Oh My Salsa

Oh My Salsa
32



Gengs satu bab dulu ya, satu babnya malem ya. Yu gas komen yu a


Kevin menatap tak percaya pada tangannya yang di penuhi bintik merah. “Se-sebenarnya aku kenapa." Kevin berbicara dengan suara pelan. Dia kembali melihat ke arah kakinya yang tidak bisa di gerakkan.


“Aaaa!” Kevin berteriak ketika memukul kakinya dengan keras. Sedetik kemudian dia merasa aneh. Dia pikir, kakinya akan mati rasa karena tidak bisa di gerakan. Tapi, ternyata dia masih bisa merasakan rasa sakit.


“Sayang ... sayang!" Panggil Kevin, dia memanggil Salsa berharap Salsa akan datang. Rasanya dia ingin segera memeriksakan tubuhnya ke rumah sakit. Ini aneh, semalam senjatanya mendadak tidak berpungsi. Dan sekarang, semua kulitnya mendadak memerah dan kakinya tidak bisa di gerakkan.


“Sayang ... Sayang!” Kevin tidak menyerah dia kembali memanggil Salsa, berharap Salsa datang ke kamar. Namun, beberapa kali memanggil istrinya salsa tidak kunjung datang. Hingga pada akhirnya, Kevin memilih untuk berusaha turun dari ranjang seorang diri.


Sebelum berusaha turun, Kevin menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Bahkan, kini dia merasa tubuhnya begitu lemas. Dan setelah bisa menguasai diri, akhirnya dia mengerjakan tangannya untuk bergerak.


“Aaaa!” lagi-lagi teriakan begitu menggema. Lelaki itu berteriak ketika berusaha bergerak tapi setelah bergerak malah terjatuh dari ranjang. Saat terjatuh dari ranjang, Kevin merasakan rasa nyeri di area pahanya. Hingga dia langsung menjerit.


“Sayang .... sayang!" Panggil Kevin lagi dia berharap Salsa segera masuk ke dalam kamar Sebab dia merasa seluruh tubuh bawahnya terasa nyeri.


***


Salsa menyadarkan tubuhnya ke belakang, wanita itu sedang melihat Kevin yang sedang kesakitan dari CCTV. Tidak ada raut kasihan di dalam diri Salsa sedikitpun untuk lelaki yang berstatus menjadi mantan suaminya. Padahal, dulu Salsa selalu memperhatikan kesehatan Kevin dia tidak pernah lambat untuk memberi penanganan pertama walaupun Kevin hanya sakit demam. Tapi sekarang, Salsa begitu menikmati Apa yang sedang dia lakukan.


‘Aku tahu awalnya aku memang bersalah, terlalu mengekangmu. Tapi seharusnya aku tidak bertindak sejauh ini. Jika seandainya saat itu kau tidak melibatkan wanita lain atau tidak bertindak semaumu, mungkin kau tidak akan sampai seperti ini. Tapi nasi sudah menjadi bubur maka terima saja apa yang aku lakukan. Seperti kataku, nyawa dibalas nyawa, rasa sakit di balas rasa sakit. Tidak perduli kau ayah dari anak-anakku.' Salsa membatin seraya terus tersenyum sinis ketika melihat Kevin yang kesulitan untuk bangkit dan merintih kesakitan hingga beberapa saat kemudian, Salsa bangkit dari duduknya kemudian wanita itu memutuskan untuk keluar dari ruang kontrol, dan setelah itu dia berjalan ke kamar.


“ Kevin!” pekik Salsa, dia berpura-pura berteriak saat melihat Kevin terkapar di lantai.


“Kau kenapa, apa Ada yang sakit?” tanya Salsa berpura-pura khawatir.


Di tengah rasa sakitnya, barusan Kevin berpikir ini ini semua pekerjaan Salsa yang ingin membalas dendam, tapi ketika melihat Salsa khawatir, Kevin tidak curiga lagi pada istrinya.


“Aku tidak bisa menggerakkan kakiku, lihat seluruh tubuhku juga memerah," jawab Kevin dengan suara pelan, Salsa menutup mulut tak percaya saat melihat kulit Kevin, tentu saja itu hanya akting. “Sebentar-sebentar, aku akan membawamu ke rumah sakit.” Dengan cepat wanita itu langsung menegakan tubuhnya, kemudian salsa merogoh saku lalu mengutak-atik ponselnya untuk menelepon rumah sakit.


Dan lagi-lagi Kevin menghela nafas ternyata dugaannya. Saat terjatuh, Kevin sempat curiga ini ulah Salsa, karena semua terjadi begitu saja. Tapi ketika melihat ekspresi rasa saat ini, kekhawatirannya hilang begitu saja.


“Ayo aku bantu bangkit.” Salsa membopong tubuh Kevin, kemudian dia mendudukkan Kevin di ranjang. Lalu setelah itu, dia berjalan ke arah nakas untuk mengambil minum, lalu memberikannya pada Kevin.


Setengah jam kemudian


Terdengar suara ambulans hingga Salsa yang sedang berada di kamar langsung keluar dari kamar, dan ketika dia berada di luar, dia berjalan santai dan sangat tenang. Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari arah kamar, membuat Salsa tersenyum. Rupanya minuman yang tadi diberikan oleh Salsa pada Kevin sudah bereaksi membuat Kevin kesakitan.


Walaupun Salsa seorang perempuan. Tapi tentu dia mewarisi seluruh kegilaan kakeknya. Dan sekarang, Salsa sedang melakukan apa yang dulu di lakukan oleh Kevin di mana saat dia sekarat Kevin malah menjalankan mobilnya dengan pelan bahkan dengan entengnya menelpon Davika berselebrasi atas kematian anaknya, dan sekarang Salsa melakukan hal yang sama membiarkan Kevin kesakitan dan dia juga mengelur waktu.


Hari ini Kalindra tidak sarapan, karena dia merasa perutnya tidak enak dan dia langsung pergi tanpa bertanya keadaan Kevin, karena memang anak itu tidak tahu apa yang terjadi dengan ayahnya. Dan setelah Kalindra pergi, Salsa menghampiri petugas ambulans yang sedari tadi sudah menunggunya dan setelah itu dia menyuruh petugas ambulans untuk masuk dan membopong tubuh mantan suaminya.


“ Kevin!” panggil Salsa ketika tubuh Kevin sudah melemas.


“Maaf-maaf aku telat, tadi aku menyiapkan dulu sekolah kalindra,” ucap Salsa ketika Kevin sedikit membuka matanya. “Ayo cepat bawa suamiku Ke rumah sakit!” teriak Salsa lagi, petugas medis pun langsung menggotong tubuh Kevin lalu membawanya untuk keluar dari kamar.


***


Salsa mendudukkan diri di kursi tunggu sedangkan Kevin sudah diperiksa oleh dokter Tentu saja itu dokter bayaran Salsa, dan tak lama terdengar suara derap langkah hingga Salsa menoleh, ternyata yang datang adalah Aurel Ibu Kevin.


“Apa yang terjadi pada Kevin, Kenapa dia dia seperti ini?” tanya Aurel dia langsung memberondong Salsa dengan pertanyaan. Matanya menatap galak pada wanita yang dia masih anggap menantunya. “Kau tidak becus mengurus anakku. Kenapa anakku bisa sampai seperti ini!” Aurel kembali emosi kala Salsa tampak santai.


“Bisa diam tidak, ini Rumah sakit bukan tempat umum. Tolong jangan membuatku gaduh di sini,” kata Salsa membuat emosi Aurel semakin memuncak.


“Kau pikir aku bisa tenang, menantu macam apa kau, ap ....”


“Ada apa ini?" tiba-tiba terdengar suara Maira dari arah belakang. Rupanya Maira baru saja keluar dari ruang pemerikaan, karena dia baru saja melakukan pemeriksaan rutin dan barusan, saat akan berbelok, dia mendengar suara yang sangat tidak asing, dan Mayra langsung berjalan dengan cepat ketika besannya berteriak pada Salsa, tentu saja seorang ibu dia tidak terima putrinya diteriaki.


Seketika wajah Aurel langsung memucat ketika melihat Mayra. Sedangkan Salsa langsung menyeringai, dia menikmati wajah ibu mertuanya yang panik.


“Kenapa kau marah pada putriku? Kenapa kau berani berteriak pada Salsa mengatakan bahwa anakku tidak becus?” tanya Maira lagi membuat


Aurel langsung terpaku. Untuk pertama kalinya dia melihat Maira seperti ini, biasanya Maira adalah sosok yang kalem dan lemah lembut, tapi sekarang dia melihat Mayra yang berbeda.


Salsa menahan tawa ketika melihat wajah Aurel yang memucat. “Aku hanya terkejut Nyonya Maira,” jawab Aurel dengan gugup.


“Tidak mungkin mom, dia tidak mungkin terkejut. Dia sudah biasa memperlakukan aku seperti ini,” kata Salsa membuat mata Aurel membulat.


“Jadi kau sudah sering memperlakukan putriku dengan buruk?” tanya Maira yang tanpa sadar mengeraskan suaranya.


“Ti-tidak nyonya ...."


“Hmm, dia memang selalu begitu, Mom. Bahkan dia juga ...."


“Diam kau!" hardik Aurel pada Salsa dan tak lama, dia tersadar saat tak sengaja kembali membentak Salsa di hadapan Mayra.


“Lihat, kan, Mommy,” ucap Salsa, membuat Wajah Mayra memerah, Karena secara tidak langsung dia mendengar bentakan Aurel pada Salsa.