
“Ada apa?" Tanya Aurel ketika mereka sudah duduk di kursi.
Jari-jari Davika saling meremas, tadi dia begitu berani untuk mengatakan kehamilannya, tapi ketika melihat Aurel seperti ini nyalinya mendadak menciut. Bagaimana jika dia mendapatkan kata-kata yang menyakitkan dari ibu lelaki yang dia cintai.
“Bibi ....” Davika menghentikan ucapannya ketika melihat tatapan Aurel.
“'Cepat, kau ingin mengatakan apa aku tidak punya waktu," omel Aurel membuat Davika langsung tergagap.
“Bibi, aku kemari ingin mengajak bibi berbelanja," jawab Davika. Tak lama, dia memejamkan matanya ketika mengatakan itu. Harusnya dia tidak mengatakan hal seperti ini. Tapi dia tidak punya pilihan lain.
Melihat reaksi Aurel saat ini, membuat Davika mengerti tipe wanita di depannya ini. Karena dia butuh dukungan Aurel agar Kevin mau bertanggung jawab atas kehamilannya, hingga Davika berpikir harus mengambil hati perempuan di depannya ini dan membatalkan niatnya untuk mengatakan kehamilannya.
Mendengar itu, seketika wajah Aurel langsung berbinar, dia menatap Davika dengan tatapan tidak percaya, sedangkan Davika hanya tersenyum getir, tadi reaksi wanita di depannya ini begitu ketus. Tapi setelah dia mengatakan mengajak berbelanja Aurel menatapnya dengan sangat berbeda.
“Benarkah kau ingin mengajak bibi berbelanja?” tanya Aurel memastikan.
“Hmm, bibi. Aku ingin mengajak bibi berbelanja," jawab Davika, dia tersenyum dengan terpaksa. Padahal dia juga bingung mendapat uang dari mana. Sedangkan saat ini dia sedang berusaha untuk mengembalikan dana yang dia pinjam dengan jaminan Saham perusahaannya.
“Ia, bibi.”
“Ya sudah kau tunggu di sini. Bibi akan mengganti pakaian bibi terlebih dahulu.” Setelah mengatakan itu, Aurel pun dengan cepat bangkit dari duduknya, lalu berjalan masuk kedalam untuk mengganti pakaiannya.
Setelah dipergoki oleh Mayra membentak Salsa di rumah sakit, Aurel tidak lagi berbelanja. Sebab Dia tidak mungkin meminjam uang dari besannya, karena pasti besannya masih marah dan ketika Devika mengajak berbelanja, tentu saja Aurel bahagia dia akan menyalurkan hasrat berbelanjanya.
***
“Apa!” pekik Davika saat kasir mengatakan total belanjaan Aurel. Sedari tadi Aurel tidak berhenti mengambil barang, sedangkan Devika tidak bisa menghentikan wanita itu dan sekarang ketika membayar Devika benar-benar terkejut dengan total belanjaan Ibu dari lelaki yang dia cintai, Apalagi Aurel mengatakan masih ingin berbelanja ke beberapa toko. Satu toko saja sudah membuat Davika pusing, apalagi toko-tokoh berikutnya begitulah pikir wanita itu.
“Kenapa?” tanya Aurel ketika mendengar pekikan Davika.
“Oh tidak, bibi, tidak apa-apa,” jawab Davika. setelah itu Davika pun mengulurkan kartu kreditnya dan mulai membayar semua belanjaan Aurel. Dan sekarang dia mulai memikirkan bagaimana dia membayar cicilan kartu kredit bulan depan, sedangkan dia harus mencicil uang yang dia pinjam dan mungkin jika orang tuanya tahu, mungkin Davika akan di depak.
Setelah membayar belanjaan, Davika dan Aurel pun keluar dari store lalu pergi ke toko lain membuat Davika benar-benar pusing, apalagi ketika mereka masuk ke toko baru Aurel sudah berjalan ke sana kemari dan lagi-lagi Davika harus merasakan rasa pusing yang luar biasa ketika total belanjaan Aurel di toko kedua lebih dari di toko yang pertama dan Davika sepertinya benar-benar tidak sanggup lagi untuk membayar belanjaan Aurel di toko ke 3.
“Bibi!” panggil Davika ketika Aurel terlihat akan masuk ke toko ketiga.
“Kenapa?” tanya Aurel.
“Bibi aku ada meeting mendadak. Bagaimana jika kita berbelanja lain waktu," ucap Davika.
Aurel tampak berpikir. “Baiklah, tapi janji kau harus mengajak bibi berbelanja lagi."
****
Waktu menunjukkan pukul 08.00 malam
Kevin, Salsa serta kedua anak mereka sedang berada di meja makan, mereka sedang makan malam bersama. Sedari tadi, Kevin terus melihat ke arah Kalindra di mana putranya sama sekali tidak mau melihat ke arahnya.
Dia sudah 1 bulan di rumah sakit. Tapi selama 1 bulan itu pula, Kalindra tidak menjenguknya hanya Alona saja yang datang, bahkan sekarang ketika dia sudah di rumah dan menggunakan kursi roda, Kalindra tampak acuh. bukankah seharusnya putranya bertanya karena kondisinya aneh, sedangkan Alona tentu saja cerewet, menanyakan keadaan dirinya. Lalu, kenapa Kalindra tidak.
Salsa yang sedang menikmati makanan melihat ke arah tatapan Kevin yang sedang melihat Kalindra, dia cukup bersyukur ketika Kalindra bersikap seperti itu pada Kevin, ini hukuman yang pantas juga untuk Kevin.
“Ekhem.” tiba-tiba Kevin berdehem, membuat Kalindra yang sedang mengunyah makanan langsung menoleh. Namun dia hanya melirik sekilas, kemudian melanjutkan acara makannya dan entah kenapa itu tiba-tiba membuat Kevin terasa sesak.
Dia mungkin seorang badjingaan. Tapi dia juga menyayangi anak-anaknya, itu sebabnya dia merasa sedikit kesal ketika kalindra tidak memperlihatkan kepeduliannya.
“Kaliandra!” panggil Kevin. pada akhirnya, dia tidak tahan, hingga memutuskan untuk memanggil Kalindra. padahal ini sedang makan malam.
“Kenapa?” tanya Kalindra, dia menjawab tanpa ekspresi membuat Kevin kembali merasakan sesak. Kenapa Kalindra sedingin ini.
“Tidak apa-apa," jawab Kevin. Sehingga Kalindra langsung melanjutkan makannya, begitupun dengan Kevin. Acara makan pun selesai, Alona pergi terlebih dahulu dengan Salsa, sedangkan di meja makan itu masih ada Kevin dan juga kalindra.
“Kalindra, boleh Daddy bertanya?” tanya Kevin. Kalindra yang baru saja akan bangkit dari duduknya dan pergi ke kamar langsung kembali menundukkan dirinya, kemudian menatap Kevin.
“ Kenapa?” tanya Kalindra.
“Apa kau masih marah dengan Daddy?” tanya Kevin lagi.
“Tidak, biasa saja,” Jawab Kalindra. Padahal, Semenjak Kevin menampar Salsa kebencian di hati kalindra mulai memburu, terlebih lagi saat itu Kalindra memergoki ayahnya masuk ke dalam hotel bersama seorang wanita.
Sebelum Kevin masuk rumah sakit dan Kevin masih sehat, Kalindra yang saat itu pulang sekolah tanpa sengaja melihat ke arah hotel, karena kebetulan mobil sedang berhenti. Dan dia melihat secara jelas ayahnya turun dari mobil dengan merangkul pinggang Davika.
Walaupun kalian Kalindra masih umur 11 tahun, tapi Kalindra mengerti apa yang ayahnya telah perbuat, belum lagi dia juga masih benci Karena Kevin dulu menampar Salsa
“Tapi kenapa kau terlihat tidak peduli dengan kondisi Daddy saat ini?" Tanya Kevin lagi. Awalnya Kevin tidak ingin bertanya ini karena takut mendengar jawaban Kalindra. Tapi, dia penasaran Kenapa Kalindra bisa sedingin ini padanya..
“Daddy sudah sehat bukan. Jadi, kenapa aku harus bertanya lagi," jawab Kalindra, dan lagi-lagi ucapan Kalindra bagai pedang yang menghunus jantungnya.
“Sudah, kan, tidak ada lagi yang harus di tanyakan?” tanya Kalindra ketika Kevin sedang melamun.
Kevin tersadar, “Hmm, sudah," jawab Kevin. Kalindra pun bangkit dari duduknya, lalu pergi meninggalkan ruang makan. Sedangkan Kevin hanya bisa terus menatap punggung putranya dengan rasa sesak yang luar biasa.