Kevin dengan lemas.


Tubuh Kevin sudah sangat lelah, begitu pun dengan Aurel. Kevin benar-benar kehilangan semuanya dalam sekejap, dan sekarang dia hanya ingin beristirahat sebelum dia kembali berjuang untuk mendapatkan Salsa. Ya, dia tidak akan menyerah, dia akan mendatangi rumah mertuanya. Jika perlu, dia akan menunggu dan berlutut di hadapan Tommy agar Tommy kembali memaafkannya.


" Davika kami tidur di mana?" tanya Aurel ketika masuk kedalam apartemen Davika.


"Kalian tidur saja di sofa. Aku mengantuk, aku ingin tidur di kamarku dan jangan mengganggu aku," ucap Davika yang enggan di recoki oleh Kevin dan ibunya.


"Kami harus tidur di sofa?!" Aurel berteriak dengan kencang karena tidak terima dengan apa yang diucapkan oleh Davika.


"Jika kalian tidak mau, keluar saja dari apartemen ini. Ini apartemenku, jadi patuhi aturan yang ada di sini." Davika yang merasa lelah untuk terus berdebat, lebih memilih untuk berbalik dan masuk ke dalam kamarnya.


"Kevin, bagaimana ini? Mommy mana bisa tidur di tempat seperti ini," ucap Aurel, dia menjadi kesal sendiri.


"Mom, tolonglah, sekarang sudah malam, kita tidur saja di sini daripada kita tidur di tempat lain," ucap Kevin yang juga merasa lelah.


"Apa kau masih punya uang untuk menginap di hotel?" tanya Aurel karena saat tadi berada di mobil, Aurel mendapatkan notifikasi bahwa kartu kreditnya sudah diblokir dan dibekukan, begitu pun dengan Kevin yang juga tidak membawa dompetnya, dan dapat dipastikan Salsa juga sudah memblokir semuanya.


Pada akhirnya, Aurel pun langsung mendudukkan diri di sofa. "Mommy, bantu aku," ucap Kevin membuat Aurel berdecak kesal. Dia pun langsung membantu putranya membuat Kevin tersenyum getir. Kini, dia bagaikan pecundang.


***


Salsa menggeliat dalam tidurnya. Dia membuka mata kemudian mengerjapkan pandangannya dan tak lama, dia melihat ke arah jam, ternyata waktu menunjukkan pukul tiga dini hari.


Salsa mengerutkan keningnya ketika Nino tidak ada di tempatnya. Wanita itu pun langsung bangkit dari berbaringnya kemudian turun dari ranjang lalu keluar dari kamar.


"Nino, Nino," panggil Salsa.


"Aku di sini." Tiba-Tiba, terdengar suara Nino dari arah dapur.


****