
gengs maafin aku baru up, tanganku kesiram minyak huhu. jadi aku ngetiknya pelan-pelan. yu gas Yo 100 komen besok dobel up lagi. Sekarang aku juga Doble up kok, jadi scroll ya
“Tu-Tuan, Kevin!" panggil Davika ketika Kevin membersihkan pakaian yang terkena minuman tadi oleh tisu. Secara sengaja tatapan Davika, menatap Kevin dengan tatapan menggoda. Bahkan wanita itu menggigit bibirnya, sedangkan Kevin yang juga sedang berpikiran sama dengan wanita itu tentu saja juga mengerti apa dengan maksud pikiran Davika, hingga tangan lelaki itu bergeser ke bawah memegang paha Davika membuat tubuh Davika melengkung dan Kevin semakin tertantang dengan reaksi wanita itu.
Tak sangka, Davika langsung membaringkan tubuhnya dengan posisi yang sangat menantang, dia seperti mengumpankan dirinya pada seorang singa. Kevin yang melihat itu menyeringai tidak perlu bertanya lagi dia sudah mengerti maksud dari wanita di depannya itu.
Setelah itu, Kevin langsung membuka kemejanya dan tanpa aba-aba dia langsung menindih tubuh Davika. Pemanasan demi pemanasan terjadi, suhu di ruangan itu mendadak meningkat, kedua insan yang tidak seharusnya berbuat seperti itu malah melakukan hal yang tidak pantas. Kevin tidak mengingat Salsa dan keluarganya yang dia pikir adalah kepuasan semata, hingga pada akhirnya entah siapa yang mulai keduanya menanggakakan pakaian.
Pergulatan demi pergulatan terjadi di ruangan itu, Kevin benar-benar larut dengan apa yang mereka lakukan. Apalagi dia sudah tidak menyentuh Salsa cukup lama dan sekarang ketika Davika menawarkan kehangatan. Tentu saja dia terlena layaknya seperti orang yang sedang berbuat dosa, yang dilakukan Kevin saat ini begitu menyenangkan.
pada akhirnya tubuh Kevin terjatuh di atas tubuh Davika, mereka baru saja mencapai puncaknya bersama-sama. Nafas keduanya masih terengah, Kevin berusaha mengatur nafasnya begitupun dengan Davika. Bagi Kevin, ini luar biasa menyenangkan dan tidak ada satupun penyesalan dalam dirinya.
Kevin yang dulu sangat mencintai keluarganya berubah total Dia benar-benar larut dalam puber keduanya.
Setelah bisa menguasai diri, Kevin langsung menatap ke arah bawah di mana Dia melihat ke arah Davika, sedangkan Davika langsung mengelus pipi Kevin. “Bersenang-senang tidak masalah bukan,” ucap Kevin. Davika mengangkat kepalanya kemudian mencium bibir Kevin. Sayangnya Davika tidak menyadari maksa Ucapan Kevin tentang kata main-main. Padahal, Kevin mengatakan itu menegaskan jika Davika hanya mainannya saja.
”Hmm, tidak masalah,” jawab Davika. Tanpa semua sadari mungkin dia akan paling menyesali ini. Sedangkan Davika Tentu saja dia tidak ingin serta-merta hanya bersenang-senang, dia ingin Kevin menjadi miliknya seutuhnya dia berharap dia segera mengandung agar Kevin bisa bertanggung jawab.
****
Beberapa hari kemudian.
Nino dan Salsa kini berhadap-hadapan, kedua mantan pasangan kekasih itu kembali berdiri di depan satu sama lain setelah 12 tahun berlalu. Jantung Nino terasa berdebar dua kali lebih kencang ketika melihat salsa di depannya, cinta itu masih ada dan begitu menggebu-gebu hingga sekarang. Berbeda dengan Salsa yang tentu saja sudah melupakan Nino, karena dia masih mencintai Kevin Walaupun mungkin sisa cintanya hanya tinggal beberapa persen lagi, tentu saja itu semua karena kelakuan Kevin.
“Salsa!” panggil Nino. Salsa mendongak kemudian matanya menatap ke arah Nino.
“Apa maksud semua ini, Nino?” Tanya Salsa dia tidak ingin berbasa-basi, hingga dia langsung bertanya apa tujuan Nino.
”Maksudmu?” tanya Nino lagi pura-pura tidak mengerti, karena ketika Salsa datang kemari dan melihat ke arahnya, sudah dipastikan Salsa tau bahwa dia dekat dengan Kalindra. Dan sekarang, dia pura-pura tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Salsa.
“Apa tujuanmu mendekati anak-anakku, apakah masih belum cukup apa yang terjadi di masa lalu. Apa kau ingin menghancurkan lagi hidupku lewat anak-anakku?" Tanya Salsa, dia terus bertanya dengan dia melontarkan pertanyaan yang bertubi-tubi membuat Kevin menghela nafas.
“Aku tidak tahu kalindra anakmu,” dusta Nino. membuat Salsa berdecak sinis.
“Kau tidak tahu anakku, tapi kau tahu nama anakku.” Salsa Menatap Nino dengan tatapan sinis.
Dia mengigit bibirnya. Sial, dia malah keceplosan menyebut nama Kalindra.
Kenapa kau mendekati anakku. Apa yang kau mau, apakah kau masih ingin menyakiti keluargaku setelah apa yang terjadi di masa lalu." Salsa berbicara dengan emosional. Orang yang melintas di hadapan mereka melihat ke arah Salsa dan Nino, hingga Nino langsung menarik lembut tangan Salsa.
"Lepaskan aku!" teriak Salsa, dia tidak ingin membuat Nino menggenggam tangannya, tapi Nino tidak bergerak dan tidak terpengaruh, dia terus menggenggam tangan Salsa seraya berjalan hingga kini mereka berada di belakang sekolah.
"Jangan berani menyentuhku!" teriak Salsa hingga Nino rasanya ingin memeluk wanita ini. Dia tahu, dari wajah Salsa saja sudah bisa menggambarkan bahwa sekarang wanita ini sedang kacau.
"Are you oke, Salsa?" tanya Nino yang malah menanyakan hal lain.
Salsa kemudian menatap Nino dengan marah.
"Memangnya apa urusanmu menanyakan aku baik atau tidak?"
"Pertama, dengar, aku mendekati Kalindra tidak ingin bermaksud apa-apa, sungguh," ucap Nino.
"Kau pikir aku percaya setelah apa yang terjadi di masa lalu?" tanya Salsa.
"Aku mohon percaya. Aku benar-benar tidak bermaksud apa-apa," jawab Nino lagi yang menatap Salsa dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Aku peringatkan ini, jangan pernah mendekati kedua anakku. Jika tidak, kau akan tahu akibatnya." Setelah mengatakan itu, Salsa pun berbalik kemudian dia memutuskan pergi membuat Nino mengusap wajah kasar.
***
Salsa keluar dari mobil, dia memutuskan untuk datang ke sebuah cafe guna menenangkan dirinya. Entah kenapa dia benar-benar kesal ketika Nino kembali datang ke dalam kehidupannya dan malah mendekati anaknya.
Saat masuk ke dalam cafe, Salsa langsung mendudukan diri di dekat jendela, tapi baru saja dia akan memesan, tiba-tiba dia melihat ke arah depan di mana ada dua orang wanita yang masuk, siapa lagi jika bukan teman Kevin dan kebetulan, kedua wanita itu melihat ke arah Salsa.
Wilona dan Alesha menoleh, dari tatapan mereka, keduanya saling menatap, dan dari tatapan keduanya mereka bisa mempunyai pikiran yang sama. Rasanya mereka masih dendam karena Salsa dulu pernah menjelek-jelekkan mereka dan mengusir mereka dari rumah
. Ya, saat itu teman-teman Kevin datang ke rumahnya, tapi dia mengusir beberapa teman wanita Kevin, termasuk mereka. hingga sampai sekarang mereka begitu dendam dengan Salsa, dan ketika mereka melihat Salsa, tentu saja mereka tidak ingin kehilangan kesempatan untuk membuat Salsa kesal.
"Boleh kami duduk di sini?" tanya Wilona. L
Belum Salsa menjawab, kedua orang itu langsung duduk membuat Salsa menghela napas.
"Kalian tidak diajari etika oleh keluarga kalian?" tanya Salsa ketika merekas sudah duduk.
"Tentu, tapi tidak berlaku padamu. Kau saja pernah mengusir kami. Apa kau juga tidak pernah diajari etika?" jawab Wilona lagi hingga Salsa mengangguk-anggukan kepalanya.
"Itu rumahku sendiri dan aku berhak mengusir siapa pun," jawab Salsa dengan malas.
"Tapi itu sama saja kau tidak punya etika, lalu kenapa kau bertanya pada kami?" tanya Alesha.
Salsa menyandarkan tubuhnya ke belakang. Entah mantan suaminya atau kedua mantan mertuanya dan juga teman-teman mantan suaminya begitu membuat Salsa gila.
"Kami tahu siapa kau," ucap Wilona ketika Salsa akan berbicara karena Wiloma tau Salsa akan membanggakan dirinya sendiri. Salsa tidak menjawab, dia malah merogoh saku kemudian mengambil ponsel, lalu mengutak-atik ponselnya, untuk menelpon seseorang.
"Halo, Mister Jack," sapa Salsa membuat mata Wilona membulat.
"Mister Jack, apa kau masih berniat untuk bekerja sama dengan agensi yang bernaung di bawah perusahaan ayahku?" tanya Salsa lagi. Rupanya, Salsa menelpon agensi yang menaungi Wilona membuat mata Wilona membulat.
Wilona dengan cepat bangkit dari duduknya karena dia tahu Salsa pasti akan menyuruh agensi untuk memecatnya, sedangkan agensi itu adalah agensi terbesar di Rusia.
"Aku akan kabarin nanti." Salsa langsung menutup panggilannya ketika Wilona bangkit dari duduknya.
"Kau berpikir aku hanya bisa menyombongkan nama keluargaku?" tanya Salsa, matanya menatap Wilona dengan tatapan puas, apalagi Wilona tampak salah tingkah.
"Lalu, apa kau ingin aku membongkar identitasmu pada istri selingkuhanmu?" tanya Salsa membuat mata Alesha membulat.
"Jangan pikir aku tidak tahu apapun tentang kalian. Satu persatu aku tahu teman Kevin dan tentang masalahnya, jadi pergi dari sini sebelum aku murka," ucap Salsa.
Alesha pun bangkit dari duduknya.
"Masih sombong sekali kau. Setidaknya Davika lebih baik daripada kau." Walaupun sempat takut, tapi karena karena dia diusir, Alesha masih sempat untuk membandingkan Salsa dan Davika.
"Tunggu," ucap Salsa, dia yang tadinya ingin melepaskan kedua wanita itu memutuskan untuk memberi pelajaran. Salsa mengutak-atik ponselnya kemudian menelepon seseorang.
"Halo, Nyonya Betty," ucap Salsa membuat mata Alesha membulat karena Salsa menelpon istri kekasihnya dan kebetulan Betty adalah teman sosialita ibunya yang juga sudah sangat lama mengenalnya.
"Baik, maafkan aku," ucap Alesha ketika Salsa akan berbicara hingga Salsa langsung pamit pada Betty dan mematikan panggilannya.
"Minta maaf yang benar," ucap Salsa.
"Kau juga," katanya, dia langsung menatap Wilona, "jangan perlihatkan raut wajah kesalmu padaku. Jika tidak, kalian akan benar-benar selesai."
Pada akhirnya, kedua wanita itu pun meminta maaf dan langsung pergi meninggalkan meja Salsa hingga akhirnya Salsa bisa bernapas lega.