
Davika keluar dari kamar mandi, dia sudah rapi memakai pakaiannya, tentu saja setelah apa yang terjadi. Setelah itu, dia menghampiri Kevin yang sudah duduk di sofa dan menunggu dirinya karena mereka akan makan bersama.
"Kau lelah, Sayang?" tanya Kevin, ketika Davika duduk di sebelahnya.
"Hmm, Aku lelah." Davika menyandarkan tubuhnya ke tubuh Kevin.
"Suapi aku," ucap Davika membuat Kevin terkekeh, sikap manja Davika begitu membuat Kevin senang. Dalam pandangannya kali ini dia benar-benar menikmati apa yang dia lakukan, dosa itu benar-benar membuat Kevin terlena.
"Oh ya, apa danamu benar-benar ditahan oleh Salsa?" tanya Davika ketika mereka baru saja menyelesakan acara makan.
"Danaku ditahan, bahkan beberapa bisnis yang aku agendakan di luar perusahaan juga gagal. Bisnisku dengan teman-temanku terancam batal," ucap Kevin. Seketika, Davika menggeleng.
"Jangan batal, kau bisa pakai dana perusahaanku." Inilah kelemahan Davika, dia terlalu mencintai Kevin, sedangkan Kevin menjadi berubah pikiran. Sepertinya selain bisa mendapatkan tubuh wanita ini, dia juga bisa memanfaatkan Davika, pikiran itu muncul ketika barusan Davika menawarkan dana untuknya.
"Kau tidak keberatan? Apa perusahaanmu sedang baik-baik saja?" tanya Kevin.
Davika mengangguk dengan cepat. "Perusahaanku baik-baik saja, jadi aku rasa kau bisa memakai danaku. Kau butuh berapa?" tanya Davika.
Kevin pun menyebutkan nominalnya.
"Memang sedikit besar, tapi tidak apa-apa, aku masih bisa menangani itu," ucap Davika dengan polosnya.
"Kau baik sekali, Sayang," jawab Kevin, dia mencium pipi Davika membuat Davika terbang ke atas awan hingga pada akhirnya waktu menunjukkan pukul lima sore.
Davika keluar terlebih dahulu dari ruangannya dan sekarang, Kevin memutuskan untuk pulang. Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Kevin sampai di rumah. Lelaki itu langsung turun, tak lupa dia memastikan tampilannya sudah rapi agar tidak terciduk oleh Salsa.
"Daddy!" teriak Alona ketika Kevin masuk ke dalam, hingga Kevin langsung menangkap tubuh anaknya.
"Apa Mommy ada di rumah?” tanya Kevin lagi karena mobil Salsa terparkir di pekarangan.
"Daddy, ayo temani aku main, sudah lama sekali kita tidak bermain bersama," ajak gadis kecil itu hingga Kevin langsung menurunkan Alona dari pakuannya.
"Daddy mandi dulu, oke? Setelah itu kita bermain," jawab Kevin hingga Alona mengangguk dan Kevin pun langsung masuk ke dalam.
"Sayang," panggil Kevin ketika dia melihat Salsa.
ketika mendengar panggilan itu rasanya Salsa sungguh muak dan ingin mencabik mulut lelaki itu.
"Apa?" tanya Salsa, seperti biasa nada wanita itu masih terdengar ketus. Kini, Salsa sadari betul bahwa Kevin sedang berada di bawahnya, tentu saja karena Salsa juga tahu Kevin melakukan itu agar posisinya tetap aman.
"Kau ingin makan sesuatu? Bagaimana jika kita makan di luar?" usul Kevin, dan lagi-lagi membuat Salsa muak, tapi tak lama dia terpikirkan sesuatu.
"Apa kau punya uang di luar uang perusahaan?" tanya Salsa membuat mata Kevin membulat.
"Maksudku, aku ingin sebuah tas yang baru yang ada di keluaran terbaru, tapi aku tidak ingin kau membelikan tas itu dari uang perusahaan," ucap Salsa, membuat Kevin bingung.
"Maksudmu, Sayang?" Kevin benar-benar bingung dengan apa yang diucapkan istrinya.
"Ini sebabnya aku bertanya, apa kau punya uang yang di luar perusahaan?" tanya Salsa.
"Ya maksudku kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Kevin lagi yang semakin bingung.
"Aku ingin sebuah hadiah, tapi aku tidak ingin kau memakai udang dari perusahaanmu. Kau harus mendapatkan uang dari luar perusahaan," ucap Salsa, yang menjelaskan secara singkat, hingga ini Kevin mengerti.
Kevin tampak berpikir kemudian dia teringat sesuatu. "Aku mempunyai bisnis dengan teman-temanku," dustanya padahal dia ingin meminta uang pada Davika untuk membelikan hadiah untuk Salsa, dan akhirnya tujuan Salsa tercapai. Dia ingin Kevin memoroti Davika.