
Nyo-nyonya!” wajah Aurel lebih memucat bahkan cenderung memutih saat tanpa sengaja dia membentak Salsa di hadapan Mayra.
“Oh, jadi begini perlakuanmu selama ini pada putriku?" Tanya Maira, kali ini wanita itu tidak bisa menahan emosinya. Dia juga menatap Aurel dengan tatapan marah membara.
“Ma-maaf, Nyonya.” hanya itu yang Aurel bisa katakan. Dia berpikir jika dia terus melawan, besannya akan murka. Mayra tidak menjawab lagi, dia berusaha menahan emosinya apalagi dia sadar dia sedang ada di rumah sakit.
“Kenapa kau di sini?” tanya Mayra lagi yang menoleh ke arah Salsa, mengabaikan Aurel.
“Oh, Kevin masuk rumah sakit, Mom. Aku tidak tahu dia kenapa,” jawabnya.
“Nah itu dia Nyonya Mayra. aku membentak Salsa karena panik.” Dengan cepat, Aurel berbicara agar tidak di salahkan oleh Mayra.
Mayra menoleh. “Aku tidak bertanya padamu, tutup mulutmu. Jika aku murka kau akan menyesali semuanya,” balas Mayra membuat Aurel angsung terdiam. Sekarang bisa bahaya jika Aurel memperpanjang semuanya, ditambah lagi Sebenarnya selama ini dia meminjam uang pada besannya untuk hidup mewah, tentu saja dia menjaminkan sertifikat rumah miliknya pada Mayra. Dan jika Mayra murka bisa saja dia dan keluarganya di usir.
“Mommy pulanglah, Alona sedang bersama Daddy. jadi aku titip Alona saja nanti Kalindra aku suruh ke sana,” ucap Salsa karena dia tidak ingin ada keributan. Salsa rasa, dia sudah cukup memberi shock terapi untuk ibu mertuanya. Toh, masih banyak yang akan Salsa lakukan untuk membalas kelakuan Aurel.
“Ya sudah, Mommy pulang," jawab Mayra, setelah itu dia pun langsung menoleh ke arah Aurel.
“Jika kau berani kau meninggikan suara di hadapan anakku, maka kau akan tahu akibatnya. Salsa laporakan pada Mommy jika wanita ini menyakitimu.” Dalam sekejap, Maira berubah di mata Aurel, dan itu membuat Aurel bergidig.
Salsa mengangguk, lalu setelah itu Mayra pun berbalik, hingga kini meninggalkan Salsa dan Aurel saja.
“Dengar bukan apa kata Mommyku?” Tanya Salsa ketika Aurel akan membuka mulut, hingga Aurel mengatupkan bibirnya, dia pun memutuskan untuk duduk menunggu dokter untuk keluar.
Dan tak lama, dokter pun keluar dari ruang rawat Kevin. Aurel langsung bangkit dari duduknya, kemudian menghampiri dokter, berbeda dengan Salsa yang tampak santai terkesan tidak mau perduli pada kondisi Kevin, tentu saja karena dia sudah merencanakan semuanya.
“Bagaimana keadaan anak saya, Dok?” tanya Aurel dengan tidak sabar.
“Oh anak ibu hanya mengalami gangguan di beberapa titik syaraf," Jawab dokter.
“Apa aku aku boleh melihat anakku sekarang?” tanya Aurel lagi Hingga dokter pun mengangguk. Lalu setelah itu Aurel langsung masuk ke dalam, meninggalkan salsa di luar.
“Terima kasih atas bantuannya, Dok," ucap Salsa ketika Aurel sudah masuk. “Aku akan mengirimkan Apa yang kau Mau,” balas Salsa hingga dokter pun mengangguk.
“Baik, terimakasih, Nona Salsa. Sampai jumpa.” setelah mengatakan itu, dokter pun pergi dan Salsa kembali duduk.
“Kevin!” panggil Aurel ketika dia masuk ke dalam ruang rawat putranya, dia langsung menggenggam tangan Kevin dan terus memanggil nama putranya karena mata Kevin sedikit terbuka.
Kevin seperti tidur. Namun, dia mendengar suara ibunya hingga beberapa saat berlalu akhirnya Kevin mulai bisa membuka mata.
“Mom!" Panggil Kevin tanpa suara. Bahkan dia merasa tenggorokannya begitu nyeri.
“Apa yang terjadi, kenapa kau jadi seperti ini. Apa istrimu telah melakukan sesuatu padamu? Bagaimana mungkin dia tidak becus menjagamu.” Aurel terus mencocos membuat Kevin semakin merasakan nyeri di kepalanya.
“Benarkah, apa ini tidak ada hubungannya dengan istrimu?” tanya Aurel.
“Tidak Mommy tolong jangan terlalu mencari gara-gara dengan salsa.” Di tengah rasa sakit yang melandanya, Kevin masih sempat berpikir untuk mengamankan posisinya dengan cara tetap membuat Salsa perduli dan mengingatkan ibunya agar tidak mencari gara-gara dengan Salsa.
“Kau ini, masih saja mengingat dia," ucap Aurel. belum Kevin menjawab, tiba-tiba pintu terbuka hingga Aurel menoleh ternyata Salsa yang masuk.
“Untuk apa kau masuk ke dalam ruangan ini?” tanya Aurel dengan sinis.
“Mommy tidak ingat apa yang tadi diucapkan oleh Mommyku . Apa mau aku telepon lagi Mommyku m sekarang.” Salsa mulai meradang, karena ternyata wanita paruh baya ini tidak mempan dengan ancamannya, hingga Aurel langsung terdiam. Pada akhrirnya, Aurel mengalah. Dia memutuskan untuk keluar dari ruang rawat putrinya.
“Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk kurang ajar pada ibumu. Tapi, aku rasa Mommy sudah sangat keterlaluan," ucap Salsa pada Kevin.
“Tidak apa-apa,” kata Kevin. Dia tersenyum, kemudian berusaha menggenggam tangan Salsa.
***
Davika ketika melihat tespek di tangannya, ternyata dia sedang mengandung dan tentu saja anak Kevin. Walaupun sempat kesal karena kemarin Kevin tiba-tiba lemah saat akan bermain. tapi Davika cukup senang ketika dia menyatakan hamil dan akhirnya dia bisa menjadi istri Kevin.
Selama ini, Kevin selalu menjanjikan janji manis dengan dan mengatakan bahwa dia sudah mempunyai bisnis lain yang akan menghidupi Davika hingga Davika terperdaya dan terus memberikan uang pada Kevin, tanpa dia tahu Kevin benar-benar akan jatuh miskin di tangan Salsa.
Davika mengutak-atik ponselnya, kemudian dia berencana menelpon Kevin untuk memberitahukan kabar kehamilannya. “Halo Sayang!" Panggil Davika. Namun tak lama devika menghentikan ucapannya ketika dia akan berbicara lagi, karena ternyata yang mengangkat panggilannya adalah Salsa dan dengan cepat, Davika pun langsung mematikan panggilannya.
Walaupun dia ingin mengatakan pada Salsa bahwa dia sedang mengandung agar Salsa melepaskan Kevin, tapi dia belum siap sekarang dia tidak bisa menghadapi wanita itu seorang diri dia harus menghadapi Salsa dengan Kevin.
“Siapa sayang?" tanya Kevin ketika Salsa mengangkat panggilannya. Barusan ponsel Kevin berdering tapi karena dia belum bisa mengangkat menggerakkan tangannya karena masih lemas dia meminta tolong pada Salsa.
“ Oh itu hanya spam,” jawab Salsa dia tidak akan menyebutkan Davika yang meneleponnya. Salsa melihat ke arah jam, kemudian wanita cantik itu menoleh lagi ke arah Kevin.
“Bolehkah aku makan di bawah?" Tanya Salsa.
“Kau makan di sini saja, jangan tinggalkan aku,” jawab Kevin yang tidak mau di tinggalkan.
“Sebentar saja. Aku ingin makan dengan tenang,” kata Salsa lagi Hingga mau tak mau Kevin menggangguk dan setelah itu Salsa pun berbalik kemudian keluar dari ruang rawat Kevin.
Salsa keluar dari ruang rawat Kevin dia sengaja tidak langsung pergi, wanita itu berdiam diri sejenak di depan pintu. Sesekali dia mengintip mantan suaminya. Hingga setengah jam kemudian, Salsa kembali mengintip ternyata Kevin sedang merintih.
Lelaki memegang perutnya yang mungkin terasa nyeri. Tentu saja itu reaksi obat yang Salsa berikan tadi sore, dan sekarang obat itu baru bereaksi. Karena obat itu, Kevin harus merasakan rasa sakit yang berkali-kali lipat.
Tentu saja apa yang Salsa tidak sebanding dengan apa yang Salsa lakukan, di mana Kevin menghancurkannya sampai ke dasar, bahkan tega membunuhh anak mereka.